Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Duel dengan Misya


__ADS_3

Atensi mereka saling menyilang pandang dengan tajam dan juga menghunus satu sama lain, aura kebencian begitu terpancar jelas dari wajah Misya. Dia terlihat begitu tidak sabar ingin segera menghabisi Ella. Dendam tanpa alasan membuatnya terlarut dalam kebencian yang mendalam. Rasa iri dan dengki membuatnya menjadi kalap dan gelap mata. Dia tidak tau saja, jika rasa iri itu akan membuatnya terjatuh ke dalam lubang yang dia gali sendiri.


"Bersiaplah menemui ajalmu, wanita sombong," ucap Misya dengan penuh penekanan.


"Harusnya kau katakan itu pada dirimu sendiri." Ella berkata dengan nada yang santai.


"Gue akui, untuk wanita rendahan sekelas lo patut di acungi jempol. Gue salut sama sikaplo yang tak gentar ataupun takut dengan tantangan gue. Padahal lo hanya seorang wanita biasa." Misya menatap Ella serius.


"Elah... Sebenernya kita mu ngomong pagimane sih? Pormal apa non pormal? Bingung gue," respon Ella.


Sontak saja hal itu membut para sahabatnya yang menyaksikan menepuk jidat, di tengah situasi seperti ini. Ella malah membahas masalah bicara yang pormal atau tidak? Ella memang Benar-bena ajaib.


"Sikap lo yang seperti ini membuat gue tertantang, karena gue yakin. Lo cuma pandai dalam bicara, tapi tidak dengan bermain senjata." Misya mengeluarkan sebuah pistol dari saku jaketnya.


"Wah pitnah itu, siapa bilang gue nggak pandai main senjata? Orang senjata kak Ray aja tiap malem gue mainin," sahut Ella pula.


"Lo masih bisa ngomong gitu, karena elo belum ngerasain nikmatnya peluru pistol gue saat bersaranh di otak lemot lo." Misya memainkan pistol yang ada di tangannya.


"Lebih ajib peluru pistol lakik gue saat bersarang di rahim gue. Beuhh! Nikmatnya aduhai tiada tara dan sulit di jabarkan dengan kata-kata," ujar Ella.


"Ck, dasar bocah mesum. Kesitu mulu nyangkutnya," gumam David.


"Bilang aja lo iri, secara kan lo belum pernah nembakin pistol elo." Cibir Ragil.


"Kayak situ pernah aja. Atau jangan-jangan lo udah nembak si Kia? Wah parah lo, Gil. Diam-diam menenggelamkan," tebak David.


"Emang gue udah nembak, Kia," jawab Ragil enteng.


"Astaga! Parah lo, Gil. Anak orang lo rusak. Bener-bener nggak ada ahlak!" David menggeleng.


"Apanya yang rusak coba? Buktinya Kia masih utuh. Emang gue nembak dia, nembak untuk di jadiin pacar gue. Pikiran lo aja yang mesum." Delik Ragil.


"Bisa diem nggak sih kalian!" bentak Dela.


"Tuh liat, mereka udah saling serang," lanjutnya dengan menunjuk ke arah Ella dan Misya yang sudah baku hantam.


"Ck, elo sih! Jadi ketinggalan kan awal mulanya." David menyiku Ragil.


"Kenapa jadi gue?" Ragil mendelik.


"Kak, diem deh. Lagi seru ini." Kiana melirik Ragil.


"Iya, Sayang."


"Cih, dasar bucin." Cibir David.


"Biarin aja, gue kan bucinnya. Budak cinta. Dari pada elo, budak cincau," ledek Ragil.


"Jangan salah, cincau ke sukaan gue, Bro."


"Shutt!" Kiana menatap tajam Ragil yang seketika membuat Ragil terdiam.


Dugh!


Bughh!


Bughh!


"Ternyata lo hebat juga, gue pikir lo cuma wanita lemah yang bisa liar saat di atas ranjang aja. Bukan di arena tarung," ucap Misya dengan keringat yang mengalir deras.


"Baru segitu aja udah keringetan, jiwa tarung lo cemen," ejek Ella.


"Heh, gue emang gampang keringetan. Karena gue sehat, emangnya elo! Nggak sehat, cacingan. Makannya tubuhlo kerdil," balas Misya sinis.


"Eh, Mimis koya! Situ katarak apa belekan? Badan seksi bohay, aduhai gini di bilang cacingan. Ngaca dong! Yang cacingan itu elo. Badan kerempeng udah kayak keripik singkong. Lurus lagi, itu badan? Apa tiang listrik? Kesian yang jadi cowoknya, apanya yang mau di mainin coba? Ah iya, hatinya." Ella nampak bersiap karena dia melihat Misya sudah terbakar emosi dan hendak menyerangnya kembali.


"Kali ini gue bener-bener udah geram sama lo! Jadi, lebih baik gue akhiri saja." Misya mengarahkan pistolnya tepat ke jantung Ella.


"Akhiri saja, gue iklas." Ella berlagak memelas.


"Dengan senang hati."


Dorr!


Misya menembak Ella tepat di jantungnya hingga membuat Ella terjatuh seketika sembari memegang dadanya.


"Mampus lo!" Misya tersenyum penuh kemenangan.


"Ah! Sakit... Dadaku, aduh! Ah! Adidau. Jantungku! Sepertinya jantungku mulai melemah. Dan napasku, mu-lai tercekat." Ella terbaring dengan memegangi dadanya.


"Udah gue bilang, ajal elo akan segera tiba." Misya tampak begitu puas saat melihat Ella kesakitan.


"Kak! Bantuin Ella. Dia kesakitan!" Kiana terlihat sangat panik.

__ADS_1


"Biarin aja," respon Ragil enteng.


"Kamu gimana sih, Kak? Ella lagi kesakitan dan kamu bilang biarin aja. Kamu nggak punya hati," bentak Kiana yang hendak melangkah pergi.


"Kamu tunggu di sini aja, dan liat apa yang selanjutnya terjadi." Ragil menarik lembut pergelangan tangan Kiana.


"Bersiaplah menuju kematian!" Misya berjongkok di hadapan Ella yang masih terbaring.


"Euh, se-pertinya aku akan ma-ti. Ta-pi------ Tapi boong, bleee!" Ella seketika langsung bangkit dan berdiri tegak.


"Lo! Kok bisa?!" Pekik Misya kaget.


"Bisa dong, 'kan nyawa gue banyak." Ella tertawa mengejek.


"Tapi nggak pa-pa, tadi ini lo boleh lolos dari kematian. Tapi tidak untuk kali ini." Misya mengarahkan kembali pistolnya namun kali ini ia arahkan ke kepala Ella.


"Dorr!"


"Dapat!" Ella tersenyum setelah menangkap uru yang di layangkan oleh Misya.


"A-pa yang terjadi? Kenapa pelurunya nggak bisa nembus," bingung Misya.


"Mungkin pelurunya palsu," sahut Ella.


"Tidak mungkin! Ini asli."


"Terus kenapa nggak nembus ke badan gue? Apa yang palsu itu badan gue? Ah iya, kayaknya ini bukan badan. Tapi orang-orangan sawah, makannya nggak nembus," respon Ella.


"Ah! Pistol nggak berguna!" Misya melempar pistol itu ke sembarang arah.


"Bagus! Lempar aja pistolnya, dia nggak berguna. Sekalian elonya juga di lempar, elo kan nggak berguna juga," seru Ella.


"Kali ini gue pasti bisa ngebunuh elo!" Misya mengeluarkan katana panjangnya dari balik jaket yang ia kenakan.


"Oh, mau main perang-perangan. Hayok lah," ucap Ella semangat sembari mengeluarkan katananya pula dari balik punggungnya.


Mereka berdua saling melempar pandangan dengan sengit. Kobaran amarah mengkilat dari manik mata Misya. Ella hanya tersenyum tipis melihat itu. Dia bersikap sesantai mungkin, karena sesuatu yang di mulai dengan kemarahan akan berujung kekalahan. Dalam pertarungan dia mengutamakan, otak dan strategi. Bukan kobaran amarah yang besar yang berujung menguras tenaga. Lelah sebelum waktunya, lemas sebelum pinalnya. Ella tidak mau seperti itu.


Trang!


Trengg!


Treng!


Ella tampak menyeringai saat melihat Misya mulai kelelahan, dia langsung saja mengatur strategi untuk melumpuhkan wanita itu. Ya, dia akan membunuh wanita itu supaya hidupnya tebang. Jangan salahkan dia, jika hidup Misya harus berakhir hari ini juga. Karena Misya yang menantangnya terlebih dahulu. Padahal dia tidak punya masalah apapun dengan Misya.


Blass!


Akhh!


Jeritan Misya begitu menggema kala Ella menebas sebelah tangannya.


"Oow! Maaf, aku sengaja." Ella terkekeh pelan.


"Ah! Kurang ajar lo!" teriak Misya.


"Siapa suruh ngajakin duel? Kalah kan lo? Malam tu sombong!" Ejek Ella.


"Ah! Siaalan!" Misya kembali menyerang Ella dengan sebelah tangannya yang tersisa.


Blass!


"Sorry, buntung dah!" ucap Ella tanpa dosa.


Misya hanya bisa berteriak kesakitan dengan darah yang mengucur deras. Dia pun terduduk di atas rumput hijau yang sudah berubah merah karena ceceran darah Misya. Menyesal? Tentu saja rasa sesal terbersit dalam benaknya walau hanya sedikit karena penyesalannya terliputi kembali oleh kemarahan. Awalnya dia berpikir akan menang, karena dia merasa paling hebat di bandingkan dengan Ella yang notabene nya hanyalah wanita biasa, sedangkan dia ketua gangster. Dia belum tau saja jika Ella adalah ketua gangster pula. Bahkan Ella adalah ketua gangster terkuat yang paling di takuti.


"Ingat, di atas langit masih ada langit. Jangan karena merasa paling kuat, membuat lo nekat berbuat seperti ini yang ujungnya membahayakan nyawa lo sendiri." Ella berjongkok di hadapan Misya.


"Gue tau elo adalah ketua gangster, maka dari itu lo berani nantangin gue tanpa kenal rasa takut. Tapi lo nggak mikir, orang yang lo tantang itu siapa? Bahkan dengan gampangnya lo mau bunuh gue tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa gue? Satu kata buat lo. Bodoh!" Ella menoyor kening Misya.


"Emangnya lo siapa?" Misya tetap saja angkuh walau tengah kesakitan.


"Berhubung sebentar lagi lo akan mati, jadi gue akan ngasih tau lo siapa gue sebenarnya." Ella terlihat menurunkan resleting jaketnya di bagian dada.


"Lo bisa liat kan?" Ella menunjuk sebuah ukiran kecil, bahkan nyaris tidak terlihat di dada sebelah kirinya.


"A-ngel of death, ja--di---" Napas Misya seakan tercekat.


Dia tau siapa Angel of death, gangster terkuat di dunia bawah. Gangster itu begitu di takuti dan tidak ada yang berani mengusiknya kecuali gangster yang nekat dan menginginkan kematiannya di percepat. Misya langsung tergugu, jadi... Orang yang dia tantang adalah Quin tersadis yang paling di takuti itu? Tamatlah riwayatnya, dia yakin. Nyawanya akan segera terlepas dari raga, mengingat tiada yang selamat jika sudah mengusik Quin AOD.


"Kenapa, hm? Menyesal? Sudah terlambat, Sayang..."


Bless!

__ADS_1


Ella menancapkan katanya tepat di jantung Misya, tak hanya sampai di situ. Ella jug mengoyak dada Misya dari atas sampai ke perut. Sehingga membuat isian dan juga darah Misya mengalir begitu deras. Bau anyir begitu menyeruak menusuk ke dalam indra penciuman. Tidak ada satupun anggota BlackBerry Rose yang menolong Misya, tentu saja tidak ada. Karena mereka takut setelah mendengar siapa wanita yang di tantang Misya itu.


"Yah mati." Ella terlihat belum puas.


Blass!


Ella menebas kepala Misya hingga menggelinding di antara rerumputan. Untuk tempat yang mereka gunakan berduel, tempatnya sangat sepi karena jauh dari pemukiman dan jarang sekali di kunjungi oleh manusia. Tempat itu hanya di jadikan beberapa gangster untuk bertarung saja.


"Wau! Quin tersadis beraksi," heboh Kiana sembari menghampiri Ella.


"Kalian berdua nggak takut?" Ella menatap Dela dan juga Kiana secara bergantian.


"Nggak dong, justru aku tertarik ingin belajar bela diri dan juga main senjata," jawab Kiana.


"Gue kira tertarik pengen bunuh. Kalo mau belajar bela diri, minta ajarin sama pacar lo sono," titah Ella.


"Boleh 'kan, Yang." Kiana menatap Ragil dengan pupil eyes-nya.


"Kamu manggil aku apa tadi, Sayang?" Ragil nampak berbinar.


"Nggak usah pura-pura nggak denger deh." Cebik Kiana.


"Ok, aku bakal ngajarin kamu. Tapi dengan satu syarat," ujar Ragil.


"Apa itu?" tanya Kiana.


"Panggil aku seperti tadi."


"Ok, Ayang," seru Kiana senang.


"Guys!" Seperti biasa, Ella memanggil para anggota AOD bayangan.


"Siap Quin!" Mereka seketika muncul dari tempat persembunyian.


"Wau hebat," Pekik Kiana.


"Amazing!" tambah Dela.


"Bereskan semua ini," titah Ella.


"Baik Quin, laksanakan," jawab mereka serempak.


"Ikut kami atau mati?!" Ella menatap ke arah anggota Black Rose yang masih belum beranjak dari tempatnya.


"Kami ikut Quin," jawab mereka cepat.


"Bagus! Tapi ingat, jangan pernah ada yang berani berkhianat. Jika tidak, maka kalian akan tau akibatnya!" ancam Ella dengan penuh penekanan.


"Baik Quin, kami bersumpah, kami akan setia dan tidak akan berhianat," ucap mereka serempak.


"Ok, sekarang kalian semua kembali ke markas BR, bawa seluruh anggota untuk pindah ke markas AOD, bawa juga semua senjata yang kalian punya," perintah Ella.


"Baik Quin, laksanakan!"


"Sebagian dari kalian, dampingi mereka." Ella melirik ke arah anggotanya.


"Siap Quin!"


"Pulang guys," ajak Ella pada ke empat sahabatnya.


"Ok."


Mereka pun melangkah pergi dengan ber-iringan meninggalkan tempat itu. Tempat yang menjadi saksi bisu atas kematian Misya. Perlu di ingat, ke sombongan bisa saja membuat kalian celaka, dan hati-hatilah dalam bermain, karena bisa saja kalian terjebak dalam permainan yang kalian ciptakan sendiri. So, Berhati-hatilah dalam melakukan segala hal. Jangan gegabah dan juga grasa-grusu.


Ella tidak langsung pulang ke rumah, melainkan pulang ke markas. Dia mandi dahulu disana dan juga mengganti pakaiannya yang di penuhi oleh darah Misya.


"Kamu nyesel nggak, Ell? Pas udah bunuh orang?" tanya Kiana.


"Nggak! Karena gue nggak pernah bunuh orang yang nggak bersalah. Gue itu orangnya sadis ketika sudah di usik, kalau nggak di usik? Ngapain juga gue bunuh, emang manusia itu binatang yang bisa seenaknya di bunuh? Orang yang gue bunuh, Rata-rata mereka duluan yang mencari masalah dan nantangin gue, bukan gue. Contohnya seperti si Misya itu," ujar Ella.


"Pak Ray tau?"


"Tau banget, kan dia juga kingnya AOD. Emang si curit ini nggak ngasih tau?" Ella menyiku Ragil.


"Enggak, dia cuma bilang. Quin gangster ini tu kamu," jawab Kiana.


"Sebenarnya si curut ini dulu bukan bagian dari AOD, dia itu tangan kanannya Rayen di gangster lain. Dia ikut AOD setelah gue nikah sama Ray dan gue sama Ray bergabung," terang Ella.


"Oh gitu." Kiana manggut-manggut.


Vibrasi ponselnya membuat atensi Ella seketika beralih. Ponsel Ella yang di atas meja bergetar menandakan ada pangilan suara yang masuk. Ella pun langsung mengangkatnya setelah itu dia menempelkan ponselnya ke telinga.


"A-pa?! Bagaimana bisa?" Seketika raut wajah Ella berubah panik.

__ADS_1


Jejak dong 😘 biar lanjut lagi tambah up😘😘


__ADS_2