Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Pergi Ke Kerajaan Timur


__ADS_3

"Kenapa kau kasihkan jubah kamu ke wanita lain, hah?! Kau lupa kalau di jubah itu ada sulaman kelopak mawar. Sulaman aku. Aku menyulam bunga mawar agar kamu selalu memikirkan aku tapi ternyata kamu sama sekali tidak memikirkan kau selama di sana" Agni mendelik kesal.


Bora tersentak kaget dan langsung berkata, "Hah?! Ada sulaman kamu? Kenapa kamu nggak bilang? lalu, mana ada aku tidak memikirkan kamu. Aku selalu memikirkan kamu dan tersiksa. Sangat tersiksa karena merindukanmu"


"Kau bahkan tidak tahu kalau ada sulaman aku di jubah keberuntungan kamu, hah?! Sebenarnya kamu cinta nggak, sih, sama aku, Bora?" Agni sontak bangkit berdiri dan Bora langsung mendekap Agni dan berkata, "Maafkan aku! Aku terlalu sibuk mengatur strategi dan mengatur pasukan. Aku nggak tahu kalau ada sulaman kamu di jubahku"


"Lalu kenapa kau kasihkan jubah kamu ke wanita lain? Kau selingkuh, ya, Bora?" Agni mengurai dekapannya Bora dengan kasar.


Bora mempertahankan dekapannya dan berkata, "Aku memang bodoh tapi aku tipe setia. Aku nggak mungkin selingkuh karena aku hanya mencintai kamu, Agni. Aku kasih jubah itu sebagai tanda persahabatan karena Ratu Asiyah juga memberikan tanda persahabatan ke aku. Burung Elang yang ada di kediaman Caraka itu pemberian dari Ratu Aisyah. Raja Agha, Kakak sepupu kamu juga memberikan tanda persahabatan ke Ratu Aisyah"


"Benarkah?" Sikap dan wajah Agni mulai melunak.


"Iya. Kamu tahu, kan, kalau selama ini aku nggak pernah bohong sama kamu. Kamu bisa tanya ke Raja Agha kalau kamu tidak percaya. Aku ini tipe setia dan.... hmpppttthhh!"


Agni langsung membungkam Bora dengan bibirnya. Kedua sejoli yang sebentar lagi akan menikah itu kemudian berciuman dengan penuh gairah.


Sementara itu di kamar pribadinya raja, Kiana meladeni permainan suaminya sambil bergumam, "Katanya melukis, terus jadi memijat, dan sekarang, kok, jadi begini?"


Agha mengulum senyum di sela aktivitas panasnya saat ia mendengar gumaman Kiana. Lalu, Agha mencium lembut bibir Kiana. Ciuman lembut dan mendesak. Ciuman Agha ajaibnya membuat Kiana rileks, sampai Kiana tidak sadar bibirnya membuka dan mengundang. Kiana merasakan gerakan lidah suaminya di langit-langit mulutnya dan secara otomatis ia mengalungkan lengan ke leher kokoh suaminya. Menempel di tubuh atletis suami tampannya dengan semangat yang membuat dirinya sendiri terkejut. Bukankah tadi ia merasa sangat lelah tapi kenapa sekarang ini dia menjadi sangat bersemangat.


Kiana bahkan tidak tahu berapa lama ciumannya dengan suami tampannya berlangsung. Agha menyunggingkan senyuman lalu ia mendesak tubuh Kiana menempel ke ranjang, mendorong telapak tangan Kiana ke ranjang di atas kepala Kiana sementara dengan tangan yang satu lagi Agha membelai wajah cantik istri kecilnya. Bukan hanya wajah, jemari Agha turun ke leher Kiana, seakan melukis garis-garis kecil di sepanjang tulang leher dan gerakan Agha itu membuat Kiana gemetaran.


Tiba-tiba jemari Agha turun lagi dan bermain asyik di tulang dadanya Kiana dan wanita cantik itu menggerakkan tubuh dengan gelisah. Agha tersenyum senang dan berkata dengan suara serak, "Sempurna" Agha berucap sembari menangkup dada dan ibu jarinya menekan puncaknya. Daging yang tertekan itu mengencang karena kenikmatan yang muncul.

__ADS_1


"Mas, oh, Mas" Kiana terkesiap.


"Kau sudah siap?" Tanya Agha dengan suara serak.


Agha kembali menyunggingkan senyum lalu menyatukan raga dengan istri tercintanya yang sangat cantik. Tidak hanya sekali tapi berkali-kali dengan berbagai macam gaya.


Kiana melemas di dalam dekapan hangat suami tampannya sambil bergumam lirih, "Pria memang tidak bisa dipercaya. Katanya cuma melukis dengan kuas, eh, kok, ujung-ujungnya melukis dengan lidah dan tangan"


Agha sontak mengulum bibir menahan geli dan saat ia melihat Kiana memejamkan mata, Agha mencium kening Kiana lalu berkata sambil mengulum bibir, "Salah sendiri kenapa kau biarkan sang Pencipta membuatmu seindah ini, Sayang"


Kiana mengulas senyum bahagia di dalam dekapan hangat suaminya dan secara perlahan ia jatuh ke alam mimpi.


Setelah menuntaskan performanya yang menurutnya sungguh luar biasa, Agha memakaikan baju lengkap ke istrinya yang sudah tertidur pulas dengan penuh kelembutan karena ia tidak ingin istrinya sampai terbangun.


Bora langsung berkata dengan wajah yang terlihat panik, "Yang Mulia Raja, ada hal yang sangat penting yang ingin saya sampaikan dan ......."


"Ssstttt! Kiana bisa bangun, jangan berisik! Kamu sudah siapkan kereta kudanya?" Agha berkata dengan suara sangat lirih.


"Sudah Yang Mulia" Bora ikutan bersuara sangat lirih.


"Oke, kita segera ke kerajaan Timur" Sahut Agha masih dengan suara yang sangat lirih.


Bora sontak mengekor langkah junjungannya dan kembali berkata, "Tapi, Yang Mulia Raja, emm, masalah pentingnya itu sangat penting dan........."

__ADS_1


"Ssssstttt! Nanti saja membahas masalah yang kau anggap penting itu. Kiana bisa bangun, jangan berisik!" Agha mendelik ke Bora dan Bora langsung menyahut masih dengan suara yang sangat lirih,"Baik, Yang Mulia"


Agha membopong Kiana naik ke kereta kuda dan saat ia sudah sampai di dalam kereta kuda spesial itu, Agha membaringkan Kiana dengan hati-hati di atas ranjang kecil yang ada di dalam kereta kuda.


Kemudian Agha berjalan kembali ke depan untuk menemui Bora, "Apa Ibunda, Agni dan semua rombongan dari kediaman Caraka sudah siap berangkat?"


"Sudah, Yang Mulia" Sahut Bora.


"Oke" Sahut Agha sambil berbalik badan dan di saat Agha menyibak tirai, Bora kembali memanggil junjungannya, "Yang Mulia Raja!"


Agha menoleh ke belakang, "Ada apa?"


Bora melihat wajah junjungannya sangat lelah, maka Bora berkata, "Nanti saja membahasnya, Yang Mulia"


"Hmm" Sahut Agha. Lalu, Agha masuk kembali ke dalam kereta kuda.


Agha duduk di tepi ranjang untuk merapikan rambut Kiana. Agha mengusap lembut pipi Kiana dan bergumam lirih, "Kamu terlihat sangat cantik kalau tidur seperti ini, Sayangku dan itu membuatku selalu merasa nggak tega membangunkan kamu" Agha mengecup bibir Kiana lalu ia merebahkan diri di samping Kiana dan setelah memeluk Kiana, Agha pun jatuh ke alam mimpi.


Sementara itu Ratu Aisyah yang tidak mengetahui kalau bakalan ada perhelatan besar di kerajaan Timur dan tidak mengetahui kalau Agha, Kiana, mantan raja Abinawa, Bora, dan semua dayang juga pasukan terpilih pergi ke istana Timur, tengah melenggang santai sambil membawa nampan berisi arak buah khas kerajaan Kecil di Padang Pasir. Dengan senyum lebar Aisyah melangkah gemulai dengan diikuti pelayannya yang ia datangkan dari kerajaan kecil. Dengan hari gembira, Aisyah berjalan ringan menuju ke paviliun Raja. Namun, sesampainya di sana Aisyah harus gigit jari karena raja dan ratu Kerajaan Pusat telah berangkat ke kerajaan Timur sejak tiga jam yang lalu.


"Kenapa semuanya pergi ke kerjaan Timu?"


"Karena raja di Kerajaan Timur akan menikah" Sahut salah satu dayang yang ditempatkan berjaga dan melayani di paviliun raja.

__ADS_1


Aisyah langsung berbalik badan lalu melangkah lebar kembali ke kamarnya sambil berkata ke dayang kepercayaannya, "Siapkan kereta kuda. Kita juga akan pergi ke Kerajaan Timur. Aku akan bikin kejutan di sana nanti"


__ADS_2