
Alvin mendelik ke Luis, "Paman! Dia ini Agha Caraka temanku" Alvin berkata sambil menepuk dada Agha.
Agha menunduk dan langsung menepis tangan Alvin dari dadanya lalu Agha melangkah mundur sambil berkata, "Hei! Kenapa kau tepuk dadaku, cih!"
Kiana hanya bisa menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekanak-kanakan suaminya.
Alvin sontak menoleh ke Agha dan sambil menepuk pelan dada pamannya, Alvin berkata, "Ini Pamanku. Dan aku harap kalian bisa akur karena kita berada di pihak yang sama"
Agha dan Luis masih saling melempar tatapan tidak suka mereka akan satu dengan yang lainnya.
"Itu benar. Kalian harus berkenalan dengan baik dan benar dulu baru lah kalian bisa saling menerima. Jangan langsung bertengkar seperti anak kecil" Sahut Kiana.
"Lihat lah! Kiana yang jauh lebih muda dari kalian bahkan bisa berpikiran bijak. Kalian nggak malu bersikap kekanak-kanakan di depan Kiana?" Sahut Alvin.
Agha langsung bersedekap dan berkata, "Demi Kiana aku tidak akan meladeni kamu"
Luis mendengus kesal, "Demi Kiana aku juga tidak akan meladeni omongan pedas dan sikap tidak sopan kamu, cih!"
Agha langsung melotot, "Hei! Jangan kau katakan demi Kiana! Hanya aku yang boleh berkata seperti itu. Kau mau mati, ya?!"
Luis langsung melempar tongkatnya dan memasang kuda-kuda, "Kau yang akan mati. Ayo lawan aku!"
"Hei, hentikan kalian berdua!" Alvin berteriak dengan wajah kesal.
Agha dan Luis saling tunjuk dan mengucapkan kata, "Dia yang mulai!" Secara bersamaan.
Kiana sontak memekik, "Jenderal Luis! Anda sudah bisa berdiri tegak tanpa tongkat?! Anda bahkan bisa melompat ke depan tadi dan bergerak memasang kuda-kuda. Kaki Anda sudah sembuh total"
__ADS_1
Kiana lalu tersenyum lebar dan bergumam di dalam hatinya, terima kasih Kakek cermin. Kakek menepati semua janji Kakek. Terima kasih sudah menyembuhkan Jendela Luis.
"Iya, benar!" Pekik Alvin dengan wajah gembira.
Jenderal Luis lalu berdiri tegak dan mencoba untuk berjalan ke depan, melompat, dan berputar. Lalu, pria tampan yang wajahnya masih dibalut kain khusus untuk luka itu langsung tertawa lepas dan menoleh ke Kiana, "Terima kasih banyak Kiana"
Kakek cermin tiba-tiba mengeluarkan suara, hanya kamu yang bisa mendengar suaraku jadi bersikap lah biasa seolah kau tidak mendengar apa-apa saat ini. Kaki pria itu sembuh karena teknik pengobatan yang kau berikan. Kalau luka di wajahnya aku yang menyembuhkannya.
Kiana tersenyum lebar dan mengucapkan kata terima kasih, Kek tanpa mengeluarkan suara.
Hanya Agha yang bersikap dingin dan biasa-biasa saja karena dia tidak begitu menyukai pamannya Alvin yang bernama Luis itu.
Agha langsung menarik Kiana dan mendekap Kiana dengan rapat saat ia melihat Luis ingin memeluk Kiana.
Luis melotot ke Agha, "Aku hanya ingin memeluk Kiana untuk mengucapkan terima kasih. Aku nggak berniat macam-macam. Kenapa kau tarik Kiana, hah?!"
"Cih! Kau gila atau emang gila, hah?! Tentu saja aku akan tarik Istriku saat aku melihat ada pria ingin memeluk istriku. Nggak akan pernah aku biarkan laki-laki manapun memeluk Istriku untuk alasan apapun. Ngerti kamu?! Ucapan terima kasih saja udah cukup nggak usah berlebihan pakai peluk-peluk segala, cih!" Agha memeluk Kiana lebih erat sambil terus menghunus tatapan tajam ke Luis.
"Cukup, Paman! Agha benar. Ucapkan terima kasih ke Kiana tanpa pelukan" Sahut Alvin.
Luis hanya bisa mendengus kesal dan berkata, "Terima kasih Kiana. Terima kasih banyak"
"Sama-sama" Sahut Kiana yang masih berada di dalam dekapan hangat suaminya.
Agha dan Luis masih saling melempar pandangan kesal akan satu dengan yang lainnya.
Untuk menghindari perdebatan antara Agha dan Luis, Alvin langsung menyahut, "Aku akan periksa wajah Paman"
__ADS_1
"Hmm" Luis langsung berbalik badan untuk duduk di atas bale-bale.
Kiana ingin melepaskan diri dari pelukan suaminya dan Agha langsung berdecak kesal, "Tzk! Kau mau apa? Diamlah!"
"Aku ingin membantu Alvin, Mas"
"Nggak usah! Aku nggak mau pamannya Alvin tiba-tiba memeluk kamu, cih!" Agha memeluk Kiana lebih erat dan Kiana hanya bisa menghela napas panjang.
"Wah! Wajah Paman juga sudah sembuh" Pekik Alvin dan Kiana langsung mengulas senyum lebar dan menyahut, "Syukurlah! Selamat Jenderal Luis, Anda bisa sembuh lebih cepat dari perkiraan waktu yang sebelumnya"
"Terima kasih Kiana, Alvin" Pamannya Alvin memeluk Alvin dan menangis terharu di dalam pelukannya Alvin.
"Dasar cengeng!" Gumam Agha kesal dan Kiana langsung menepuk dada bidang suaminya dan mendongak untuk berkata, "Sstttt! Nggak boleh bilang begitu, Mas"
"Maaf. Habisnya dia itu sangat menjengkelkan" Sahut Agha.
Kiana kembali menghela napas panjang dan menggelengkan kepala.
Lalu, Kiana menoleh kembali ke Luis dan Alvin, "Ayo kita cepat keluar dari sini dan mencegah Sofie mengkudeta istana naga. Sofie ingin meracuni semua tetua dan dia ingin menguasai istana naga untuk dirinya sendiri. Dia bahkan ingin membunuh kamu iya, Vin"
"Kurang ajar! Ayo kita cepat ke sana" Sahut Luis sambil mengulurkan tangannya ke Kiana.
Agha yang masih memeluk Kiana langsung menepis kasar tangan Luis dan langsung membopong Kiana lalu melesat terbang meninggalkan Luis.
Luis kembali mendengus kesal dan berkata, "Dasar pria aneh"
"Paman juga aneh" Sahut Alvin sambil melesat terbang menyusul Agha.
__ADS_1
Luis akhirnya ikut terbang menyusul Alvin.
Sementara itu di dunia manusia, ibundanya Agha yang nekat pergi sendiri naik kereta kuda untuk mencari Agha dan Kiana diculik oleh serombongan pria berbaju serba hitam dengan kain penutup wajah. Ibundanya Agha diculik oleh orang suruhannya Maharani karena perempuan itu terbakar cemburu saat tahu Ibundanya Agha mulai menyayangi Kiana. Untuk itulah Maharani nekat menculik ibundanya Agha. Dia ingin melakukan pertukaran nanti. Kalau Agha mau menikahinya, maka dia akan melakukan sandiwara menyelamatkan ibundanya Agha dan seolah-olah bukan dia dalang dari penculikan ibundanya Agha. Dia yakin benar sandiwaranya akan berhasil. Agha tidak akan tahu kalau dia yang menyuruh orang untuk menculik ibundanya Agha, lalu dia bisa menjadi pahlawan di mata Agha saat ia melakukan penyelamatan nanti, dan setelah itu dia bisa menikah dengan Agha.