
Sungguh hari ini adalah hari yang sangat memalukan untuk Ray, dan semua itu berawal dari kebohongan yang dia lakukan pada putrinya. Dalam hati Ray berjanji bahwa dia tidak membohongi Zura lagi, pria itu tak mau kena tulah.
Sedari tadi Ray banyak diam tak ikut menimbrung kedalam obrolan keluarga istrinya, entah apa yang mereka bahas? Ray tidak terlalu mendengarkannya, dia hanya fokus ke ponselnya kerena saat ini dia tengah berkirim pesan dengan sang istri.
"Pop napa?" Zura melirik Ray yang tak menimbrung.
"Nggak pa-pa, Sayang," sahut Ray dengan senyum tipisnya.
"Popop Zura sawan tuh gegara nyungsep tadi," ujar Satria yang mendapat lirikan sinis dari Ray.
"Sawan?" Zura terlihat bingung.
"Pop, olang sawan kan kalena panas dalam. Kok pop kalena jatuh, aneh deh," kata si mungil Zura.
"Hais! Itu sariawan, Neng. Bukan sawan." Satria menepuk keningnya sendiri.
"Oh, beda." Zura ber-oh ria.
"Daripada debat mending kita makan dulu yuk," ajak Rina.
"Ayok, Ray, Ara." Rina menatap cucu dan menantunya.
Cukup lama Zura dan Ray berapa di kediaman keluarga Wirawan karena Zura tidak mau pulang, dia masih betah disana bermain dengan sang sepupu yaitu Sasa.
Saat hari sudah menjelang sore, Ray berpamitan pulang. Akan tetapi Zura tidak mau, gadis kecil itu ingin menginap dirumah omah opanya, dan alhasil Ray pun mengijinkan karena jika dilarang Zura pasti akan mengamuk.
"Pop pulang ya, jangan nakal disini. Kalau mau pulang telepon pipop aja," ucap Ray pada Zura sebelum dia berlalu pergi.
Sesampainya dirumah, Ray langsung di cecar sang istri mengapa putri mereka tak ikut pulang dan Ray pun menjelaskan jika Zura nyangkut di rumah sang mertua yaitu orang tua Ella sendiri. Ella pun manggut-manggut kemudian dia menyuruh suaminya untuk mandi karena malam ini Ella ingin jalan-jalan, sudah lama dia tidak keluar malam, dia rindu masa-masa itu.
"Abang Zami ikut mom jalan-jalan keluar yuk," ajak Ella pada sang putra.
Zam yang tengah bermain laptop di kamar pun menoleh pada mimomnya sebentar lalu kembali fokus pada layar laptop.
"Nggak, Mom." Hanya itu sahutan dari si dingin Zam.
Ella hanya bisa menghela napas panjang, beginilah kelakuan Zam. Dia sangat dingin dan jarang sekali mau di ajak jalan-jalan, paling juga mereka jalan bertiga yaitu Ray, Zura dan dirinya. Sekarang Zura tidak ada, Zam pun tak mau, jadi Ella akan pergi berdua saja dengan sang suami.
"Yaudah, pulangnya mau mom bawain apa?" tanya Ella lembut.
__ADS_1
"Nggak usah, Mom," sahut Zam.
Ella mengangguk lagi, karena Zam akan tetap pada keputusannya meskipun mau di tanya berkali-kali pun.
Saat malam telah tiba, Ella dan Ray pun berpamitan keluar pada Wina dan Samsul, mereka juga menitipkan Zam yang tidak mau ikut.
Jalanan malam ini lumayan padat, mungkin karena ini adalah malam minggu jadi orang-orang pada keluar malam mingguan.
"Mau pergi kemana, Sayang?" tanya Ray saat mereka tengah di perjalanan.
"Emm, kemana ya?" Ella terlihat sedang berpikir.
"Aha! Kita ke pasar malam aja yuk," ajaknya.
"Pasar malam?"
"Iya."
"Dimana?"
"Ituloh kak Ray, di jalan yang mau kerumah aku. Di tempat dulu pertama kita jalan. Pasar malam nya ada lagi," tutur Ella.
Sesampainya di tempat itu, mereka langsung turun. Memasuki pasar malam itu lalu mengamati sekitar. Tetap sama seperti dulu walau ada beberapa bagian yang dirubah.
Keduanya tersenyum mengingat masa dulu, apalagi Ella. Dia terkekeh sendiri saat mengingat kekonyolannya di masalalu. Begitu juga dengan Ray, dia mengingat dirinya yang di buat panas dingin saat membuka baju Ella yang terkena muntahan.
"Mau naik kora-kora lagi nggak?" goda Ray dengan pikiran yang melanglang buana ke masalalu.
"Nggak ah, nanti muntah lagi. Muntah sekarang bisa gawat, entar bisa keluar sama oroknya," sahut Ella yang membuat Ray terkekeh.
Keduanya bergandengan tangan mengelilingi pasar malam mencari kang harum manis karena Ella menginginkan itu. Setelah kang harum manisnya ketemu, Ella tidak mau si kang nya yang bikin melainkan dia ingin Ray yang membuatnya. Ray kebingungan bagaimana caranya membuat harum manis karena yang dia tau hanya membuat anak saja.
"Ikutin arahan bapak penjualnya aja, Kak Ray," ucap Ella saat Ray terlihat kebingungan.
Ray mengangguk kemudian dia bersiap untuk membuatkan harum manis spesial untuk Ella, mengikuti arahan dari si bapak.
"Kenapa harum manisnya penyok kak Ray?" Ella menatap harum manis yang sudah hampir jadi.
"Penyok juga rasanya enak," sahut Ray.
__ADS_1
"Tara! Jadi. Harum manis spesial untuk istri kecilku tersayang," seru Ray seraya memberikan harum manis buatannya pada Ella.
"Spesial apanya penyok gini?" Protes Ella.
"Jangan di lihat bentuknya, tapi cobain rasanya," ujar Ray.
Setelah selesai membuat harum manis dan membayarnya, merekapun duduk disebuah kursi panjang seraya menyaksikan orang-orang yang berlalu lalang.
kenangan demi kenangan bermunculan dalam benak Ray, membuat pria itu terkekeh sendiri kala mengingatnya.
"kak Ray kenapa?" Ella heran melihat tingkah suaminya yang tiba-tiba tertawa sendiri.
"lagi inget masalalu," sahut Ray.
"Oh! kak Ray inget mantan ya? Good!" Ella menatap Ray sinis.
"Mantan aja nggak punya, siapa yang mau di inget coba?" Ray terkekeh saat mendengar tuduhan istrinya.
"Iya juga ya, kak Ray kan nggak punya mantan. kita aja nggak pernah pacaran, malah langsung nikah." Ella ikut terkekeh.
"Makannya jangan suka berpikiran buruk."
"Terus tadi kak Ray inget masalalu apa dong?"
"Masa lalu kita, di tempat ini dan juga saat pertama kali kita ketemu."
Ella malah tertawa mendengar ucapan suaminya, bagi wanita hamil itu masalalunya sangatlah memalukan. huh, Ella jadi malu sendiri saat dirinya mengingat hal yang telah lalu, dimana dirinya masih berlaga pilon alias oon.
"Motor mogok ngelesnya bobo, mana ada motor bobo dan belum mau bangun makannya nggak nyala," sindir Ray.
"Stop jangan bahas itu, aku jadi pengen kembali ke masa itu. Dimana aku bisa tertawa puas dalam hati saat melihat orang-orang pada kesal sama tingkah aku," sahutnya.
"Nggak perlu balik kemasa dulu, sekarang aja kamu masih suka bikin kesel," gumam Ray samar-samar terdengar oleh Ella.
"kak Ray ngomong apa?" Ella menatap Ray penasaran.
"Itu tetangga sebelah ngeselin," ujarnya.
"Oh, tetangga. Nggak pa-pa Kak Ray, asal jangan istri aja yang ngeselin."
__ADS_1
"Iya, Sayang."