Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Bertemu Aisyah


__ADS_3

Saat Kiana akhirnya menyerah kalah di dalam dekapan hangatnya, Agha dengan hati-hati memakaikan kembali bajunya Kiana, lalu menyelimuti Kiana. Setelah mengusap lembut pipi Kiana dan mendaratkan ciuman hangat di kening istri kecilnya, Agha bangun, bangkit berdiri sambil memakai kembali semua bajunya lalu berjalan ke depan.


Sementara itu, di istananya raja Abimantya, tampak yang mulia Abinawa, raja Abimantya, Kayla, dan ibundanya Agha yang bernama Intan bercengkerama hangat di aula penerimaan tamu. Ibundanya Agha berkali-kali berkata, "Pantas kalau Kiana terlahir sangat cantik dan baik hati. Ibundanya baik dan sangat cantik"


"Anda juga sangat baik dan sangat cantik. Kebaikan hati dan kecantikan Anda, Anda tularkan ke Putri Anda. Agni sangat cantik" Kayla tersenyum ke Agni.


Agni tersipu malu dan langsung berkata, "Terima kasih banyak atas pujiannya, Tante"


Kayla mengusap lembut pipi Agni dan Agni memberikan senyum lebarnya Ke Kayla.


"Tapi, dia bandel" Sahut Intan sambil menepuk pelan punggung tangan Agni.


Agni hanya meringis di depan ibundanya.


Semua yang ada di aula pertemuan itu sontak menggemakan tawa mereka melihat tingkah konyolnya Agni dan intan, kecuali Abimantya, Abimantya hanya mengulas senyum lebar di wajah tampannya.


"Agni dan Kayla sepertinya tidak jauh berbeda karakternya" Ucap Kayla dengan senyum lebar dan kembali mengusap pipi Agni.


"Iya, benar sekali. Itulah kenapa Agni dan Kayla sangat akrab sudah seperti kakak dan adik kandung saja mereka itu" Sahut ibundanya Agha dengan senyum bahagia. Dia bahagia anak-anaknya semua rukun dan saling menyayangi. Dia bahkan sudah menganggap Kiana seperti putri kandungnya sendiri.


"Terima kasih banyak sudah bersedia menerima Kiana dan menyayangi Kiana" Sahut Kayla sambil menggenggam tangan Intan.


"Sama-sama, Jeng" Sahut Intan sambil memeluk erat tubuh rampingnya Kayla.


"Aku juga berterima kasih pada kamu Intan, karena kamu sudah mau menyelamatkan Agha, menerima Agha, melindungi Agha, dan menyayangi Agha seperti putramu sendiri" Sahut Abinawa.


"Agha juga keponakanku, Mas. Tentu saja aku akan menerima, melindungi, dan menyayangi Agha" Sahut Intan.


Raja Abimantya yang terkenal dingin dan pendiam tiba-tiba menyeletuk, "Wah, aku ketinggalan banyak cerita. Kalian harus sering-sering main ke sini, agar aku tidak ketinggalan cerita"


Abinawa menoleh kaget ke adik kembarnya, lalu ia menoleh ke Kayla dan berkata, "Sepertinya kamu sudah berhasil merubah adik kembarku ini menjadi pribadi yang hangat, Kayla. Wah, aku salut sama kamu. Ibunda kami saja kewalahan menghadapi sifat pendiam dan dinginnya adik kembarku ini"


"Saya hanya memperlakukan Yang Mulia Raja Abimantya sebagaimana layaknya, Yang Mulia" Sahut Kayla dengan tersipu malu.


"Dan cinta Kayla yang menghangatkan hatiku" Sahut Abimantya.


Kayla yang merona malu refleks mencubit mesra pinggang calon suaminya, Abimantya yang memiliki sifat lugas sontak mengaduh dan bertanya, "Kenapa kau cubit pinggangku?"


Kayla langsung menunduk malu saat semua yang hadir di aula pertemuan mengulum bibir mereka menahan geli.


Dan di kereta kudanya Agha, tampak Agha menyibak tirai dan Bora sontak menoleh ke belakang dan bertanya, "Apa yang bisa saya bantu, Yang Mulia Raja?"


"Apakah masih jauh?" Tanya Agha.


"Satu jam lebih tiga puluh lima menit lagi sampai, Yang Mulia Raja" Sahut Bora.

__ADS_1


"Oke, aku mau istrirahat dulu" Sahut Agha.


"Silakan, Yang Mulia Raja" Sahut Bora sambil menundukkan kepalanya.


Agha kembali masuk dan menutup tirai lalu ia melangkah pelan ke ranjang. Setelah merebahkan diri di samping istrinya, Agha merengkuh pelan kepala Kiana ke dalam pelukannya, lalu Agha memejamkan mata sambil memeluk tubuh ramping istri cantiknya.


Namun, Agha tidak benar-benar tidur. Agha hanya memejamkan mata. Indra pendengaran dan penciuman Agha masih penuh dengan kewaspadaan.


Saat ia merasakan tangan Kiana yang ada di atas dadanya bergerak dan terdengar suara lenguhan Kiana, "Ugghhhh"


Agha sontak membuka mata dan menunduk lalu bertanya sambil mengusap lembut rambut Kiana, "Ada apa, Nyonya, eh, salah, ada apa, Sayang?"


Kiana mengulas senyum geli lalu bertanya dengan masih memejamkan mata, "Sudah sampai belum, Mas? Aku sangat merindukan Kendra"


Agha mencium pucuk kepala Kiana dan berkata, "Sebentar lagi sampai. Mau aku pijitin?"


Kiana menganggukan kepala.


Agha lalu memijit pundak Kiana dan bertanya, "Enak, nggak pijatanku?"


"Hmm, enak" Sahut Kiana.


Agha tersenyum senang dan meneruskan pijatannya sambil iseng bertanya, "Kamu belajar hukuman tadi dari siapa?"


"Bukan dari siapa-siapa, Mas, tapi dari buku yang Agni bawa"


Kiana yang masih malas membuka mata berkata, "Iya, buku yang Agni bawa dari kediaman Caraka. Buku yang pernah kita baca berdua di perpustakaan, itu, lho, Mas"


"Oh, buku itu. Ternyata aku belum sampai ke halaman itu jadi belum tahu soal itu dan......"


Kiana sontak menepuk dada suaminya sambil berkata, "Bohong! Mas, kan, pernah bilang kalau Mas sudah baca buku itu berkali-kali bahkan sampai hapal halamannya segala"


Agha sontak menggemakan tawanya dan kembali berkata, "Wah, aku lupa kalau Istriku ini ingatannya sangat kuat. Lalu, kapan kau baca buku itu?"


"Saat Mas berada sangat lama di kerjaan kecil" Sahut Kiana dengan masih memejamkan mata.


"Oh, aku harus memberi buku penghargaan karena buku itu sudah membuat Istriku sangat pandai memberikan hukuman"


Kiana langsung mengigit dada Agha karena malu dan Agha sontak mengaduh pelan lalu menggemakan tawanya.


Beberapa menit kemudian, Agha membantu Kiana turun dari atas kereta kuda dan mereka langsung disambut oleh Abimantya, Abinawa, Agni, Intan, dan Kayla, karena sedari tadi mereka memang sengaja mengobrol di aula pertemuan sambil menunggu kedatangan rombongannya Agha.


Kiana langsung berlari dan memeluk Ibunda dan mertuanya secara bersamaan. Lalu, Kiana mencium punggung tangan Abimantya dan Abinawa secara bergiliran dan setelah memeluk erat Agni, Kiana berkata, "Maafkan saya, saya sangat merindukan Kendra dan......."


"Iya, Kendra sakit dan dia terus memanggil nama kamu" Sahut Kayla.

__ADS_1


"Kalau begitu saya pergi menemui Kendra dahulu, maafkan saya semuanya, saya permisi dulu"


"Iya" Sahut semuanya. Setelah mendapatkan belaian lembut di kepala dari suaminya dan suaminya berkata, "Aku akan segera menyusul kamu setelah ini" Kiana langung berlari masuk ke dalam dengan diantarkan oleh seorang dayang.


Semuanya akhirnya masuk ke kamar mereka masing-masing karena semua tamu undangan sudah datang.


Agha menyusul Kiana ke kamarnya Kendra dengan diantar oleh seorang dayang dan saat masuk ke dalam kamar Agha langsung tersenyum bahagia melihat Kendra sudah bangun dan tengah makan bubur bersama Kiana. Kiana menyuapi Kendra dan menoleh ke Agha sambil berkata, "Kendra menunggu kedatanganku baru lah ia bangun dan mau makan"


Tabib Danur langsung memberikan hormat ke Agha lalu berkata, "Ayah akan tinggalkan Kendra bersama kalian"


"Baik, Ayah" Sahut Agha dan Kiana secara bersamaan.


Setelah menghabiskan buburnya, Kendra berkata, "Bolehkah Kendra bobok bareng sama Kak Kiana dan Kak Agha?"


"Boleh, dong" Sahut Agha dan Kiana langung tersenyum bahagia dan berkata, "Apa kasurnya tidak kesempitan dipakai tidur bertiga?"


"Aku akan tidur dengan anteng jadi nggak akan kesempitan kasurnya" Sahut Kendra dengan wajah penuh harap.


Agha mengusap lembut pucuk kepala Kendra dan berkata, "Iya, iya, nggak akan kesempitan, Kak Kiana kamu, kan, kurus, jadi nggak akan banyak makan tempat"


Kiana terkekeh geli dan langsung menepuk bahu Agah dengan gemas dan Kendra tertawa lepas. Kemudian Agha, Kendra, dan Kiana tidur bareng dalam satu ranjang.


Saat Kendra tidur, Agha berkata lirih ke Kiana, "Sebentar lagi kita akan seperti ini dengan anak kita"


"Iya, Mas" Kiana tersenyum penuh cinta ke suaminya.


"Dengan kerja kerasku pasti tidak lama lagi kamu hamil" Bisik Agha.


Kiana langung menepuk bahu Agha dengan senyum bahagia.


Keesokan harinya kIana bangun dengan perasaan bahagia. Setelah mencium pipi Kendra dan pipi Agha, Kiana turun dari ranjang dengan pelan untuk pergi mengambilkan baju ganti untuk suaminya.


Namun, Kiana tidak jadi bangun dengan perasaan bahagia. Kiana dikejutkan dengan kemunculan Aisyah di halaman istana saat Kiana hendak berjalan menuju ke kamarnya.


Kiana dan Aisyah saling memberikan hormat dan Kiana memilih untuk berbalik badan mencari jalan lain supaya ia tidak berjalan melintasi Aisyah.


Aisyah tersenyum licik dan dengan sengaja ia menjatuhkan belatinya Agha yang ia letakkan di lengan bajunya. Saat pergi ke kerajaan Timur, Aisyah memutuskan untuk memakai baju kerjaan Timur yang tertutup rapat dan berlengan panjang yang longgar.


Klonthang! Terdengar suara besi beradu dengan lantai marmer.


Kiana yang hendak melangkah meninggalkan Aisyah, refleks berbalik badan dan melihat Aisyah tengah membungkuk hendak mengambil benda berkilau yang ada di atas lantai.


Aisyah mengambil benda berkilau itu dan berkata, "Maafkan saya kalau saya mengagetkan Anda, Ratu Kiana. Saya tidak terbiasa memakai baju semacam ini dan saya tidak terbiasa meletakkan benda di lengan baju. Belati ini pemberiannya Raja Agha, saya merasa bersalah pada Raja Agha kalau sampai belati ini rusak" Aisyah tampak membolak-balik belati itu sambil mengusapnya dengan wajah sedih dan kembali berkata, "Ah, untungnya belati pemberian dari Raja Agha tidak lecet dan tidak rusak"


Kiana menghela napas panjang lalu berbalik badan kembali dan saat ia hendak melangkah meninggalkan Aisyah, Kiana mendengar Aisyah berkata, "Raja Agha sangat dermawan dan sangat menghargai sebuah persahabatan. Raja Agha memberikan belati keberuntungannya ini pada saya dan saya yakin Raja Agha tidak mengatakannya kepada Anda, Kan, Ratu Kiana?"

__ADS_1


Kiana refleks mengepalkan kedua tinjunya dan saat Kiana berbalik badan untuk menghadapi Aisyah, Kiana mengurai kepalan tinjunya lalu berkata dengan senyuman santai, "Sayangnya keinginan kamu tidak terkabul, Ratu Aisyah. Raja Agha, oh, tidak, Mas Agha maksudku, suami tampanku lebih jelasnya, sudah memberitahukan kepadaku soal belati itu, makanya tadi aku bersikap santai, kan?"


Aisyah meremas belati pemberiannya Agha dengan perasaan dongkol, sial! Dia pandai berkata-kata juga ternyata.


__ADS_2