Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Asap Hitam


__ADS_3

Kiana buru-buru menyelesaikan makan siangnya karena ia ingin segera meracik krim kecantikan dan beberapa obat herbal untuk penyakit flu yang tengah mewabah di cuaca bersalju. Kiana ingin mulai berjualan besok pagi. Dan jika ia membuat krim dan racikan obat flu secepatnya, dia bisa menyelesaikan semuanya sebelum jam kencan yang ia dambakan dengan suami tampan yang sangat ia cintai tiba.


Kiana bergegas ke kamarnya dan ia dikejutkan dengan banyaknya pelayan di sana. "Kalian sedang apa?" Tanya Kiana dengan wajah penuh tanda tanya.


Salah satu dari kelima pelayan yang tengah menatap Kiana menyahut, "Kami diperintahkan oleh Yang Mulia untuk memindahkan semua barang Anda ke kamar beliau. Mulai hari ini, Anda tidur di kamar beliau"


Kiana sontak merona malu dan berkata, "Oh, baiklah kalau begitu. Kalian selesaikan pekerjaan kalian, aku akan pergi ke dapur meracik obat dan krim"


"Baik, Nyonya muda" Sahut kelima pelayan yang berada di dalam kamarnya Kiana secara bersamaan.


Saat Kiana asyik mempersiapkan bahan-bahan herbal yang ia miliki di depan, tungku, alat tumbuk, dan panci besar, ibundanya Agha pulang dari kuil dan Bibi Sum yang mengetahui jam kepulangan junjungannya, sudah bersiap di depan pintu gerbang untuk menyambut junjungannya.


Nyonya besar di kediaman Caraka itu kemudian melangkah ke ruang keluarga dan langsung disambut senyuman hangat dan pelukan erat dari Maharani.


"Tante pasti letih, kan? Ayo duduk dan aku akan memberikan pijatan yang sangat enak di pundak dan punggung Tante" Maharani berucap sambil menarik tangan ibundanya Agha.


Tentu saja ibundanya menuruti kemauan Maharani dengan senyum ceria.


Bibi Sum langsung berkata, "Saya akan membawa semua belanjaan ini ke kamar Anda dan saya akan menatanya"


"Baiklah. Pergilah, Bi!" Sahut ibundanya Agha sembari tersenyum senang menikmati nyamannya pijatan dari tangan lentik milik Maharani.


Agha itu memang buta. Kenapa dia masih belum mau menikahi gadis selembut, secantik, dan sebaik Rani? Aku akan coba bicara lagi dengan Agha dan kali ini aku akan bersikap tegas. Dia harus menikahi Maharani secepatnya. Karena selain cantik, lembut, dan baik, Rani adalah satu-satunya gadis yang bisa menghilangkan racun naga hitam di tubuh Agha dan hanya Rani yang bersedia mendonorkan darah untuk Agha. Batin Ibundanya Agha sembari merem melek menikmati pijatannya Maharani.


Sementara itu di kantor penyidik, Agha duduk di depan meja kerjanya yang panjang dan besar setelah lelah seharian menginterogasi para penjahat dan perampok yang berhasil ia tangkap.


Agni kembali pergi keluar. Gadis cantik yang sebaya umurnya dengan Kiana itu, Agha tugaskan untuk menjadi kepala tim prajurit yang membawa para penjahat dan perampok yang sudah terbukti bersalah ke istana. Para penjahat dan perampok akan menerima hukuman mereka sesuai dengan bukti kejahatan yang telah mereka lakukan.


Bora memberanikan diri untuk bertanya, "Apakah Anda yakin akan mengatakan semuanya tentang Anda ke Nyonya muda, Yang Mulia?"


"Hmm. Karena dia adalah Istriku dan kata mendiang Ayah angkatku, kalau aku punya Istri, aku harus terbuka sama Istriku. Jangan ada rahasia di antara suami dan istri sekecil apapun rahasia itu" Sahut Agha.


"Tapi, Nyonya muda adalah mata-matanya permaisuri. Apa Anda lupa akan hal itu, Yang Mulia?"


"Aku tidak lupa"


"Tapi, kenapa Anda masih berniat untuk........."


"Aku percaya sama Kiana. Dia tidak akan mengkhianati aku. Sudah terbukti, kan, kalau bukan Kiana yang mencuri gulungan kertas itu"


"Iya, memang benar. Nyonya muda tidak mengambil gulungan kertas itu. Tapi, soal yang lainnya? Soal tanda lahir Anda dan racun naga hitam itu? Kalau sampai Nyonya muda keceplosan di depan permaisuri bagaimana?"


"Aku rela mati di tangan Kiana kalau itu takdirku. Pokoknya aku nggak akan merahasiakan apapun dari Kiana. Malam ini aku akan habiskan waktuku menceritakan semua masa lalu dan apa yang pernah aku alami ke Kiana"

__ADS_1


"Semoga keputusan Anda ini tidak menjadi bumerang bagi Anda nantinya, Yang Mulia" Sahut Bora dengan wajah khawatir.


"Jangan khawatirkan aku. Aku bisa jaga diri"


"Baiklah, Yang Mulia. Saya akan selalu ada untuk Anda dan selalu berjaga untuk keselamatan Anda"


"Jangan hanya aku yang kau jaga. Kau juga harus menjaga Kiana"


"Baik Yang Mulia"


"Jaga Kiana tanpa menyentuhnya. Bisa, kan?!"


"Bisa, Yang Mulia. Sudah terbukti, kan, selama ini saya menjaga Nyonya muda tanpa menyentuh Nyonya muda seujung rambutnya pun"


"Hmm. bagus" Agha kemudian bangkit berdiri.


"Anda mau ke mana?"


"Mempersiapkan diri untuk berkencan dengan Istriku"


"Hah?! Kencan? Memangnya Anda akan mengajak Nyonya muda berkencan di mana?"


"Di perpustakaan yang ada di kediamanku"


"Hah?!"


"Hah?!"


Agha menghentikan langkahnya dan menoleh ke Bora, "Karena aku nggak ingin Ibu dan Rani mengganggu waktu kencanku dengan Kiana, makanya aku ajak kamu masuk ke perpustakaan lewat atap"


"Oh, lalu kalau Nyonya besar mencari-cari Anda ke semua ruangan dan tidak ketemu, bukankah beliau akhirnya akan mencari Anda di perpustakaan?"


"Kau katakan ke Agni untuk bilang ke Ibu kalau aku sama kamu lembur di kantor penyidik"


"Lalu, kalau saya ikut masuk ke perpustakaan, saya jadi obat nyamuk, dong, nanti" Sahut Bora dengan wajah mewek.


Agha langsung menyentil kening Bora dan setelah mendengus kesal, Agha berkata, "Kamu balik lagi ke atap setelah aku masuk"


"Oh, iya, Anda benar, hehehehehe" Bora langsung meringis di depan Agha dan Agha melangkah masuk ke dalam kamar mandi dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sementara itu di kediaman Caraka, ibundanya Agha terbatuk-batuk dan mengibaskan tangannya, "Asap hitam dari mana ini? Dan bau aneh apa ini?"


Salah satu pelayan menyahut, "Nyonya muda tengah memasak di dapur"

__ADS_1


Ibundanya Agha langsung mendelik kaget dan menyuruh pelayan itu untuk memanggil Kiana menghadap, "Panggil gadis liar itu ke sini, cepat! Uhuk-uhuk! Uhuk-uhuk!" Ibundanya Agha kembali terbatuk-batuk


Maharani mengelus punggung ibundanya Agha sambil berkata, "Sabar Tante! Kiana memang tidak bisa masak. Semoga saja ia tidak membuat dapur Tante terbakar"


Ibundanya Agha semakin kesal wajahnya.


Sesampainya di dapur, pelayan yang diutus oleh Ibundanya Agha langsung berkata,


"Nyonya muda, Anda dipanggil Nyonya besar secepatnya"


Kiana sontak mematikan tungku dan bergegas bangkit berdiri lalu menyahut, "Baiklah" Dan langsung berlari kecil mengikuti langkah pelayan yang diutus oleh ibundanya Agha.


Sesampainya di depan ibundanya Agha, Kiana melihat Maharani tengah memijat mertuanya dan Maharani menyeringai mengejek.


"Apa yang kau masak di dapur? Kenapa ada asap hitam dan asap hitamnya sampai ke sini. Bau aneh yang mengikuti asap hitam itu juga sampai ke sini. Kalau tidak bisa masak jangan sok-sokan masak! Kau mau membakar kediaman ini, ya?! Jawab!!!!!" Ibundanya Agha berteriak kencang saking kesalnya setelah ia terbatuk-batuk karena asap hitam dan sesak napas karena bau aneh yang berasal dari dapur.


Kiana melihat Maharani semakin menyeringai mengejek.


Kiana menghela napas panjang dan berkata dengan sikap dan nada yang sangat sopan, "Maafkan saya, Nyonya besar. Saya tidak memasak makanan apapun. Tapi, saya memasak krim wajah dan meracik obat flu untuk saya.........."


"Kau gila, hah?!! Rumah ini bukan rumah sakit, bukan lab kerajaan, kenapa kau meracik obat di sini?! Siapa yang mengijinkan kamu melakukannya?!"


"Mas Agha yang.........."


"Kau panggil Agha apa? Mas?! Lancang benar mulut kamu!!!!!!! Berlutut!" Ibundanya Agha bangkit berdiri dan langsung mengarahkan jari telunjuk tangan kanannya ke Kiana.


Kiana langsung berlutut di depan Ibundanya Agha tepat di saat langkah bibi Sum berhenti di belakangnya Kiana. Bibi Sum langsung berkata, "Nyonya besar kenapa Anda berteriak kencang dan memarahi Nyonya muda?"


"Karena dia lancang memasak obat di dapurku dan membuat napasku sesak. Ada asap hitam dan bau aneh menusuk hidungku. Lalu, ia memanggil Agha dengan sebutan Mas! Lancang benar dia!!!!!! Berlutut sampai nanti Agha pulang! Biar Agha tahu seliar apa Istrinya, cih!"


"Nyonya besar, ini masih jam satu siang. Kalau Nyonya besar menyuruh Nyonya muda berlutut sampai jam enam sore, kan, kasihan?"


"Kenapa kasihan? Dia lancang dan pantas untuk dihukum. Kalau tidak dihukum lama-lama dia bisa bikin aku sesak napas dan lama-lama ia bisa membakar dapurku"


"Tapi, Nyonya besar, Yang Mulia akan......."


"Kau mau aku kasih hukuman juga, hah?! Kau pelayan pribadiku, Sum! Kenapa kau membelanya?" Ibundanya Agha mendelik ke bibi Sum dan Kiana langsung menyentuh tangan bibi Sum dan sambil mendongak, Kiana berkata ke bibi Sum, "Bibi jangan ikut campur! Aku nggak papa, kok. Aku sudah biasa menerima hukuman seperti ini"


Bibi Sum menatap Kiana dengan wajah tidak tega dan Kiana langsung mengulas senyum cantiknya dan berkata, "Nggak papa, Bi. Bibi tenang saja. Ikuti Nyonya besar dan jangan khawatirkan aku"


Bibi Sum dengan sangat terpaksa mengikuti langkah nyonya besarnya menuju ke kamar junjungannya.


Maharani berjalan melintasi Kiana dengan wajah dan langkah angkuh sambil berkata, "Rasakan hukuman kamu, cih!"

__ADS_1


Kiana hanya menghela napas panjang. Dia berdiam diri dan tidak meladeni ejekannya Maharani karena dia tidak ingin mertuanya semakin marah dan jatuh sakit. Karena dari bibi Sum, Kiana tahu kalau mertuanya memiliki penyakit darah tinggi.


__ADS_2