
"Ell, Mamah udah bikinin puding kamu, sini turun," teriak Wina dari bawah tangga.
Ella yang sedang rebahan karena malas gerak pun akhirnya turun dengan langkah yang malas, Ella menatap ibu mertuanya yang tengah tersenyum seraya menatap puding buatannya.
"Mamah kayaknya terkena gejala odgj deh," celetuk Ella kemudian duduk di kursi meja makan.
"Menantu durhakim, datang-datang ngatain mertua gila," delik Wina.
"Abis, puding pake di ajakin senyum segala. Tu puding mau di jadiin simpanan kayak si Vino?" Ella mengambil salah satu puding buatan Wina kemudian memakannya dengan lahap.
"Mana ada puding di jadiin simpanan, brondong baru bisa," sahut Wina.
"Oh iya, wisuda kapan sih, Ell? Perasaan lama bener dah," lanjutnya bertanya.
"Tinggal tiga mingguan lagi, Mam," jawab Ella.
"Udah nyiapin bajunya belum?" Wina kembali bertanya.
"Belum, entar aja lah. Akunya lagi mager," ujar Ella yang masih sibuk menyantap puding.
"Orang hamil nggak boleh mageran, entar anaknya jadi pemalas," ucap Wina menasehati.
"Aku nggak malas, cuma mager aja," elak Ella.
"Malas sama mager sama aja."
"Beda, Mam. Malas ujungnya s, mager ujungnya r," seloroh Ella.
"Tetep aja awalnya sama, M."
"Awalnya doang, ujungnya enggak. Berati itu tandanya beda."
"Yalah terserah kamu, ngomong sama kamu nggak bakal ada abisnya," Cebik Wina.
"Iyalah, mana ada omongan abis. Emangnya ini isi ulang," ucapan Ella membuat Wina menggeleng, menantunya ini selalu saja punya kata yang bisa membuatnya k,o.
Hari beranjak siang, Ella hari ini cuti kerja karena mager katanya. Dengan senang hati Ray pun mengijinkan. Akan tetapi Ella merasa bete hanya berdiam diri di rumah, wanita itu pun mengambil ponsel kemudian menelepon seseorang. Beberapa saat kemudian, orang yang di teleponnya telah datang, Ella senang karena dia sekarang punya teman untuk bercerita, memang ada sang ibu mertua namun wanita paruh baya itu tidak akan nyambung jika berbincang dengannya.
"Ada apa, Neng nyuruh aku kesini?" tanya Poky, ya. Orang yang di telepon Ella itu adalah Poky.
"Ih, udah di bilangin jangan panggil, Neng juga," ucap Ella cemberut.
"Hehe, iya, iya. Maaf lupa," sahur Poky dengan terkekeh.
"Jadi ada apa kamu nyuruh aku kesini?" Poky mengulangi pertanyaannya.
"Aku ngidam," ucap Ella pelan namun itu membuat Poky was-was, dia takut ibu hamil itu meminta hal yang aneh-aneh.
"Ngi-dam apa?" tanya Poky hati-hati.
"Aku pengen kamu pake baju pengantin," jawab Ella membuat Poky menganga, apa katanya? Memakai baju pengantin? Oh no, dulu saja ketika menikah dengan David hanya mengenakan gamis seadanya. Lalu sekarang dirinya di minta untuk memakai baju pengantin, Poky menghembuskan napasnya perlahan.
"Nggak mau, Ell," tolak Poky.
"Pliss, aku pengen banget lihat, Kapok pake baju pengantin," mohon Ella.
"Tuh, kamu panggil aku kakak lagi. Kan kita cuma beda tipis umurnya, Poky aja," keluh Poky.
"Iya, iya. Perkara panggilan aja jadi masalah," delik Ella.
"Duh! Sepertinya anda tidak sadar, jika anda pun begitu," sindir Poky yang mana membuat Ella cengengesan.
"Jadi gimana? Mau ya?" tanya Ella dengan raut wajah memelas.
"Ok, tapi gaunnya mana?" jawab Poky akhirnya, karena dia tidak tega melihat wajah memelas Ella.
"Yeyyy! Maaciu, Popok!" seru Ella.
"Hadeuh! Nggak ada panggilan yang bagusan dikit apa, Ell? Kapok, Popok, panggilan macam apa itu? Nggak sekalian aja nemplok?" ucap Poky jengah.
"Ssbg," jawab Ella singkat.
"Apaan lagi tuh ssbg?" Poky menautkan kedua alisnya.
"Suka-suka bibit gue."
__ADS_1
"Saae kamu."
Sedang asik berbincang, Wina memanggil. Dia mengatakan jika di bawah ada seseorang yang mencari Ella, mereka berdua pun buru-buru turun ke bawah. Poky sesekali menahan tangan Ella karena ngilu melihat ibu hamil yang berjalan dengan tergesa-gesa.
"Dah nyampe aja lo." Ella menatap David yang sedang duduk di sofa ruang tamu dengan beberapa paper bag di hadapannya.
"Iya, takutnya di amuk sama Quin kalo lelet," jawab David.
"Mana pernah gue ngamuk." Ella menarik Poky untuk duduk di samping David, dengan terpaksa wanita itu menurutinya.
"Buat apaan lo nyuruh gue bawain baju nganten? Lo mau kawin lagi?" tuduh David.
"Enak aja, gue nggak mau kawin lagi. Satu aja nggak abis-abis," sungut Ella.
"Iyalah kagak abis-abis, orang cuma di **** doang kagak di kunyah," ucap David.
"Susah ngunyah nya, enyel-enyel kek skusi. Mending di ****, atau nggak di jilat lanjut di celupin deh," sahut Ella.
"Nggak di puter dulu apa?"
"Nggak, paling diremes doang."
"Kalian ngomongin apa sih?" Poky yang bingung angkat bicara.
"Au, tuh si Dave yang mulai. Tanya aja ma orangnya," ujar Ella.
Dengan perlahan,,Poky menatap wajah David. Kali ini dia tidak takut menatap wajah pria itu karena saat bertemu waktu itu sikap David sudah berubah lembut. Tidak kasar dan arogan seperti biasanya. David yang di tatap oleh Poky seperti itu pun menjadi gugup. Jantungnya berdetak tak karuan, keringat dingin mendadak mengucur dari dahinya. Dengan sebisa mungkin, David menyembunyikan ke gugupannya. Bisa di ledek Ella habis-habisan jika bumil itu mengetahuinya.
"Kalian ngomongin apa sih, A?" pertanyaan itu keluar dari mulut Poky di sertai senyuman manisnya yang mana membuat David meleleh dan jantungnya semakin jedak jedug berdisko ria.
"So-sis," jawab David gugup.
"Sosis?" Kening Poky mengkerut.
"Emang sosis suka di **** gitu? Di jilat? Di celupin juga? Bukannya yang di jilat di celupin itu oreo? Tapi di putar dulu sih, kalau tadi sosis diremas ya? Penyek dong?" oceh Poky dengan wajah penasaran.
"Itu, bu-rung. Te-lor." David berbicara ngasal karena gugup.
"Dia ngomong apasih Ell? Burung? Telor?" Poky semakin bingung.
"Kamu punya burung, A?" Pertanyaan konyol itu keluar begitu saja dari mulut Poky.
David mengangguk, pria itu berpikir jika burung yang di maksud Poky itu perkututnya. Sedangkan yang Poky pikirkan adalah burung berkicau. Pria itu heran, mengapa wanita yang kini menempati tahta dalam hatinya itu menanyakan apa dirinya punya burung? Bukankah dia sudah pernah merasakannya sekali? Ya, walaupun dalam ke adaan dirinya yang tidak sadar alias terpengaruh minuman.
"Burungnya bagus nggak?" tanya Poky lagi, sebenarnya dia hanya basa-basi supaya dia bisa dekat dengan David mengingat hubungan mereka yang selama ini tidak baik setelah kejadian itu.
"Bagus, topcer," jawab David yang masih gugup, bahkan tangannya kini bergetar dan meremat satu sama lain.
"Suaranya gimana? Bagus juga?" Wanita yang di cintainya itu kembali bertanya.
"Suara?"
David mendadak oleng, pikirannya menjadi buntu pula. Memangnya ada perkukutut yang bersuara, setaunya hanya bisa tidur, lalu berdiri tegak dan menyembur. Memang bisa berkicau juga. Pikir David bingung.
"Iya, Suara. Emangnya burung kamu nggak bersura? Kalau iya, berati burung kamu jelek," ucap Poky yang membuat David semakin tergugu.
"Ell, burung si samurai emang bersuara?" Lelaki itu akhirnya bertanya pada sangat Quin yang lebih berpengalaman.
"Emangnya pak Ray punya burung juga?" sela Poky bertanya.
"Punya dong, punya telor lagi dua," sahut Ella dengan terkekeh karena lucu melihat tingkah Poky dan David.
"Ell," panggil David.
"Iya, iya. Bersuara kok. Merdu lagi, selain itu menggairahkan," jawab Ella prontal.
"Itu mah yang punya nyah." Delik David.
"Iyalah, mana mungkin anu nya. Bersuara, yang ada mabur ceweknya. Lagian kalian kenapa jadi bego gini sih. Sama-sama pernah nganu tapi yang atu polosnya kagak ketulungan dan yang atu bego nya nauzubillah." Ella geleng-geleng kepala.
"Kagak usah planga-plongo kek orang cacingan deh. Mendingan sekarang ganti baju kalian berdua," ucap Ella.
"Ganti?" ucap dua orang itu secara bersamaan.
"Iya, ganti pake baju nganten entu." Ella menunjuk papar bag di hadapan dua insan itu.
__ADS_1
"Lo serius nyuruh kita pake baju penganten? Kirain buat elo?" David menatap Ella penuh tanya sekaligus heran.
"Iya, cepet pake."
"Lo mau nyuruh kita kawin?" tanya David berbinar.
"Itu mah mau lo, Dumes. Dah sana pake."
Kedua insan itu pun hanya menurut pasrah, percuma membantah. Bumil itu pasti akan merengek dan berujung mengadu kepada sang suami. Jadi mau tak mau mereka menurutinya. Mereka berganti pakaian di kamar yang berbeda, Poky di kamar twins, David di kamar tamu. Untuk si kembar, mereka tidak ada di rumah, mereka sedang pergi bersama orang tua Ella.
"Omg! Kalian cuco banget sih. Udahlah gas aja ke penghulu. Cocok begini," heboh Ella dengan atensi yang menatap ke arah David dan Poky yang kini sudah berbalut baju pengantin.
David menatap Poky yang juga sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. David begitu terpesona saat matanya melihat penampilan Poky saat ini, gaun putih panjang menjuntai dengan lengan sesiku dan juga fress body membuat Poky nampak anggun dan juga elegan, cantik. Sudah pasti, David saja sampai menganga di buatnya.
"Ekhem! udah tatap-tapannya."
Suara deheman Ella membuat mereka sama-sama menarik pandangan, kemudian keduanya berjalan menghampiri Ella.
"Terus kita harus ngapain lagi?" tanya David sembari menetralkan detak jantungnya.
"Poto-poto, kayak prewedding gitu," jawab Ella.
"What?" David di buat menelan saliva dengan paksa, seperti poto prewedding katanya? Berarti dia harus berdekatan dengan Poky? Berjauhan begini saja sudah membuat jantungnya jedak jedug. Apalagi berdekatan? Mungkin jantungnya akan melompat dari tempatnya.
Lagi-lagi, dengan terpaksa, mereka mengikuti arahan sang bumil. Bahkan Ella sampai memanggil poto grafer dan juga MUA untuk merias wajah Poky menjadi jauh lebih cantik. Setelah selesai, mereka di arahkan sang poto grafer untuk berpose layaknya pasangan yang sedang prewedding. Lengkap dengan latarnya yang cantik.
'Plis jantung, jangan lompat,' lirih David dalam hati saat dirinya dan juga Poky berada dalam posisi yang sangat dekat, bahkan jarak mereka nyaris terkikis.
"Maaf." Satu kata yang keluar dari mulut David saat posisi wajah mereka berjarak hanya tiga senti saja.
"Untuk?" Poky menautkan kedua alisnya.
"Semua yang terjadi," jawab David lirih.
"Soal masalalu kita?" Jarak mereka semakin dekat, bahkan mereka dapat merasakan hembusan napas satu sama lain.
"Iya, maaf karena aku langsung menalak kamu sesaat setelah kita ijab kabul. Pasti yang aku lakukan menorehkan luka mendalam di hati kaku," ucap David penuh penyesalan.
"Aku udah maafin kamu kok, jauh sebelum kamu minta maaf. Aku menganggap semuanya adalah suratan takdir," jawab Poky dengan senyuman yang melengkung di bibir ranumnya.
"Makasih, apa mulai saat ini kita bisa menjadi teman?" tanya David yang hanya mampu mengucap kata itu karena dia tidak mau berharap lebih. Toh Poky sekarang udah jadi milik Diego.
"Teman?"
"Ya, bisakah kita menjadi teman? Memulai hubungan yang baik."
"Iya, kita teman."
David merasa senang, walaupun mereka hanya menjadi teman. Tapi setidaknya hubungan mereka kini membaik, tidak serenggang dulu. Memang David ingin memiliki Poky, wanita yang telah singgah dalam hatinya itu namun tidak mungkin dia menikung Diego, yang baginya sudah seperti adik sendiri.
.
.
.
.
David pulang dari rumah Ella dengan hati gembira, dirinya dan Poky sudah menjalin hubungan baik walau hanya teman. Senyuman bahagia tak surut dari bibir tebalnya. Dia mengemudikan mobil dengan sangat pelan, tadinya pria itu ingi mengantar Poky pulang setelah mereka melakukan poto yang mirip dengan prewedding itu namu Poky menolak dengan alasan dia sudah di jemput. Mengingat itu wajah David menjadi murung, pastilah yang menjemputnya itu adalah Diego.
"Sadar, Vid sadar! Dia milik Diego!" David mengumpat seraya menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Kenapa saat menyadari rasa itu, kamu udah jadi milik orang lain, Po. Dan kenapa juga rasa ini malah semakin besar, kalau seperti ini. Rasanya sangat sulit buat aku ngelupain kamu," gumam David dengan pandangan yang menatap lurus ke depan.
Saat dirinya menatap ke arah jalanan, dia melihat sesosok yang sangat ia kenali tengah merangkul seorang wanita. Kemudian mereka masuk kedalam mobil dengan mesra, wanita itu bergelayut manja pada si pria yang begitu David kenali.
"Gue harus ngikutin mereka," gumam David dengan emosi.
Setelah mobil itu melaju, David segera melajukan mobilnya juga, mengikuti mobil itu dengan jarak yang tidak terlalu dekat karena takut ketahuan. Sampailah dia di suatu tempat yang sangat asing bagi David.
"Siapa wanita itu? Kenapa Diego bersama wanita itu? Apa dia ngehianatin Poky? Ini tidak bisa di biarkan," ucap Ragil dengan atensi yang tertuju kepada kedua insan itu. Diego nampak merangkul wanita itu kembali keluar dari mobil. Kemudian mereka masuk kedalam sebuah rumah minimalis.
"Gue nggak akan biarin lo nyakitin, Poky!" geram David seraya mengepalkan tangannya.
jangan lupa jejak guys 😘
__ADS_1