
Pimpinan gerombolan penjahat bayaran yang menculik ibundanya Agha Caraka tiba-tiba menyeletuk, "Sial! Gelang giok pemberian nona Maharani hilang. Tadi aku masukkan ke kantongan ini, tapi sekarang, kok, nggak ada"
Penjahat bertubuh tinggi dan kurus sontak menyahut dengan wajah kesal, "Hah?! Lalu, gimana? Kau akan bayar kami pakai apa kalau gelang giok itu hilang?"
Pimpinan gerombolan penjahat itu langsung menyahut, "Tenanglah! Nona Maharani memberikan uang yang sangat banyak aku akan bagikan ke kalian sekarang juga"
"Lalu, gelang gioknya?" Tanya penjahat yang berbadan gemuk dan botak.
Pimpinan gerombolan penjaga itu langsung menjawab, "Gelang giok yang dipakai oleh Nona Maharani adalah gelang milik keluargaku. Makanya aku minta gelang giok itu untuk memastikannya"
"Memastikan apa?" Tanya penjahat yang berambut gerondong.
Pimpinan gerombolan penjahat itu menghela napas panjang lalu menjawab pertanyaan dari salah satu anak buahnya dengan wajah sedih, "Memastikan kalau Nona Maharani adalah adik kandungku"
"Hah?!" Semua pria yang tengah bergerombol di depan api unggun sontak ternganga secara bersamaan.
Sementara itu di dalam hutan yang sangat indah, Kiana yang masih didekap oleh suaminya, tiba-tiba mengigau, "Alaric, cium aku, cepat!"
Agha yang belum memejamkan mata sontak menunduk untuk melihat wajah Kiana yang masih berada di dalam dekapannya dan pris tampan itu kemudian berteriak karena cemburu, "Hei! Bangun! Kau mimpi apa, hah?! Kenapa memanggil nama pria lain dan kau minta dicium? Bangun, Kiana!" Agha menepuk-nepuk bahu Kiana dengan tidak sabar.
Kiana membeliak kaget dan langsung terdengar suara, "Eung?" Kiana mendongak untuk melihat wajah suaminya dengan wajah yang masih sangat mengantuk dan perempuan cantik itu tampak kebingungan.
"Ada apa, Mas?" Tanya Kiana sambil mengucek kedua matanya.
"Kenapa kau ngigau minta dicium oleh Alaric? Kau memimpikan pria lain,ya?! Berani benar kau memikirkan pria lain" Agha mendengus kesal.
Kiana langsung mengulum bibir menahan senyum.
"Malah senyum. Aku cemburu kau malah senyum. Berani benar kau!" Agha langung melepaskan pelukannya lalu memunggungi Kiana sambil mendengus kesal.
Kiana langsung memeluk pinggang suaminya dari arah belakang lalu mencium punggung suaminya dan berkata dengan nada lembut, "Bukankah Alaric itu Mas Agha sendiri? Kenapa Mas Agha cemburu?"
Agha menyahut, "Ah, iya, benar!" Lalu, pria tampan itu mengangkat badan dan berbaring menghadap Kiana. "Tapi tetap saja aku nggak suka kamu memanggil Alaric di dalam tidur kamu alih-alih Agha. Suami kamu itu Agha bukan Alaric. Yeeaahhh meskipun aku adalah Alaric juga tapi tetap terasa beda" Agha berkata sambil terus mengerucutkan bibirnya dan kedua bola matanya masih menyatakan dengan jelas kecemburannya.
Kiana menangkup wajah suaminya yang sangat tampan lalu tersenyum dan berkata, "Aku sepertinya bermimpi aku kembali ke dunia cermin dan bertemu dengan Alaric yang masih berumur lima belas tahun"
"Hah?! Kenapa bisa begitu? Aku nggak suka mimpi kamu itu. Sama sekali nggak suka, cih!" Agha langsung tidur terlentang dan bersedekap dengan wajah sangat kesal.
__ADS_1
Kiana mengangkat sedikit kepalanya sambil menarik tangan kiri Agha lalu dia menyusupkan kepalanya di lengan Agha dan merebahkan kepalanya di lengan kekar suami tampannya itu.
Meskipun kesal dan masih dibakar kecemburuan, Agha membiarkan Kiana melakukan apapun yang Kiana mau.
Setelah berhasil merebahkan kepalanya di atas dada bidang suaminya, Kiana mengusap dada bidang itu sambil berkata, "Mas tahu nggak atau Mas ingat nggak kalau Mas pernah didorong oleh Sofie waktu Mas masuk ke kamarnya Sofie mencariku?"
"Ah, iya benar!" Agha langsung memeluk Kiana dan menunduk untuk melihat wajah cantik istri kecilnya. "Aku ingat.kqlau aku didorong oleh Sofie dan sepertinya aku masuk ke dalam cermin"
"Nah, saat itu lah aku bangun dan menemukan Sofie tengah tertawa puas. Setelah melemparkan bubuk obat bius ke wajah Sofie sampai Sofie pingsan, aku menyusul Mas Agha ke dunia cermin atas pertolongan kakek cermin yang ramah dan baik hati. Di dalam dunia cermin aku menemukan Mas Agha masih berumur lima belas tahun dan Mas Agha bernama Alaric karena apa yang terjadi di dunia cermin. sesuai dengan fantasinya Sofie sebagai si pemilik cermin"
"Wah, dasar wanita iblis. Sakit jiwa, tuh, orang, kok, bisa-bisanya mengubah aku menjadi pria berumur lima belas tahun, cih! Lalu, apa yang terjadi? Bagiamana kau bisa keluar dari sana? Eh, kira maksudnya. Bagaimana kita bisa keluar dari dunia cermin?" Agha menatap lekat wajah cantik istri kecilnya.
"Aku akan ceritakan semuanya............emm, ta........tapi.........."
"Tapi apa, Kiana?" Agha mulai menautkan kedua alisnya.
Kiana langsung menyusupkan wajahnya di atas dada bidang suaminya dan berkata di sana, "Aku harus dicium Alaric muda sebanyak dua kali barulah kita berdua bisa keluar dari dunia cermin dan........kyaaaaa!!!!!"
Agha langung mendorong Kiana sampai istri kecilnya itu berbaring di bawah tubuhnya. Agha menatap lekat Kiana dengan sorot mata penuh kecemburuan, "Jadi, kau biarkan pria lain yang masih berumur lima belas tahun mencium kamu sebanyak dua kali? Kau dicium di mana saja?"
"I.....itu bukan pria lain. Itu adalah kamu yang berwujud remaja, Mas. Itu adalah kamu" Kiana menatap wajah penuh cemburu suaminya dengan panik.
Kiana mengangguk pelan dengan wajah pasrah saat suaminya menaikkan kedua tangannya ke atas dan menahan tangannya di sana.
"Lalu, di mana lagi bocah itu mencium kamu?"
"Hentikan bilang bocah itu, Mas. Karma bocah itu adalah kamu sendiri" Pekik Kiana.
"Di sini? Apa dia mencium kamu di sini?" Agha menyusupkan wajahnya di dada Kiana.
Kiana tersentak kaget dan sontak mengerang, "Bukan di situ, ah! Mas! Kenapa digigit? Mas Agha yang masih remaja yang ada di dunia cermin dengan nama Alaric mencium aku di pipi dan bibir. Bukan di situ, ah! Kenapa.digihit lagi, Mas!"
Agha mengabaikan semua ucapannya Kiana karena ia sudah telanjur asyik memainkan bibirnya di titik kenyal favoritnya.
"Ah, Mas,.hentikan! Biarkan aku lanjutkan bicara dulu, Mas!" Pekik Kiana.
Agha yang masih asyik memainkan bibirnya di tonjolan seksi nan kenyal mengabaikan permintaanya Kiana.
__ADS_1
Kiana akhirnya menghela napas panjang dan membiarkan suaminya melakukan apa yang suaminya mau. Kiana menangkup kepala Agha sambil berkata, "Mas, kalau aku tidak mencium Alaric remaja, maka kita tidak akan bisa keluar dari dunia cermin dan sampai di sini. Aku tidak memandang Alaric remaja sebagai orang lain. Tapi, memandang Alaric remaja sebagai Mas Agha Caraka. Karena dia memang kamu, Mas. Dan kau tahu, Mas? Kau sangat menggemaskan dan nakal pas masih remaja. Mas sering membuatku jengkel saat Mas masih remaja. Ah, Mas! Hentikan! Kenapa digigit lagi?"
Agha tersenyum geli lalu ia menyusupkan wajahnya di atas kulit lehernya Kiana. Pria tampan dan gagah itu lalu terkekeh geli di San dan berucap, "kau memang gila, unik, dan lucu"
"Eh! Kenapa aku gila unik, dan lucu? Mas yang menggigitku kenapa malah aku yang gila dan lucu?" Kiana mendengus kesal.
Agha kembali terkekeh geli kemudian pria tampan itu meneruskan aksinya, mencumbu, mencium, membelai, dan menandai di setiap centimeter tubuh indah istrinya itu dengan bibir dan napas panasnya.
Kiana hanya bisa pasrah dan membiarkan suaminya melakukan apapun pada tubuhnya.
Ketika tubuh Kiana bergetar hebat, Agha membisikkan kata, "aku akan selalu mencintaimu" Agha kembali merekahkan bibir istri kecilnya yang cantik sehingga dia bisa menyusupkan lidahnya dan memainkan lidahnya dengan leluasa di sana lebih dalam dan intens, "dan aku akan menyatu denganmu lagi dan lagi malam ini" Lanjutnya dengan suara maskulin yang parau.
Kemudian Agha melepas ciumannya dan dalam kebisuan suami istri yang tengah dimabuk asmara itu saling menatap. Kekaguman mereka akan satu dengan yang lainnya membuat keduanya saling menahan napas dan membuat udara di sekitar mereka pun ikutan menahan napas.
"Aku akan menghukum kamu sekarang juga, Kiana" Agha berkata dengan suara serak.
Kiana merangkul leher kokoh Agha dan menghirup dalam-dalam napas Agha hingga masuk ke dalam paru-parunya sambil memejamkan kedua matanya.
"Ah, kenapa kau tercipta secantik ini, Sayang? Aku menginginkanmu lebih daripada aku menginginkan kehidupan itu sendiri" ucap Agha di atas tubuh ramping istri kecilnya.
"Kau siap menerima hukuman kamu karena mencium anak dibawah umur tanpa sepengetahuanku?"
Erangan lirih penuh gairah menyumbat kerongkongan Kiana sehingga perempuan cantik berkulit putih bersih itu hanya bisa menganggukkan kepalanya secara perlahan alih-alih menyemburkan protes.
Agha langaung merapatkan tubuh mereka, menciumi pelupuk matanya Kiana yang terpejam rapat, lalu mengarah ke lekuk rahang, bibir yang lembut dan masih merekah pasrah, sementara tangan terus asyik melakukan gerakan meremas, menggerayangi dengan satu tujuan mencapai kenikmatan mereka secara bersama
Keesokan harinya, kala matahari masih tersipu malu menampakan senyumannya dan burung-burung di udara penuh percaya diri mengumandangkan kicauan merdu mereka, Kiana membuka kedua bola matanya secara perlahan, lalu bangun dan langsung duduk. Kiana tersenyum melihat wajah tampan suaminya. Dia bersyukur masih bisa melihat wajah suaminya di pagi hari yang indah ini.
Kiana tersenyum meskipun tubuhnya terasa pegal dan lelah karena serangan kecemburuan dari suaminya semalam.
"Kau selalu tampak sangat cantik setiap kali bangun di pagi hari, Kiana" Agha mengusap pipi istri kecilnya lalu merengkuh Kiana dan membopong Kiana sambil berlari menuju ke sungai.
"Mas! Kau mau apa?" Kiana mendelik kaget.
"Mandi bersama denganmu di sungai. Cerita kamu semalam soal mandi di sungai membuatku ingin melakukannya denganmu"
"Ah! Kenapa jadi begini? Apa semalam belum cukup,.Mas?"
__ADS_1
"Salah sendiri kenapa kamu membiarkan bocah itu mencium kamu sebanyak dua kali dan membiarkan bocah itu mengintip kamu mandi di sungai, cih!"
"Aaaahhhhh!!!!! Kenapa jadi begini?!" Kiana memekik kesal dan Agha menyeringai senang.