
"Ini benar, Sayang... Rendi udah pergi." Ray merangkul bahu sang istri.
"Ren... Kenapa lo pergi secepat ini? Kenapa?!" Galang begitu terpukul atas kepergian sang sahabat.
Mereka kini sedang berada di depan ruang IGD di mana Rendi di tangani. Galang, Rayen dan Ella begitu terpukul atas ke matian Rendi yang sangat mendadak ini. Bukankah Rendi kemarin masih bersama mereka, menghabiskan waktu bercanda tawa. Namun kini pria itu telah tiada meninggalkan raga yang terbujur kaku. Raga itu pun sebentar lagi akan terkubur dalam timbunan tanah.
flashback on.
Setelah pulang dari rumah Kiana, Rendi langsung pulang ke rumah orang tuanya. Entah kenapa malam ini dia ingin bermalam di rumah, karena biasanya Rendi tidur di apartemen miliknya.
"Ren... Tumben kamu pulang ke rumah. Biasanya harus Mamah paksa dulu," ucap Ibunya Rendi yang ternyata belum tidur.
"Lagi kangen rumah aja, Mah," jawab Rendi.
"Sama, Mamah gak kangen nih?" Ibunya Rendi tampak merajuk.
"Kangen dong." Rendi seketika langsung memeluk Ibunya dengan begitu erat.
"Papah kemana, Mah?" Rendi tampak celingukan.
"Biasa, lagi ada perjalanan bisnis ke luar kota."
"Kamu udah makan?"
"Udah," jawab Rendi cepat.
"Pasti makan di luar ya? Kamu tu, kenapa gak tinggal di sini aja sih, Ren. Mandirinya nanti aja pas udah nikah."
"Iya, Mah. Besok Rendi akan bawa barang-barang Rendi yang di apartemen dan kembali pulang ke rumah." Putus Rendi.
"Beneran?" Ibunya begitu bahagia.
"Iya, Mamahku sayang." Rendi mengecup pipi Ibunya.
"Ya sudah, kamu istirahat sana. Kamu pasti capek." Binar bahagia tak luntur dari wajah ibu Rendi karena anaknya pulang kembali ke rumah.
Rendi pun mengangguk, kemudian dia naik ke atas menuju kamarnya. Dia berbaring, dengan bibir yang tersungging. Dia mengingat kembali wajah Kiana yang selalu menari-nari dalam pikirannya. Baru saja bertemu, dia sudah merindukan gadis itu kembali.
Ke esokan harinya, Rendi berangkat ke kantor dengan sangat pagi sekali. Karena akan ada meeting dengan klien dari luar kota.
Dret! Dret! Dret!
Vibrasi ponsel yang berada di dasbor mengalihkan atensinya yang terfokus ke jalanan. Dia meraih ponsel itu dengan sebelah tangannya, namun ponsel itu malah jatuh ke bawah. Rendi pun sedikit menunduk untuk mencari ponsel itu.
Tin! Tin! Tin!
Suara klakson sebuah dam truk berukuran besar begitu nyaring sehingga membuat Rendi mendongkak. Namun naas, sebelum dia sempat menghindar, truk itu sudah menyeret mobilnya sampai terpental jauh. Rendi merasakan sakit di sekujur tubuhnya terutama di bagian kepala. Karena lukanya cukup parah terlihat dari darah yang mengalir dengan begitu deras. Pandangannya pun mulai kabur lalu dia tak sadarkan diri.
Ella dan Ray yang sedang bersiap pergi ke kampus, di hubungi oleh nomor Rendi. Rupanya itu dari pihak rumah sakit yang mengabarkan jika pemilik ponsel itu di larikan ke rumah sakit karena kecelakaan. Merekapun segera bergegas menuju ke rumah sakit. Tak lupa Ray menghubungi ibunya Rendi, Galang dan juga Satria.
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di rumah sakit. Begitu juga dengan Satria dan yang lainya, begitu sampai di sana. Rendi ternyata masih di tangani oleh Dokter. Tak berselang lama, Dokter keluar dan mengatakan Rendi sudah sadar dan ingin bertemu ibu dan juga para sahabatnya. Sebetulnya yang di perbolehkan masuk cuma satu, namun karena Rendi memohon dengan suara lirih membuat Dokter tak tega dan mengizinkan mereka masuk.
"Ren... Lo baik-baik aja kan?" Galang menatap lekat sahabatnya yang sedang terbaring lemah dengan mata sayur.
__ADS_1
"Gue baik-baik aja," jawab Rendi lemah dan pelan bahkan nyaris tak terdengar.
"Mana yang sakit, Nak? Kasih tau Mamah." Ibunya Rendi menggenggam lembut tangan Rendi di sertai linangan air mata.
"Rendi, gak pa-pa, Mah. Ja-ngan nangis," ucap Rendi parau.
"Mah...," panggil Rendi lirih.
"Iya, Sayang. Mamah di sini, kamu kuat ya, Nak." Ibunya tak kuasa menahan air mata melihat kondisi Rendi yang terluka parah. Bahkan hampir seluruh tubuhnya di perban.
"Re-ndi minta maaf, Ren_di sa-yang, Mamah." Suara Rendi kian melemah.
"Mamah juga sangat menyayangi kamu, kamu kuat, Sayang... Kamu harus kuat demi, Mamah."
Rendi hanya mengulas sedikit senyuman di wajah pucatnya, kemudian dia melirik ke arah ketiga sahabatnya dan juga Ella.
"Ti-tip, Ki-ana. Tolong ja-ga dia, untuku," ucap Rendi terbata.
"Kita akan jagain Kiana selama lo di rumah sakit, jadi lo harus cepet sembuh ya," ujar Galang.
"Ja-ga dia, sampai dia menikah kelak. A-ku udah gak bi-sa jaga di-a lagi."
"Elo yang bakal nikah sama dia, jadi lo harus kuat. Lo harus bertahan, Ren." Satria tak kuasa membendung air matanya.
"To-long, sampaikan padanya. A-ku sangat men-cintainya...." suara itu kian tak terdengar.
"Kak Ren, harus kuat. Kakak bisa," ucap Ella yang wajahnya sudah sembab karena menangis.
"Lo kuat Ren, lo harus bertahan. Demi nyokap bokap lo. Demi Kia." Ray juga ikut bersuara.
"Ren, Rendi bangun Ren. Kenapa lo malah tidur." Galang menggoyang-goyangkan lengan Rendi.
"Ren.... Kamu kenapa, Nak?" Ibunya Rendi langsung memeluk Rendi.
"Dok! Anak saya kenapa dok?!" teriak ibunya Rendi.
Dokter pun segera memeriksa Rendi. "Inalilahi wainnailaihi roji'un," ucap Dokter itu.
"Maksud Dokter apa?"
"Pasien sudah menghembuskan napas terakhirnya."
"Gak, gak mungkin Dokter! Anak saya masih hidup!" teriak ibu Rendi histeris.
"Ren, bangun. Lo jangan ninggalin kita Ren! Bangun gue mohon!" teriak Satria.
"Kak Rendi udah pergi..." lirih Ella.
Flashback of.
"Kak Ray... Apa yang harus aku katakan pada Kiana?" ucap Ella dengan suara parau.
"Kamu jelaskan pelan-pelan, ya." Ray memeluk sang istri.
__ADS_1
"Kenapa lo pergi secepat ini Ren?" lirih Ray menitikan air mata.
********
Ella saat ini sedang berada di perjalanan menuju rumah Kiana, dia di antar oleh Ray kesana. Sementara yang lainnya sedang mengurus kepulangan jenazah Rendi untuk di bawa ke rumah.
Beberapa saat kemudian dia telah sampai di rumah Kiana, sebelumnya dia bertanya dulu pada Diego di mana alamat rumah Kiana karena dia tidak tau.
Tok! Tok! Tok! Ella mengetuk pintu.
"Siapa ya?" tanya ibunya Kiana yang membukakan pintu.
"Aku temennya, Kia tante. Apa Kia nya ada?" jawab Ella.
"Ada di dalam, kebetulan dia tidak kuliah karena ke siangan," ujar Ibunya Kiana.
"Apa aku boleh masuk, Tante?" tanya Ella.
"Boleh, masuk aja. Kia ada di kamarnya, ayok Tante antar."
Ella pun masuk ke dalam rumah, lalu dia berjalan ke arah kamar Kiana dengan di antar ibunya Kiana. Sementara Ray, dia menunggu di mobil.
"Ella!" seru Kiana begitu dia menoleh saat pintu kamarnya terbuka.
"Hai, Ki." Ella berusaha menahan tangisnya dan berusaha untuk tersenyum.
"Ada apa sampe dateng ke rumah? Tumben?" tanya Kiana heran.
"Kamu ikut aku ya?" ajak Ella.
"Kemana?"
"Pokonya ikut aja," paksa Ella.
"Gak mau ah, aku lagi mager," tolak Kiana.
"Rendi."
Deg!
Satu kata itu membuat Kiana mematung. "Kak Rendi kenapa?" tanya Kiana cemas.
"Dia udah pergi, Ki," jawab Ella lirih.
"Pergi kemana? Keluar kota ya, apa ada perjalanan bisnis?" tanya Kiana yang hatinya sudah tidak karuan, apa lagi melihat raut wajah Ella yang begitu sedih.
"Dia udah pergi dari dunia ini, dia udah ninggalin kita, Ki."
Deg!
"Gak! Ini gak mungkin! Ini pasti cuma prank kan? Kamu bohong kan? Iya kan? Kamu pasti bohong? Kak Rendi gak mungkin ninggalin aku," ucap Kiana menyangkal.
"Aku pengennya seperti itu, tapi sayang. Ini semua benar, Ki. Kak Rendi udah pergi," jawaban serius Ella seketika membuat Kiana menangis histeris.
__ADS_1
"Ini gak mungkin, hiks. Kak Rendi gak mungkin ninggalin aku, hiks hiks. Kenapa kamu bohong? Katanya kamu gak bakalan ninggalin aku? Kamu pembohong Ren! Kamu pembohong!" Kiana berteriak histeris lalu dia tak sadarkan diri.
Jejak😘😘😘