
Malam ini bumi di guyur hujan yang begitu lebat, sehingga membuat suasana begitu dingin sampai menyeruak ke permukaan kulit. Namun itu tidak berlaku untuk Ray, tubuhnya terasa begitu panas dengan birahi yang memuncak. Bagaimana tidak, Ella kini sedang berdiri di hadapannya dengan hanya mengenakan lingerie tipis yang membuat segitiga merah dan juga gunung kembar tanpa kacamata terpampang begitu jelas. Akan tetapi Ray tidak bisa menjelajahi nya, dia hanya bisa memandang saja dengan hasrat yang bergejolak.
"Jadi kamu udah tau lama, Sayang?" tanya Ray dengan napas yang memburu.
"Tentu saja, tapi suamiku yang katanya tidak pernah menyimpan rahasia ini sudah berani berbohong kepadaku." Ella tampak mendelik.
"Bukannya kakak gak mau jujur, tapi kakak gak mau bikin kamu kepikiran, Sayang. Kakak memang tau kalau dia begitu terobsesi pada kakak. Tadinya kakak akan bertindak jika dia sudah melampaui batas," ujar Ray.
"Asal kamu tau, tanpa kamu kasih tau pun. Aku sudah tau segalanya, kamu lupa siapa aku? Ragaku memang disini, tapi mataku di mana-mana." Ella menatap Ray tajam.
"Maaf, Sayang."
Ray sangat menyesal tidak memberitahu prihal masalah ini kepada Ella, Ray lupa jika Ella mempunyai AOD bayangan yang akan melaporkan apa saja yang terjadi kepada keluarganya. Mereka akan selalu berada di sisi keluarga Ella, entah jadi apa pun. Sopir, pembantu, pedagang keliling bahkan karyawan kantor. Dan masih banyak lagi.
"Tadi apa kamu bilang? Kamu akan bertindak jika dia sudah melampaui batas? Percuma! itu sudah terlambat. Harusnya kamu bertindak sebelum dia mencapai batas itu, mencegah sebelum terjadi itu lebih baik. Apa jangan-jangan kamu memang mau dia berbuat yang lebih jauh lagi terhadapmu?" todong Ella dengan tatapan mengintimidasi.
"Bukan seperti itu Sayang, sumpah aku gak punya sedikitpun niatan untuk berhianat. Apalagi berharap yang tidak-tidak dari wanita lain. Itu tidak mungkin," sangkal Ray.
Ella tidak mau lagi berdebat, dia memilih naik keatas ranjang dan menenggelamkan diri di kedalam balutan selimut tebal. Ella tidak marah pada Ray, karena dia tau, Ray tidak menanggapi godaan Zela, dia menemui Zela hanya sebatas profesional dalam bekerja saja. Namun Ella kecewa karena Ray tidak jujur, bagaimana jika Ella tidak mengerahkan AOD bayangan dan terjadi sesuatu pada Ray, di jebak misalnya. Kan dia tidak tau inti dari permasalahan. Bisa saja dia percaya Ray yang mengajak bermain bukan di jebak. Tapi untunglah Ella masih menjadi seorang Quin, jadi dia tidak bisa kecolongan.
"Yang...." Ray menyusul Ella masuk kedalam selimut dan memeluk tubuh Ella yang membelakanginya.
"Kamu udah tidur," Ray berbisik di telinga Ella.
"Udah,"
"Oh, aku pikir belum." Ray mengecupi rambut Ella.
"Kamu marah sama kakak?"
"Hm."
"Ternyata ada juga orang yang udah tidur tapi bisa menjawab," ucap Ray.
"Apasih, sana-sana jauh-jauh dari aku." Ella langsung mendorong Ray yang sedang memeluknya.
Tapi Ray tidak menyerah dia malah memeluk Ella kembali, Ella mendorongnya lagi, Ray pun memeluk kembali. Begitu lah berulang-ulang sampai mereka tertidur.
************************************
"Kamu kok belum siap-siap?" tanya Ray yang sudah rapih dengan setelan mengajarnya.
"Nanti aja," jawab Ella singkat.
"Siap-siap sana, kita berangkat bareng," titah Ray.
__ADS_1
"Kamu berangkat duluan aja, aku mau nyusuin twins dulu." Ella melangkah pergi ke dalam kamar twins.
"Cewek kalo marah lama banget, kaya pms aja berhari-hari," gumam Ray sembari meraih tas nya lalu berjalan pergi untuk berangkat ke kampus.
"Beres Ell?" Wina menatap Ella yang baru saja memasuki kamar twins.
"Sip, aman terkendali." Ella mengacungkan jempolnya.
"Semoga sukses."
"Harus sukses."
"Zam, Zura. Maaf ya, Mimom tinggal mulu. Mimom janji, setelah semuanya beres, Mimom akan punya banyak waktu untuk kalian." Ella mengecup pipi Zam dan Zurpa secara bergantian.
"Kalo kamu gak sibuk, nanti Mamah sama Papah rebutan gendong lagi. Belum lagi kalo Mamih kamu dateng, auto gak kebagian gendong Mamah," ucap Wina.
"Mamah bikin lagi aja, Baby," canda Ella.
"Bikin si tiap malem, tapi tak kunjung jadi karena adonannya udah encer makannya gagal mulu. Mending tambah cucu, kamu bikin lagi sono," ujar Rina.
"Ini aja masih ngilu Mam, malah di suruh bikin lagi." Delik Ella.
"Kasih jarak setaun aja, Ell."
Puas bermain dengan twins, Ella pun kembali ke dalam kamarnya. Dia segera bersiap untuk berangkat ke kampus. Kali ini dia mengenakan pakaian yang sopan tapi tetap membuatnya terlihat cantik. Setelah selesai bersiap, dia segera berangkat dengan menaiki mobil sport hitam miliknya.
Beberapa saat kemudian, dia telah sampai di kampus. Ella segera memarkirkan mobil lalu berjalan masuk kedalam gedung kampus.
"Baru dateng, Ell?" Kiana yang sedang berada di Koridor pun langsung menghampiri Ella.
"Hm, yang lain mana?" tanya Ella.
"Lagi di taman," jawab Kiana.
"Kenapa belum masuk? Bukannya matkul sebentar lagi di mulai?" heran Ella.
"Astaga, aku lupa ngasih tau kamu kalau hari ini cuma ngasih laporan tugas kemaren aja. Pak Ray nya sibuk ngurusin yang lagi bimbingan skripsi," tutur Kiana.
"Oh, Yodah kita ke taman juga yuk?" ajak Ella yang di balas anggukan kepala oleh Kiana.
*************"*""
Di sisi Ray.
Saat ini dia tengah berada di dalam ruangannya bersama dengan Zela yang sedang bimbingan skripsi. Sesungguhnya dia sangatlah risih dengan tatapan dan juga sikap Zela, akan tetapi mau bagaimana lagi? Dia harus profesional dalam bekerja.
__ADS_1
"Pak Ray yakin nolak aku? Aku ini cantik loh, seksi lagi." Zela menatap Ray dengan tatapan genit.
"Jaga batasanmu Zela! Saya masih sudi membimbing kamu karena saya masih profesional. Ingat, saya sudah punya anak dan istri, tidak sepatutnya kamu berkata seperti itu!" geram Ray yang sudah tidak bisa lagi menahan ke marahannya.
"Aku tau Pak Ray sudah mempunyai istri, tapi aku tidak masalah meskipun hanya menjadi simpanan bapak saja. Aku ikhlas asalkan bisa memiliki bapak." Zela bangkit dari duduknya kemudian dia berjalan menghampiri Ray.
"Aku sangat mencintai kamu, Ray. Ku mohon jadikanlah aku kekasihmu." Zela tampak mengelus pundak Ray.
"Saya bukanlah tipe pria penghianat, cinta saya hanya untuk istri saya seorang. Tidak akan ada nama wanita lain selain dia di dalam hidup saya, takan pernah ada," ucap Ray sembari menepis kasar tangan Zela.
"Kasian sekali kamu, setia sampai segitunya tapi ternyata istri kamu berhianat." Dela berkata dengan sinis sembari bersidekap dada.
"Apa maksudmu?" tanya Ray tidak mengerti.
"Kamu polos sekali Ray, kamu bahkan tidak tau jika selama ini kamu telah di hianati oleh istrimu. Sungguh kasihan sekali, cinta tulusmu ternyata di balas dengan penghianatan," ucap Zela mencibir.
"Istri saya tidak serendah itu, dia tidak akan pernah berhianat. Dia bukanlah wanita murahan seperti dirimu," tegas Ray.
"Yakin sekali istrimu tidak berhianat. Segitu besarnya cinta kamu sampai membuat kamu menutup mata dari kenyataan yang sesungguhnya." Zela berkata dengan serius supaya Ray percaya dengan apa yang dia ucapkan.
"Saya lebih percaya dengan istri saya, daripada ular licik sepertimu." Ray bangkit kemudian melangkah pergi dari dalam ruangannya.
Ray berjalan kearah kantin untuk mencari keberadaan sang istri, karena hanya dia lah yang mampu meredam emosinya.
"Dimana Stela?" tanya Ray pada Kia yang dia ketahui adalah teman istrinya.
"Dia ada di gudang belakang, Pak," jawab Kia.
"Ngapain dia di gudang?" bingung Ray.
"Tadi ada kakak kelas nyamperin kita, katanya dia di suruh dekan untuk memerintahkan Ella membersihkan gudang belakang, karena gudang itu akan di jadikan tempat penyimpanan barang," ujar Kia.
"Kenapa harus Stela?"
"Saya gak tau pak."
"Aneh," gumam Ray lalu dia berjalan pergi menuju ke gudang belakang.
Ray berjalan dengan cepat dah juga tergesa menuju kesana, dia takut sang istri kelelahan karena tubuhnya belum pulih total. Setelah sampai disana, gudang nampak sepi, Ray pun langsung saja membuka pintu gudang itu dan............
Jejak😘😘😘
Author punya rekomendasi novel yang bagus nih, sembari nunggu Ella up, kalian bisa baca ini. Pokonya gak bakal nyesel deh, bikin kalian baper dan juga terhibur dari gegana yang melanda jiwa, cuss kepoin.
__ADS_1