
Pangeran Adnan sang putra mahkota langsung meradang saat ia mendengar dari mata-matanya bahwa Kiana ikut serta dalam rombongannya Agha Caraka.
Pangeran Adnan langsung bangkit berdiri dan memakai semua baju zirahnya tak ketinggalan topeng kesayangannya. Lalu, pangeran tampan yang sudah jatuh hati begitu dalam pada Kiana, langsung melangkah lebar keluar dari kamar mewahnya sambil berkata ke asisten pribadi kepercayaannya, "Perintahkan pembunuh bayaran yang kita sewa untuk menunda menyerang Agha sebelum aku tiba di sana. Aku tidak ingin Kiana celaka"
"Siap, Putra Mahkota" Sahut asisten pribadinya Adnan.
Sementara Adyaksa dan Bayu berserta dua puluh prajurit terbaik didikannya Bayu memacu kuda mereka masing-masing menuju ke tempat Agha Caraka diharuskan menghadang para bajak laut.
Adyaksa berteriak di atas punggung kudanya yang tengah melaju kencang, "Kita harus segera ke sana! Aku tidak ingin Agha, Kiana, dan Agni celaka!"
"Siap, Yang Mulia!" Teriak Bayu dari atas punggung kudanya yang tengah melesat tidak kalah cepatnya dengan kuda yang ditunggangi oleh Adyaksa.
Sementara itu di dalam tendanya, Agha akhirnya luluh dan mewujudkan keinginan Kiana untuk menyatukan raga mereka. Agha menutup mulut Kiana sambil terus bergerak dan berbisik, "Pelankan suara kamu, Sayang, mereka bisa dengar nanti"
Kiana mengangguk pelan lalu melengkungkan punggungnya. Pekik kenikmatannya Kiana, Agha bungkam dengan bibir Agha dan Agha menutup mulutnya sendiri untuk meredam pekik kenikmatannya sendiri yang ia lepaskan di luar tubuh Kiana.
Agha bergegas memakaikan kembali semua baju tidurnya Kiana dan menyelimuti Kiana yang sudah memejamkan mata dengan senyum bahagia. Agha menatap sejenak wajah bahagia istrinya, lalu ia mengecup bibir Kiana setelah itu pria tampan bergelar jenderal itu segera memakai sendiri baju tidurnya.
Saat Agha hendak masuk ke dalam selimut, terdengar suara di luar tenda, "Maaf Yang Mulia, apa Anda sudah tidur?"
Agha bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan ranjang menuju ke meja kerjanya sambil berkata, "Masuklah!"
Bora masuk dan asisten pribadinya Agha yang sangat setia itu menatap junjungannya dengan heran, "Apa Anda habis minum sup, Yang Mulia? Kenapa wajah Anda merah dan berkeringat padahal cuaca hari ini cukup dingin dan Anda hanya memakai baju tidur tanpa mantel?"
Agha langsung mendelik, "Katakan saja ada apa! Jangan perhatikan wajahku!"
"Ah, iya, maafkan saya, Yang Mulia. Emm, kita harus berangkat ke bibir pantai sekarang. Dari mata-mata yang kita krim beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan kabar kalau bajak laut akan sampai di bibir pantai jam satu dini hari. Dua jam dari sekarang" Ucap Bora dengan wajah serius. Sangat serius dan tampak ada sedikit kekhawatiran.
"Apa semua prajurit sudah kau siapkan?"
"Nona Agni tengah menyiapkan mereka pas saya ke sini" Sahut Bora.
Agha langsung berbalik badan untuk memakai baju dinas dan mengambil pedangnya. Agha tidak lupa membungkukkan badan untuk memberikan ciuman di bibir Kiana. Kemudian pria tampan itu melangkah lebar untuk keluar dari tendanya sambil berkata ke Bora, "Sisakan sepuluh orang prajurit dan sepuluh orang anak buah kita yang terbaik untuk menjaga Kiana"
"Siap, Yang Mulia" Sahut Bora dengan suara lantang.
__ADS_1
Saat sampai di bibir pantai, Agha yang memiliki pendengaran dan penglihatan yang sangat tajam bak seekor naga, melihat ada rumput bergoyang di seberang pantai dan mendengar ada langkah kaki.
Agha menoleh ke Bora, "Kirim beberapa prajurit untuk memeriksa seberang pantai!"
"Baik, Yang Mulia"
Beberapa menit kemudian, Bora kembali ke sisi Agha dan berkata, "Ada beberapa orang berpakaian hitam dan bersiap dengan panah mereka. Namun, mereka semua sudah kita lumpuhkan. Mereka sepetinya pembunuh bayaran. Kita akan menginterogasi pimpinan pembunuh bayaran itu nanti"
"Hmm. Bersiaplah! kapal bajak laut sudah mendekat" Sahut Agha.
Agha langsung pedangnya dirancang agar mudah dicabut dari sarungnya dengan cepat dan Jenderal besar itu segera memberikan serangan kejutan yang hebat. Tindakan Agha seketika mengintimidasi lawan dan menunjukkan pada semua lawannya bahwa ia merupakan petarung yang sangat terlatih dan hebat.
Agha, Bora, dan Agni adalah petarung yang sangat terampil. Meraka bisa bertempur secara terus-menerus dalam waktu yang lama. Di pertarungan pertama mereka tidak pernah meleset dan kalah itulah yang menyebabkan mereka selalu berhasil melihat titik lemah lawan dan berhasil memberikan serangan mematikan.
Para bajak laut mulai bergidik ketakutan melihat keganasan pria tampan dan gagah yang ada di depan mereka yang ditemani oleh pria berkulit gelap dengan wajah yang tak kalah tampannya yang garang dan seorang gadis cantik yang lincah.
Di saat para bajak laut terdesak, pangeran Adnan yang sudah memakai topeng kebanggannya sampai di lokasi pertempuran dan terkejut saat mendapatkan semua pembunuh bayaran yang ia sewa tidak ada di lokasi yang sudah ia tentukan. Karena kecewa, maka dengan geram dan amarah yang sangat besar pangeran Adnan memerintahkan prajurit elit miliknya untuk bersiap menyerang Agha dari tempat strategis dan tersembunyi.
Agha seketika mengibaskan pedangnya saat ia melihat ada ratusan anak panah beterbangan. Agha terus mengibaskan pedangnya untuk menangkis anak panah itu sambil berteriak, "Waspada lah kalian semua! Bora kamu terus desak bajak laut dengan pasukan kamu dan Agni kamu bantu Bora menangkis anak panah. Aku akan melindungi kalian berdua!"
"Baik!" Sahut Agni dan Bora.
Adnan semakin meradang melihat ada pria bertopeng datang membantu Agha dan ada prajurit tambahan yang datang membantu Agha.
"Siapa pria bertopeng itu?" Geram Adnan.
Kemudian Adnan memutar kudanya. Ia ingin mencari Kiana dan membawa Kiana pergi saat ia melihat situasi lumayan kacau dan Agha mulai sedikit kewalahan.
Adnan yang cerdas, berhasil menemukan keberadaannya Kiana. Ia memukul kepala Kiana dari arah belakang dan langsung membopong Kiana saat gadis cantik pujaan hatinya itu jatuh pingsan. Lalu, Adnan menaikkan Kiana di atas punggung kudanya dan membawa Kiana pergi.
Bayu dan Debi yang baru datang dari tepi pantai langung menjatuhkan tempat minum mereka saat mereka melihat Kiana dibawa pergi oleh seorang pria.
Bayu langsung melompat ke kudanya untuk mengejar pria itu sambil berteriak ke Debi, "Kau pergi kasih kabar ke Yang Mulia tentang ini"
"Baik" Sahut Debi.
__ADS_1
Debi berlari kencang ke lokasi pertempuran dan Bayu memacu kudanya mengejar pria yang telah lancang menculik Kiana.
Bayu berhasil mensejajari kuda pria bertopeng itu, namun Bayu kalah dalam adu pedang di atas punggung kuda. Bayu terjatuh dari kudanya dan jatuh pingsan.
Adnan mentertawakan kebodohan Bayu dan terus memacu kudanya.
Debi berhasil menemukan seorang prajurit dan langsung berteriak dengan napas terengah-engah, "Tolong ke tengah pertempuran dan dekati Yang Mulia! Katakan kalau Nyonya muda diculik!"
Prajurit itu langsung mengangguk dan melesat ke tengah pertempuran. Saat ia berhasil mendekati Agha, prajurit itu berkata, "Istri Anda diculik, Yang Mulia"
Adyaksa yang ikut mendengarkan berita itu langsung berkata, "Selamatkan Kiana! Aku akan merampungkan pertempuran ini"
Agha menganggukkan kepala dan langsung meninggalkan pertempuran untuk mengejar penculik yang sudah berani membawa kabur istri tercintanya.
Agha berhasil menemukan Bayu dan membangunkan Bayu untuk bertanya, "Ke arah mana penculiknya pergi?"
"Saya akan antarkan dan temani Anda, Yang Mulia" Sahut Bayu.
Adnan terpaksa menghentikan kudanya dan mendekap Kiana lalu membawa turun Kiana dari atas kuda saat ia melihat perempuan cantik pujaan hatinya tiba-tiba membuka mata.
Kiana terus meronta dan berteriak, "Lepaskan aku! Lepaskan aku!!!!"
Namun, pria bertopeng itu terus mendekap Kiana.
Kiana menggeram kesal dan akhirnya perempuan pemberani itu menggigit dada pria bertopeng yang terus mendekapnya erat.
Pria bertopeng itu berteriak kesakitan dan mendorong Kiana.
Kiana jatuh terduduk di atas tanah dan langsung merogoh tas selempangnya lalu ia melempar serbuk yang ia ambil dari kantong yang ada di dalam tas selempangnya ke wajah penculik itu.
Penculik itu memejamkan matanya dan Kiana langsung bangkit berdiri dan berlari.
Penculik itu langsung membuka mata dan mengejar Kiana.
Kiana berlari kencang sambil sesekali menoleh ke belakang dan bergumam, "Kenapa dia mengejarku dan tidak pingsan? Sial! Pantas saja ia tidak pingsan. Dia pakai topeng dan serbuk tadi hanya mengenai matanya" Kiana mengalihkan pandangannya ke depan dan terus berlari kencang.
__ADS_1
Adnan menggeram di balik topengnya, "Sial! Kiana punya kaki kecil tapi kenapa ia bisa berlari sekencang itu?"
Sementara itu, Agha terus menyentak perut Red Hair karena ia sangat mengkhawatirkan Kiana dan Bayu ikutan menyentak perut kudanya agar bisa terus menyeimbangi laju larinya Red Hair.