Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
mengeksekusi Rafly


__ADS_3

"Pak Kevin!" Pekik Ella yang reflek tangannya langsung mendorong Ray.


"Sorry, gue kira si Ray cuma sendiri. Jadi gue nyelonong aja." Kevin hendak menutup pintu kembali.


"Pak Kevin ada urusan sama kak Ray kan? Silahkan masuk, aku mau pulang kok." Ella langsung bangkit dan berjalan keluar melewati Kevin.


"Kurang Bro, di rumah?" Kevin langsung masuk lalu dia duduk di samping Ray.


"Hm."


**********************


"Kita makan dulu, yuk?" ajak Rendi saat mereka sedang dalam perjalanan ke rumah Kiana.


"Ayok, aku juga laper," Sahut Kiana.


"Mau makan di mana?" Rendi yang sedang menyetir melirik Kiana sekilas.


"Aku lagi pengen makan soto Bu Nining," jawab Kiana.


"Di mana tempatnya?"


"Pas belokan mau ke rumah aku."


"Ok, kita makan di sana."


Dalam perjalan, Kiana terus memandang Rendi, entah kenapa? Setiap kali dia bersama Rendi, dia merasa begitu nyaman. Jantungnya selalu berdebar dengan perasaan tak karuan, tapi satu yang pasti, dia selalu merindukan sosok pria di sampingnya akhir-akhir ini.


"Kenapa?" Rendi membalas tatapan Kiana yang sedari tadi terus menatap nya.


"Kenapa apanya?" bingung Kiana.


"Kenapa lo terus natap gue kayak gitu? Gue tampan ya?" Rendi berucap dengan nada meledek.


"Eh, apaan? Siapa yang natap kamu?" Kilah Kiana.


"Udah ketauan nggak mau ngaku, dasar cewek. Selalu saja ngeles dan malu-malu meong."


Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di kedai soto yang di maksud oleh Kiana. Mereka pun makan di sana dengan memesan dua porsi soto. Setelah selesai makan, Rendi langsung mengantarkan Kiana ke rumahnya.


"Mau mampir dulu?" tawar Kiana saat mereka sudah sampai di depan gerbang rumah Kiana.


"Next time deh, sekarang gue lagi buru-buru." ucap Rendi.


"Oh, ok. Kalo gitu hati-hati, ya. Dan makasih udah di anterin." Kiana tersenyum dengan manisnya.


"Iya, bay Kia manis. Sampai ketemu lagi." Rendi melambaikan tangannya.


"Bay." Kia juga melambaikan tangannya.


Setelah Rendi pergi, Kiana pun masuk kedalam rumah. "Enak banget hidup lo, udah numpang pulang seenaknya lagi," ucap seorang pria yang sedang duduk di sofa.


"Aku dari kampus langsung pulang kok, Bang. Cuma tadi mampir di kedai soto Bi Nining sebentar," ujar Kiana menjelaskan.


"Gaya-gayaan makan di kedai segala, udah tau di sini cuma numpang. Pake hura-hura segala lagi, lo sengaja ya, mau morotin nyokap." Pria itu menatap nyalang Kiana..


"Enggak kok, Bang. Tadi juga di traktir temen." Kiana selalu menanggapi ucapan pedas abangnya dengan senyuman.


"Kamu udah pulang, Ki?" Wanita paruh baya yang baru keluar dari dapur menghampiri mereka.


"Udah Mah, baru aja," jawab Kiana.


"Makan dulu gih, Mamah baru selesai masak," ucap wanita itu.


"Aku udah makan soto Bi Nining tadi, Mah. Jadi masih kenyang," ujar Kiana.


"Ngapain sih, Mamah sok peduli sama benalu itu." Kesal abang Kiana.


"Riki, gak boleh gitu. Dia itu adek kamu." Marah Diah.


"Aku gak punya adek, Mah. Dia bukan adek aku, dia itu hanya benalu yang numpang tapi nggak berguna," bantah Riki.


"Rik! Mamah gak pernah ngajarin kamu tidak sopan seperti itu! Kamu tau, perkataan kamu itu pasti sudah menyakiti Kia!" Bentak Diah.


"Mamah lebih belain dia ketimbang aku anak kandung, Mamah sendiri?" Riki menatap ibunya tak percaya.


"Kalian berdua sama-sama anak Mamah. Tidak ada yang di beda-bedakan, jadi Mamah gak mau ngeliat kamu bersikap seperti itu lagi terhadap adek kamu!" tegas Diah.


"Aku gak pa-pa kok, Mah. Jadi jangan marahin, Abang," Sahut Kiana yang sedari tadi hanya memperhatikan perdebatan mereka.


"Diem lo anak pembawa sial!" teriak Riki.


"Rik!" Diah begitu geram terhadap anaknya.


"Kenapa? Mamah gak rela anak kesayangan, Mamah di bentak? Mamah sadar gak sih? Seharusnya, Mamah itu membenci dia, dia itu adalah penyebab hancurnya keluarga kita." Riki menatap tajam ibunya.


"Riki, jaga ucapan kamu!" Bentak Diah.


"Stop! Kalian jangan berdebat lagi stop! Jika memang ke hadiran aku membuat keluarga ini sial, bahkan hancur. Aku akan pergi, aku nggak mau menjadi penyebab perdebatan kalian terus menerus," Teriak Kiana yang di akhiri dengan lirih.


"Mamah mohon, kamu jangan pergi, Ki." Diah langsung memeluk putrinya.


"Tapi aku ini bukan anak kandung, Mamah. Harusnya Mamah benci sama aku, bagaimanapun aku ini adalah anak..."


"Stop! Mamah gak mau denger itu. Kamu itu anak Mamah," Diah semakin mempererat pelukan nya.


"Keluarga Drama!"


Prankk!


Riki membanting pas bunga yang ada di meja sehingga hancur tak berbentuk. Kiana yang melihat itu pun, langsung melepas pelukan Diah dan berlari ke kamarnya.


"Aku memang pembawa sial," lirihnya di sertai genangan air mata.


"Pah, semoga Papah cepet bebas, supaya abang nggak marah-marah lagi." Kiana terisak dengan begitu pilu.


Drett! Drett! Drett!

__ADS_1


Getaran ponsel miliknya seketi membuat atensinya teralih yang semula menunduk. "Kak Rendi," gumamnya. Terlihat sedikit senyuman tesungging di bibir yang tadinya bergetar karena menangis.


πŸ“ž Halo, Kak.


πŸ“ž Lo lagi ngapain?


πŸ“ž Lagi rebahan aja.


πŸ“ž Nanti malem gue mau ngajak lo jalan, mau nggak?


πŸ“ž Jam berapa?


πŸ“ž Jam tujuh.


πŸ“ž Em, ok. Aku mau.


πŸ“ž Ok, kalo gitu nanti gue jemput.


"Kenapa aku seneng banget ya? Di ajak jalan sama kak Rendi," gumamnya ketika sambungan teleponnya sudah terputus. Kiana tampak tersenyum sendiri seolah lupa dengan kesedihannya tadi.


*******************


"Huh, bete banget gue hari ini." Ella menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Bete kenapa sih?" tanya Ragil, saat ini Ella sedang berada di markas.


"Ada lah pokonya." Ella berdiri dengan malas.


"Mau kemana?"


"Lo lupa? Gue kan pernah buat janji sama si Kupret," ucap Ella.


"Oh iya, ini jadwal lo nerima tantangan si Rafly. Tapi, apa si Ray tau?" tanya Ragil.


"Dia nggak tau, yang dia tau gue cuma mau eksekusi si Rafly bukan berduel," jawabnya.


"Lo yakin udah bisa baku hantam?"


"Lo ngeremehin gue?" Menatap tajam Ragil.


"Bukan gitu, lo kan habis lahiran."


"Gue udah sembuh, lagian ini udah mau dua bulan pasca gue lahiran. Mending lo ikut gue ke bawah." Ella berjalan ke arah ruang bawah tanah dengan di ikuti Ragil.


Sampai di sana, dia melihat Rafly menatap tajam ke arah dirinya seolah menyambut dan siap bertarung.


"Apa kabar, Rafia?" Ella berjalan mendekati Rafly yang masih berada dalam kurungan besi.


"Jangan banyak bacot, cepet keluarin gue." Bentak Rafly.


"Oow, tunggu dulu dong. Udah gak sabar ya, pengen duel sama aku." Ella mengedipkan sebelah matanya.


"Ya, gue udah gak sabar pengen bunuh lo." Menatap Ella dengan amarah yang menggebu.


"Yakin, bisa bunuh aku?" Ella menatap remeh Rafly.


"Yakin sekali kamu bisa membunuhku, jangan terlalu tinggi menghayal. Nanti jatuh baru tau rasa."


"Simpan omong kosong itu, sekarang cepat lepasin gue!"


"Ok, Gil." Ella melirik Ragil.


Dengan sigap Ragil segera membuka gembok sel itu, Rafly segera keluar dengan raut wajah penuh kemenangan.


"Sebentar lagi lo akan habis di tangan gue!" Rafly menyeringai sembari mendekati Ella.


"Emang tangan bisa ngunyah? Dia kan gak punya gigi. Mana bisa ngabisin aku yang segede gini?"


"Jangan buat gue naik darah dengan kelakuan sok polos lo itu." Ragil menarik kerah jaket Ella.


"Wey, santai Bro. Segitu gak sabarnya ya, pengen ngebunuh aku." Menepis kasar tangan Rafly.


"Banyak bacot lo!" Rafly mengepalkan tangannya hendak melayangkan pukulan terhadap Ella.


"Eits, tunggu dulu. Kita gak bermain di sini. Gil bawa dia," ucapnya kemudian melirik Ragil dan berlalu pergi.


Tibalah Ella di sebuah ruang penyiksaan yang cukup luas, di sana terdapat banyak sekali berbagai jenis senjata. Tempat itu sangat cocok di jadikan arena bertarung, karena selain luas, tempat itu juga kedap suara.


"Lepasin dia," Perintahnya pada Ragil.


Ragil pun melepaskan Rafly, dia yakin Rafly akan tewas hari ini jika mengingat ke sadisan Ella. Sejujurnya, jauh di dalam lubuk hatinya dia merasa kasihan dengan Rafly, bagaimanapun mereka pernah tinggal bersama dan juga bersahabat baik. Namun Ragil tidak bisa berbuat apa-apa karena Rafly bersalah, dia tidak mau berubah. Padahal Ella sudah memberinya waktu yang cukup lama untuk merenung supaya dia menyadari kesalahannya dan mau berubah.


"Kamu boleh memilih senjata apapun untuk membunuhku, bebas," ucap Ella dengan bersidekap dada.


Tentu saja hal itu membuat Rafly senang, dia segera mengambil senjata yang sekiranya bisa menewaskan Ella dengan mudah. Rafly mengambil pistol, belati dan juga Katana yang begitu tajam dan runcing. Dia yakin bisa menebas kepala Ella dengan senjata itu.


Ella yang melihatnya pun hanya tersenyum menyeringai, bukannya takut atau gentar dengan senjata yang di ambil Rafly, tetapi Ella malah senang, dia merasa tertantang.


"Pilihan yang bagus."


Tanpa basa basi Rafly langsung menyerang Ella, awalnya dia hanya mengenakan tangan kosong. Tetapi lama kelamaan dia mengeluarkan belati yang tadi di ambilnya.


"Gerakan yang bagus," Puji Ella, dia kamum dengan gerakan Rafly yang cukup lihai. Padahal sudah lama dia tidak bertarung dan berlatih.


"Bersiaplah untuk kematianmu." Rafly menyerang Ella dengan membabi buta, dia menumpahkaj kebencian yang selama ini terpendam seiring dirinya terpenjara dalam jeruji besi.


Ella tampak santai menangkis serangan itu, bahkan dia terlihat sangat tenang. Dia membiarkan Rafly menyerangnya meski tidak ada satu serangan pun mengenai tubuhnya karena tangan lihainya berhasil menghadang semua serangan itu.


"Menyebalkan," umpat Rafly kesal karena serangannya sia-sia.


"Sudah ku bilang, membunuhku bukanlah perkara yang mudah." Masih dengan wajah tenangnya.


"Jangan senang dulu, gue masih punya seribu satu cara untuk membunuh lo bocah sialan!"


"Akan ku tunggu seribu cara kamu lagi, karena satu sudah terpakai."


Rafly mundur beberapa langkah dari hadapan Ella, kemudian dia mengeluarkan pistol yang tadi di ambilnya.

__ADS_1


"Lo akan mati." Menyeringai mengarahkan pistol tepat ke arah jantung Ella.


Dorr!


Peluru melayang tepat mengenai dada Ella, dengan cepat Ella memegangi dadanya. "Ahh jantungku..." lirih Ella.


"Udah gue duga, lo lemah!" Rafly tersenyum penuh kemenangan.


"Jantungku ternyata masih ada, aku kira copot." Ella berdiri tegak kembali. "Ini aku kembalikan." Melempar peluru yang mengenai dadanya.


"A-pa-apaan ini?" Rafly di buat heran sekaligus terkejut melihat Ella tidak terluka sama sekali.


Karena masih penasaran, dia mengangkat pistolnya kembali.


Dorr!


Kali ini Ella menangkap peluru itu karena Rafly menembakkan ke arah kepalanya. "A-pa?" Lagi-lagi Rafly di buat tercengang. Tapi dia tidak menyerah, pasti ada cara untuk melumpuhkan bocah tengik ini, pikirnya.


"Kali ini gue pasti bisa bunuh lo bocah." Rafly mengambil senjata terakhir nya, yaitu katana.


"Mau main perang-perangan rupanya, ayok lah, siapa takut." Ella mengeluarkan Katana kesayangannya dari balik punggung.


"Kyaaa!"


Mereka mulai beradu Katana, saling menyerang tanpa ampun dengan amarah yang semakin memuncak. Jika tadi Ella hanya diam saja menerima serangan Rafly, kali ini dia ikut bermain. Dia tidak mau kalah, dia terus menggerakan Katananya, mengayun memutar dan juga menyilang menahan serangan Katana Rafly.


"Cuih, membosankan." Ella meresa bertarungan ini begitu garing. Dia pikir Rafly adalah lawan yang se imbang, tatapi ternyata, Rafly sama saja. Lemah dalam bertarung.


"Bahkan kamu tidak bisa melukaiku sedikitpun, katanya ingin membunuhku? Tapi lihatlah, kau bahkan tidak bisa menggores kulitku se ujung kuku pun," ucap Ella mencibir.


Karena ucapan Ella yang seakan mengejeknya membuat Rafly kebakaran jenggot. Dia tidak Terima di katai seperti itu. Dengan amarah yang memuncak dan semakin menggebu. Rafly kembali menyerang tanpa ampun. Seperti tadi, Ella nampak santai saja.


Sretttt!


Akkhhh!


Karena sudah bosan, Ella mengoyak tangan kiri Rafly dengan ujung Katananya dengan sangat dalam dan lebar.


"Kurang ajar!" umpatnya murka.


"Sakit? Baiklah, ayok balas!" Tantang Ella.


Benar saja, Rafly tidak memperdulikan tangannya yang terluka dan mengalirkan darah yang sangat deras. "Lo harus mati!" Rafly menggerakan Katananya tidak beraturan, dalam pikirannya yang penting Ella terluka, tapi dia punya satu titik incaran. Yaitu jantung Ella supaya dia mati seketika.


Blass!


Lagi-lagi Ella lah yang berhasil melukai Rafly, kali ini dia menebas tangan kiri Rafly sehingga terputus sempurna.


"Oow, maaf ya. Aku pikir gak bakal putus. Ternyata aku menebasnya terlalu kuat," ucap Ella tanpa dosa.


"Akhhh! Shett!" Rafly tidak menjawab, dia hanya mengerang kesakitan.


"Tapi aku adil kan? Aku tidak menebas lengan kanan mu. Jadi kita masih bisa bertarung, ayok lawan aku," lanjutnya tanpa beban, padahal lawannya sedang mengerang merasakan sakit.


Rafly yang mendengar ucapan Ella seketika bangkit, dengan sekuat tenaga dia mengangkat Katana dengan tangan kanannya yang tersisa. Kali ini dia tidak boleh kalah, dia harus berhasil melumpuhkan Ella, Pikirnya.


Trengg!


Trengg!


Perkelahian sengit kembali terjadi, meskipun darah mengucur deras dari pangkal lengan kirinya, tetapi Rafly tetap menyerang dengan membabi buta, pikirannya hanya satu. Yaitu membunuh Ella.


Blass!!


Ahkkhhhh!


"Yah, kena lagi. Buntung dong dua-duanya. Terus gimana caranya kamu ngelawan aku?" Ella menayap Rafly yang tersungkur di lantai dingin dengan kondisi kedua tangannya terlepas.


"Ahhhkkkhhh! Bunuh saja aku!" Teriak Rafly yang sudah tidak kuat lagi menahan sakit.


"Sok-soan ingin membunuhku, sekarang kamu sendiri yang minta di bunuh. Tapi baiklah, aku akan menuruti permintaanmu." Ella mendekati Rafly yang kini terlentang.


Bleess!


Menusuk jantung Rafly dengan ujung Katananya. "Akhh!" Erang Rafly.


"Ternyata masih hidup!"


Ragil yang menyaksikan pengeksekusian Rafly merasa iba, tapi mengingat sikap Rafly. Dia berpikir, Rafly pantas mendapatkan itu. Padahal Ella sudah memberinya kesempatan untuk berubah bahkan berkali-kali.


Blass!!


Srettt!!


Ella menebas kepala Rafly, lalu dia membelah tubuh Rafly dari atas dada sampai kebawah sehingga tubuh itu terbelah dua, dan menampakan isiannya yang terurai dengan di bsnjiri darah segar. Jangan lupakan aroma anyir yang begitu menyeruak memasuki indra penciuman.


"Astoge! Bisa gak selera makan sebulan gue!" Pekik David yang ternyata sudah berada di belakang Ella.


"Bagus, biar lo mati sekalian!"


"Kejam lo, Ell."


"Gue tau itu, apa elo mau gue bunuh juga." Ella berbalik menatap David dengan masing memengang Katana yang berlumuran darah.


Glek!


"Enggak, i-tu si Ragil aja," tunjuknya pada Ragil.


"Enak aja, kenapa gue?" delik Ragil.


"Biar lo cepet ketemu bidadari surga."


"Bidadari surga konon, malaikan penjaga kubur iya."


Hay hay, maaf bila upnya ke panjangan. Ni jari gatel pengen terus ngetik mulu.🀣


Jangan lupa jejak ya, biar ni jari bergerak mengetik lagi😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2