
"Yang!" panggil Dalina dari dalam kamar mandi.
Satria yang sedang memangku laptop pun segera menaruh laptop itu di atas nakas, kemudian dia berjalan ke arah pintu kamar mandi.
"Kenapa, Beb?" Satria bertanya dari luar kamar mandi.
"Aku lagi dapet," jawab Dalina.
Satria mengernyit, "Dapet apa?" Dengan wajah bingung dia bertanya.
Ceklek!
Dalina membuka pintu, "Depet tamu bulanan, tapi pembalut aku abis. Beliin ya," pinta Dalina dengan pupil eyes-nya.
Satria belum bisa mencerna dengan baik, dapet tamu bulanan? Pembalut? Otaknya bertanya-tanya karena nama itu begitu asing baginya.
"Ayang!" ucapan Dalina membuyarkan lamunan Satria.
"Iya, Beb. Tapi aku nggak ngerti, Beb. Apa itu tamu bulanan? Tukang kredit panci?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut satria.
"Astaga! Kamu hidup di zaman apa sih? Masa masalah kayak gini aja nggak tau." Dalina mencebik.
"Makannya jelasin dong, Bebebku sayang. Aku kan nggak tau," ujar Satria.
"Itu loh, yang keluar darah dari tempat kamu bercocok tanam setiap bulannya," jelas Dalina.
"Oh, menstruasi. Bilang dong, ini segala pake istilah tamu bulanan segala kayak kang kredit panci aja." Satria baru mengerti, dia memang tau istilah itu adalah menstruasi bukan tamu bulanan, jadi tidak ngeuh pas Dalina bilang seperti itu.
"Iya lah, sama aja. Sana beliin aku pembalut ya," pintanya.
"Pembalut? Istilah apa lagi itu? Aneh-aneh aja bahasa wanita," gerutu Satria.
"Udah cepetan pergi ke minimarket depan, keburu bocor ini," Paksa Dalina.
"Iya, iya." Satria mengambil kunci motor supaya cepat sampai.
"Ukurannya yang lebih dari 40cm ya. Biar nggak bocor, soalnya aku dapetnya suka banyak," tutur Dalina.
"Ok." Satria hendak melangkah pergi.
"Satu lagi, Yang."
"Apa?" Satria menoleh.
"Yang ada sayapnya."
"Gak sekalian yang ada ceker sama kepala, nya." Satria berlalu pergi.
Beberapa saat kemudian, Satria telah sampai di sebuah minimarket yang tidak jauh dari rumahnya. Dia segera masuk, kemudian dia berjalan mengelilingi rak yang begitu banyak barang-barang berjejer tertata rapih. Satria bingung, pembalut yang mana, pasalnya dia tidak pernah membeli itu.
"Mbak!" panggil Satria pada salah seorang pegawai minimarket.
"Iya, Mas. Ada yang bisa saya bantu?" pegawai itu menghampiri Satria.
"Tolong cariin pembalut yang bisa terbang ya, Mbak," pinta Satria.
Mbak itu gagal konek, memang ada pembalut yang bisa terbang? Pikirannya bertanya-tanya. Apakah produk baru?
"Panjangnya satu meter ya, Mbak. Biar kagak bocor. Kalo perlu lapisi aja pake no drop biar ngak bocor-bocor." Perkataan Satria semakin membuat Mbaknya bingung.
"Mas mau beli pembalut apa, Cat?" tanya Mbak itu cengo.
"Apa aja, Mbak. Yang penting buat wanita yang lagi kedatangan tamu bulanan yang melimpah ruah."
Tanpa menyahut lagi, Mbak itu pun pergi ke tempat penyimpanan di mana benda itu di letakan. Tak lama kemudian dia sudah kembali dengan membawa beberapa pack benda yang di cari oleh Satria.
"Ini Mas, mau pilih merek apa?"
__ADS_1
"Itu yang terbang semua kan?" tanya Satria.
"Ini yang ada sayapnya, Mas," jawab Mbak itu.
"Iya yang bisa terbang, kalo nggak bisa terbang buat apa ada sayapnya nggak guna."
"Ini bukan burung, Mas. Jadi nggak bisa terbang."
"Bungkus aja semuanya, percuma punya sayap tapi nggak bisa terbang." Dumel Satria sambil menyerahkan kartu miliknya.
Mbak itu pun membungkus semua benda itu, kemudian menyerahkannya kepada Satria.
"Ini, Mas."
Satria pun menerima barang itu dan juga kartu yang dia gunakan untuk membayar, saat dia hendak melangkah keluar. Dia berpapasan dengan sang adik.
"Lu ngapain di sini, Dek?" tanya Satria.
"Aku mau beli pempers buat twins, Bang. Tadi lupa bawa dari rumah," jawab Ella.
"Kok jauh-jauh kesini?" tanya Satria lagi.
"Aku kan mau ke rumah, Mamih."
"Owh, sama si Ray?"
"Iya, sama twins juga."
"Ngomong-ngomong, Abang beli apa?" Melirik belanjaan yang di tenteng Satria.
"Buat kakak ipar lo, dia lagi dapet."
"Suka banyak nggak, Bang dapetnya?"
"Hooh banyak, makannya sering bocor."
"Apa?"
***********************
Sesampainya di rumah, Satria langsung masuk ke dalam kamar dengan menenteng belanjaanya. Sementara Ella, dia langsung menemui Rina yang tengah menonton sinetron di ikan terbang.
"Beb!" panggil Satria.
"Aku masih di kamar mandi, Yang," sahut Dalina.
"Ya ampun, Beb. Di sana dingin loh. Gimana kalo masuk angin." Satria langsung menaruh belanjaannya dan menghampiri Dalina.
"Kenapa kamu nggak keluar, Beb. Badan udah dingin begini." Satria merangkul Dalina keluar dari dalam kamar mandi.
"Takut bocor, Yang. Entar berceceran."
"Kan gampang tinggal di pel, kalo begini kamu bisa masuk angin." Omel Satria.
"Iya, iya. Mana pembalut nya?"
"Tuh." Satria menunjuk keresek putih di atas nakas.
Dalina pun berjalan untuk mengambil bungkusan itu, kemudian dia membukanya. "Satria!" teriak Dalina begitu menggelegar.
"Astaga!" Satria terperanjat kaget.
"Kenapa lagi, Beb?"
"Kamu pikir aku jompo hah? Pake di beliin beginian segala?" Dalina melempar pempers ukuran dewasa ke arah Satria.
"Kan biar nggak bocor-bocor, Beb."
__ADS_1
"Ngak bocor-bocor gundulmu. Aku nggak mau pake itu. Aku tuh dapet tamu bulanan, bukan lumpuh, ngapain pake begituan? Pokonya aku ngak mau tau, kamu harus beli lagi," murka Dalina.
"Tadi aku udah beli kok, Beb. Pembalut terbangnya," ujar Satria.
"Terus mana? Kenapa jadi beginian?" Dalina menatap tajam Satria.
"Aiss, pasti tu adek luknut ngerjain gue!" Kesal Satria.
"Apa, Bang?" Ella tiba-tiba menyembul dari balik pintu.
"Nah, ini dia nih adek kurang asem. Ini ulah dia tuh, Beb. Ini saran dia." Satria menunjuk Ella.
"Apaan, kok nyalahin aku." Ella melenggang masuk ke dalam kamar mereka dengan menenteng keresek putih.
"Nih, Kadal. Pake dulu roti nya, biar nggak tembus kayak gitu." Ella menyerahkan kantong kresek yang di bawanya sembari menunjuk celana Dalina.
"Astaga!" Dalina segera mengambil benda itu dari tangan Ella kemudian ngibrir ke kamar mandi.
"Suee lo, Dek!" Satria menatap Ella kesal.
"Apa?" Ella berjalan keluar dari kamar itu dengan di ikuti Satria di belakangnya.
"Kenapa tu muka di tekuk?" tanya Ray saat melihat Satria menghampiri mereka.
"Gara-gara bini lo yang super rese ini." Satria duduk di samping Ray.
"Bini lo, dulu adek gue." Ledek Ray.
"Males gue, punya adek kek dia. Mending buang aja ke laut."
"Enak aja buang ke laut! Aku ini adek limitit edisien loh, Bang."
"Twins mana?" Satria melirik kesana-kemari mencari ke beradaan twins.
"Di bawa sama, Mamih ke kamar," jawab Ella.
"Dua-duanya?"
"Iyalah, masa iya satu. Terus yang satunya lagi mana? Nyempil di kolong meja?"
"Sewot amat lo, Dek. Lagi pms ya?" ledek Satria.
"Enggak, masa baru beres udah pms lagi."
"Owh, gue kira lagi pms. Tadinya gue mau nyuruh lo make benda rekomendasi lo tadi," ujar Satria.
"Balas dendam ceritanya?" Delik Ella.
Lama mereka bercengkrama di sana, hingga Dalina yang sudah berganti pakaian pun ikut bergabung. Rina tetap tidak keluar dari kamar, rupanya dia ingin menguasai twins seorang diri.
Mereka kini sedang asik menonton sinetron ku menangis di ikan terbang, bukan sengaja menonton, namun chanel nya belum mereka ganti, jadi lanjut saja menonton sinetron yang di tonton oleh Rina tadi.
"Mamih betah amat sih nonton beginian, isinya tentang pelakor sama suami selingkuh mulu dah perasaan," ucap Ella.
"Emak-emak kan sukanya sinetron begini, Ell." Timpal Dalina.
"Padahal seruan drakor, udah gitu hot lagi ada adegan kissing nya," ujar Ella.
"Hooh, kalo ini kan cuma ku menangis doang. Lakik selingkuh, kumenangis.... Bukannya di geprek pake toa, sekalian pakein sambel. Jejelin tuh ke mulutnya," gerutu Dalina dengan mata yang terfokus ke arah televisi.
"Astaga! Pelakor masuk rumah bukannya di jambak sampai botak. Malah nyender di tembok sambil kumenangis... Kalo aku jadi dia, aku tendang tuh dari lantai dua biar nyungseb sampe ke akherat." Ella ikut geram.
"Ngedumel bae, tapi tetep aja di tonton. Dasar cewek!" Delik Satria.
"Korban ikan terbang!" Sambung Ray.
Jan lupa jejak ok😘😘😘
__ADS_1