
Agha melangkah kembali ke kamar pengantinnya dan Kiana sontak bangkit berdiri dan menundukkan kepala.
Agha berdeham untuk mengusir rasa canggungnya lalu berkata, "Ayo kita berangkat" Lalu, jenderal gagah dan tampan dengan wajah dingin dan datar itu berbalik badan dengan cepat.
Kiana mengikuti langkah lebar dan tegapnya Agha dengan tergopoh-gopoh.
Agha yang sudah merasa tertarik pada istrinya yang kecil, kurus, namun sangat cantik itu condong ke arah gadis itu saat kiana berbicara. Agha terus memerhatikan bibir Kiana dan gerakan tangan saat gadis itu asyik menceritakan tentang tanaman-tanaman herbal.Agha yang tidak pernah mengulas senyum di wajah tampannya, saat ini ia tersenyum ke arah Kiana secara sembunyi-sembunyi, mencoba untuk memulai obrolan lagi saat gadis itu berhenti bercerita. "Lalu, apa yang kau lakukan saat kamu ada di hutan?"
Kiana kembali bercerita dengan penuh semangat dan Agha kembali mengulas senyum secara sembunyi-sembunyi.
Dia gadis yang ceria dan saat ia bercerita tentang tanaman herbal dan hutan, wajahnya tampak cerah ceria dan ia terlihat seribu kali lebih cantik. Batin Agha sambil terus mengamati gaya dan mimik wajah Kiana saat gadis itu bercerita.
Agha berdeham kaget dan refleks menghapus senyum di wajahnya saat tiba-tiba gadis itu berhenti bercerita dan menatapnya. Agha kemudian mengalihkan pandangannya karena canggung dan bertanya dengan dengan nada datar, "Kenapa kau kurus sekali? Apa keluarga kamu tidak mengurus kamu dengan benar?"
Kiana langsung menunduk, melipat tangannya di atas pangkuan, dan berkata dengan nada sedih, "Ibu saya sudah meninggal dunia. Ayah saya menikah lagi dan ibu tiri saya, adik tiri saya yang bernama Komala, tidak menyukai saya. Ayah saya juga tidak peduli sama saya sejak ia menikah lagi"
Agha menatap Kiana dengan wajah prihatin dan saat tangannya terangkat ingin mengusap pucuk kepala gadis cantik itu, Agha refleks menarik tangannya kembali saat tiba-tiba gadis cantik itu mengangkat wajah, menatapnya dan berkata dengan wajah ceria, "Tapi, adik saya laki-laki yang bernama Kendra, dia masih berumur lima tahun, sangat dekat dengan saya. Ah, saya langsung merindukan adik saya saat ini juga"
Agha mencoba memegang tangan Kiana dengan cara meletakkan tangannya dengan canggung di atas tangan Kiana dan menepuk-nepuk tangan itu sambil berkata, "Besok, aku akan menyuruh Bora menjemput adik laki-laki kamu itu"
Saking senangnya, Kiana refleks menggenggam tangan Agha sambil berkata, "Benarkah?! Anda tidak keberatan kalau adik saya main ke kediaman Anda, besok?"
Alih-alih menjawab pertanyannya Kiana, Agha justru menatap tangannya yang ada di dalam tangan Kiana. Ada perasaan hangat mengalir di hatinya.
Kiana lalu melepaskan tangan Agha dan menghela napas sambil berkata, "Ya, saya paham. Anda hanya bercanda. Adik saya itu jahil dan tidak bisa diam. Anda pasti tidak ingin kalau adik saya membuat kediaman Anda ramai dan berantakan, lalu Ibu Anda akan kesal dan........"
"Hei! Aku tidak bercanda. Besok, aku akan menyuruh Bora menjemput adik kamu yang bernama Kendra itu untuk menemani kamu bermain"
Kiana langsung bertepuk tangan, dan tersenyum lebar.
__ADS_1
Sial! kenapa gadis ini bisa memiliki senyum yang cantik banget seperti ini. Baru. Agha sambil menatap wajah Kiana dengan takjub.
Tiba-tiba Agha berkata tegas, "Jangan tersenyum seperti itu!"
Kiana tersentak kaget dan langsung menundukkan wajahnya lalu berkata, "Maafkan saya, Yang Mulia"
Agha berdeham untuk mengusir kekagetannya sendiri karena ia bisa dengan tiba-tiba melarang Kiana untuk tersenyum. Lalu, pria tampan itu segera berkata agar Kiana tidak ketakutan seperti itu, "Maksudku, jangan tersenyum di depan pria lain. Kamu hanya boleh tersenyum di depanku"
Kiana mengangkat wajahnya dan menatap Agha dengan wajah penuh tanda tanya.
Agha kembali berdeham dan segera berkata dengan wajah dingin dan datar, "Kenapa menatapku seperti itu, hah?! Kau ini Istriku. Aku berhak melarang kamu" Lalu, Agha mengalihkan pandangan ke samping untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya sambil kembali berkata, "Jadi, jangan tersenyum di depan pria lain! Camkan itu baik-baik!"
"Baik, Yang Mulia" Sahut Kiana dengan wajah yang masih penuh dengan tanda tanya.
Kenapa dia suka banget melarangku melakukan ini dan itu, huh! Menyebalkan. Batin Kiana.
Keadaan di dalam kereta kuda menjadi hening saat Kiana berhenti bercerita dan Agha kehilangan pertanyaan dan topik pembicaraan.
Agha refleks menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat saat benaknya berkata, ingin merasakan kembali bibir Kiana.
Agha menggelengkan kepalanya lebih cepat lagi untuk mengisi fantasi liar yang menari-nari di benaknya.
Pria gagah dan sangat tampan itu tersentak kaget dan sontak mengentikan gelengan kepalanya saat ia bersitatap dengan Kiana dan Kiana berkata, "Nggak boleh, ya. Baiklah, Yang Mulia. Saya tidak akan memintanya pada Anda"
Agha berdeham dan segera bertanya, "Meminta apa? Kau belum katakan mau minta apa"
"Tapi, Anda sudah menggelengkan kepala. Jadi, nggak boleh, kan"
"A......aku menggelengkan kepala bukan karena............Lupakan saja dan katakan kau mau apa?!" Agha mendengus kesal dan mendelik ke Kiana.
__ADS_1
Kiana langsung menundukkan wajahnya dan berkata lirih, "Maafkan saya, Yang Mulia. Saya melihat di sepanjang jalan banyak sekali yang berjualan manisan kolang-kaling. Saya ingin membelinya. Tapi, kalau tidak boleh........"
"Hentikan keretanya!" Agha langsung berteriak sambil memukul badan kereta kuda.
Kusir kereta kuda langsung menghentikan kereta kudanya dan Bora yang menunggang kuda langsung bertanya di samping tirai, "Ada apa Yang Mulia?"
Kiana memekik girang dan langsung bangkit berdiri untuk turun dari dalam kereta kuda dengan wajah semringah, namun Agha mencekal lengannya dan berkata, "Duduk! Biar Bora yang beli manisan kolang-kalingnya"
Kiana kembali duduk dengan wajah kesal. Sebenarnya keinginannya untuk membeli manisan kolang-kaling hanyalah alasannya saja. Dia ingin turun dari dalam kereta kuda karena ia merasa bosan dan ingin berjalan-jalan di luar.
Agha menyibak tirai dan berkata ke Bora, "Belikan manisan kolang-kaling sepuluh tusuk"
"Hah?! Anda, kan, tidak suka jajan makanan, Yang Mulia?"
"Untuk Istriku. Cepat belikan!" Agha mendengus kesal dan Bora langsung berkata, "Baik, Yang Mulia"
Beberapa menit kemudian, Agha menyerahkan plastik transparan yang berisi sepuluh tusuk manisan kolang-kaling ke Kiana tanpa mengucapkan kata apapun.
Kiana menerima manisan kolang-kaling itu dengan sopan dan berkata, "Terima kasih, Yang Mulia" Lalu, dengan sangat terpaksa dan wajah cemberut, Kiana memakan manisan kolang-kaling itu sambil menyibak tirai dan melihat keluar dengan sesekali menghela napas.
Kiana berkata di dalam hatinya, aku tidak suka makanan manis dan aku tidak suka manisan. Kenapa kau belikan banyak sekali? Gimana kalau nggak habis? Apa kamu akan menghukum aku karena membuang-buang makanan? Eh! Tunggu dulu. Bora bilang kalau Jenderal Agha suka makan makanan manis. Bagaimana kalau aku ajak ia berbagi manisan kolang-kaling ini.
Kiana menoleh ke suami tampannya dan menatap suaminya dengan senyum lebar.
Agha berdeham lalu bertanya dengan wajah dingin dan nada datar, "Ada apa?"
"Kita ini Suami Istri" Kiana nekat bangkit berdiri dan duduk di sebelahnya Agha.
Agha refleks menggeser pantatnya agak menjauhi Kiana dan menoleh ke Kiana dengan wajah kaget bercampur tanda tanya besar.
__ADS_1
Apa yang ia mau kali ini? Kenapa dia tiba-tiba duduk di sampingku? Sial! Kenapa jantungku berdegup sekencang ini? Batin Agha.