Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Kesal


__ADS_3

Sepertinya akan ada lagi wanita yang akan terus menempel sama kamu dan sulit untuk dibuang, Mas. Batin Kiana sambil menoleh pelan ke suami tampannya.


Agha mengusap pipi Kiana dan bertanya, "Ada apa?"


Melihat Agha mengusap pipi Kiana, Aisyah mencengkeram ujung roknya dengan hati panas penuh dengan kecemburuan.


Kiana tersenyum dan mengusap lembut pipi Agha sambil berkata, "Tidak apa-apa, Yang Mulia. Saya hanya ingin berkata bahwa Suami saya ini sangat tampan" Kiana memberikan tekanan pada kata suami saya.


Aisyah yang masih mengulas senyum palsunya semakin erat mencengkeram ujung roknya.


Abinawa sontak tertawa bahagia dan sambil bangkit berdiri mantan raja di Kerajaan Pusat itu berkata, "Abaikan Putra dan Putriku yang tengah kasmaran ini, Aisyah. Senang rasanya kamu bersedia mengunjungi aku" Raja Abinawa kemudian mengitari meja lalu berjalan menghampiri Aisyah.


Aisyah melangkah maju lalu mencium punggung tangan Abinawa.


Abinawa menepuk pelan pundak Aisyah dan berkata, "Semoga kerajaan Pusat menjamu kamu dengan baik selama kamu tinggal di sini Aisyah"


Aisyah menarik tangan dan menegakkan badannya lalu berkata, "Kerajaan Pusat sangat ramah kepada saya dan beberapa dayang yang saya panggil dari Kerajaan Kecil, Yang Mulia"


"Syukurlah. Oh, iya, wanita cantik yang duduk di sebelah Agha itu, dia menantu kesayanganku" Abinawa menoleh ke belakang dan Kiana langsung bangkit berdiri lalu berjalan mengitari meja untuk menghampiri Aisyah.


Agha mengekor langkah istrinya dengan pelan.


Aisyah langsung memeluk Kiana saat Kiana menghentikan langkahnya di depan Aisyah. Kiana tersentak kaget dan refleks langsung menarik diri dari pelukannya Aisyah.


Agha langsung memeluk Kiana dari arah belakang untuk menopang Kiana.


"Senang berkenalan dengan Anda Ratu Kiana. Anda ternyata lebih cantik dari bayangan saya. Raja Agha sering menceritakan kecantikan dan kebaikan hati Anda"


Kiana menoleh ke suaminya dan Agha langsung mengecup kening Kiana dan berkata, "Tentu saja dengan senang hati aku akan terus menceritakan kecantikan dan kebaikan hati Istriku ini"


Kiana mengarahkan pandangannya ke Aisyah kembali dan berkata, "Saya juga senang akhirnya bisa bertemu dengan Anda. Cuma sayangnya Suami saya tidak pernah bercerita tentang Anda jadi maafkan saya kalau saya tidak. Isa berkata bahwa Anda lebih cantik daripada bayangan saya"


"Benarkah?" Tanya Aisyah dengan senyum menggoda.


"Iya" Sahut Kiana dengan nada tegas. Sangat tegas.


Agha langsung bisa merasakan ada aroma kecemburuan di nada bicaranya Kiana. Agha bergegas berkata, "Kita duduk dan makan bersama sambil mengobrol"


Abinawa tertawa senang dan berkata, "Syukurlah kalau semua anak-anak Ayah bisa hidup rukun dan saling menyayangi seperti ini. Ayo kita duduk kembali. Ayo Aisyah"

__ADS_1


"Baik, Yang Mulia. Terima kasih atas tawarannya" Sahut Aisyah sambil duduk di sebelahnya Agha padahal banyak kursi masih kosong di sekeliling meja tamu.


Agha sontak menoleh kaget ke Asiyah saat tahu wanita dari Padang pasir itu duduk di sebelahnya tanpa permisi. Agha lalu mengelus tengkuknya yang tiba-tiba terasa dingin.


Kiana langsung bangkit berdiri sambil menarik pelan tangan Agha dan berkata, "Mas, duduk di sini saja. Aku ingin makan anggur jadi aku ingin duduk di dekat anggur"


Agha mengangguk lalu pria tampan itu bangkit berdiri dan bertukar tempat duduk dengan Kiana.


Kiana menoleh ke Aisyah setelah ia duduk di sebelahnya Aisyah lalu berkata, "Anda mau buah anggur? Buah anggur adalah salah satu buah unggulan di kerajaan Pusat"


"Ah, tidak terima kasih" Sahut Aisyah dengan senyum terpaksa.


Hatinya sangat dongkol karena Kiana menjauhkan Agha darinya.


"Kamu tahu produk unggulan kerajaan ini, Kiana?" Tanya Abinawa.


"Iya, Ayah. Selain buah Anggur, ada buah Apel, strawbery, dan Gandum. Kerajaan Pusat juga memiliki tambang emas dan biji besi yang sangat bagus" Sahut Kiana.


"Wah, kamu memang cerdas, Kiana" Abinawa tersenyum bangga untuk kecerdasan menantunya dan Agha langsung mencium punggung tangan Kiana lalu berkata, "Itulah kenapa aku tidak bisa berpaling darinya, Ayah"


Kiana menunduk malu dan Abinawa tertawa senang lalu berkata, "Iya, Ayah tahu itu. Kau sangat mencintai Kiana, Agha. Berikan cucu untuk Ayah secepatnya biar Ayah tidak merasa kesepian"


Cih! Sok imut. Aku akan merebut Agha sebelum kamu hamil, Kiana. Aku juga akan merebut kasih sayang raja Abinawa. Lihat saja nanti. Batin Aisyah kesal.


Aisyah kemudian berkata karena ia ingin memamerkan bahwa dirinya jauh lebih pintar dari Kiana, "Menurut Anda lebih penting mana mengirim bahan makanan ke perbatasan atau menambah pasukan, Yang Mulia?"


Kiana menoleh ke Agha sebagai kode kalau Aisyah mulai menunjukkan taringnya tapi Agha justru mencium singkat pipinya Kiana dan Kiana hanya bisa menghela napas panjang melihat sikap polosnya Agha.


"Kalau menurut kamu bagaimana? Aku ingin dengar pemikiran kamu" Sahut Abinawa.


Aisyah melirik sekilas ke Kiana lalu ia berkata, "Saya rasa lebih baik mengirim pasukan karena bahan makanan bisa dicari di mana saja, Yang Mulia. Bahan makanan bisa dicari di hutan, di kebun, di kawasan pemukiman penduduk. Kalau kita mengirim pasukan, maka perbatasan akan semakin kuat dan terjaga ketat karena banyaknya jumlah pasukan tetap mempengaruhi pandangan musuh dan kemenangan"


"Kalau menurut kamu bagaimana Kiana?"Abinawa menoleh ke Kiana.


Agha mencium tangan Kiana dan pria tampan itu terus menatap wajah cantik istrinya dengan senyuman penuh cinta.


Kiana tersenyum lalu berkata ke ayah mertuanya, "Terima kasih Ayahanda untuk kesempatan yang Ayahanda berikan. Pendapat Ratu Aisyah ada benarnya tapi saya tidak setuju seratus persen dengan pendapatnya Ratu Kiana. Kalau menurut saya pengiriman bahan makanan bergizi jauh lebih penting karena kita tidak tahu situasi di perbatasan. Kalau hanya menambah pasukan bisa jadi malah semakin memperburuk keadaan di sana. Bagaimana kalau di sana bahan makanan sangat sedikit. Mereka jauh dari mana-mana. Kalau keadaannya seperti itu, mengirim pasukan lagi ke sana sama saja menambah jumlah orang kelaparan di sana dan bisa menambah jumlah kematian di sana. Jadi, untum penambahan pasukan di perbatasan harus dipikirkan lebih matang lagi tidak boleh dilakukan secara impulsif"


Agha tersentak kaget mendengar pemikiran istrinya dan Abinawa langsung bertepuk tangan sambil berkata, "Wah, menantuku memang sangat bijak dan pintar"

__ADS_1


"Iya, Ayah dan aku sangat beruntung memiliki wanita ini" Agha mencium cukup lama pipi Kiana.


"Pemikiran kamu secara tidak langsung sudah menyelamatkan banyak nyawa, Kiana dan Ayah sangat berterima kasih untuk itu. Mulai sekarang ini, camkan baik-baik Agha untuk ide penambahan pasukan. Jangan langsung menyetujuinya" Abinawa tersenyum bangga ke Kiana.


"Baik, Ayah" Sahut Agha tanpa mengalihkan pandangannya dari Kiana.


Kiana kembali menunduk malu dan berkata, "Terima banyak, Ayah"


Aisyah langsung meremas roknya dengan kedua tangan saat ia melihat Agha mencium pipi Kiana.


Sial! Rencanaku ingin menggaet Agha lewat persembahan pasukan Padang pasir untuk memperkuat perbatasan Utara digagalkan begitu saja oleh Kiana. Dasar brengsek, Kiana! Batin Aisyah kesal. Sangat kesal. Namun, Aisyah masih bisa mengulas senyum palsu di wajah cantik jelitanya laku berkata, "Ratu Kiana bukan saja sangat cantik tapi juga sangat bijak dan cerdas"


"Terima kasih, Ratu Aisyah" Sahut Kiana dengan tatapan tajam penuh makna.


Kiana tampak menggemaskan saat ini. Namun, di dalam hatinya Kiana tengah menggeram kesal, Aku tahu taktik kamu. Jangan harap kau bisa merebut Suamiku. Kiana kesal. Sangat kesal.


Melihat istrinya terus merona malu sejak tadi dan memperlihatkan kecerdasannya, gairah Agha kembali bergejolak. Agha langsung mengajak Kiana bangkit berdiri dan berkata, "Maafkan aku, sepertinya aku lupa memberikan oleh-oleh untuk Istriku. Kami pamit dulu, Ayah, Aisyah" Agha berucap tanpa mengalihkan pandangannya dari Kiana.


Asiyah refleks membatin, Agha bahkan sudah tidak pernah menatapku lagi.


"Ah, iya baiklah" Abinawa bangkit berdiri dan Kiana langsung berjalan mendekati ayah mertuanya untuk mencium punggung tangan ayah mertuanya dan pamit. Abinawa menepuk pelan pucuk kepala Kiana dengan senyum bangga lalu Abinawa berkata, "Banyak-banyak minum dan makan makanan bergizi biar kamu cepat kasih cucu ke aku"


Kiana merona malu dan berkata, "Baik, Ayah"


Agha langsung menggandeng Kiana berlari kecil meninggalkan aula tamu di paviliun ayahandanya.


"Mas, kita mau ke mana?"


"Ke paviliun kita. Aku mau kasih kamu oleh-oleh dari Padang pasir"


"Tapi, kenapa harus buru-buru seperti ini?" Tanya Kiana sambil berlari kecil mengikuti langkah lebar suaminya.


Agha langsung membopong Kiana saat ia melihat Kiana berlari kecil untuk mengimbangi langkah lebarnya. Lalu, Agha melesat terbang ke paviliunnya sambil berkata, "Aku tidak sabar ingin melihat kamu memakainya"


Kiana menatap suaminya dengan senyum geli dan wajah penuh dengan tanda tanya.


Aisyah terus mengarahkan pandangannya ke pintu sampai punggung Agha menghilang pun dia masih mengarahkan pandangannya ke pintu.


"Kenapa melihat ke pintu terus? Apa yang kau tunggu?"

__ADS_1


"Ah, tidak ada Yang Mulia. Saya hanya lupa kalau saya meninggalkan kamar saya dalam keadaan terbuka. Saya permisi dulu, Yang Mulia" Aisyah bangkit berdiri dan Abinawa ikut bangkit berdiri. Setelah pamit, Aisyah melesat kembali ke kamarnya samb bergumam, "Rencana halus sudah digagalkan oleh Kiana, maka jangan salahkan aku kalau aku akan menjalankan rencana yang lebih ekstrim"


__ADS_2