Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Jatah.


__ADS_3

Lalu.. Ray mengambil piring sendiri dan mengisinya dengan nasi liwet beserta lauk pauk yang terhidang di hadapannya.


"Kamu aja yang makan, aku nanti aja."Ella menirukan perkataan Ray tadi, plus nada bicaranya.


"Hm."


Ray tidak menanggapi Ella, dia malah sibuk menyantap makanan yang ada di piringnya dengan lahap, bahkan seperti orang kelaparan.


"Enak ya? sampai kayak orang kelaparan gitu makannya."ucap Ella sambil memperhatikan Ray.


"Biasa aja."Jawab Ray, tapi tangannya menyiduk kembali nasi yang ada dibakul.


"Ya ya, biasa aja. Saking biasanya sampe berkali-kali nambah."ledek Ella.


Ray tidak menyahut, malah tangannya sibuk berkelana mengambil lauk pauk yang belum di cicipinya, karedok pun tak luput dari jangkauannya.


Ella sudah selesai makan, tapi tidak untuk Ray, dia masih asik mengunyah. Ella pun mencuci tangannya lalu dia meminum teh hangat yang tersedia disana, bukan teh manis ya, tapi teh tawar yang di hidangkan di dalam ceret.


"Kak Ray, kenapa makannya jadi rakus gini."lirih Ella.


Dia melongo, melihat piring saji dan juga bakul nasi yang sudah bersih tak ada yang tersisa sedikitpun. Bahkan sambel pun ikut ludes.


"Alhamdulilah, kenyangnya."Ray mengelus perutnya sendiri.


"Gimana gak kenyang, nasi sebakul kakak abisin."celetuk Ella.


"Katanya biasa aja, tapi sampe ludes semua gak ada yang tersisa sikitpun. Ck ck ck."Ella melanjutkan omongannya sembari berdecak.


"Hm."hanya itulah jawaban yang keluar dari mulut Ray.


"Tinggal bilang aja enak, apa susahnya sih."cebik Ella.


"Iya, enak."ucap Ray datar.


"Nah, gitu dong."Ella mengacungkan jempolnya lalu menengadahkan tangan nya.


"Apa?"ucap Ray tak mengerti.


"Uang, kak Ray. Ini semua kan harus dibayar. Akunya gak bawa uang."ketus Ella.


"Oh, bilang dong."Ray mengeluarkan dompetnya.


"Itu barusan bilang."


"Ini."Ray menyerahkan sebuah kartu pada Ella.


"Disini mana bisa, pake beginian. Cas aja kak Ray."pinta Ella.


"Oh, aku kan gak tau."Ray mengeluarkan uang pecahan merah sebanyak sepuluh lembar.


"Cukup kan?"tanyanya.


"Cukup kok."Jawab Ella sambil mengambil uang itu dari tangan Ray.


"Bentar ya, akunya mau bayar dulu."ucap Ella bangkit dari duduknya.


"Aku tunggu dimobil."Ray juga bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke mobil.


Ella berjalan untuk membayar makanannya, saat dia sudah selesai membayar dan hendak menuju mobil, ada yang menepuk bahunya.


"Hay Ell, lo masih inget gue kan?"tanya orang itu.


"Dodo, kamu Dodo kan? temen SMA nya aku."ucap Ella kaget.

__ADS_1


"Nando, Ell. Bukan Dodo."koreksi Nando.


"Iya, sama ajalah. Sama-sama ada Do nya."ujar Ella.


"Kamu ngapain disini?"tanya Nando.


"Berenang."ketus Ella.


"Emangnya, disini ada kolam? bukannya ini tempat makan ya?"ucap Nando mendadak bodoh.


"Udah tau tempat makan, malah nanya lagi ngapain, ya jelas makan lah. Ya kali renang, mau berenang di kobokan."cebik Ella, ntah kenapa dia selalu kesel bawaannya kalau ketemu Nando. Sejak mereka masih satu sekolah pun begitu.


"Iya, juga ya."Nando menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Dahlah, akunya mau pulang. Bay."Ella berlalu pergi dari hadapan Nando.


Ella berjalan melewati Nando begitu saja, entahlah sejak kejadian itu, Ella selalu kesal jika bertemu Nando. Padahal dulu mereka sangatlah dekat, bahkan mereka sering berangkat kesekolah bersama. Tapi setelah kejadian itu, bahkan bicara pada Nando pun dia malas.


Sementara itu, Nando masih terdiam. Dia bingung kenapa Ella menjadi berubah padanya, padahal mereka dulu sangatah dekat. Apa dirinya berbuat kesalahan? tapi dia tidak menyadarinya, ntahlah Nando pun bingung dengan perubahan sikap Ella, dia rindu Ella yang dulu, Ella yang selalu merengek padanya jika menginginkan sesuatu. Dia juga rindu senyuman yang selalu terparcar di bibir Ella kala dia sedang bersamanya dulu. Tapi kini hanya wajah judes dan juga ketus Ella yang dilihatnya. Nando sangat merindukan senyuman itu, dia pun menghela nafas panjang, lalu berjalan menuju ke motor sport nya.


Ella sudah sampai di mobil Ray, dia langsung saja masuk dan duduk disamping Ray dengan wajah yang ditekuk.


"Kenapa?"tanya Ray melirik Ella.


"Kenapa, apanya?"tanya Ella balik.


"Itu, wajah kok ditekuk begitu. Mana lusuh lagi, kayak baju yang belum disetrika."ujar Ray.


"Enak aja, masa cantik gini, disamain sama baju yang belum di setrika."cemberut Ella.


"Cantik kalau senyum, kalau cemberut begitu, kamu jelek. Kaya badut ancol."ucap Ray sambil menatap Ella.


"Kak Ray jahat, ngeledekin aku mulu. Aku sebel sama kakak."Ella melipat tangannya didada, lalu menatap Ray tajam.


"Akunya bukan setan ya, jadi gak serem."Ella menepis kasar tangan Ray.


"Terus, kamu melotot gitu? biar apa coba."


"Biar matanya kena angin, ayok ih cepetan jalan. Akunya ngatuk mau bobo."rengek Ella.


"Iya, ini juga mau jalan kok."Ray menghidupkan mesin mobilnya, lalu dia menjalankannya perlahan.


"Oh iya, kak. Besok dikampus kita harus terlihat gak saling kenal ya, pokonya kita harus terlihat kaya orang asing."ucap Ella.


"Hm"


"Awas, kalau kak Ray melanggar."ancam Ella.


"Emang kalau aku ngelanggar, kamu mau ngapain?"tanya Ray penasaran.


"Aku gak bakalan, kasih kakak jatah."ucap Ella menatap Ray serius.


"Jatah apa?"Ray melirik Ella sekilas, dia penasaran apa Ella tau yang dimaksud dengan kata jatah itu.


"Ya, jatah buat suami, lah."ucap Ella yakin.


"Emang kamu tau, jatah suami itu kayak apa?"Ray mengerutkan keningnya.


"Enggak."ucapnya polos.


"Kalau gak tau, kenapa tadi kamu ngomong kayak gitu?"tanya Ray heran.


"Ngikutin Mamih, karna kalau Papih gak menuruti keinginan Mamih, pasti Mamih bakal ancem Papih gitu. Kan kak Ray sekarang suaminya aku, jadi aku juga bisa ngancem kakak kaya gitu."tutur Ella lalu ia menyandarkan tubuhnya dikursi mobil.

__ADS_1


"Astaga, kirain dia ngerti apa itu jatah."lirih Ray.


"Emang, jatah suami itu seperti apa sih kak Ray?"tanya Ella.


"Kalau kakak kasih tau, kamu bakalan ngasih jatah sama kakak?"tanya Ray.


"Kak Ray mah ganti-ganti mulu, ih."cebik Ella.


"Apanya yang ganti-ganti?"tanya Ray gak eungeh.


"Itu, panggilan kak Ray. pertama saya, terus aku, sekarang kakak. Besok apa lagi? ane?"ujar Ella.


"Oh, itu kakak cuma nyesuain aja, biar enak bicaranya, gak kaku juga biar kita semakin akrab dan saling mengenal."tutur Ray.


"Kan kita udah kenal, apa kakak mau kenalan lagi?"Ella menyodorkan tangannya.


"Bukan, kenal yang itu Ella."kesal Ray.


"Terus kenal apa?"


"Dahlah, kembali ketopik."ucap Ray.


"Topik apa?"


"Hais, itu yang soal jatah. Kalau kakak kasih tau apa itu jatah, kamu bakal ngasih gak? ke kakak."geram Ray.


"Oh, emang jatah suami itu kayak apasih?"tanya Ella polos.


"Kamu disekolah, ngebahas gak sih tentang reproduksi manusia?"


"Ngebahas deh, kayaknya. Emang kenapa?"


"Kamu dengerin kan? nyimakkan apa yang guru jelasin?"


"Enggak, akunya bobo. Karna ngantuk dengerin guru jelasin kayak lagi ngedongeng. Untung akunya duduk dipojokan, jadi gak ketauan."jelas Ella nyengir.


"Pantes, dia gak ngerti."Ray menepuk keningnya.


"Sekarang kak Ray jelasin, apa itu jatah."ucap Ella.


"Susah kalau dijelasin, harus langsung praktek."


"Yaudah, langsung praktek aja."ucap Ella semangat.


"Yakin? mau praktek."


"Iya, mau."


"Yaudah, kita praktek nanti malam."


"Kenapa gak sekarang aja?"


"Sekarang?"


"Iya, sekarang."


"Di, mobil?"Ray menatap Ella, Ray heran apa sih yang ada dipikiran Ella tentang jatah.


"Ayok, cepetan kak Ray. Praktek sekarang."ucap Ella memaksa.


"Tapi........


Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys😊

__ADS_1


__ADS_2