
"Mamah kenapa?" Heran Samsul yang belum menyadari kondisi wajahnya.
"Muka Opa, ucu," ucap Zura sambil terkekeh.
"Lucu kenapa? Oh, Opa tau. Pasti Opah imut ya." Pede Samsul.
"Ikut, banget. Opa. Saking imutnya, setan aja pasti ngirit," sahut Zam yang sedari tadi diam saja.
"Kamu muji apa ngeledek, Zam?" delik Samsul.
"Muji sih enggak! Kalau ngeledek iya," jawab Zam dingin.
"Sebenarnya kalian ini kenapa?" Samsul semakin bingung.
"Coba deh papah ngaca," titah Wina.
Samsul yang penasaran pun langsung mengambil ponselnya. Dia langsung bercermin di sana.
"Elah dalah! Ini muka apa meong congkok?" Samsul mentap wajahnya dengan kening berkerut.
"Papah nggak kaget?" tanya Wina.
"Ngapain kaget? Orang wajah papah jadi imut gini. Mirip meong congkok," respon Samsul.
"Meong congkok itu jelek, Opa. Masa imut. Opa aneh deh." Cibir Zam.
Samsul tidak mendengarkan cibiran cucunya, dia malah bersenandung ria sembari menatap pantulan wajahnya di ponsel.
"Opa kalian oleng kayaknya. Masa wajahnya di bikin jelek jadi seneng." Wina bergiding.
"Papah itu nggak oleng, Mam. Tapi seneng. Papah bangga sama karya seni cucu kita. Ini pertama kalinya Zura membuat karya, dan itu di wajah Papih. Jadi papih seneng." ujar Samsul.
"Ya udah, kalo gitu. Zura gambar aja muka opa tiap hari. Biar opanya seneng ok." Wina menatap cucu perempuan nya.
"Asiap, Oma."
"Nggak gitu juga, Mah. Kalo tiap hari di gambar begini. Bisa-bisa, Papah jadi meong congkok beneran," lirih Samsul.
"Itu mah Derita papih."
"Mamah, Jahat!"
*******""""""*********************
Sepulang dari kantor, Ella tidak langsung pulang ke rumah melainkan pergi ke markas terlebih dahulu. Dia pergi ke sana untuk menemui David dan juga Ragil.
"Ada masalah apa?" tanya Ragil begitu Ella sampai di markas.
"Arga." Satu kata yang terucap dari mulut Ella.
"Kenapa lagi sama orang itu?" Kali ini David yang bertanya.
"Dari penyelidikan gue, besok dia akan menyerang kantor, Papih gue," ujar Ella.
"Maksudnya?"
"Dia bakal bawa pasukan pembunuh bayaran buat nyerang kantor bokap gue besok. Jadi, gue minta sama kalian. Perintah seluruh anggota AOD untuk mengamankan seluruh karyawan kantor besok. Kerahkan semua anggota. Gue nggak mau terjadi apa-apa sama bokap gue dan juga para karyawan nya. Gue akan nyusul ke kantor besok, kalian harus stay dari pagi buta okey," tutur Ella.
"Wah! Nekat juga tuh si Arga tua bangka. Segitu bencinya dia sama papih lo, Ell." David menggeleng.
__ADS_1
"Hm. Cinta membuat orang gelap mata. Seperti elo, " sindir Ella.
"Kenapa sih lo, selalu aja nyinyiran gue," heran David.
"Karena elo salah, Vid." sengit Ella.
"Gue salah apa coba?" David tidak Terima di perlakukan seperti itu oleh Ella.
"Sabar, Vid." Ragil menepuk pundak David.
"Gue sebenarnya nggak ngerti, apa yang terjadi di antara kalian dan ada masalah apa? Karena nggak ada satupun yang cerita sama gue. Jadi gue bingung mau ngasih solusi apa?" ujar Ragil.
"Biar gue yang jelasin." Ella menatap sinis David.
"Ok, coba lo jelasin Ell."
"Jadi, si David itu suka sama gue. Bukan hanya suka, tapi dia juga cinta sama gue," ucap Ella.
"Kalo itu, gue juga tau," respon Ragil.
"Jadi elo udah tau, kalo si David cinta sama gue?" kaget Ella.
"Iya, tapi baru-baru ini sih," jelas Ragil.
"Tapi lo nggak tau kan? Tentang kejadian di malam pertama gue nikah sama Ray?"
"Nggak lah, kan gue belum gabung sama AOD. Emangnya apa yang terjadi?" tanya Ragil penasaran.
"David mabuk, dia nggak Terima gue nikah sama pria laini. Kejadian nya hampir mirip sama kejadian Galang. Cuma bedanya, kalau Galang pria sejati yang bertanggung jawab, sementara dia cuma pecundang," ujar Ella.
"Jadi, maksud lo si David ini? Merkosaa cewek gitu?" Kaget Ragil.
"Iya, dan lo tau siapa ceweknya?"
"Poky, ceweknya adalah, Poky," jawab Ella yang membuat Ragil semakin kaget saja.
"Apa? Poky? Yang bener aja lo, Ell?" Ragil masih belum percaya.
"Emang bener Poky kok, dan yang gue kecewain dari David itu, karena dia nggak gentle man. Dia emang tanggung jawab menikahi Poky, tapi cuma sesaat. Lo bayangin aja, dia nikahin cewek dalam kurun waktu sejam. Parah kan? Ini sejam loh, sehari aja enggak. Setelah satu jam, dia talak Poky. Bisa lo bayangin gimana rasanya jadi Poky saat itu." Terang Ella.
"Parah lo, Vid. Gue nggak nyangka lo bisa setega itu," ucap Ragil kecewa.
"Buat apa di pertahanin? Toh, gue nikahin dia karena sebuah kesalahan. Yang penting gue udah tanggung jawab, lama atau enggak nya nggak masalah kan? Yang penting dia udah memiliki setatus janda. Daripada perawan serasa janda," ucap David enteng.
"Ada kok yang bertahan karena kesalahan, contohnya Galang. Bahkan kini mereka saling mencintai. Kesalahan Galang membuat dirinya menemukan arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Harusnya lo coba dulu jalanin, bukan berlaku kayak banci seperti ini. Bahkan dengan teganya lo membenci Poky tanpa alsan yang jelas. Padahal yang salah itu elo, Poky cuma korban di sini," tutur Ella kesal.
"Ini urusan gue, jadi lo nggak perlu ikut campur. Lo nggak tau gimana rasanya jadi gue. Sakit, Ell. Sakit!" David beranjak kemudian berlalu pergi.
"Terkadang cinta bisa membuat ke adaan menjadi kacau," ucap Ragil.
"Jika gue boleh memih, gue hanya ingin di cintai oleh satu lelaki. Supaya tidak ada hati yang terluka," ujar Ella.
"Tapi kita tidak bisa mencegah perasaan orang lain, Ell. Sudah lah, gue yakin. Semuanya akan membaik seiring berjalan nya waktu."
"Gue harap seperti itu."
Setelah perbincangan mereka selesai. Ella pun pamit pergi kepada Ragil. Dia langsung pulang ke rumah karena tubuhnya sudah terasa lelah. Sudah tenaga di porsir, otaknya pula ikut di porsir. Namun Ella tidak boleh mengeluh karena ini sudah menjadi ke putusannya.
"Kenapa baru nyampe, Sayang?" tanya Ray yang baru saja selesai mandi.
__ADS_1
"Aku dari markas dulu, Kak," jawab Ella.
"Ngapain?"
Ella pun menceritakan apa yang akan terjadi besok pada perusahaan papihnya, dan rencananya yang telah ia bahas dengan Ragil. Sebenarnya Ray melarang Ella untuk turun tangan dalam masalah itu, Karena Ray takut terjadi apa-apa kepada sang istri. Namun Ella bersikukuh untuk tetap turun tangan, dia tidak mau ambil resiko dengan membiarkan para anggotanya mengatasi masalah ini sendiri. Dia tidak mau jikalau sampai terjadi apa-apa pada sang ayah.
"Baiklah, tapi kakak juga ikut," putus Ray.
"Kak Ray mau ikut? Terus kerjaan kakak gimana?"
"Untuk saat ini, keselamatan kamu lebih penting. Untuk kerjaan, itu nomor ke sekian," ujar Ray.
"Makasih kak Ray." Ella memeluk erat tubuh Ray.
"Itu udah jadi tugas kakak, yaitu ngelindungin kamu dari segala marah bahaya apapun." Ray membalas pelukan Ella tak kalah erat.
Pagi hari pun tiba. Inilah saat nya, Ella bersiap pergi ke arena tarung. Ke kantor sang papih maksudnya. Ella sudah siap dengan pakaian serba hitam anti pelurunya. Tak lupa sarung tangan transparan dan peralatan lainnya yang sekiranya akan di perlukan nanti.
"Udah siap, Sayang?" Ray yang sudah bersiap pun menghampiri sang istri.
"Udah siap kok, ayok buruan kita berangkat kak Ray." Ella menarik tangan Ray menuju ke parkiran.
Mereka berangkat dengan mengunakan mobil yang sudah di desain dengan anti peluru dan juga berbagai peralatan canggih yang akan berguna di saat ada penyerangan dadakan. Mob itu sudah di lengkapi dengan meriam tembak yang akan menembak otomatis saat ada musuh mencurigakan yang terdeteksi di sekitar.
Begitu Ella dan Ray sampai di kantor Wirawan, suasana kantor masih begitu sepi. Ella sempat heran, namun datanglah Ragil. Dia menjelaskan semuanya. Ragil bilang, karyawan kantor sengaja di liburkan oleh Andi untuk mencegah sesuatu yang tidak di inginkan terjadi. Ya, Andi sudah tau prihal penyerangan yang akan terjadi, karena Ragil memberitahunya. Ragil sengaja memberi tahu Andi supaya Andi bisa meliburkan karyawan.
Saat ini mereka sedang berada di ruangan Andi, mereka sedang merundingkan apa rencana yang akan di lakukan selanjuntya.
"Apa Arga nggak akan curiga pas tau kantor ini kosong?" ujar Andi.
"Kantor ini nggak akan kosong, Pih," sahut Ella.
"Maksud kamu? Bukankah semua karyawan sudah di liburkan sama Papih? Nggak akan kosong bagaimana maksud kamu?" bingung Andi.
"Mungkin maksud dia nggak akan kosong karena ada kita kali, Pih," timpal Satria.
"Bukan gitu, Abang. Sebenarnya aku tuh udah punya rencana," ucap Ella.
"Rencana apa, Ell? Kok gue nggan tau?" Kali ini Ragil yang bertanya.
"Gue udah punya rencana buat ngelabuhin si Arga tua bangka itu." Ella terlihat menyeringai.
"Iya, tapi apa? Kasih tau kita dong. Kita kan penasaran." Delik Ragil.
"Pokonya kalian liat aja, dan ikutin rencana gue." Ella tersenyum misterius.
"Selalu aja bikin penasaran lu maemunah." Cebik Satria.
Ella pun mulai menyusun strategi yang telah dia buat. Awalnya mereka yang ada di ruangan itu tidak mengerti. Namun setelah mendengar penjelasan Ella. Mereka pun mengerti.
**********
"Ini dia kantor bedebah itu, pokonya gue minta. Kalian harus bikin kantor ini hancur tanpa sisa. Kalo perlu, kalian bunuh semua karyawan yang ada di kantor ini. Tapi tetap ingat denga tujuan utama," ucap Arga kepada ketua pembunuh bayaran.
"Lo nggak perlu khawatir. Semuanya akan beres di tangan gue. Tapi ingat, setelah semua ini tuntas, ada harga yang harus lo bayar," ujar ketua itu.
"Lo tenang aja, itu sudah gue persiapkan dan lo nggak perlu khawatir." Arga tersenyum miring.
"Gue pegang janji lo!"
__ADS_1
"Ada hasil ada uang, jalankan saja tugas lo terlebih dahulu."
Maaf guys, bab ini agak ngaco otornya oleng lagi kejar kataš¤£š¤£š¤£ besok seperti biasa lagi kok normalš