
"Galang, Dela. Kalian tidur di mana semalam? Kok nggak pulang?" tanya Ibu Galang saat Dela dan Galang masuk ke dalam rumah.
"Er, kita nginep di itu, Mah." Dela ragu untuk berkata.
"Kita nginep di hotel, Mah," jawab Galang enteng.
"Wih, roman-romannya lagi proses ngadon adek buat Galan, nih," goda Ibu Galang.
"Bagus lanjutkan, kalo perlu cetak dua sekaligus seperti Ray." Sambungnya kemudian berlalu pergi.
"A... Kok kamu bilang sih," Cemberut Dela.
"Terus aku harus bilang apa? Nginep di kebon gitu? Kan nggak lucu." Galang merangkul Dela menuju ke kamar mereka.
**********
Hari yang tidak di tunggu-tungu Ella pun tiba, di mana dia harus magang di kantornya Ray. Memang sih, dia bisa dekat dengan Ray dan juga tiap saat bertemu dengan dia. Tetapi dia sangat malas sekali berkutat dengan pekerjaan kantor yang menurutnya sangat membosankan.
"Dedel! Yuhuuu! Cepetan dong kita telat nih!" teriak Ella di depan rumah Dela.
"Bentar, Ell. Aku belum pake lipstik!" teriak Dela dari dalam rumah.
"Ah elah! Lama bat si. Nggak usah pake lipstik aja napa. Entar di jalan makan orok biar bibirnya merah!" teriak Ella kembali.
"Udah, yok." Dela keluar dengan berpakaian pormal.
"Cepetan, lama banget lo!" gerutu Ella.
"Bentar ngapa, aku kan kudu jalan bukan melesat."
Mereka pun memasuki mobil Ella dengan tergesa-gesa kemudian Ella melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Untuk Kiana, dia tidak ikut bersama mereka karena sudah ada Ragil yang menjemputnya.
Sesampainya di kantor, mereka langsung masuk dan di sambut oleh resepsionis yang bernama Gita. Dia juga mengarahkan Ella dan Dela menuju ke ruangan manajer di sana untuk di arahkan terlebih dahulu.
"Silahkan duduk," ucap manajer di sana.
"Baik, Pak." Mereka berdua duduk di hadapan sang manajer yang kira-kira seumuran dengan Ray.
"Perkenalkan, nama saya Dafa khusuma. Manajer baru di kantor ini," ucap manajer itu memperkenalkan diri.
"Saya Stela Anandira, Pak. Dan ini sahabat saya, Dela Apriliani." Ella menatap Dafa dengan tersenyum tipis.
"Baiklah, Teman-teman kalian sudah datang sedari tadi dan memulai bekerja. Kenapa kalian berdua baru datang?" tanya Dafa.
"Maaf, Pak. Tadi ada sedikit kendala," terang Dela.
"Baiklah, karena ini adalah hari pertama kalian magang. Saya masih bisa toleransi, tapi kalian harus Terima saya tempatkan di bagian apapun," ujat Dafa.
"Baik, Pak. Kami akan Terima," kata Ella.
"Jadi, kamu saya tugaskan menjadi staff administrasi." Dafa menunjuk Dela.
"Dan kamu saya tempatkan di bagian divisi personalia." Menunjuk Ella.
"Baik, Pak."
Dafa terlihat menghubungi seseorang, tak lama kemudian masuklah seorang wanita yang kira-kira seumuran dengannya.
"Ini Bu Rasti, ketua divisi di kantor ini. Jadi kamu beliau yang akan membimbing kamu, Stela," ucap Dafa.
"Baik, Pak," respon Ella.
"Untuk kamu, saya yang akan membimbing kamu langsung." Dafa melirik Dela.
"Baik, Pak," respon Dela pula.
Setelah itu Ella pun ikut dengan Rasti dan Dela tetap stay di sana. Ella mengikuti Rasti ke sebuah ruangan yang terdapat beberapa meja di sana.
"Ini tempat kamu, dan mereka adalah para senios kamu," ujat Rasti sembari menunjuk orang-orang yang ada di ruangan itu.
"Halo kakak-kakak, salam kenal. Namaku Stela Anandira," ucap Ella memperkenalkan diri.
"Halo Stela, semoga betah ya, kerja di sini," ucap salah satu dari mereka.
"Iya, kak. Pasti betah. Hehe."
"Rian, tolong kamu ajarkan dia ya. Apa saja yang harus dia kerjakan dan dia lakukan dalam divisi personalia," ucap Resti pada Rian.
"Siap," seru Rian semangat.
"Stela, nanti kamu akan di bimbing oleh Rian ya," ujar Resti.
"Baik, Bu."
Ella pun mendudukan bokongnya di kursi yang telah di persiapkan, di sampingnya ada Rian yang sudah bersiap menerangkan apa saja yang harus di lakukan olehnya.
Para bagian divisi memang belum ada yang tau jika Ella adalah istri dari ceo mereka. Karena waktu mereka datang di ulang tahun twins sekaligus memperkenalkan Ray sebagai penerus keluarga Wardana berikut istrinya. Ella tampil dengan begitu beda, bisa di bilang pangling bak barbie hidup. Sekarang juga cantik, namun tanpa riasan.
"Kamu udah ngerti kan?" tanya Rian memastikan.
"Ngerti kok, Pak," jawab Ella cepat.
"Baguslah kalau begitu, kamu bisa mulai bekerja," ujar Rian.
"Asiap, Pak."
Ella pun mulai mengerjakan tugas-tugas nya, jujur saja ia sangat bosan dan juga jenuh dengan semua ini. Namun apa daya, dia harus melakukannya jika ingin lulus. Sampai jam makan siang pun tiba, Ella segera beranjak dari kursinya kemudian dia berjalan keluar untuk menuju ke kantin, karena perutnya sudah meronta-ronta meminta di isi. Sampai di sana, Ella langsung saja memesan bakso super pedas.
"Akhirnya datang juga ni bakso, makasih mbak," ucap Ella pada pemilik kantin.
"Ell." Kiana datang menghampiri Ella.
"Eh, elu Ki. Duduk," sahut Ella.
"Sumpah, Ell. Kepalaku rasanya mau pecah tau nggak." Keluh Kiana.
"Tapi nggak jadi kan pecahnya?" Ella melirik Kiana sekilas kemudian dia kembali menyantap baksonya.
"Enggak, udah di lapisi beton. Jadi kuat, tahan banting," Jawab Kiana ngasal.
"Si Dela mana?" lanjutnya.
__ADS_1
"Entahlah, masih kerja kali."
"Kamu udah nemuin, Pak Ray belum?" tanya KIana.
"Belum, ngapain juga nemuin kak Ray, aku kan di sini jadi anak magang. Bukan istri ceo," terang Ella.
"Ya, kali aja kamu kangen gitu," kata Kiana.
"Hm, kangen nggak yah? Kayaknya nggak terlalu deh."
"Guysss!" teriak Dela yang baru saja tiba di kantin.
"Jangan triak-triak, Oneng! Ini bukan hutan," balas Ella berteriak pula.
"Kamu juga triak, Maemunah!" Delik Dela.
"Kan bales elo." Cengir Ella.
"Jangan berisik woy anak baru, kita di sini ke ganggu tau nggak," tegur seorang wanita berpakaian seksi.
"Maaf, Mbak," ucap Ella lembut.
"Mbak-mbak, gue bukan mbak lu, ya," sengitnya tak Terima.
"Kalo gitu maaf, Mbekk," kesal Ella.
"Lo! Anak baru! Beraninya ngeledekin gue," marah wanita itu.
"Udah nggak usah di ladenin, Ell. Kita pergi aja yuk dari sini." Ajak Dela.
"Bakso gue belum abis, Del." Ella menatap nanar baksonya.
"Kita beli aja di restoran depan, yuk pergi." Dela menarik tangan Ella.
"Bentar gue bayar dulu, nggak lucu kan, hari pertama kerja ngutang." Ella mengeluarkan selembar uang merah lalu menaruhnya di bawah mangkuk.
"Anak baru aja belagu!" Cibir wanita tadi.
"Mbekk! Ada masalah apa sih sama kita? Sewot amat perasaan." Kesal Ella.
"Udah, Ell. Ayok pergi." Kiana dan Dela menarik lengan Ella.
"Huaas, bakso gue belum abis.."
"Nggak usah lebay deh."
Mereka pun berjalan ke restoran depan yang di maksud oleh Dela. Restoran itu cukup dekat dengan perusahaan Ray, hanya beberapa meter saja. Jadi tidak perlu memakai kendaraan untuk mencapainya. Sesampainya di sana, Ella melihat Ray yang tengah makan siang bersama dengan Satria dan juga Galang. Entah mengapa mereka bisa bersama di restoran itu, tanpa pikir panjang, Ella langsung menghampiri mereka.
"Abang!" seru Ella menyapa sang abang bukan suaminya.
"Eh, lu di sini juga, Dek?" Satria menatap sang adik.
"Iya, Bang. Gue manggang di sini," ujar Ella.
"Magang kali, Dek," koreksi Satria.
"Sama aja." Ella langsung duduk di samping Satria.
"Itu dia, Bang..." Ella terlihat kesal.
"Kenapa, Hm?" Satria mengusak rambut Ella.
"Tadi tuh, aku lagi makan bakso di kantin."
"Terus?"
"Pas lagi enak-enaknya makan, ada pengganggu datang," cemberut Ella.
"Pengganggu? Siapa yang berani gangguin adik abang ini, hm?"
"Si mbekkk, Abang... Jadi deh bakso aku nggak abis." Ella nampak sedih.
"Ya udah, sekarang pesen bakso lagi aja di sini ya. Jangan sedih lagi," ucap Satria.
"Oke, Bang. Tapi, Abang yang traktir ya," pinta Ella.
"Sipp!"
"Asekkk, guyss. Pasen yang banyak. Abang gue yang traktir!" seru Ella.
"Asikk, ada yang traktir." Riang Dela.
"Sayang.... Suami kamu ini masih bisa bayar loh. Segitu senang nya dapat teraktiran," ucap Galang kesal.
"Mungpung ada yang gratis, A. Jadi bisa hemat duit," ujar Dela cengengesan.
"Kamu, tu."
Sementara Ray, dia hanya diam saja sembari menatap kesal sang istri. Pasalnya dia merasa tidak di anggap. Padahal dia ada di sini, tetapi mengapa yang di sapa Satria? Istrinya juga malah mengadu pada Satria. Bukan padanya. Jujur saja, Ray iri dengan Satria, meskipun dia sering bertengkar dengan Ella. Namun Satria selalu menjadi tempat curahan hati Ella. Bahkan Ella juga berani bermanja, memeluk Satria di depan umum tanpa rasa segan. Sedangkan padanya, Ella tidak berani melakukan itu. Menyapa pun seakan enggan.
"Dek," bisik Satria.
"Apa, Bang?" sahut Ella tanpa mengalihkan atensinya dari bakso yang sedang ia santap.
"Sapa lakik, lo," bisik Satria yang nyaris tidak terdengar.
"Apa? Nggak kedengaran."
Satria pun memberi kode pada Ella dengan menggunakan bola matanya yang melirik ke arah Ray. Seketika Ella langsung paham dan melirik ke arah Ray.
"Hay, Kak. Eh, Pak." Ella menyapa Ray dengan tersenyum manis namun tidak dapat respon apapun dari Ray.
"Gue duluan." Ray beranjak pergi darisana dengan wajah dingin plus datarnya.
"Kak Ray kenapa?" bingung Ella.
"Lo masih nggak ngerti, Dek. Dia kenapa?" tanya Satria.
"Enggak." Ella menggeleng.
"Dengerin, Abang," ucap Satria.
__ADS_1
"Ok."
"Sekarang itu, elu udah punya lakik. Jadi, di mana pun itu. Kalo elu ketemu gue sama si Ray. Lo sapa terlebih dahulu si Ray. Karena bagaimanapun dia itu lakik elu. Dia pasti pengen di jadiin yang nomer satu sama elu. Jangan kayak tadi, lu nyapa gue duluan, ngadu ke gue, manja ke gue. Padahal ada lakik elu. Dia pasti cemburu sama gue. Kalo nggak ada dia, baru elu boleh manja, atau apapun itu sama gue," Nasihat Satria.
"Jadi, kak Ray cemburu sama, Abang?"
"Iya, dia juga kesel karena di cuekin sama lo."
"Sekarang lu susul dia, gih," imbuhnya.
"Ok, guys. Gue duluan ya." Ella melirik ke dua temannya.
"Semangat, Ell."
Ella pun melangkah dengan terburu-buru memasuki gedung tinggi menjulang itu. Dia tidak masuk ke dalam ruang divisi. Melainkan masuk ke dalam ruangan Ray tanpa mengetuk pintu. Saat dirinya sudah membuka pintu. Dia melihat wanita yang tadi ribut di kantin denganya berada di sana bersama Rian dan Resti.
"Ma-af," ucap Ella yang merutuki kebodohannya karena tidak memastikan terlebih dahulu jika di dalam ada orang lain atau tidak.
Wanita yang tadi sempat bersitegang dengan Ella di kantin, menatapnya dengan sinis. Sementara Rian dan Resti merasa tidak enak pada Ray, karena anak magang yang baru masuk sudah berlaku tidak sopan.
.
"Masuk, Sayang." Suara bariton Ray membuat Ella yang hendak menutup pintu menjadi urung.
Lain halnya dengan mereka bertiga yang tampak tercengang mendengar perkataan Ray, mereka kaget saat mendengar Ray memanggil anak magang Sayang.
"Halo kakak-kakak." Ella menyapa tiga orang itu dengan ramah.
"Dia istri saya, kalian masih ingat kan?" Perkataan Ray sontak saja membuat ketiga orang itu membeku, terutama wanita yang tadi bersitegang dengan Ella.
"Ja-di, Stela ini, istri Bapak?" tanya Rasti gugup.
"Iya, memangnya kalian lupa."
"Maaf, Pak. Kami lupa, mungkin karena kami hanya melihat istri bapak sekilas saat itu," terang Rasti.
"Tidak pa-pa, yang penting sekarang kalian sudah tau. Kalian boleh keluar."
"Baik, Pak. Kami permisi."
"Silahkan."
Setelah ke tiga karyawan nya pergi, Ray tidak mengatakan sepatah kata pun terhadap Ella dan tidak semanis tadi saat ada karyawan nya.
"Kak Ray, aku minta maaf ya," ucap Ella.
"Hm."
"Maafin dong... Aku nyesel karena udah nggak peka sama perasaan kak Ray," sesal Ella.
"Menyesal karena apa?" Akhirnya Ray bersuara.
"Karena udah nyuekin Kak Ray, aku minta maaf. Karena kalo udah ketemu abang. Aku jadi lupa sama kakak. Padahal, harusnya aku lebih ngutamain kakak. Maaf ya," ucap Ella serius.
"Kakak maafin, tapi jangan di ulangi lagi. Bagaimana pun, kakak cemburu sama ke dekatan kamu dengan Satria. Bukannya nggak boleh deket. Tapi, kalo ada kakak di sana, harusnya kamu manja, ataupun mengadu nya sama kakak. Suami kamu." Ray menarik Ella kedalam pangkuannya.
"Kamu tau nggak? Saat kamu mengadu sama Satria. Kakak ngerasa nggak berguna. Padahal kakak ini suami kamu. Tapi kamu malah berkeluh kesah sama abang kamu. Kakak ngerasa, kamu seakan nggak nyaman dan enggan menunjukan siapa kakak ini di depan umum. Kamu seakan enggan mengakui, jika kakak ini adalah suami kamu," ungkap Ray.
"Maafin aku kak Ray, aku bukan berpikir seperti itu. Cuma, aku tu takut kalo kak Ray risih. Saat aku bersikap manja di lingkungan kantor. Aku takut kal Ray risih gitu," terang Ella.
"Kenapa harus risih? Justru kakak senang. Kakak ingin seluruh dunia tau. Kalau kamu ini milik kakak." Ray memeluk erat tubuh Ella.
"I love you my wife," ucap Ray.
"I love you too, my husband," balas Ella.
Sementara itu, di kediaman Wardana saat ini sedang heboh akibat ulah Zura yang menjahili sang opa. Bagaimana tidak heboh. Zura mendandani opanya yang sedang tertidur lelap dengan mengenakan spidol hitam. Dia menggambar bagian mata Samsul dengan spidol hitam itu dengan membentuk sebuah lingkaran. Zura juga menggambar pipi samsul persis seperti kumis kucing. Bagian bibirnya Zura warnai dengan lipstik merah yang blepotan. Bisa di bayangkan bagaimana wujud Samsul saat ini.
"Buahaha, Papah lucu banget." Wina tertawa dengan keras.
"Mamah kenapa?" Heran Samsul yang belum menyadari kondisi wajahnya.
"Muka Opa, ucu," ucap Zura sambil terkekeh.
"Lucu kenapa? Oh, Opa tau. Pasti Opah imut ya." Pede Samsul.
"Ikut, banget. Opa. Saking imutnya, setan aja pasti ngirit," sahut Zam yang sedari tadi diam saja.
"Kamu muji apa ngeledek, Zam?" delik Samsul.
"Muji sih enggak! Kalau ngeledek iya," jawab Zam dingin.
"Sebenarnya kalian ini kenapa?" Samsul semakin bingung.
"Coba deh papah ngaca," titah Wina.
Samsul yang penasaran pun langsung mengambil ponselnya. Dia langsung bercermin di sana.
"Elah dalah! Ini muka apa meong congkok?" Samsul mentap wajahnya dengan kening berkerut.
"Papah nggak kaget?" tanya Wina.
"Ngapain kaget? Orang wajah papah jadi imut gini. Mirip meong congkok," respon Samsul.
"Meong congkok itu jelek, Opa. Masa imut. Opa aneh deh." Cibir Zam.
Samsul tidak mendengarkan cibiran cucunya, dia malah bersenandung ria sembari menatap pantulan wajahnya di ponsel.
"Opa kalian oleng kayaknya. Masa wajahnya di bikin jelek jadi seneng." Wina bergiding.
"Papah itu nggak oleng, Mam. Tapi seneng. Papah bangga sama karya seni cucu kita. Ini pertama kalinya Zura membuat karya, dan itu di wajah Papih. Jadi papih seneng." ujar Samsul.
"Ya udah, kalo gitu. Zura gambar aja muka opa tiap hari. Biar opanya seneng ok." Wina menatap cucu perempuan nya.
"Asiap, Oma."
"Nggak gitu juga, Mah. Kalo tiap hari di gambar begini. Bisa-bisa, Papah jadi meong congkok beneran," lirih Samsul.
"Itu mah Derita papih."
"Mamah, Jahat!"
__ADS_1
Jejak😘😘