Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Panik


__ADS_3

Kiana memekik senang setelah mencabut jarum-jarum yang menempel di sepanjang kaki jenderal Luis, ia melihat jempol kaki Jenderal Luis sudah bisa digerakkan.


Alvin membeliak senang dan menepuk pundak Kiana sambil berkata, "Kau hebat Kiana!"


"Kau juga hebat, Alvin" Kiana menoleh ke Alvin. "Ramuan kamu manjur"


"Kalian berdua tabib yang sangat hebat. Terima kasih, Kiana. Terima kasih, Vin" Sahut jenderal Luis.


Alvin kemudian menempelkan salep ke wajah jenderal Luis dan membalut wajah jenderal Luis sambil berkata, "Jangan sampai kena air, Paman! Aku dan Kiana akan datang lagi besok. Aku akan ganti perban dan salep di wajah Paman, besok"


"Hmm. Terima kasih" Sahut Jenderal Luis.


Alvin lalu berubah menjadi seekor naga dan memilih mengajak Kiana pulang ke paviliunnya raja Alaric lewat angkasa. "Pegangan yang erat Kiana!"


"Baik!" Teriak Kiana.


Jenderal Luis tersenyum dan sambil melambaikan tangan ia berteriak, "Hati-hati kalian berdua!"


Alvin menderita di halaman depan paviliunnya raja Alaric dan setelah berubah menjadi manusia Kembali, pria tampan itu langsung pamit dan kembali ke paviliunnya. Kiana melambaikan tangan sambil tersenyum lalu dengan langkah ringan dan wajah ceria, Kiana masuk ke dalam kamar pribadinya raja Alaric.


Kiana menautkan alisnya saat ia menemukan suaminya cemberut dan bersedekap.


Kiana lalu melepas sandalnya dan merangkak naik ke panggung yang tidak begitu tinggi dan di atas panggung yang tidak begitu luas itu ditata satu meja bundar kecil dan empat rak buku di sisi kiri dan kanan dan rak buku itu diatur saling berhadapan. Panggung itu juga dipasang karpet bulu rubah asli berwarna putih Jadi, untuk duduk bersila di atas panggung itu akan sangat nyaman. Kiana terus merangkak lalu duduk bersila di samping Agha yang tengah duduk bersila di depan meja bundar kecil tempat raja Alaric biasa membaca berbagai macam buku selama satu bulan ini.


Kiana menempelkan bahunya ke bahu Agha lalu memajukan wajahnya untuk menatap wajah cemberut suaminya sambil bertanya, "Oh, Mas Agha ternyata beneran cemberut. Aku kira pas aku lihat dari kejauhan Mas Agha tengah merapal mantra baru"

__ADS_1


Agha mendengus kesal lalu menarik Kiana sampai wanita cantik itu jatuh rebah di atas pangkuannya.


"Kyaaaaa!" Kiana menjerit kaget dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Agha menopang kepala Kiana dengan telapak tangannya dan menatap Kiana sambil berkata, "Kenapa kau pergi lama sekali, hah?! Kau berada di sebuah tempat dan bersama dengan dua orang pria, Kiana"


"Lalu, kenapa kalau saya berada di sebuah tempat bersama dengan dua orang pria? Saya seorang tabib dan saya sedang mengobati pasien saya. Saya nggak melakukan hal yang aneh-aneh, Yang Mulia" Kiana hendak bangun, namun Agha menahan perut Kiana sambil menggeram, "Jangan bangun! Aku belum selesai bicara"


"Bicara bisa sambil duduk, kan, Yang Mulia. Nggak perlu seperti ini. Kalau ada yang masuk dan tiba-tiba melihat kita gimana? Ingat kita masih harus menjalankan peran kita di sini sampai kita bisa pulang ke dunia manusia"


Agha lalu menghela napas panjang dan dengan sangat terpaksa ia menegakkan Kiana.


Kiana bergegas duduk bersila di samping Agha dan berkata, "Saya tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh karena saya hanya mencintai Anda. Hati saya sudah dipenuhi cinta Anda, jadi tidak ada tempat lagi untuk cinta yang lain"


Agha meraih tangan Kiana, lalu ia genggam tangan itu dan ia ciumi sepuasnya. Lalu, pria tampan itu berkata, "Aku tahu dan aku percaya seribu persen lebih sama kesetiaan kamu. Tapi, aku tidak percaya sama situasi dan keadaan di luar sana. Kalau kamu kenapa-kenapa gimana?"


"Kapan kita bisa balik ke dunia manusia? Aku sudah tidak tahan menunggu kamu mengobati pria lain dan aku sudah tidak tahan menjadi raja Alaric dan berdekatan dengan siluman wanita yang bernama Sofie itu. Jika dibandingkan dengan Kesya dan Rani, dia lebih ganas, Kiana. hiihhhhh ngeri!" Agha bergidik lalu melancipkan bibirnya selancip-lancipnya.


Kiana terkekeh geli dan berkata, "Kalau saya bagaimana? Saya ganas tidak, Yang Mulia?"


Agha langsung tersulut gairahnya, dia menarik tengkuk Kiana dan langsung mengajak Kiana berciuman. Ciuman yang tidak selembut biasanya. Ciumannya Agha kali ini terasa menggebu-gebu, liar, dan lebih panas.


Saat Agha hendak menarik Kiana ke atas pangkuannya, terdengar suara ketukan di pintu, tok,tok, tok.


Agha dengan sangat terpaksa melepaskan Kiana, lalu ia bergegas merapikan rambut dan bajunya Kiana, dan setelah itu ia berteriak, "Masuk!"

__ADS_1


Kiana bergegas berpindah duduk di depannya Agha dan langsung mengaduk tinta.


Pelayan pribadinya putri Sofie masuk dengan tergopoh-gopoh dan dia sempat melirik Kiana lalu membatin, putri Sofie hanya cemburu buta. Kiana tidak melakukan hal yang aneh-aneh dengan raja Alaric. Kiana hanya duduk tenang dan mengaduk tinta.


"Ada apa? Kenapa kau datang dan mengganggu waktu senggang ku?" Agha yang sedang berperan menjadi raja Alaric tampak menyipitkan mata, menautkan alis, dan merengut.


Pelayan pribadinya putri Sofie langsung bersimpuh di depan raja Alaric dan berkata, "Maafkan saya, raja Alaric. ratu Anda, putri Sofie, tiba-tiba jatuh pingsan, badannya panas dan seluruh tubuhnya mengeluarkan tuam merah yang sangat mengerikan"


"Kenapa kau malah kemari? Kenapa kau tidak pergi ke paviliunnya Alvin?" Agha mendelik ke pelayan pribadinya putri Sofie.


"Karena Anda adalah suaminya putri Sofie dan putri Sofie adalah ratu Anda, raja. Lalu, di sini ada Kiana. Dia pandai ilmu pengobatan juga, kan? Jadi, daripada saya jauh-jauh ke paviliunnya tabib Alvin saya ke sini saja. Saya bisa sekalian mengajak Anda dan Kiana untuk memeriksa kondisinya putri Sofie" Sahut pelayan pribadinya putri Sofie dengan nada bergetar karena ia mulai merasa takut kalau-kalau raja Alaric marah dan merubahnya menjadi abu.


Agha refleks menggeram kesal dia mulai bertambah kesal dengan perannya sebagai raja Alaric.


Kiana langsung duduk di tepi panggung dan menatap pelayan pribadinya Sofie untuk bertanya, "Apa putri Sofie muntah sebelum pingsan? Apa putri muntah darah?"


"Iya" Sahut pelayan pribadinya putri Sofie.


"Kapan itu terjadi?" Tanya Kiana dengan sorot mata serius.


Agha melirik Kiana dan berharap Kiana mengabaikan keluhannya pelayan pribadinya Sofie.


"Sekitar dua puluh menit yang lalu"


Kiana sontak bangkit berdiri dan berlari kecil mendahului pelayan pribadinya putri Sofie sambil berteriak, "Ayo kita cepat ke sana! sebelum satu jam kita harus cepat membuatnya muntah lagi kalau tidak dia akan mati terkena sesak napas"

__ADS_1


"Lho, hei! Kiana! Tunggu! Ah, sial! Kenapa dia malah berlari sekencang itu meninggalkan aku" Agha langsung melesat menyusul Kiana.


Pelayan pribadinya putri Sofie kemudian berlari mengekor laju larinya Kiana dan Agha dengan wajah panik.


__ADS_2