
Terlihat seorang wanita memakai dress hitam setengah paha tanpa lengan yang begitu ketat sehingga menampilkan lekuk tubuhnya, wanita itu berjalan berlenggak-lenggok dengan membawa tumpukan undangan di tangannya. Dia membagikan undangan itu pada seluruh mahasiswa/mahasiswi di kampus termasuk untuk para guru.
Setelah selesai membagikan di luar, dia pun masuk ke dalam ruangan pakultas manajemen semester dua. "Kalian datang ya, ke ultah ku yang ke dua satu. Pestanya megah dan juga mewah, jangan lupa datang, ya." Zela berucap sembari membagikan undangan pada siswa/siswi manajemen semester dua termasuk Ella.
"Ini untuk Pak Ray, jangan lupa datang." Zela memberikan satu undangan pada Ray dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Mata kuliah akan berlangsung, silahkan kamu keluar," usir Ray dingin.
"Ok, tapi nanti Pak Ray datang, ya," ucap Zela memaksa.
"Hm."
"Kalian juga, jangan lupa datang." Zela menunjuk Ella dkk.
(Ella dkk, Ella, Dela, Kiana, Diego and Alvin. )
"Hm." Ella tampak acuh.
Setelah Zela pergi mata kuliah pun di mulai, Ray membagikan tugas mata kuliah hari ini. Setelah itu dia kembali ke depan, karena tugasnya hanya mengawas jika tidak ada yang mengerti mereka boleh bertanya.
Beberapa saat kemudian. "Waktu habis, silahkan kumpulkan," ucap Ray tegas.
"Baik, Pak."
Setelah semuanya mengpulkan tugas, mereka pulang karena tidak ada matkul kedua.
*************************
"Nanti malem kita datang kan? ke acara ultahnya si Zela," tanya Kiana.
"Dateng dong," jawab Ella cepat.
"Kayaknya gue gak dateng deh, soalnya nanti malem gue ada acara keluarga. Lagian acaranya mendadak banget, kita jadi gak sempet bersiap dan juga mengatur jadwal," ujar Diego.
"Caelah mengatur jadwal, kayak orang sibuk aja," cibir Kiana.
"Gue emang sibuk, gak kayak elo. Pengangguran." Balas Diego.
"Gue juga sibuk kali, makannya gue gak bakal dateng," ujar Kiana.
"Ngikutin aja ku, Bambang," delik Diego.
"Jadi kalian berdua gak bakal dateng?" Dela menatap Kiana dan juga Diego.
__ADS_1
"Ga!" jawab mereka kompak.
"Cie... Kompak banget," ledek Ella.
"Apa sih, dah ah. Aku mau pergi, bay." Kiana pergi terlebih dahulu.
"Gue juga pamit." Diego juga melangkah pergi.
"Masuk mobil," ajak Ella pada Dela dan juga Alvin.
Mereka berjalan memasuki mobil dengan Ella di depan di balik kemudi, Dela di samping Ella dan Alvin di belakang. Setelah itu Ella melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat, di mana nantinya mereka akan membahas rencana dua, karena rencana satu sudah mereka selesaikan.. Ray juga akan menyusul ke tempat itu setelah selesi mengajar.
Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di Vila Ray, Vila yang dulu pernah beberapa kali Ella kunjungi. Disana sudah ada Galang yang menanti dan juga beberapa anggota AOD yang menyamar sebagai penjaga Vila, tukang kebun, satpam dll.
"Jadi, selanjutnya kalian merencanakan apa?" tanya Galang yang sedang duduk di sofa.
"Rencana kedua dan ketiga, karena rencana satu telah berhasil," jawab Ella.
"Gue masih bingung, kenapa lo bisa mengetahui semua rencana wanita itu?" Alvin melirik kearah Ella.
"Karena mata dan telinga gue ada di mana-mana," jawab Ella.
"Lagi-lagi hanya jawaban itu yang keluar dari mulut lo," jengah Alvin.
"Aku udah gak sabar melihat kehancuran wanita itu," ujar Dela.
"Kita lihat saja nanti, apa yang akan dia lakukan setelah rencana yang dia susun matang-matang, bahkan sampai membuat pesta dadakan di hotel, tapi semua rencana yang telah dia buat malah menimpa dirinya sendiri." Ella menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Kamu hebat, Sayang. Kamu bisa membuat orang terjebak dalam permainan nya sendiri," ucap Ray yang baru saja datang.
"Tentu, tapi kita harus Hati-hati, karena wanita itu juga bekerja sama dengan kelompok gangster yang nantinya akan menjadi pelayanan dan juga tamu undangan di pestanya," tutur Ella.
"Gangster?!" pekik Alvin.
"Ya, gangster Black Wolf. Dia bekerja sama dengan gangster itu untuk memuluskan rencanya," jelas Ella.
"Apa itu tidak akan berbahaya? Mereka gangster, ssedangkan kita? Kita gak sebanding dengan mereka," ucap Alvin risau.
"Siapa bilang gak sebanding, bahkan gue bisa membuat gangster itu punah dalam sekejap mata." Ella tersenyum mengerikan.
"Lo gak tau gimana kejamnya kelompok gangster, Ell. Mereka bisa membunuh kita dengan cara yang sadis." Alvin bergidig ngeri.
"Gue lebih tau tentang mereka, gue juga bisa membunuh mereka dengan cara yang lebih sadis. Bahkan lebih sadis dari apa yang lo bayangkan." Ella menatap Alvin dengan aura yang tak biasa, sehingga membuat bulu kuduk Alvin berdiri.
__ADS_1
Perbincangan berlanjut sampai sore hari tiba, Ella dan Dela pun segera memasak dengan bahan yang di sediakan penjaga Vila. Setelah selesai, mereka memanggil para pria untuk segera makan agar tenaga mereka kembali kuat untuk menghadapi jerat jebakan yang akan mereka hadapi nanti.
Matahari telah terbenam tergantikan dengan gelapnya malam dan juga semilir angin dingin yang menusuk ke permukaan kulit. Mereka masih berada di Vila, karena mereka akan berangkat ke pesta Zela dari Vila itu. Sebelumnya Ella dan juga Dela telah izin pada mertua mereka, sekaligus menitipkan anaknya.
"Kamu cantik banget, Sayang. Kakak jadi gak rela ngebiarin kamu keluar." Ray menatap Ella yang sedang bersolek dengan intens.
"Iya dong cantik, makannya banyak yang suka." Ella mengibaskan rambutnya kemudian dia menghampiri Ray.
"Cantikan aku apa si Citel rombeng darat?" lanjutnya sembari berkacak pinggang.
"Jelas cantikan kamu, Sayang. Di mata kakak, meskipun banyak ribuan cantik. Tapi hanya kamu yang paling cantik dan juga menarik." Ray memeluk pinggang Ella dari depan.
"Gombal!" delik Ella.
"Serius. Kamulah yang paling cantik di mata kakak, sekarang esok dan selamanya hanya kamu." Ray menarik Ella supaya menempel di dada bidangnya.
"Jangan pernah berpaling dan menghianatiku, aku paling gak suka orang yang berhianat." Ella mengalungkan kedua lengannya pada leher Ray.
"Tidak akan pernah, karena menghianatimu, itu sama saja kakak membunuh diri kakak sendiri. Kakak tidak bisa hidup tanpamu, apa jadinya kakak? Jika kamu pergi." Ray menatap Ella dengan penuh cinta.
"Jika kamu berhianat, bukan hanya aku yang pergi. Tapi belalai juga, dia akan aku tebas sampai lepas!" ancam Ella penuh penekanan.
"Kakak janji, kakak tidak akan menghianatimu walau seujung kuku pun." Cup! Ray mengecup lembut bibir ranum Ella.
"I love you, Sayang," bisik Ray tepat di telinga Ella.
"I love you too, Kak Ray," balas Ella kemudian dia menelusupkan wajahnya pada dada bidang Ray.
"Woyy! Ayok berangkat, keburu malem! Bisa galtot rencana kita!" teriak Galang dari luar.
"Ganggu aja," gerutu Ray.
"Ayok berangkat, aku tidak sabar ingin bermain." Ella melepaskan pelukan Ray.
"Setelah kita bermain dengan wanita itu, kita bermain di ranjang okey." Ray menjawil dagu Ella dengan satu mata dia kedipkan genit.
"Oke, siapa takut." Ella tersenyum menggoda.
Jejak😘😘
Autor punya rekomendasi novel yang bagus banget nih, coba deh kepoin pasti kalian ketagihan bacanya. lihat detail bawah sini ya👇
__ADS_1