Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
penculikan Ella.


__ADS_3

"Pak Ray udah dateng, tapi Ella kok belum balik juga, ya?" bisik Kiana cemas.


"Bener juga, kok Ella lama?" Dela menatap ke arah pintu, namun Ella sama sekali belum terlihat.


"Siang," ucap Ray dingin.


Jadwal kali ini memang tidaklah pagi, melainkan siang hari karena pagi tadi Ray ada rapat dengan Dekan ( Dewan Kampus).


"Siang, Pak!" jawab mereka serempak.


Semula Ray bersikap biasa saja, dia mengambil tumpukan materi yang akan di terangkan dan di pelajari siswa/siswinya siang ini. Namun seketika atensinya teralihkan pada kursi yang biasa di duduki sang istri terlihat kosong.


"Kemana Stela?" tanya Ray pada Dela yang paling dekat darinya.


"Em, tadi dia ke toilet, Pak. Tapi sampe sekarang belum kembali," jawab Dela dengan wajah cemas.


"Kalian pelajari ini." Ray langsung membagikan tugas tanpa menerangkannya terlebih dahulu.


"Saya ada sedikit urusan, nanti akan ada Pak Kevin yang menggantikan saya." Ray berlalu pergi dengan tergeasa darisana.


Dela dan Kiana tau, Ray pasti hendak mencari Ella yang sampai saat ini belum kembali.


Ray berjalan ke arah toilet wanita, untung saja sepi, jadi Ray bisa masuk dengan leluasa untuk mengecek seluruh toilet disana.


"Gak ada, kemana dia?" Ray sangat khawatir, perasannya sudah tidak karuan.


"CCTV," gumamnya kemudian dia melangkah dengan cepat menuju ke ruangan CCTV.


Sesampainya di sana, Ray langsung mengecek rekaman beberapa menit yang lalu. Sebelumnya dia sudah izin pada penjaga ruangan itu untuk mengecek rekaman CCTV.


"Itu dia." Ray menatap rekaman Ella yang masuk ke dalam toilet, lalu beberapa saat kemudian dia keluar dan nampak dua orang pria keluar dari balik tembok.


"Siapa mereka?" gerak Ray saat melihat salah satu pria membekap mulut istrinya sampai tak sadarkan diri. Kemudian pria yang satunya dengan sigap membopong Ella dan membawanya pergi.


"Kenapa gak ada satupun orang yang melihat para pria itu membawa istriku?" Heran Ray.


Kemudian dia bangkit, dia berjalan menuju ke arah mobilnya dengan sedikit berlari. Sesampainya di mobil, Ray tidak langsung menjalankan mobilnya. Melainkan mengambil ponsel dan melacak keberadaan sang istri melalui GPS yang ada di ponselnya.


"Sheet! Sepertinya ponsel Ella mati." Desis Ray karena GPS di ponsel Ella tidak bisa di lacak. Kemungkinan ponsel Ella mati atau malah di rusak oleh orang-orang itu.


Merasa frustasi, Ray pun langsung menghubungi Ragil untuk meminta bantuan. Pikirannya begitu kalut saat ini. Dia benar-benar menghawatirkan Ella, sampai dia melupakan seperti apa sosok istrinya.


Di sisi lain.


Seorang wanita tengah tertawa puas penuh kemenangan. Pasalnya dia telah berhasil menculik orang yang begitu di bencinya.


"Hahaha, gue yakin. Sebentar lagi lo akan nangis darah! Liat aja, mulut kecil lo itu gak bakal bisa ngoceh dan ngelawan gue lagi!" Wanita itu duduk di sebuah kursi dengan satu gelas wine di tangannya.


"Kita udah ngelakuin apa yang lo mau, jadi sekarang kita mau minta bayaran," ucap pria yang tadi menculik Ella dengan menyeringai.


"Ok, gue gak akan ingkar janji. Kalian bebas menjamahh tubuh gue sekarang." Wanita itu tersenyum nakal.


"Dengan senang hati, Sayang." Pria yang satunya mendekati Jesika.


Ya, wanita itu adalah Jesika. Orang yang sangat membenci, Ella.


Cup!


Pria itu mulai mengecupi bibir Jesika, dari bibir turun ke leher dengan tangan yang sibuk melucuti baju milik Jesika. Setelah Jesika toples, pria itupun menjamah dada Jesika dengan mulutnya. Sementara gua Jesika tengah di telusuri oleh pria yang satunya lagi. Dia mengexplore bagian dalam gua jesika sampai membuat si empunya meleguh kenikmatan.


"Hais, suara apa tu? Ngeri sekali, kecipak-kecipik kek suara yang aku kenal? Aha! Aku tau, itu suara bercinta. Adehh, buka mata nggak ya?"Ella yang masih setia memejamkan matanya berpura-pura pingsan pun menjadi bimbang.


Namun, dia ada ide. Dia langsung membuka matanya perlahan "Astaga! Itu belalai buluk bener. Udah buluk kecil lagi kek belalai bebek." gumam Ella dalam hati setelah matanya terbuka dan langsung melihat penampakan dua pria tanpa busana dan juga jesika yang tengah mengerang. Mereka memang satu ruangan, Jesika sedang berada di ruangan tempat Ella di sekap.


"Eh, astaga! Ini mata gak bisa di kondisiin banget si. Itu haram, gak boleh di liat. Bolehnya di tebas aja," umpat Ella masih dalam hati.


Dia pun mengambil ponsel yang satunya lagi dari dalam bh nya, dia sengaja menyimpan satu ponsel di sana untuk jaga-jaga jikalau ponsel miliknya yang berada di tas di ambil atau di rusak oleh mereka. Bh, Ella sengaja di buat khusus ber saku. Bh, itu juga di desain senyaman mungkin untuk menyimpan sesuatu supaya tidak terlihat.


Ella pun menyalakan ponsel itu dengan hati-hati, untung ponsel Ella tanpa nada. Jadi tidak ada suara apapun yang terdengar. Ella mulai merekam aktivitas mereka setelah ponselnya menyala. Mereka sama sekali tidak menyadari jka Ella sudah terbangun dan juga terlepas dari ikatannya karena saking asik dan juga terbuai dalam surga dunia.


"Cih! Menjijikan. Wanita murahah, bisa-bisanya bayar preman pake tubuhnya yang gak indah itu." Cibir Ella dalam hati.


Yang penasaran kenapa Ella hanya pura-pura pingsan padahal dia di bius, jawabannya karena dalam dunia pergangsteran hal itu sudah biasa. Obat bius bukan lah apa-apa. Dia tinggal menahan napas saja saat kain itu


Membekapnya. Lalu dia akan berpura-pura tak sadarkan diri. Dia akan bernapas kembali setelah kain itu tak lagi membekap nya. Memang tak mudah untuk latihan menahan napas dalam kurung waktu yang cukup lama, Ella saja dulu mempelajari itu dalam beberapa bulan.


Ah!


Uhh!


Ohh!


Suara laknat itu membuat Ella jengah, dia jadi teringat akan Ray. Dia merindukan suaminya itu. Merasa sudah tak sanggup mendengar suara laknat itu. Ella pun langsung bangkit setelah selesai merekam kegiatan Jesika.


Prokk! Prokk! Prokk!


"Wah, wah, wah. Ternyata begini kelakuan cewek yang sok cantik dan merasa paling sempurna itu?" Ella menatap ke arah Jesika dengan tatapan mengejek.


"Lo! Kenapa lo bisa lepas?" Heran Jesika, pasalnya dia melihat dengan mata kepalanya sendiri kedua pria itu mengikat Ella dengan begitu kencang.


"Itu tidak penting!" Ella menyeringai. Bukanlah hal yang susah bagi Ella untuk lepas dari ikatan itu, masih ingat bukan dengan julukan yang Satria berikan Sumson, alias sumo samson. Satria menjuluki Ella dengan nama itu karena tenaganya begitu kuat di atas rata-rata.


"Tangkap dia!" teriak Jesika pada ke dua pria yang masih toples itu begitupun dengaan dirinya.


Bugh!


Dugh!


Ella memukul dan juga menendang kedua pria yang hendak menangkapnya.


"Ahhhkkk! Brengsek!"


"Sialannnn!"


Umpat kedua pria itu yang merasa begitu kesakitan.

__ADS_1


"Oow, sorry. Pecah gak tu telur?" Ella tersenyum mengejek karena dia menendang di bagian sensitif kedua pria itu.


"Ternyata lo gak selemah yang gue kira." Jesika berjalan mendekati Ella.


"Ternyata lo gak se fresh yang gue kira. Badan lo alot, apalagi dada lo. Udah kayak kerupuk kepanasan, melehoy." Ella menatap jijik dada Jesika.


"Diem lo!" Bentak Jesika.


"Ini juga diem, gak lari-lari. Tapi berner loh, itu dada kok bisa melehoy gitu. Di tarik pasti melar deh kayak permen karet. Itu juga lembah, kusem amat, kagak di urus ya? Udah kusam, kusut, item, dekil lagi." Ella semakin menjadi mencaci Jesika, mungkin dia balas dendam karena selama ini Jesika selalu merendahkannya.


"Kurang ajar!" Marah Jesika, kemudian dia mengangkat tangannya untuk menampar Ella.


Plakk!


"Oow, kalah cepat." Tamparan Ella sudah mendarat terlebih dahulu.


Bughh!


Ella menendang pria tadi yang hendak menyerangnya dari belakang. "Cih, banci. Beraninya maen belakang," Cibir Ella.


Tak menggubris ucapan Ella, pria itu kembali bangkit dan langsung menyerang Ella kembali. Bahkan pria yang satunya ikut menyerang Ella.


"Wah, main keroyokan. Tapi it's okelah. Bukan masalah besar, tapi ada satu masalahnya sih. Itu belalai keriput mengganggu pemandangan! Mana berayun-ayun lagi goyang-goyang. Ih geli gue," ucap Ella di sela tangkisannya...


"Hiyaaaa!" Ella melompat kemudian dia memutarkan tubuhnya di udara untuk menendang kepala kedua pria itu.


Jesika yang melihatnya pun di buat menganga, rupanya dia salah mencari lawan. Tapi kepalang, nasi sudah menjadi bubur, dia harus membantu kedua pria itu untuk melumpuhkan Ella.


"Rupanya dia gak selemah yang gue kira," gumam Jesika, kemudian dia mengambil sebuah balok berukuran besar untuk memukul Ella.


"Mending baloknya di jadiin kayu bakar. Sayang kalo di pake mukul gue nanti patah." Bukannya di bakar pun akan menjadi abu? Dasar Ella.


"Euhh!" Jesika yang hendak memukul Ella pun urung karena sudah ketauan.


"Pake dulu tu baju, kesian gunung lepet lo kedinginan entar makin alot lagi melehoy." Ella berkacak pinggang.


Ella tidak menyadari jika kedua pria tadi sudah bangkit dan mengambil tongkat bisbol untuk memukulnya.


Brakk!


Bughh!


Brukk!


Ella langsung menoleh ke belakang, rupanya Ray datang bersama Ragil.Dia mendobrak pintu gudang yang di gunakan untuk menyekap Ella, dia juga menendang kedua pria yang hendak memukuk Ella dengan tongkat bisbol dari belakang.


"Sayang... Kamu gak pa-pa?" Ray langsung menghampiri Ella dan memeluk istrinya erat.


"Mereka gak nyakitin kamu, kan?" Ray menatap wajah istrinya dengan penuh ke khawatiran.


"Tangan aku atit kakak, mereka ngiket aku kenceng banget. Huhuu." Ella mengadu layaknya anak kecil sembari menyodorkan kedua tangannya.


"Sakit ya? Sini kakak tiupin." Ray menggenggam lembut kedua tangan Ella kemudian meniupnya


Pelan.


"Ck, lebay lo." Cibir Ragil jengah.


"Astaga! Mata suci gue ternodai." Pekik Ragil kala atensinya tertuju ke arah Jesika.


"Ya ampun! Kenapa mereka jadi tuyul semua, Sayang." Ray menatap ke arah Jesika lalu ke pada kedua pria yang di tendangnya.


"Mereka tadi lagi nganu bertiga kak Ray, terus akunya di taruh di sana, di iket lagi. Jahat banget kan mereka nyuruh aku nonton vidio enak-enak live." Ella mengerucutkan bibirnya dengan tangan yang menunjuk ke pojokan tempatnya di ikat tadi.


Jesika yang masih mematung pun tersadar, lalu dia bergerak hendak melarikan diri. "Tangkep, Gil." Teriak Ray.


"Masa gue sih, Ray?" Melas Ragil.


"Ya elo lah, masa gue."


"Ya ampun Ray, bisa tersiksa lahir batin gue." Desah Ragil.


"Ngapa lo, mupeng?"


"Dah lah biarin aja," ucap Ella.


"Kok biarin sih, Sayang? Dia kan udah nyakitin kamu."


"Biarin dia lari-larian di jalanan. Palingan di sangka orang gila."


"Iya juga Ray, orang mikirnya dia orang gila. Mana ada orang waras lari-larian di jalan gak pake busana," timpal Ragil.


"Kalo dia kabur gimana?"


"Gak bakal kabur kok, tenang aja." Ella tersenyum simpul.


"Beresin tuh dua curut, Gil," perintah Ray.


"Haiss, dia mau di apain, Ray?"


"Terserah, mau di kebiri juga bebas."


"Potongin aja tu ***** keriputnya, terus kasih deh ke kucing," ujar Ella.


Kedua pria yang masih setengah sadar itupun seketika bergidik. Tangan lemas mereka langsung bergerak menyentuh intinya. Membayangkannya saja sudah ngilu. Sungguh mereka sangat menyesal karena telah menyetujui ajakan kerja sama Jesika yang hanya di imbali dengan tubuhnya.


"Tutup mata kamu, Sayang. Kamu cuma boleh liat punya kakak," ucap Ray.


"Yahh, tadi udah liat. Gimana dong? Tapi kak Ray tenang aja, aku gak ke goda kok, sama belalai dekil itu." Ella memandang Ray.


"Kalau belalai kakak gimana?" Ray menaik turunkan alisnya.


"Emm, kalo itu sih bikin aku mupeng. Hehe." Cengir Ella.


"Woy! Kalo mau mesra-mesraan inget tempat napa," Teriak Ragil yang sedang mengikat kedua pria itu.

__ADS_1


"Sirik ae lo," cibir Ray


"Rarag, pakein celana dulu ngapa. Kesian tu yang kriput makin kriput kena angin," ucap Ella.


"Biarin aja, Ell. Biar mereka menikmati pemandangan luar, pasti butek di kurung mulu."


"Sekalian aja ajak jalan-jalan ke ragunan, Rarag. Biar ketemu sama spesiesnya."


"Gue mau bawa ke taman mini, buat di jadiin patung pancoran."


Singkat waktu, Ray dan Ella kini sudah berada di rumah. Mereka tidak menceritakan prihal penculikan Ella kepada Wina dan Samsul, takutnya mereka akan cemas. Ella juga sudah menghubungi dua sahabatnya dengan nomor baru untuk mengabari jika dia baik-baik saja.


"Tangannya masih sakit gak." tanya Ray.


Mereka sedang berada di kamar, sudah fresh dan juga segar. Sebelumnya Ella sudah menyusui twins sampai mereka tertidur.


"Udah enggak, kok."


"Oh ya, kak Ray tau darimana kalo aku ada di tempat itu?"


"Ragil melacak kamu."


"Lewat?"


"Cin-cin pernikahan kita."


"Jadi cin-cin ini ada GPS nya?"


"Iya, Sayang."


"Kakak masih penasaran, kenapa wanita itu menculik kamu?" tanya Ray.


"Dia itu benci sama aku, awalnya karena aku deket sama Diego, dia kan suka sama Diego. Padahal aku deketnya biasa aja kok kayak ke temen-temen yang lainnya. Namun semakin hari dia semakin membenci aku entah apa lagi alasannya? Aku pun tak tau." Jelas Ella.


"Dia anak pakultas manajemen kan?"


"Iya, dia semester dua juga."


"Sayang banget, sekolah tinggi-tinggi tapi kelakuannya. Memalukan, kasian orang tuanya."


"Dia itu gak punya orang tua, mereka sudah meninggal. Jadi dia tinggal sama neneknya."


*****"**""""'


"Ella baik-baik aja kan?" tanya Rendi. Saat ini dia sedang berada di taman bersama Kiana.


"Dia baik-baik aja kok, tadi dia udah hubungin aku," ujar Kiana.


"Dia nyeritain gak dia tadi kemana?"


"Enggak, dia cuma bilang kalo dia baik-baik aja, jadi aku gak perlu cemas."


Rendi manggut-manggut. Kemudian dia menyandarkan kepalanya di bahu Kiana.


"Kak Rendi kecapean ya?" Kiana mengelus lembut kepala Rendi.


"Sedikit." Rendi begitu nyaman di elus seperti itu oleh Kiana.


"Harusnya kak Rendi istirahat aja gak usah nemuin aku." Kiana menatap wajah Rendi lekat.


"Aku kangen..." Rendi mendongkak.


"Masa?" Kiana menjawil hidung Rendi.


"Iya, rasanya aku gak mau pisah dari kamu." Mata mereka saling bersitatap.


"Lem aja kalo gitu, biar gak bisa kepisah." Kelakar Kiana.


"Hm, aku cinta banget sama kamu, Yang..." Rendi tersenyum manis.


"Aku juga," balas Kiana.


"Juga apa?" goda Rendi.


"Juga cinta kamu..." Bibir Kiana mengerucut.


"Ciee.. Minta di cium nih," goda Rendi lagi.


"Ih, apasih." Kiana langsung menutup mulutnya.


"Kak Rendi, aku mau tanya dong?" ucap Kiana.


"Mau nanya apa, hm?"


"Kak Rendi pernah pacaran berapa kali?" tanya Kiana serius.


"Tiga," jawab Rendi tanpa ragu.


"Tapi itu udah lama, beberapa tahun yang lalu," sambungnyan


"Pasti mantan kak Rendi Cantik-cantik ya?" tebak Kiana.


"Cantikan kamu." Mencubit kedua pipi Kiana.


"Em... Kak Rendi," ucap Kiana ragu.


"Kenapa, Hm?"


"Kak Rendi pernah ngapain aja sama mantan-mantan kakak?" tanya Kiana.


Seketika Rendi mematung, haruskah dia jujur akan pacarannya dulu yang tidak sehat. Ya, dirinya sangat bejad dan jauh dari kata sempurna. Tapi, apakah Kiana akan menerimanya?


"kak."


"Emm..."

__ADS_1


Makin kesini makin panjang ya🤣 Jangan lupa jejak😘😘😘😗


__ADS_2