
Ela dan David begitu santai dalam menghadapi 10 orang musuh itu, walaupun Ella tengah hamil tetapi itu tak membuatnya kesusahan bergerak. Dia tetap bergerak dengan leluasa bahkan menangkis serangan musuh dengan mudahnya.
"Dave! Cepat kita akhiri pertarungan ini, Kak Ray dan yang lainnya butuh kita!" teriak Ella disela pertarungannya.
David hanya menjawab dengan anggukan kemudian pria itu menendang tiga musuh yang sedang dia hadapi, sementara Ella yang tengah menghadapi 7 orang musuh mulai mengambil ancang-ancang untuk membuat ke 7 orang itu binasa dalam waktu sekejap.
"Marilah kalian! Hiyaa!" Ella berputar di tengah para musuh dengan katana yang dia arahkan keleher para musuhnya.
Blas!
Blas!
Blas!
Dugh!
Dugh!
Dugh!
Ella berhasil menebas kepala 4 orang musuh dan sisa tiga yang tengah menatap kearahnya murka, Ella menginjak tubuh keempat orang yang sudah tumbang lalu menunduk saat ketiga orang itu hendak menusuknya secara bersamaan.
"Enak aja mau nusuk gue! Emangnya gue sate apa?" gerutu Ella yang sudah kembali mengambil ancang-ancang untuk melumpuhkan musuh dengan tubuh yang masih menunduk.
"Cuma kak Ray yang boleh nusuk gue pake pedang saktinya," lanjutnya kemudian berdiri dan menebas perut ketiga orang itu dengan gerakan memutar sampai tubuh mereka terbagi dua dan ambruk di jalanan dengan darah segar yang mrngucur deras.
"Mati 'kan lo! Nggak tau aja gimana queen AOD kalau udah ngamuk," ucap Ella dengan seringai iblisnya.
David juga sudah berhasil melumpuhkan musuh sampai mereka meregang nyawa, David menggunakan pisau runcing beracun untuk menusuk jantung ketiganya sampai tewas.
"Cabut, Dave. Kita harus bantuin kak Ray sama Ragil," seru Ella.
"Terus mereka gimana?" David menunjuk mayat-mayat yang berserakan.
"Cairan kimia yang udah gue racik waktu itu dimana, Dave?" Ella menatap David serius.
"Ada di bagasi mobil belum gue keluarin, tadinya gue mau nanya ke elo itu cairan mau di apain terus mau di kemanain tapi lupa mulu. Makannya masih gue taruh di bagasi," ujar David.
__ADS_1
"Bawa kesini," titah Ella dan dengan cepat David segera mengambilnya.
Tak lama kemudian David telah kembali dengan satu jerigen sedang cairan kimia yang di maksud oleh Ella, David langsung menyerahkannya pada sangat Queen seraya menanti dengan penasaran apa yang akan dilakukan queennya dengan cairan itu.
Byurr!
Byurr!
Ella menyiram mayat-mayat yang berserakan dengan cairan tersebut membuat David semakin penasaran dengan apa yang akan terjadi pada mayat-mayat itu. Terlihat senyuman mengerikan terbit dari wajah cantik Ella, senyuman yang membuat David bergidik dan tiba-tiba saja udara sekitar menjadi dingin padahal matahari terbit dengan terangnya.
"Wow! Amazing!" David menganga tak percaya saat para mayat itu lebur tak tersisa sampai ketulang-tulangnya dan hanya menyisakan cairan putih bening yang menggenang seperti air hujan.
"Sudah tidak ada jejak yang akan membuat orang lain curiga," ucap Ella karena darah yang berserakan pun ikut raib dan menjadi cairan bening juga.
"Lo emang genius, Ell. Pikiran lo nggak bisa tertebak dan semua yang lo rancang maupun ciptakan nggak bisa terpikirkan oleh otak dangkal gue," puji David.
Ella tak menyahut, dia malah menyerahkan kembali jerigen itu pada David kemudian dia berlalu masuk kedalam mobil. David pun hanya mendengus kesal dan mengikuti Ella masuk setelah menyimpan jerigen itu kembali kedalam bagasi.
"Mimom ndak pa-pa kan? Ndak ada yang luka kan?" Zura langsung membulak-balikan tubuh mimomnya yang di penuhi darah musuh.
"Ini darah orang, Sayang. Mimom nggak pa-pa, kalian berdua tenang aja ya. Dan maaf mimom pasti udah bikin kalian ketakutan," lirih Ella.
"Kita nggak takut kok, Mom," ucap keduanya bersamaan.
"Ell, beneran kamu nggak pa-pa?" tanya Poky tak kalah khwatir.
"Nggak pa-pa kok, Popok." Ella menjawab dengan tersenyum manis.
"Mom, popok itu yang Ula pake pas bayi kan?" tanya Zura dia tau prihal itu karena dia pernah ikut sang oma membereskan peralatan bayinya dan Zam dulu.
"Yap betul," jawab Ella.
"Belati nanti dede bayi yang ada di pelut mimom nggak usah beli popok dong?" tanya Zura.
"Kenapa emang?" tanya Ella balik namun Poky dan David sudah bisa menenak kearah mana perginya pembicaraan Zura.
"Kalena udah ada disini popoknya, gede lagi," ujar Zura.
__ADS_1
Mereka hanya bisa menepuk jidat masing-masing kemudian setelah itu David melajukan mobilnya menuju ke kantor Ray, sebelum menuju ke kantor David memberhentikan mobilnya di sebuah toko pakaian untuk membeli pakaian untuk Ella dan juga dirinya. Dia pergi membeli pakaian bersama Poky lalu menggantikannya di dalam mobil secara bergantian.
Tak terasa kini mereka sudah sampai di depan kantor Ray yang sudah porak poranda, tidak ada karyawan nampak satupun, kantor utama Wardana nampak begitu sepi namun berantakan. Ella langsung turun membawa kedua anaknya, dia juga sudah memakai jaket anti peluru yang dia ambil di bagasi mobil David tadi pada saat berhenti dan membuang jubah yang tadi dia kenakan pada saat bertarung. Ella sudah menyiapkan bebrapa senjata di dalam jaketnya dan juga katana di balik punggungnya.
"Mom, Pop mana?" tanya Zura terlihat khawatir.
"Entahlah, Sayang. Kita cari kedalam ya," jawab Ella.
"Dave, apa nggak sebaiknya lo pergi ke markas untuk bantuin Ragil? Biar gue nyari kak Ray sendiri," ucap Ella.
"Nggak, Ell. Disana udah banyak anggota yang ngehendel sedangkan disini. Lo liat itu anggota AOD bayangan yang dikirim ke kantor pada tewas, gue khawatir sama keselamatan Ray dan yang lain," kata David.
"Pou, kamu mau tunggu di mobil atau ikut masuk?" David melirik Poky yang nampak ketakutan saat melihat mayat berserakan.
"Aku ikut, A. Aku nggak mau sendirian di mobil," jawab Poky.
David pun mengangguk lalu mereka memasuki kantor melewati para mayat yang berserakan hingga sampailah mereka di lantai atas dan disana terdengar suara keributan dengan para pria berbaju hitam berjejer di depan sebuah ruangan dan mereka yakin Ray, Satria dan juga Galang ada di dalam ruangan tersebut.
"Dave, lo amanin anak-anak gue di ruangan mana kek. Biar gue yang ngadepin mereka," bisik Ella.
"Ndak, Mom. Ula mau ikut mimom," sahut Zura cepat.
"Aku juga," tambah Zam.
"Nggak, ini bahaya untuk kalian berdua," cegah Ella.
"Pokoknya aku mau ikut, Momom." Kekeuh Zura.
"Ya, kami harus ikut mimom!"
"Tapi---"
"Biarin aja, Ell. Mereka bisa jaga diri," ucap David.
"Tapi, Dave. Mereka itu masih kecil, gue nggak mau mereka jadi sasaran musuh. Mereka---"
"Lo nggak tau mereka, Ell. Biarkan mereka ikut dan lo akan tau nanti," ujar David ambigu.
__ADS_1