
Agha muncul dari dalam kamar mandi dengan baju dinas lengkap dan pria tampan itu menoleh ke ranjang dengan helaan napas panjang. Dia sangat ingin mencium Kiana sekali lagi,namun dia takut Kiana bangun dan dia juga takut dirinya akan mengabaikan semua tugas dan tanggung jawabnya sebagai kepala penyidik dan Jenderal besar di kerajaan yang dipimpin oleh kaisar Abinawa.
Agha kemudian berjalan ke pintu dengan langkah malas sembari beberapa kali ia menguap lebar.
Bibi Sum menatap punggung Maharani sambil bergumam, "Semoga setelah ini kamu tidak akan mengganggu rumah tangga Yang Mulia Agha dan Nyonya Kiana lagi, Nona Rani karena Yang Mulia Agha bukan lah jodohmu"
Bibi Sum kemudian berlari ke kamarnya Kiana untuk membantu Kiana menghadapi hari baru setelah menjalani malam pertama. Dia yang sudah lebih dahulu berpengalaman dengan malam pertama tahu betul kalau badannya Kiana remuk redam setelah bangun nanti.
Sementara itu Agni menyenggol bahu Bora dan bertanya, "Lalu, kapan kau akan menikahiku?"
"Hah?!"
"Hah, heh, hoh, terus hapalan kamu, huh!"
"Maaf Nona muda. Tapi, saya belum siap untuk bangun kesiangan seperti Yang Mulia Agha. Tugas saya banyak banget kalau saya menikahi Anda dan bangun siang begini, saya bisa kehilangan pekerjaan dan kita mau makan apa kalau kita sudah menikah?"
Agni seketika mendengus kesal dan menginjak ujung sepatunya Bora. Bora hanya bisa meringis menahan sakit.
Agni mengangkat kakinya dari kaki Bora saat pintu terbuka dan Kakak laki-lakinya muncul dari balik pintu.
Agni hendak masuk ke kamarnya Agha dan Agha langsung menahan kening Agni dengan telapak tangannya sambil mendelik dan bertanya, "Kau mau apa, hah?!"
Agni menaikkan kedua bola matanya ke atas dan berkata, "Mau lihat Kakak Ipar, dong"
"Jangan ganggu Kakak Ipar kamu. Biarkan dia tidur lebih lama"
"Cuma mau lihat nggak akan aku bangunin" Agni nekat melangkah maju.
Agha lalu menarik kerah bajunya Agni dari belakang dan menyuruh Bora untuk mengajak Agni menunggunya di luar. Bora langsung menarik lengan Agni sambil berkata, "Mari ikut saya, Non"
Agni melirik Agha sambil berkata dengan wajah kesal, "Dasar pelit!"
Agha mencebikkan bibirnya dan Agni langung menjulurkan lidah dengan kesal.
Agha kemudian berkata ke Bibi Sum yang sudah berdiri di depan pintu untuk menunggu perintah junjungannya.
"Ke mana semua pelayan yang bertugas jaga di sini hari ini?"
"Mereka sudah saya suruh pergi untuk memasak makanan kesukaannya Nyonya muda, Yang Mulia"
"Kau tahu makanan kesukaannya, Kiana?"
"Tahu, Yang Mulia"
"Apa itu?"
"Nyonya muda menyukai semua makanan"
Agha tertawa pelan mendengar jawaban yang menurutnya konyol itu dan Bibi Sum terpana melihat tawa di wajah junjungannya yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Nyonya muda selamat. Anda sudah membuat suami Anda bahagia pagi ini. Batin bibi Sum sambil menundukkan kepala kembali.
Lalu, Agha berkata, "Tolong jaga Kiana. Aku tahu kau sudah dekat sama Kiana. Tolong jaga Kiana dan minta para pelayan jangan masuk ke dalam kamar sebelum Kiana bangun! Membersihkan kamar nanti saja setelah Kiana bangun. Aku nggak mau Kiana diganggu"
"Baik, Yang Mulia"
Bahkan Yang Mulia Agha sudah mau berbicara lebih panjang dari biasanya. Anda memang hebat, Nyonya muda. Semoga selamanya pernikahan kalian langgeng. Batin bibi Sum.
Agha kemudian melangkah lebar melintasi Bibi Sum.
Bibi Sum menegakkan badan kembali setelah Agha pergi. Lalu, Bibi Sum berjaga di depan pintu menunggu Kiana bangun dan memanggilnya untuk masuk.
Beberapa pelayan muncul di depan Bibi Sum dan membawakan makanan dan pesanan Bibi Sum yang khusus disiapkan untuk Kiana. sop ayam kampung dengan bumbu jahe dan jus tomat, dan roti gandum, telah siap untuk Kiana konsumsi agar stamina perempuan cantik itu kembali pulih dan segar setelah menjalani malam pertama yang panjang.
__ADS_1
Bibi Sum yang mengetahui kalau Nyonya besarnya tidak menyukai Kiana, berhasil membuat Nyonya besarnya bersedia pergi ke kuil untuk berdoa meminta keselamatannya Jenderal Agha Caraka karena sebentar lagi Jenderal besar dan gagah perkasa itu akan pergi berperang melawan bajak laut. Ibundanya Agha pergi ke kuil dengan ditemani pelayan kepercayaannya Bibi Sum. Bibi Sum memberikan ide tersebut ke Nyonya besarnya semalam saat ia tahu Agha membopong Kiana. Ia yakin kalau Agha dan Kiana akan bangun di siang hari. Ketika Nyonya besarnya meminta ia untuk menemani pergi ke kuil, bibi Sum memberikan alasan kalau dirinya sakit di persendian kaki agar dirinya bisa berdiam diri di kediaman Caraka untuk menjaga Kiana dari kejahatannya Maharani.
Kiana bangun dan merasakan seluruh tubuhnya remuk redam. Ada sedikit rasa nyeri di bagian bawah. Dan dia terkesiap kaget saat melihat ada bercak darah di sprei. Selama berkutat dengan penyakit, berbagai macam teknik pengobatan, dan obat-obatan herbal, Kiana belum pernah menemui kasus yang seperti dirinya, maka menangislah Kiana, "Huaaaaaa!!!!! Apa aku akan mati?! Huaaaaa!!!!!"
Bibi Sum terkesiap kaget mendengar jerit tangisannya Kiana, lalu ia langsung masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Bibi Sum berlari masuk dengan diikuti tiga orang pelayan.
Bibi Sum langsung duduk di tepi ranjang dan Kiana langsung memeluk erat bibi Sum dengan tangisan yang semakin kencang.
Bibi Sum mengusap punggung Kiana dan dengan wajah panik ia bertanya, "Ada apa Nyonya muda? Kenapa Anda menangis seperti ini?"
"Ada darah di sprei, Bi. Lalu, hiks, hiks, hiks, di sini terasa nyeri. Aku takut melihatnya, Bi. Apa aku akan mati? Huaaaaa!!!!!"
Bibi Sum sontak tertawa terbahak-bahak dan pelayan yang menundukkan kepala di belakang bibi Sum sontak saling lirik dan mengulum bibir menahan tawa mereka.
Kiana melepaskan diri dari pelukan bibi Sum. Ia mengusap air mata dan ingusnya sembari menatap bibi Sum dan berkata, "Aku akan mati kenapa Bibi tega ngetawain aku, hiks, hiks, hiks"
Bibi Sum langsung menghentikan tawanya dan menatap Kiana dengan senyuman penuh kasih sayang. Lalu, bibi Sum berkata, "Anda tidak akan mati, Nyonya muda. Anda sudah menjadi dewasa saat ini. Anda sudah menjadi Istri yang berbakti pada Suami karena Anda sudah menyerahkan segel kesucian Anda kepada suami Anda. Selamat, Nyonya muda. Yang Mulia Agha sungguh beruntung"
"Benarkah?"
"Iya"
Kiana tersenyum lebar dan langsung memeluk bibi Sum sambil berucap, "Aku sudah menjadi Istri yang baik, ya, Bi"
"Iya, Nyonya muda. Istri yang baik dan sempurna" Sahut bibi Sum sembari mengelus rambut indahnya Kiana.
Sementara itu di tengah hutan, Agha dan Bora memanfaatkan waktu menunggu Agni mengikat kawanan perampok kelas kakap yang berhasil mereka tangkap dengan mengobrol santai.
Bora memberanikan diri untuk bertanya, "Apakah Anda sudah melakukan malam pertama, Yang Mulia?"
"Hmm" Agha tersenyum lebar membayangkan malam pertamanya yang sangat indah dan sangat berkesan.
"Tepi, bukankah Anda masih belum siap memiliki keturunan?"
"Hati-hati bagaimana? Bukankah Anda semalam, kan, sudah......emm, maafkan saya Yang Mulia
"Aku mengeluarkannya di luar"
"Di luar? Maksudnya?"
"Aish! Jangan banyak nanya dan nikah sana! Kalau kamu nikah maka kamu akan tahu jawabannya, cih!" Agha mendengus kesal.
"Saya akan menikah kalau Anda sudah naik tahta Yang Mulia" Sahut Bora.
"Jangan memikirkan aku! Kalau kamu sudah pengen nikah, ya, nikah aja! Kasihan Agni kalau menunggu kamu kelamaan. Kau mau Agni pindah ke lain hati?"
"Iya!"
"Iya? Jadi, kamu hanya mempermainkan Agni selama ini?!" Agha melotot ke Bora dengan kepalan tangan.
"Tidak! Bagaimana saya bisa mempermainkan Nona Agni, orang saya aja belum menyatakan cinta saya ke Nona Agni. Kalau Nona Agni pindah ke lain hati berarti dia bukan jodoh saya, Yang Mulia dan Nona Agni berhak dapat yang lebih baik dari saya"
"Berarti kamu cinta sama Agni cuma belum berani menyatakannya?" Agha masih melotot dengan kepalan tangan.
"Eh, iya, eh, tidak, eh, iya, ah, tahu, ah, Yang Mulia. Saya belum kepikiran ke situ" Sahut Bora.
"Kalau cinta maka perjuangkan cinta kamu!"
"Saya masih belum berani untuk berjuang soal cinta, Yang Mulia"
Agha hanya bisa menghela napas panjang dan menggelengkan-gelengkan kepalanya.
Agni yang sudah menyelesaikan tugasnya berlari menghampiri Bora dan Agha, lalu dengan wajah ceria dan terengah-engah, ia berkata "Kalian ngobrolin apa?"
__ADS_1
Agha langsung berjalan melintasi Agni dengan wajah datar dan Bora meringis ke Agni lalu berkata, "Nggak ngobrolin apa-apa" Lalu, Bora berlari kecil menyusul Agha.
Kepala Agni berputar mengikuti arah perginya Bora dengan wajah penuh tanda tanya.
"Kalian kembali ke kantor penyidik! Aku pulang sebentar untuk melihat Kiana"
"Siap!" Sahut Bora dan Agni secara bersamaan.
Agha memacu Red Hair untuk berlari kencang karena ia sudah sangat merindukan Kiana dan ingin segera memeluk Kiana walaupun hanya lima menit saja.
Agha sampai di depan pintu kamarnya tepat di saat Kiana hendak duduk dan makan.
Bibi Sum langsung mengajak semua pelayan untuk keluar.
Bibi Sum berhenti sebentar di depan Agha untuk berkata, "Selamat Yang Mulia, Anda lah laki-laki satu-satunya yang dipercaya oleh Nyonya muda untuk membuka segel kesuciannya"
Agha tersenyum malu dan langsung berdeham untuk mengusir rasa bangga bercampur malu.
Bibi Sum tersenyum dan kembali berkata, Nyonya muda tadi menangis saat dia melihat ada bercak darah di sprei dan kesakitan........"
"Apa?! Kiana kesakitan?" Agha langsung menatap bibi Sum dengan wajah panik.
"Sekarang sakitnya sudah hilang. Silakan Anda menenangkan Nyonya muda, Yang Mulia" Bibi Sum kemudian keluar dan menutup pintu.
Agha melangkah pelan mendekati Kiana dengan degup jantung abnormal.
Begitu pula Kiana. Dia menatap suaminya dengan degup jantung abnormal.
Agha kemudian duduk di samping Kiana dan langsung menangkup wajah cantik istrinya dan langsung berkata, "Bibi Sum sudah ceritakan semuanya ke aku. Maafkan aku sudah membuatmu kesakitan dan menangis. Maafkan aku. Kalau masih mau menangis menangis lah di dadaku ini" Agha berucap sembari menempelkan kepala Kiana ke dadanya.
Kiana mengusap dada bidang suaminya dan berkata, "Saya nggak akan menangis lagi, Mas karena saya sangat bahagia saat ini"
Agha mematung mendengar kata Mas. Agha kemudian mendorong pelan bahu Kiana untuk bertanya, "Kau panggil aku apa?"
"Mas Agha. Apakah boleh saya memanggil Anda, Mas Agha, Yang Mulia?"
"Boleh. Tentu saja boleh. Lalu, aku akan memanggilmu apa? Emm, sebentar!" Agha tersenyum lebar dan menatap Kiana dengan sorot mata tidak sabar.
Kiana tertawa pelan melihat tingkah suaminya.
"Istriku. Aku akan memanggilmu Istriku mulai sekarang. Kau suka?" Agha mengusap pipi Kiana.
Kiana mengangguk dengan senyum bahagia.
Agha langsung memeluk Kiana dan mendaratkan ciuman di pucuk kepala Kiana sambil berkata, "Terima kasih kau sudah jaga segel kesucian kamu dengan baik dan kau serahkan padaku segel itu semalam. Kau sempurna Istriku. Sangat sempurna"
"Mas Agha juga sempurna. Sangat sempurna" Sahut Kiana sambil mengusap dada suaminya.
Agha memeluk erat tubuh istri kecilnya dan membenamkan wajahnya di rambut Kiana yang indah dan harum.
Lalu, Agha melepaskan pelukannya dan mengecup bibir Kiana. Setelah itu, Agha bangkit berdiri dan berkata, "Energiku sudah terisi penuh dan aku siap bertugas lagi sekarang"
Kiana ikut bangkit berdiri dan bertanya, "Anda balik kerja lagi?"
"Hmm" Agha tersenyum penuh cinta.
"Anda pulang cuma untuk memeluk saya?"
"Hmm" Agha memperlebar senyumannya.
"Anda tidak makan siang dulu?"
"Aku sudah makan di jalan tadi. Kamu makanlah. Kita bertemu nanti malam di perpustakaan. Aku menunggu kamu di sana. Ini kencan pertama kita. Kamu harus datang" Agha memeluk Kiana sekali lagi, lalu melepaskannya dan bergegas berbalik badan untuk kembali ke kantor penyidik.
__ADS_1
Kiana menatap punggung Agha sambil bergumam dengan senyum ceria, "Kencan? Apakah Mas Agha mengajakku berkencan di perpustakaan nanti malam? Ah, kenapa aku deg-degan saat ini?" Kiana langsung menyentuh pipi dengan kedua telapak tangannya dan tersenyum malu.