Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
para suami menjaga twins.


__ADS_3

"Kak." Ella menoel pipi Ray, kini dia sudah kembali ke kamarnya.


"Kak Ray... Bangun." Cup, di kecupnya bibir Ray.


"Kenapa, Sayang?" Ray mengerejap untuk menyesuaikan cahaya yang menerobos masuk ke dalam indra penglihatan nya.


"Bangun dulu ikh..." Ella membantu Ray untuk duduk.


"Ada apa, hm?" Cup! Ray mengecup bibir Ella.


"Morning kiss." Tersenyum manis dengan tangan yang mengelus pucuk kepala Ella.


"Bukannya kamu mau shoping hari ini?" lanjutnya bertanya.


"Iya."


"Kenapa belum bersiap?" Ray menatap Ella yang masih memakai baju rumahan.


"Em, itu." Ella terlihat ragu untuk berbicara.


"Itu apa, Sayang?"


"Aku mau nanya," ucapnya.


"Mau nanya apa, hm?" Cup! Cup! Ray mengecup kedua pipi Ella.


"Em, a--pa belalai Papah kayak belalai kuda?" Huphh, rupanya dia masih kepikiran tentang pembicaraan nya dengan Wina.


Ray menautkan sebelah alisnya bingung dengan pertanyaan aneh sang istri. "Entahlah, kakak gak pernah liat. Memangnya kenapa, hm. Kok kamu tiba-tiba nanya sepeti itu?"


"Kan tadi Mamah bilang kalau tenaga Papah kayak tenaga kuda, berati itunya juga kayak itu kuda dong?" ucapnya penasaran.


"Entahlah, hanya Mamah dan Tuhan yang tau," jawab Ray.


"Apa kamu suka belalai yang bentuknya seperti belalai kuda?" tanya Ray.


"Gak suka, jelek mana lembek lagi," jawab Ella cepat.


"Sukanya yang kayak gimana?" Ray menatap intens istrinya dengan jarak yang sangat dekat.


"Sukanya punya kakak aja." Ella menghambur memeluk Ray.


"Kalo suka, pas kakak minta jangan nolak dong." Ray membalas pelukan Ella.


"Hm, dah ah. Aku mau siap-siap, jangan lupa jagain twins." Ella beranjak turun dari ranjang.


"Pake bajunya jangan yang terbuka, jangan yang ketat juga," Peringat Ray.


"Ay-aya, siap komandan." Ella melangkah pergi menuju ke ruang ganti.


**************


"Inget, jagain twins. Kalo lecet sedikit aja, Papah gak bakal dapet jatah selama sebulan." Ancam Wina pada sang suami sebelum dia pergi.


"Siap istriku yang cantik membahana seperti kora-kora," ucap Samsul.


"Kok kora-kora sih, Pah?" Kesal Wina.


"Karena Mamah selalu membuat Papah pusing tujuh tanjakan." Samsul menaik turunkan alisnya.


"Pah!"

__ADS_1


"Aku pergi ya, Kak Ray. Jangan rindu." Pamit Ella.


"Hati-hati separuh napasku, cepatlah kembali sebelum dada ini menyesak." Ray menggenggam kedua tangan Ella.


"Huekk, gelay banget kamu. Anak siapa sih dia?" Wina berlagak seperti orang hendak muntah.


"Anak Mamah lah, masa anak tetangga," Delik Samsul.


"Kok Mamah bisa ngelahirin anak se alay ini? Apa jangan-jangan ke tuker ya, Pah. Sama anak kucing." Wina bersidekap dada.


"Kayak ada yang ngomong, tapi gak ada wujudnya. Apa jangan-jangan itu setan ya, Sayang?" Ray terlihat seperti mencari sesuatu.


"Kayaknya itu arwah penasaran deh kak Ray, atau mungkin penunggu rumah ini." Ella menyahuti ucapan Ray.


"Bisa jadi, wah. Kudu di rukiah ini rumah, biar para demit musnah," ucap Ray penuh penekanan.


"Semprul kalian!" Wina mencebik lalu menarik Ella untuk pergi...


"Cepet Ell, kita cuci mata cari yang bening-bening. Bosen mandang yang buluk mulu." Wina segera beranjak dengan menggandeng Ella.


"Mah!" Pekik Samsul dan Ray bersamaan.


***************************


"Wina! Ya ampun apa kabar Win? Udah lama banget kamu gak kesini." Pekik seorang wanita yang sepantaran Wina kala mereka berjalan masuk kedalam butik.


"Baik, Ran. Hehe, iya belakangan ini aku sibuk Ran." Wina menghampiri wanita yang bernama Rani sang pemilik butik.


"Sibuk apa sih, Win. Sok sibuk banget kamu. Eh, ini siapa, Win? Cantik banget.." Atensi Rani teralih kepada Ella.


"Kenalin, ini Ella mantuku," ujar Wina.


"Ya, bahkan sudah mempunyai anak. Kembar lagi," jawab Wina.


"Teganya kamu gak ngundang aku, Win. Dekil-dekil begini aku sahabatmu Win." Rani tampak merajuk.


"Tidak ada pesta mewah, hanya di hadiri keluarga terdekat aja kok."


"Kenapa tidak ada pesta? Atau jangan-jangan..."


"Hus, jangan berpikiran yang enggak-enggak. Mereka itu di jodohkan," Potong Wina cepat.


"Oh, pantes."


"Tapi jangan salah, meskipun awalnya mereka di jodohkan. Tapi sekarang mereka saling mencintai."


Perbincangan masih berlanjut, membicarakan hal yang tak penting kesana kemari dan juga tidak ber faedah yang ujung-ujungnya ujung. Hingga akhirnya Ella yang sudah bosan pun menyela, dia menanyakan kapan memilih gaunnya?


"Ah, maaf Ell. Mamah lupa tujuan kita kemari, ke asikan ngobrol sih." Cengir Wina.


Mereka pun memilah-milih gaun yang akan di kenakan di pesta satria nanti dengan Rani yang mendampingi. Fokus Ella tertuju pada sebuah gaun berwarna navy tanpa lengan dengan panjang depan selutut. Gaun itu desainnya begitu elegan tapi tidak terlalu glamour. Ella pun memiih gaun itu kemudian dia mencari jas yang berwarna senada dengan gaunnya.


"Mamah udah dapet nih, Ell. Couple-an sama Papah." Wina menghampiri Ella dengan menenteng gaun dan juga Jas untuk Samsul.


Mereka tidak akan salah pilih ukuran karena sudah tau ukuran pakaian pasangan Masing-masing. Dan kenapa tidak membuat seragam couple-lan keluarga malah memilih yang sudah jadi? Itu karena pernikahan Satria waktunya sudah melet jadi lebih baik memilih yang sudah jadi saja daripada tidak keburu.


"Sudah beres semua, sekarang kita kemana lagi, Mam?" tanya Ella.


"Ke mall, kita nyari tas yang lagi diskon. Terus kita cari baju untuk twins," jawab Wina.


"Ishh, udah kaya juga masih aja suka diskonan," cibir Ella.

__ADS_1


"Begitulah, jiwa emak-emak meronta-ronta kala mendengar kata diskon."


Setelah membayar dan juga berpamitan, mereka pun segera beranjak pergi menuju ke sebuah mall ternama di kota itu.


Sementara para suami kini sedang kelabakan karena twins yang menangis bersamaan, suara lengkingan tangisan khas bayi begitu memekik di gendang telinga mereka.


"Kasih susu Ray, mungkin mereka haus." Samsul memberikan dua botol asi kepada Ray.


"Aku ngasih nen Zura, Papah Zam," usul Ray.


Samsul mengangguk tanda setuju, dia pun mengendong Zam yang masih berada di dalam box, kemudian menimangnya sembari memberi asi yang berada di dalam botol, tapi sepertinya Zam menolak, malah tangisnya semakin kencang.


Oek! Oek! Oek!


"Zam gak mau nyusu, Ray. Gimana ini? Mana nangis terus." bingung Samsul.


"Zura juga gak mau, pah." Ray menimang Zura yang juga menangis kencang.


"Cup, cup, cup Sayangnya Pipop. Diem ya, Sayang jangan nangis terus, nanti Zura nya capek." Ray berusaha menenangkan Zura yang menangis semakin kencang.


"Ola olala, ole ole. Olala. Jep, jep. Zam gantengnya Opa, jangan nangis lagi. La ela, el. Zam, Zam." Samsul bernyanyi sembari berjoged untuk menenangkan Zam.


"Anaku bukannya diem, Pah. Tapi malah sawan." Ray menghela napas saat melihat Samsul berjoged sembari menggendong Zam dengan pantatt yang dia lenggak-lenggokan ke kanan dan ke kiri.


"Biasanya tak pakai minyak goreng, asik-asik euy. Biasanya tak seperti itu. Sayang tak lama, euy, euy. Kambing pun datang... Eu, eu." Samsul malah semakin menjadi, dia bernyanyi dengan nada yang absurd. Jangan lupakan bokongny yang menirukan zaskia gotik bergoyang itik.


"Astaga... Pusing gue." Ray menggelengkan kepalanya, sungguh ayahnya itu benar-benar tidak tau situasi. Udah tau kedua anaknya menangis kencang ini malah teriak-teriak bernyanyi tidak jelas.


"Ray, kenapa mereka gak berhenti nangisnya?" Samsul menatap kearah Ray.


"Gimana mau berhenti, orang di rumah ini ada pasien rumah sakit jiwa nyasar. Jelas lah, mereka malah nangis makin kenceng karena ketakutan," Delik Ray.


"Sontoloyo! Anak kurang sajen kamu Ray." Samsul menatap sengit Ray.


"Yang ada Papah tuh yang kurang sajen, makannya otaknya pindah ke dengkul," Ray menatap Samsul tak kalah sengit.


"Ok fine, lo, gue. End." Samsul meletakan Zam di ranjang tempatnya tidur kemudian dia mengambil gunting dari dalam laci.


"Eh, Papah mau ngapain?! Nyebut, Pah! Nyebut!" teriak Ray panik.


"Apasih? Riweh," delik Samsul kemudian dia membuka kaos yang dia kenakan.


"Sadar, Pah. Sadar!" Ray berjalan menghampiri Samsul.


"Dia kenapa coba?" Heran Samsul, lalu dia menggunting sedikit kaosnya di bagian dada sehingga berlubang sedikit.


"Selesai." Samsul kembali memakai kaosnya.


Sementara Ray hanya menatap Samsul bingung, dia tidak mengerti dengan apa yang di lakukan oleh Samsul. "Kayaknya bener, otak bokap gue pindah ke dengkul." Ray menatap Samsul yang tengah menatap bangga kaos yang telah di lubanginya.


Samsul berjalan ke arah nakas, kemudian dia mengambil dot Zam lalu berjalan menghampiri Zam yang berada di atas ranjang. Samsul ikut berbaring di sisi Zam, lalu dia memasukan dot tadi kedalam kaosnya dan mengeluarkan ujung dot itu dari bagian kaos yang dia bolongi tepat di bagian dada.


"Nah, sekarang Zam, nen ya." Samsul mengarahkan ujung dot itu ke mulut mungil Zam yang masih menangis sembari di pegangi se layaknya seorang ibu menyusui bayinya.


Dan benar saja, Zam langsung meminumnya, tidak ada penolakan seperti tadi. "Inget, lo, gue. End. Jadi jangan ngikutin!" Samsul menatap Ray sengit dan juga mengejek.


Dobel up, yang mau tripel komen😘


Rekomendasi novel bagus lagi nih dari otor, coba deh kalian kepoin di jamin bakal betah bacanya dan nagih tentunya👇


__ADS_1


__ADS_2