Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Penganten baru VS penganten basi


__ADS_3

"Sini."ucap Galang yang melihat Dela hanya mematung saja di dekat ranjang.


"Em, kita tidurnya berdua ya, A?"Dela terlihat gugup.


"Iya, kita pan udah nikah. Masa tidurnya pisah. Kenape Neng Del takut ya tidur sama Aa?"Galang menatap Dela dengan tersenyum manis.


"Bukan gitu, aku cuma egak biasa aja tidur bareng cowok."Dela meremas jarinya yang saling bertautan.


"Makanya, mulai sekarang biasain ya. Aa juga kagak pernah tidur bareng cewek, tapi mulai hari ini dan seterusnya Aa bakalan tidur bareng Neng Del nyang imutnye pari purna sejagat raya."Galang bangkit dari ranjang kemudian dia menghampiri Dela.


"Ayok tidur, apa gak pegel diri mulu."Galang menuntun Dela menuju ke ranjang.


"Untuk saat ini di antara kita memang belum ada cinta, tapi Aa mohon jangan ngindar, kita harus terbiasa dengan ini semua. Supaya cinta itu cepat tumbuh di antara kita ya."Galang merangkul Dela yang sedang duduk di ranjang kemudian dia menyandarkan Dela pada dada bidangnya.


"Neng Del harus terbiasa dengan semua ini."ucap Galang saat melihat Dela gugup.


"Aku hanya sedikit gugup."Dela menunduk dengan pipi yang memerah.


"Tatap mata Aa."Galang mengangkat dagu Dela sehingga mata mereka bertemu dan saling menatap dengan begitu lekat.


Cup,


Galang mencium bibir Dela sehingga membuat Dela kaget dengan jantung yang berdisko ria. Galang membiarkan bibirnya menempel di bibir Dela kemudian dia menggerakannya dengan pelan, dia menyesap lembut bibir Dela dengan kaku karna dirinya belum pernah melakukan itu. Meskipun dirinya terkenal sableng dan juga nakal tapi nakalnya bukan pada wanita melainkan pada minuman dan juga rokok saja. Untuk hal yang satu ini dia tidak berpengalaman, pada saat memperkossa Dela pun dirinya dalam keadaan tidak sadar bukan atas dasar kemauan otak warasnya.


Galang mencium Dela sesuai naluri lelakinya saja bukan berdasarkan pengalaman, dia mencoba meraup bibir itu dengan rakus dan juga menuntut, menggigit bibir itu pelan sampai bibir Dela sedikit terbuka, kemudian dia menjulurkan lidahnya untuk menyusuri rongga bagian dalam mulut Dela.


Dela meronta sembari memukul-mukul dada Galang lumayan keras, karna dirinya sudah kehabisan nafas,


"Aww,"ringis Galang karna Dela mencubit pinggangnya.


"Huh huh huh, Aku gak bisa nafas, A."Dela berusaha menetralkan nafasnya.


"Bernafas dong Neng, jangan di tahan entar deat pagimane? masa Aa jadi duda di malam penganten pan kagak lucu."ucap Galang.


"Caranya gimana? aku gak bisa."Dela menunduk malu.


"Dari idung, kita coba lagi ya. Inget nafas."Dela pun mengangguk samar.


Galang pun menyatukan kembali tautan bibir mereka, dia melumaat dan juga menyesap bibir itu secara rakus, kemudian dia kembali menyusuri bagian dalam mulut Dela, dia membelitkan lidahnya pada lidah Dela sehingga lidah mereka saling bertautan. Suara decapan mereka begitu nyaring sehingga memenuhi kamar yang ada di Vila itu.


"Habis eni ngapain lagi ya?"ucap Galang setelah dia melepaskan tautan bibir mereka.


"Aku gak tau, A."Dela mengelap bibirnya yang basah.


"Langsung entu aje kali, ya."Galang menatap mata Dela.


"Apa?"Dela membalas tatapan mata Galang.


"Nganu loh, Neng Del. Begonoan."ujar Galang.

__ADS_1


"Itu-ituan?"


"Hooh, apa langsung entuan kali ye?"Galang terlihat berpikir.


"Kalo salah gimana?"ucap Dela.


"Iye juga ye, kalo nyasar pagimane? berabe ntar."


"Bentar dah, Aa mau ngubungin si Samurai dulu."Galang bangkit dari ranjang untuk mengambil ponselnya.


Tut, tut, tut.


"Ah, apa sih Lang. Eumh."suara Ray terdengar begitu berat.


"Gue mau nanya."ucap Galang.


"Apaan buruan, eughh terus sayang. Ah,"entah sedang apa Ray di kamar sebelah.


"Em, itu caranya nganu pagimane sih Ray?"tanya Galang.


"Nganu, ituan?"tanya balik Ray.


"Hooh, kayak yang elu lagi lakuin."


"Masa lu kagak bisa, ahh. Eunghh."


"Kagak, makannya gue nanya. Takut salah sasaran gue."


"Cek video yang gue kirim, lu ikutin aje entu. Ahh, sayang. Eumhh, dah jangan ganggu gue lagi."Ray langsung mematikan sambungan telponnya.


Galang pun langsung saja membuka video yang Ray kirimkan. Dia menonton video itu dengan begitu serius.


"Neng Del, mulai lagi nyok."ucap Galang sembari menghampiri Dela yang sedang bermain ponsel setelah dirinya selesai menonton video yang di kirim Ray.


"Memangnya Aa sudah bisa?"tanya Dela.


"Udeh dong."Jawab Dela.


"Ntar berhenti di tengah jalan lagi kek angkot, kan nanggung."cebik Dela.


"Kagak bakalan sekarang mah, pan Aa udah tau jalan ame jalurnya. Nyok ah lanjut."Galang mulai mendekati Dela,


Galang pun kembali menerjang sang istri tanpa ada kendala apapun lagi, kali ini tangannya ikut bermain, dia mengikuti video yang di ton-tonya tadi. Galang mereemas lembut kedua gunung himalaya Dela dengan bibir yang tengah menyuri leher jenjang Dela sehingga membuat si empunya mengeluarkan suara desah yang begitu merdu.


Kemudian Galang mempreteli satu-persatu kain yang menempel pada tubuh Dela sehingga calon Mama muda itu polos tanpa sisa. Glek, Galang menelan salivanya kasar begitu dia melihat pemandangan yang menyegarkan mata, jakunnya naik turun seiring nafasnya yang memburu. Sesuatu yang sudah berdiri tegak kini kian menegang saja meminta untuk di salurkan.


"Sungguh indah ciptaan mu tuhan. Haduh lekukan tubuh mu begitu indah Neng Del, membuat Aa semakin bergairah saja. Uh, Aa tidak sabar menikmatinya. Pasti gurih-gurih enyoy inimah beuhh."Galang langsung saja meraup puncak gunung himalaya Dela dengan rakus dengan satu tangan yang berkelana menghampiri lembah lebat Dela.


Dela merasakan tubuhnya sudah begitu memanas, dia begitu menikmati sentuhan Galang yang masih amatir itu, Galang memainkan tangannya di lembah Dela kemudian dia memasukan satu jarinya masuk kedalam gua dia bermain-main di dalam sana.

__ADS_1


Setelah puas bermain di tubuh Dela, Galang pun langsung saja membuka seluruh pakaiannya sehingga sesuatu yang berdiri tegak itu menyembul keluar.


"Astaga, gagang cangkul."pekik Dela kaget.


"Buju buset, senjata Aa Neng katain gagang cangkul. Kagak ada yang bagusan dikit ape Neng."Galang menggelengkan kepalanya.


"Em, itu bakal muat kan ya. Waktu itu juga sakit banget A, aku sampe susah jalan."ucap Dela takut.


"Maaf ya, kalo waktu entu Aa maennya kasar. Sekarang janji dah bakalan pelan dan juga lembut."ujar Galang.


"Tapi kalo susah, masukinnya setengah aja ya."


"Mana enak Neng kalo setengah. Ntar gontot lagi."


Galang mulai memposisikan tubuhnya. Dia mengarahkan senjatanya pada gua Dela. Perlahan tapi pasti, galang mulai memacu senjatanya. Malam pertama akhirnya terlaksana tanpa ada Derama tunda menunda seperti Ray dan Ella,


Back to Ray dan Ella.


"Akhh, lebih cepat sayang."ucap Ray meleguh kenikmatan sembari meremas sesuatu yang menggantung di atas.


"Emm, aku sukanya pelan ahh. Rasanya lebih em nikmat."Ella terus memaju mudurkan tubuhnya yang sedang duduk di atas tubuh Ray yang terlentang.


"Ahh, nikmat sekali euhh. Kau luar bisa sayang. Ah, ah, ah. Naikan temponya sedikit sayang. Eum akhh euhh."desah Ray sembari terus memainkan puncak gunung Ella.


"Akhhhhh, euughhh. Eumm, Ahh."


"Uh, ah, ah, ah. Hm ahhh, euggg."


Suara leguhan kenikmatan terdengar begitu jelas dari dua kamar pengantin baru dan juga pengantin basi itu sehingga membuat keempat pria yang tengah berada di ruang santai pun hanya bisa menelan ludah karna suara itu membuat hasrat kelelakian mereka bangkit.


"Ya tuhan, berat bener rasanye jadi jones."ucap Satria.


"Apalah daya, kita cuma bisa nelan ludah doangan dengar suara luknut itu."tambah Rendi.


"Gue serasa lagi nonton konser bokeep tau kagak."ujar David.


"Bokkep tanpa gambar, hanya suara desah dan erangan saja."sambung Ragil.


"Gini amat ya, ngikut liburan bareng penanten baru vs penganten basi. Bikin burung gue meronta-ronta pen lepas dari sangkar."gerutu Satria.


"Akhh, aahhh. Uhh, lebih cepat sayang."suara itu kembali terdengar.


"YAALAH GUSTIII, kagak bisa ape mereka kagak usah bersuara. Ni lagi kamar apa kagak pake pengedap suara, ngenes banget gua."kesal Rendi.


"MAK, PEN KAWIIN. Kesianan ni burung, kedinginan mulu."teriak Satria.


"Kita juga pengen."ucap Ragil dan juga David bersamaan.


"Tapi apalah daya, pacar aja kagak punya mo kawin ame sape? monyet."timpal Rendi.

__ADS_1


"Ogahh. Lu aja."


Jejak like comen voteπŸ˜™πŸ˜™πŸ˜™


__ADS_2