Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Pusing


__ADS_3

Semua pasang mata langsung tertuju ke Amber dan Amber yang berada di dalam wujud Kenzie sontak bertanya, "Apa? Ada apa kalian semua menatapku?"


Bora langsung berkata, "Oke, Yang Mulia Raja mungkin lelah. Kita abaikan saja beliau dan kita lanjutkan pembahasan strategi perang kita"


Semua orang langsung mengarahkan kembali pandangan mereka ke Bora.


Amber lalu menoleh ke Fandra dan berbicara dengan nada lirih, "Apa yang aku katakan waktu itu?"


Fandra menoleh ke junjungannya, "Apa maksud Yang Mulia Raja?"


"Emm, aku lupa apa jawabanku waktu kamu bilang kalau kamu ingin bersaing adil untuk mendapatkan hati Yang Mulia Ratu?"


"Anda hanya diam dan saya artikan itu sebagai tanda persetujuan dari Anda. Kalau Anda keberatan, kan, Anda langsung........aduh!"


Amber sontak menepuk keras bahu Fandra sambil berteriak, "Kalau aku diam kenapa kau bilang kalau aku setuju, hah?!"


Fandra mengelus bahunya dan menatap junjungannya dengan wajah penuh tanda tanya lalu berkata, "Semua orang pasti akan berpikir seperti itu, Yang Mulia"


Semua pasang mata kembali mengarah ke Amber yang masih terjebak di dalam tubuhnya Kenzie.


"Kenapa kalian menatapku lagi?"


"Karena Anda kembali berteriak, Yang Mulia Raja" Bora kembali menghela napas panjang.


Amber kemudian menoel bahu Fandra lalu mengayunkan tangan sambil berkata, "Ikut aku sebentar!"

__ADS_1


Amber lalu menoleh ke semuanya, "Aku akan bicara dengan Fandra di luar, emm, lima menit saja" Lalu, Amber melangkah lebar keluar dari aula pertemuan dan Fandra langsung mengekornya.


"Katakan! Apa ekspresiku saat itu?


"Ekspresi apa, Yang Mulia Raja?" Fandra sontak menautkan kedua alisnya.


"Ekspresiku waktu kamu bilang kalau kamu cinta sama Ratu"


"Yang Mulia Raja, bukankah seharusnya saat ini Anda menonjok wajah saya karena saya berkata terus terang kalau saya mencintai Ratu dan ingin bersaing adil dengan Anda untuk mendapatkan cintanya Ratu. Tapi, kenapa Anda bisa sesantai ini? Lagian kenapa Anda bertanya apa jawaban Anda waktu itu dan bertanya bagaimana ekspresi Anda waktu itu? Apa Anda sudah lupa atau Anda mengganggap Ratu bukan apa-apa, Anda hanya menganggap Ratu sebagai permainan saja, sebagai boneka pajangan saja?"


Mendengar Fandra memfitnah Kenzie sebelum jelas permasalahannya, maka ia nekat menonjok wajah Fandra.


Fandra terjengkang ke belakang sambil memegangi hidung mancungnya yang mengeluarkan sedikit darah.


"Iya, saya memang pantas ditonjok karena menginginkan Istri Anda, Yang Mulia Raja. Namun, setelah ini saya justru akan semakin gencar melancarkan aksi saya untuk merebut hati Yang Mulia Ratu Amber" Ucap Fandra sambil mengusap darah yang lubang hidungnya.


Seketika itu juga Amber mematung dan membatin, jadi ini maksudnya Mas Kenzie tadi berteriak agar aku tidak dekat-dekat dengan Fandra. Tapi, kenapa Mas Kenzie melarangku dekat-dekat dengan Fandra? Apa Mas Kenzie cemburu? Apa Mas Kenzie sudah ada rasa sama aku?


Melihat Yang Mulia Rajanya termangu, Fandra kembali berkata, "Ekspresi Anda sangat datar waktu itu dan Anda hanya diam membisu Jadi, saya anggap Anda akan melepaskan Ratu suatu saat nanti dan jangan salahkan. Saya kalau saya membawa pergi Ratu saat Anda melepaskannya"


"Siapa yang akan melepaskan Ratu!, Cih! Jangan sok tahu kamu!" Amber kemudian berputar badan lalu memilih masuk ke dalam kamarnya alih-alih kembali ke aula pertemuan.


Setelah melihat junjungannya masuk ke dalam kamar, Fandra berbalik badan dan kembali masuk ke aula pertemuan.


Amber menatap surat dari Kenzie lalu ia memikirkan kembali semua ucapannya Fandra. Amber kemudian menjambak rambut cepak milik Kenzie sambil berkata, "Yang Mulia Raja!!!!! Anda benar-benar brengsek! Anda membuat saya pusing dan sesak napas sekarang ini! Lihat saja kalau pulang nanti, saya akan bikin perhitungan dengan Anda!"

__ADS_1


Sementara itu, Kenzie terbangun dan langsung bersin-bersin, "Hatchi, Hatchi, hatchiiiii!!!!! Sial! Siapa yang mengataiku malam-malam begini!" Kenzie kemudian bangun dan melangkah keluar dari dalam kamar. Pria tampan yang masih terjebak di dalam tubuhnya Amber kemudian duduk di tengah taman dan menatap bintang-bintang, lalu ia bergumam, "Jaga diri kamu baik-baik dan cepat kembali. Aku sangat merindukan kamu saat ini, Amber. Ingin rasanya aku menyusul kamu ke sana, tapi saat ini aku harus mengungkap kebobrokannya Crystal dulu. Aku harus mengumpulkan banyak bukti untuk bisa mengukur ular Beludak itu seberat-beratnya"


Keesokan harinya, di istana langit, Agha membuka mata dan menatap wajah cantik istri kecil dengan senyuman penuh cinta.


Kiana yang sedari tadi tersenyum bahagia langsung menyapa suami tampannya, "Selamat pagi, Mas. Tidurnya nyenyak?"


Agha melebarkan senyumannya, menganggukkan kepala, lalu memeluk Kiana, dan mendaratkan ciuman di kening, krucuk hidung, dan berakhir di bibir Kiana.


Setelah berciuman cukup lama dengan istri kecilnya, Agha mengajak Kiana bangun. Ketika Kiana berjongkok di depan danau untuk cuci muka, Agha memutuskan untuk memanggang ikan.


Tiba-tiba mereka berdua dikejutkan dengan kemunculannya Bora si burung pemangsa. Kiana lanhsung berlari untuk berdiri di samping Agha. Bora si burung pemangsa berdiri tegak dengan gagahnya di depan Kiana dan Agha lalu ia berkicau.


Seketika itu juga, Agha berubah menjadi jaga hitam laku Kiana melompat naik ke punggung suaminya. Setelah mendengar istri kecilnya berteriak, "Aku sudah siap, Mas!" Agha terbang bebas ke angkasa dan Bora si burung pemangsa langsung terbang mencari keberadaannya Alvin.


Agha terbang menuju ke dunia manusia dan berencana menurunkan Kiana terlebih dahulu ke kerjaan Pusat barulah ia kemudian meluncur ke perbatasan untuk menghadapi si naga putih yang tidak ada kapok-kapoknya mengganggu ketenangan kelurganya.


Sementara itu, di kerajaan Pusat, Kenzie dalam wujud Amber tengah duduk di singgasana dan dia memanggil Crystal untuk menghadap. Kenzie yang masih berada di dalam tubuh Amber terus mengulas senyum tidak sabar. Dia tidak sabar ingin menginterogasi Crystal dengan bukti-bukti yang sudah ia kantongi dan semoga dia juga bisa membuat Crystal mengatakan kenapa Crystal merayu dirinya, menipu dirinya, dan mengincar posisi Ratu.


Sementara itu,Bhadra yang telah pulang dari pengintaian, langsung melangkah lebar ke aula pertemuan karena ia ingin bertemu Kenzie. Keponakannya yang tampan yang sudah sangat ia rindukan.


"Lho, mana Kenzie?" Tanya Bhadra saat ia membuka pintu dan tidak menemukan sosok Kenzie.


Bora yang menyahut "Yang Mulia Raja masuk ke kamar"


"Wah, nggak jelas, tuh, anak, tzk! Pamannya datang jauh-jauh tidak disambut malah masuk ke kamar, tzk!" Bhadra ngedumel kesal sambil menuangkan teh ke dalam cangkir.

__ADS_1


__ADS_2