
Keesokan harinya.
"Yaalah gusti, ini kenapa rumah jadi seperti kapal pecah!"ucap Wina saat dirinya memasuki ruang santai.
Sampah bekas cemilan berserakan, kaleng minuman dingin bertebaran. Belum lagi sisa bekas makanan yang pada tumpah dilantai, dan para pelakunya juga tidur disana dengan posisi yang tak beraturan, Satria tidur dilantai yang beralaskan karpet bulu dengan posisi tengkurap dan pinggangnya dijadikan bantalan oleh Ray yang tidur terlentang.
Sementara itu kedua pria paruh baya tidur didua sopa panjang yang disatukan. Dengan posisi tidur berlawanan, kaki Andi berada diwajah Samsul dan di peluk bak bantal guling. Begitu juga sebaliknya kaki Samsul berada dihadapan Adi, tapi tidak dipeluknya.
"Aha, aku ada ide. Kerjain dikit, ah."Wina tersenyum smirik, lalu dia melangkahkan kakinya menuju kedapur.
"Kemana, Win?"tanya Rina saat Wina hendak belok kearah dapur.
"Dapur, Rin."Jawab Wina.
"Ngapain?"
"Sini, aku bisikin."Rina mendekat dan Wina pun berbisik ditelinga Rina.
"Ide yang bagus, Win. Sekali-kali kita kerjain mereka."ucap Rina cekikikan.
"Yoyoy, hayuk kita beraksi."
Merekapun pergi menuju kedapur untuk mengambil sesuatu, setelah itu mereka pergi kekamar, entah apa yang mereka ambil.
"Yuk, kita mulay."ucap Wina saat mereka sudah berada di ruang keluarga.
Wina mendekati Samsul, lalu dia merias wajah Samsul dengan peralatan make up yang dibawanya. Setelah selesai dia beralih merias wajah Ray.
Begitu juga dengan Rina, dia juga menghias wajah suami dan juga anaknya.
"Sempurna."ucap Wina tersenyum puas.
"Kalau gini kan, mereka jadi lebih cantik. Ya gak Win?"Rina melirik Wina.
"Banget, ternyata karya kita bagus juga ya? berbakat nie kita jadi tukang rias."ucap Wina.
"Saking berbakatnya, orang yang kita rias bakal kapok, Ya Win."Rina tertawa kecil.
"Gak kebayang, reaksi mereka nanti pas bangun."Wina cekikikan.
"Syok, pastinya."
"Kena mental."
"Lagian mereka tidur, kayak kebo banget. Masa gak berasa kita dandanin, padahal tadi aku bedakinnya, sambil diteken-teken tu muka."ujar Rina.
"Ayok kita bangunin, nih kamu pake yang ini."ucap Wina menyerahkan wajan juga sepatulanya. Sementara dia memegang panci dan juga tutupnya.
"1, 2, 3."
Prak!
Prak!
Prak!
Wina memukul-mukul panci dengan tutupnya.
Rina juga memukul wajan menggunakan spatula.
"Janda, janda, janda. Mana tu janda tadi."ucap Satria langsung terbangun dari tidurnya dan Ray yang tidur dipinggangnya pun ikut terbangun dengan kepala yang terpentuk dilantai, untung tu lantai beralaskan karpet bulu kalau gak benjol dah tu jidat.
"Ah, lo bangun kenapa gak pake komando sih! untung nie lantai ada karpetnya, kalau kagak benjol dah jidat gue."gerutu Ray.
"Gimana pake komando, gue aja bangun ngedadak karna terkaget-kaget sama suara kaleng rombeng."ucap Satria sambil menatap kearah Ray.
__ADS_1
"Buahaaahaa, muka lu kenapa dah Ray."tawa Satria meledak.
"Emang muka gue kenapa?"Ray menatap Satria yang sedang tertawa terbahak-bahak.
"Wuahaha, muka lo juga kenapa dah Sat? cantik bener."kini giliran yang tertawa.
"Hah, kenapa muka gue."Satria langsung menghentikan tawanya dan dia meraih ponselnya yang berada disamping nya, lalu dia membuka kamera yang ada diponselnya terus dia arahkan kewajahnya.
"Alohuakbar, ini muka gue kenapa jadi ancur begini."kaget Satria, lalu dia melirik kearah dua wanita yang sedang cekikikan tanpa dosa.
"Ini, pasti ulah Mamih, yakan?"Satria menatap tajam sang Mamih.
"Mamih cuma belajar ngerias doang kok, dan kalian yang jadi bahan percobaannya."cengir Rina.
"Mamihhh."geram Satria.
Sementara kedua pria paruh baya masih memejamkan matanya.
"Siapa sih, yang berisik pagi-pagi buta begini. Kurang kerjaan banget, gak tau apa orang lagi mimpi ketemu cewek cakep."ucap Samsul dengan suara serak khas bangun tidur dan juga mata yang masih terpejam.
"Hooh, berisik banget. Cewek cakepnya jadi ngilang."timpal Andi yang juga masih terpejam.
"Lah, kok kakinya berubah jadi berbulu, perasaan tadi gue peluk kaki tu cewek halus bener dah."Samsul meraba-raba kaki Andi.
"Geli, oncom."Andi langsung mengibaskan kakinya lalu dia mendudukan dirinya.
"Jadi, yang gue peluk itu kaki elu Ndi. Pantes aja bau terasi."Samsul juga ikut duduk dan menyandarkan punggungnya disopa.
"Enak aja bau, kaki gue mah wangi."cebik Andi.
Prak!
Prak!
Kedua wanita yang tengah berdiri dan menatap mereka tajam, memukul kembali alat yang mereka bawa.
"Eh, ada Mamih. Kenapa bawa-bawa gituan Mih?"Andi melirik kearah sang istri, dia belum sadar dengan keadaan wajahnya.
"Kenapa? ganggu ya! cewek cakepnya jadi ilang."Rina menghampiri Andi dengan bersidekap dada.
"Cewek cakepnya itu kan, Mamih."elak Andi.
"Gak usah ngelak, ayok ikut."Rina menjewer telinga Andi dan memaksanya untuk ikut.
"Sakit, Mih."ringis Andi.
Rina gak peduli dia tetap saja menyeret Andi, entah dibawa kemana.
"Apa?"Wina membentak Samsul dan menatapnya tajam saat Samsul hendak bicara.
Tanpa basa-basi Wina menarik Samsul dan menyeretnya juga entah kemana.
"Serem bener kalau punya bini kayak gitu!"ucap Satria bergidig.
"Hooh, untung bini gue kagak galak."ujar Ray.
"Galak sih enggak, tapi ngeselin bini elo mah."
"Ah, iya dia udah bangun belum ya?"Ray langsung bangkit dan berjalan menuju kamarnya.
"Ngenes amat nasib jomblo, ditinggal sendiri lagi. Mak pengen kawin."ucap Satria mendramatis.
Sesampainya dikamar, Ray melihat Ella masih bergulung didalam selimut. Dia pun melangkahkan kakinya menuju kekamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Kini wajahnya sudah kembali bersih dan juga fres, dia pun menghampiri Ella.,
__ADS_1
"Cantik."Ray memandang wajah polos istrinya yang masih tertidur.
Cup,
Ray mengecup lembut kening Ella.
"Gue gak nyangka cewek yang selalu bikin gue kesel. Kini udah bikin gue tergila-gila, I love you my wife."Ray mengelus kepala Ella.
Cup,
Ray mengecup bibir yang dari tadi menggodanya, lalu dia memandang Ella dari atas sampai bawah, dan itu membuat Ray menjadi tegang karna membayangkan tubuh polos Ella saat mereka bercinta.
"Bayangin aja udah bikin gue tegang, apalagi lihat langsung."lirih Ray.
Dia pun mulai menyelusupkan tangannya dibalik piyama yang Ella kenakan, Ray mendaratkan tangannya di puncak gunung yang masih terbungkus, dia menyelusupkan tangannya disela bungkusan itu dan mengelusnya pelan.
"Kakak kangen."Ray berbisik ditelinga Ella, tapi percuma saja Ella masih berada dialam mimpinya.
Ray mengeluarkan tangannya dari dalam baju Ella, lalu dia mengarahkan tangannya untuk membuka kancing piyama keropi yang dipakai Ella. Satu persatu kancing berhasil dibukanya hingga semua kancing itu terbuka dan terpampanglah gunung indah dan juga lembah yang masih tertutupi itu.
Perlahan-lahan, Ray melepaskan piyama Ella seluruhnya dan dia juga melepaskan benda yang menutupi keindahan gunung beserta lembah itu dengan hati-hati.
Glek!
Ray menelan salivanya kasar saat melihat keindahan itu terpampang nyata dihadapannya, dia mulai menggerakan tangannya untuk menyentuh gunung yang terlihat sangat mulus, dia mengelus dan meremasnya perlahan tak hanya sampai disitu Ray juga mendekatkan wajahnya dan dia mulai meng..hi..sap puncak gunung merah muda itu.
"Eugh."terdengar leguhan siempunya tubuh.
"Ah, Kak Ray. Kakak lagi ngapain? eugh."Ella terbangun dan dia menatap Ray dengan muka bantalnya.
"Kakak kangen."bisik Ray ditelinga Ella, dan itu membuat Ella merindung.
"Tapi tangan akunya belum sembuh."lirih Ella.
"Kamu diam saja, biar kakak yang bermain. Kamu tinggal nikmati saja."bisik Ray dan Ella pun mengangguk.
Ray kembali melanjutkan permainannya, dia me..lu..mat puncak gunung Ella dengan lembut, dan tangannya bermain diarea lembah yang ditumbuhi rumput tipis. Tak puas sampai disitu Ray juga beranjak dari gunung dan mendarat di leher jenjang Ella, dia menggigit juga menghisap kecil disana sehingga meninggalkan bekas kemerahan yang cukup banyak.
"Em, ahhh."Ella men..de..sah kenikmatan.
"Nikmati sayang."Ray kembali berbisik ditelinga Ella dia juga me..n..ji..lat kecil telinga Ella.
Ray beralih me..lu..mat bibir Ella, kedua tangannya juga tak tinggal diam, yang satu bermain di puncak gunung dan yang satu lagi dilembah dia juga menyusupkan tangannya kedalam gua mengubrak ngabrik lembut isi yang ada didalam gua itu.
"A..a..a..ahhhh, euggghhh."Ella me..le..guh panjang saat mencapai pelepasan pertamanya.
Setelah Ella mencapai pelepasan pertama, Ray langsung membuka bajunya hingga po..los dan terpampanglah tongkat bisbol yang sudah berdiri tegak.
Cup,
Ray mengecup bibir Ella, lalu dia mulai memposisikan dirinya untuk penyatuan mereka, perlahan-lahan Ray mulai menggesekan tongkat bisbolnya di bibir gua Ella lalu Ray menekan Tongkat bisbolnya agar masuk kedalam gua seluruhnya.
"Eughh."leguh Ray, saat tongkat bisbolnya berhasil masuk kedalam gua yang masih sempit dan juga hangat.
Ray memacu tongkat bisbolnya secara perlahan, tapi makin lama Ray semakin mempercepat ritme permainannya.
Cukup lama mereka melakukan penyatuan dipagi yang menjelang siang itu hingga....
"Eugghhh, Ahhhhh."Ray telah mencapai puncaknya.
"Emmm, Ahhhh."kemudian disusul oleh Ella.
Jadilah pagi ini pagi yang panas bagi kedua insan itu.
Like, Comen, and Vote ya readers ku terseyeng😘😘😘
__ADS_1