
Sementara itu di dunia manusia, Maharani yang masih tinggal di kediamannya Caraka dengan tanpa merasa bersalah dan memasang wajah polos ikutan mencari keberadaan ibundanya Agha Caraka di dalam hutan di sekitar kereta kuda yang ditunggangi oleh ibundanya Agha Caraka, bersama dengan Agni dan Bora.
Agni terus berjalan sambil berteriak, "Ibunda! Jawab Agni, Agni mohon! Jangan bikin Agni khawatir setengah gila seperti ini Ibunda!"
"Tante! Tante di mana?! Ini Rani, Tante! Jangan bikin Rani ketakutan, Tante! Tante di mana?! Jawab Rani, Tante!" Maharani berteriak dengan memasang wajah khawatir dan ketakutan padahal di dalam hatinya Maharani menyeringai senang karena Agni dan Bora tidak bisa menemukan keberadaan dari ibundanya Agha dan Agni.
Bora yang berjalan di samping Agni menepuk pundak Agni dan saat Agni menghentikan langkahnya, Bora berkata, "Kamu dan Non Rani mencari keberadaannya Nyonya besar di sekitar sini. Aku akan pergi ke sana. Kita berpencar dan bertemu lagi di titik ini. Oke?"
Agni menganggukkan kepala dan langsung menggenggam tangan Bora sambil berkata, "Hati-hati"
Bora mencium kening Agni dan berkata, "Kau juga hati-hati" Lalu pria tampan itu berlari ke arah yang berlawanan dengan Agni dan Maharani.
Hah?! Bora mencium kening Agni? Apa mereka berpacaran sekarang ini? Batin Maharani.
Maharani kemudian tanpa sadar mengeluarkan tawa yang kesannya mengejek.
Agni sontak menoleh ke Maharani dan langsung menyemburkan, "Apa maksud tawa kamu barusan?"
Maharani tersentak kaget dan langsung berkata, "Nggak. Kamu salah dengar. Aku nggak tertawa, kok"
Agni mendelik dan mengamati wajah Maharani lalu berkata, "Aku yakin banget kalau aku mendengar suara tawa ejekan kamu. Apa yang kau tertawakan, jawab! Aku tidak pernah meragukan pendengaranku"
Sial! Aku lupa kalau dia memiliki pendengaran yang tajam. Batin Maharani.
"Jawab!" Agni semakin melotot.
"Aku cuma nggak nyangka aja kalau kamu jadian sama Bora"
__ADS_1
"Kenapa kau keluarkan tawa mengejek tadi. Apa salahnya kalau aku jadian sama Bora?" Agni mulai bersedekap dan menyipitkan kedua matanya.
Sial! Dia marah. Aku selalu kewalahan menghadapi kemarahannya Agni. Kenapa juga aku tadi spontan mengeluarkan tawa mengejek. Bodoh banget, sih, kamu, Rani! Batin Maharani.
"Aku masih menunggu penjelasan kamu" Agni masih menghunus tatapan penuh amarah ke Maharani.
Maharani memainkan jari jemari tangannya. Dia memang selalu begitu. Kalau gugup selalu saja memainkan jari jemari tangannya dan Agni sudah hapal itu. Karena Agni dan Maharani tumbuh besar bersama.
"Kenapa masih diam?" Agni bertanya dengan suara dalam.
"Yeeeaahh, kau tahu, kan, kalau kau itu putri seorang bangsawan. Kau masih kerabatnya mendiang ratu. Masak iya kamu berpacaran dengan orang rendahan seperti Bora yang tidak diketahui asal usulnya dan......."
Plak! Agni langsung menampar keras pipi Maharani.
Maharani langsung menyentuh pipinya dan menyemburkan, "Kenapa kau menamparku?"
"Itu supaya kau sadar sekarang juga dan bertobat. Jangan menghina dan merendahkan orang lain! Itu tidak baik" Sahut Agni dengan wajah yang masih merah padam menahan amarah.
"Oh, kau peduli padaku? Jadi, tawa ejekan kamu tadi untuk Bora? Lancang benar kau! Kau bahkan tidak tahu siapa diri kamu, bisa-bisanya kau menghina dan merendahkan orang lain. Kau itu anak........." Agni tidak tega melanjutkan ucapannya. Lalu, kekasihnya Bora itu memilih untuk melangkah lebar meninggalkan Maharani.
"Meskipun dia itu anak pungut dan aku tahu soal itu dari Ibundanya Rani sendiri, tapi aku tidak boleh menghinanya. Aku tidak mau jadi sama seperti dia yang suka menghina dan merendahkan orang" Agni terus bergumam lirih sambil terus melangkah lebar tanpa mempedulikan Maharani yang terdengar berlari kecil terseok-seok mengejarnya dan Agni mengabaikan Maharani yang terus berteriak, "Agni, tunggu! Jalannya licin aku terpeleset terus,nih, jangan! Jangan terlalu cepat! Agni!"
"Salah sendiri kau menghina Bora!" Teriak Agni tanpa menoleh ke belakang dan tanpa menghentikan langkah lebarnya.
"Agni, tunggu!" Maharani masih berteriak dan berlari kecil terseok-seok mengejar langkah lebarnya Agni.
"Asal kau tahu, ya! Aku tidak akan pernah menyesal berpacaran dengan Bora! Kau dengar itu, hah?!" Agni kembali berteriak sambil terus melangkah lebar.
__ADS_1
Sementara itu di tengah hutan perbatasan antara istana langit dan dunia manusia, Agha tengah tersenyum menggoda dan berkata sambil terus menatap wajah cantik istri kecilnya, "Kenapa? Nggak boleh? Padahal enak sekali rasanya" Ucap Agha dengan suara serak menahan gairah.
Kiana menggelengkan kepala dan sambil menatap kedua bola mata indah milik suaminya ia berkata, "Bukan begitu, Mas. Ini di tengah hutan. Ini di alam terbuka. Apa kita akan melakukannya di sini?"
Telapak tangan Agha mengusap paha Kiana sambil sesekali mengecup bibir manis istri kecilnya yang sangat cantik itu.
Agha terus bergerak hingga sampai lah dia di lembah terlarang. Sambil menggelengkan kepala dan tersenyum penuh cinta ke istri kecilnya, Agha berkata, "Maafkan aku kalau aku tidak nurut sama kamu kali ini"
"Ah! Mas! Hentikan!" Kiana mulai merintih frustasi saat jari jemari Agha mulai bergerak liar di sana.
Agha mencium bibir Kiana lalu menarik bibirnya untuk memandangi wajah Kiana yang tampak semakin cantik menggoda saat Kiana menikmati permainan jari jemarinya.
Saat Agha semakin liar memainkan jari jemarinya di lembah terlarang, Kiana melotot kaget dan refleks melengkungkan punggungnya sambil berkata, "Mas! Kita perlu menyatu sekarang, iya, kan?"
Agha hanya tersenyum dan sambil terus memainkan jari jemarinya, pria tampan itu memagut bibir Kiana, lalu menarik bibirnya untuk menatap wajah istri kecilnya yang tengah menatapnya dengan penuh damba.
Kiana meletakkan tangan di atas pundaknya Agha lalu mencengkeram pundak itu sambil mengerang, "Mas! Lakukan! Menyatukan raga Mas denganku!"
Agha tersenyum, mengecup bibir Kiana, lalu berkata dengan masih asyik memainkan jari jemarinya di bawah sana, "Aku tidak ingin menyatu denganmu. Aku hanya ingin terus melihatmu seperti ini sampai kau memekik puas, Sayang"
Kiana langsung memejamkan kedua, menggigit bibir bawahnya.
Agha terus menggerakkan jari jemarinya tanpa melepaskan pandangannya dari wajah cantik istri kecilnya.
Beberapa detik kemudian, Kiana semakin melengkungkan punggungnya, lalu membeliak kaget, dan memekik, "Mas! Mas Agha! Ah!!!!!!!"
Agha tersenyum senang lalu ia menarik tangannya untuk mengusap wajah cantik istrinya yang penuh keringat. Kemudian Agha menarik tubuh Kiana ke dalam pelukannya. Pria tampan dan gagah itu kemudian menghujani pucuk kepalanya Kiana dengan ciuman sambi berkata di sana, "Tidurlah! Besok pagi baru lah kita terbang lagi! Aku akan menjagamu. Tidurlah!" Agha mempererat pelukannya sambil menghujani rambut Kiana dengan ciumannya.
__ADS_1
Kiana tertidur pulas dengan senyum bahagia di dalam dekapan hangat suaminya.
Sementara itu di dunia manusia, Bora menemukan sebuah gelang giok. "Bukankah inj gelangnya Non Rani? Kenapa bisa ada di sini?" Gumam Bora dengan menautkan kedua alisnya.