
Grebb!
Ray meraih tubuh seksi Ella kemudian dia mencium bibir Ella dengan rakus untuk melampiaskan kekesalan nya yang memuncak, Ray mendorong tubuh Ella ke sopa dengan sedikit kasar. Amarahnya begitu memuncak kala melihat tampilan sang istri, dia tidak rela tubuh mulus nan molek sang istri di pandangi oleh pria lain.
"Kak, emm.." Ella tak dapat berbicara karena Ray terus membungkam mulutnya sembari membuka paksa seluruh pakaian Ella.
Bugh!
Bugh!
"Stop!"
Ella memukuli dada Ray cukup kuat dan berteriak setelah tautan bibir mereka terlepas. "Kak Ray apa-apan si? Kenapa aku di telanjangin kayak gini coba? ini di kampus bukan di rumah," marah Ella.
"Kamu yang apa-apaan? kamu sengaja pake baju laknat seperti itu untuk memancing perhatian laki-laki lain, hah?" Ray berkata dengan begitu emosi.
"Jangan sembarangan kalo ngomong, aku bukan wanita serendah itu. Aku gak ada niat sedikitpun untuk memancing perhatian laki-laki. Aku tu kesiangan makannya gak sempet ganti baju, boro-boro ganti baju, mandi aja egak. Kamu liat kan baju yang aku pakai. Ini baju semalam, jaga tu mulut, maen nuduh orang sembarangan aja,"ucap Ella dengan wajah dingin.
"Maaf, kakak hanya emosi. kakak gak rela orang lain memandang ke indahan tubuh kamu. Lain kali, kalo memang kesiangan, gak pa-pa gak usah berangkat. Maafin kakak yah," sesal Ray sembari menarik tubuh polos Ella kedalam dekapannya.
"Kak Ray jahat, hiks." Ella pura-pura menangis.
"Maaf, Sayang." Ray mengecup lembut kening Ella.
"Terus akunya gimana? masa keluar begini." Ella menunjuk tubuh polosnya.
"Di lemari kan banyak dress punya kamu," ucap Ray.
"Emang masih muat? badan aku kan udah melebar," cemberut Ella.
"Bukan melebar, tapi berisi dan tambah seksi." Ray kembali meraup bibir ranum Ella.
Tautan bibir mereka berlangsung cukup lama dengan tangan Ray yang berkelana menyusuri gunung yang kini bertambah besar, dia juga menyusuru lembah yang hanya bisa dia usap tanpa bisa masuk kedalam gua karna masih dalam proses perbaikan.
"Milsake," bisik Ray di telinga Ella kala birahinya kian memuncak.
"Ok, dimana maen kocok-kocok milsake nya?" Ella menatap Ray dengan tatapan nakalnya.
"Kamar mandi." Ray langsung membopong Ella menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar sederhana tempat Ray beristirahat.
Jadilah acara kocok mengkocok berlangsung panas di dalam sana, mereka terbuai dalam gairah yang membara sampai lupa jika Ella hendak berangkat untuk mewawancarai para pedagang kaki lima bersama dengan kelompoknya. Alhasil dia pun tertinggal.
"Seksi banget, Sayang," ucap Ray pada Ella yang sedang mencoba dress setelah mereka menyelesaikan ritual dan mandi.
"Ketutup gini masa seksi?" Ella menilik dress yang dia pakai.
__ADS_1
"Emang ketutup, tapi lekukan tubuh kamu keliatan, Sayang," ujar Ray.
"Terus aku harus pake apa? Semua dress nya ngepas banget di tubuh aku," cebik Ella.
"Bentar." Ray terlihat membuka lemari.
"Kamu pakai ini," ucap Ray.
"Switer?"
"Hm." Ray mengangguk sembari menyerahkan switer itu pada Ella.
"Gombrang banget kak Ray, akunya jadi kayak orang-orangan sawah," ucap Ella setelah dia memakai switer itu tanpa melepas dress nya.
"Itu lebih baik, daripada tubuh seksi kamu ter ekspose," ucap Ray.
"Okelah, setidaknya aku terlihat imut. Mana kunci mobil, aku mau nyusul kelompok aku, gara-gara kak Ray nih aku jadi ketinggalan kan," Ella menatap Ray kesal.
"Mau kakak antar?" tawar Ray.
"Gak usah." Ella mengambil kunci mobil dari tangan Ray, lalu beranjak pergi setelah meraih tasnya dengan menghentikan kaki dan bibir menggerutu.
"Manis," gumam Ray yang melihat Ella pergi dengan wajah yang di tekuk.
Setelah sampai di parkiran, Ella segera menyalakan mesin mobilnya lalu melajukannya dengan sedikit kencang. Sebelumnya dia sudah menghubungi Kiana untuk memintanya mengirimkan lokasi mereka saat ini.
"Maaf ya, aku telat," ucap Ella setelah dia sampai.
"It's okay," ucap Diego.
"Lo niat ngerjain tugas gak sih? Lelet banget," ketus Jesika sembari menatap Ella sengit.
"Maaf, soalnya tadi aku ada kendala sedikit." Ella tampak tersenyum tipis.
"Alesan aja, bilang aja lo males," cibir Jesika.
"Lo diem deh, Jes. Yang penting kan dia udah dateng," sela Diego.
"Belain aja terus, lo suka ya sama ni cewek?" Jesika menatap tajam Diego.
"Apasih, lo. Ada-ada aja," delik Diego.
"Lo ngaku aja, lo suka sama dia kan? Makannya lo nolak gue," todong Jesika.
"Gue nolak elo, karna gue gak suka sama lo. Ini gak ada sangkut pautnya sama dia," tutur Diego.
__ADS_1
"Stop, kita ini mau ngerjain tugas. Bukannya mau debat, kalo gini terus, kapan selesainya coba. Dan buat kamu Jes, jangan bahas masalah pribadi dulu deh, kita selesain tugas dulu biar cepet kelar," lerai Kiana, sementara Alvin hanya diam saja dengan wajah datarnya.
"Kita lanjut lagi," ucap Diego sembari melangkah pergi dengan diikuti oleh Jesika.
"Kita wawancara pedagang yang mana?" tanya Ella pada Alvin yang berada di sebelahnya dan hanya di balas Alvin dengan mengangkat bahu.
"Vivin gak bisa ngomong ya? Akunya nanya kok di kacangin. Eh, tapi kan dia kemarin ngomong. Ah, aku tau, pasti stok suara Vivin terbatas kan kayak uang bulanan, makannya di bates biar irit," cerocos Ella.
"Hm," hanya itu yang keluar dari mulut Alvin.
"Ya ampun, aku kira kak Ray dulu paling dingin, ternyata ada yang lebih dingin," gumam Ella.
"Lagian orang datar gitu di tanya, bukannya di jawab malah bikin kita kesel kan," ucap Kiana.
"Nyesel aku nanya dia Kia, kayak nanya tembok," cebik Ella.
"Yodahlah kita wawancara yuk, biarin aja si kutub mah kita tinggal disini," lanjutnya.
"Yok."
Mereka pun melangkah pergi darisana untuk mencari pedagang yang akan mereka wawancarai. "Itu aja, Kia." Ella menunjuk pedagang bakso.
"Bakso?" Kiana melihat kearah yang di tunjukan Ella.
"Cari yang lain," ucap Alvin yang ternyata berada di belakang mereka.
"Etdah, sejak kapan ni kutub ada di belakang." Ella melirik Alvin.
"Bakso sudah banyak," ujar Alvin singkat.
"Bakso udah banyak? Mana basonya? Disini gak ada bakso," ucap Ella bingung.
"Pedagang."
"Ya alah yarob, Ale ale cebuan. Ngomong yang jelas kenapa? Kita itu mau wawancara bukan mau main teka-teki. Ya Tuhan kenapa juga gue mesti sekelompok sama orang aneh bin ajaib kayak gini," kesal Ella.
"Hm."
"Jawab dodol, bukan hm. Lama-lama gue pites juga lu, bikin gue darah tinggi aja." Keluarlah sikap bar-bar Ella.
"Hm."
"Ni orang bener-bener nguji kesabaran gue, Kia, disini ada kandang buaya kan?"
Hay reader tercinta, jangan lupa jejak ya. And coba kepoin cerita temen otor. Dijamin bagus dan tidak membosankan😘😘😘
__ADS_1