
Puluhan perampok yang mengejar Agha dan Bora hanya berani menyentilkan langkah mereka sampai di depan mulut hutan siluman. Pimpinan para perampok itu langsung berkata sambil berbalik badan, "Kita balik saja! Mereka berdua masuk ke dalam hutan siluman cari mati sendiri"
Agha langsung memeluk erat tubuh ramping istri kecilnya lalu menghentak punggungnya dengan wajah menahan amarah bercampur kaget. Seperti anak kembar, Bora melakukan hal yang sama.
Agha dan Bora melepaskan wanita mereka secara bersamaan lalu menggeram sambil mengunyah tatapan tajam ke wanita mereka masing-masing.
Kiana dan Agni meringis sambil mundur selangkah ke belakang.
"Kenapa kau ada di sini?" Agha dan Bora memusatkan pandangan mereka ke wanita mereka masing-masing dan menyemburkan tanya yang sama secara bersamaan.
Kiana menoleh ke Agni dengan kode agar Agni yang menjawab pertanyaan kedua pria tampan yang ada di depan mereka. Namun, Agni pun menoleh dan memberikan kode ya h sama sambil meringis.
"Kiana!" Agha mulai menggeram tak sabar.
Kiana tersentak kaget dan langsung mengarahkan pandangannya ke depan sedangkan Agni tersentak kaget dan langsung berlari sembunyi di belakang Kiana sambil mendekap pedang kesayangannya.
Kiana melirik bahunya dan menghela napas panjang saat Agni memegang bahunya dan berbisik, "Nyawaku bergantung padamu, Kakak ipar"
"Jawab!" Agha mulai melotot dan bersedekap. Bora melakukan hal yang sama ke Agni.
"Kak! Lelakiku melotot padaku, aku harus gimana, nih" Bisik Agni yang masih mencekal erat bahu Kiana. Kiana mendengus kesal dan langsung menyahut, "Lelakiku bahkan lebih menakutkan melototnya daripada lelakimu"
Agha mendengus kesal dan langsung berkata, "Mau terus diam? Oke, aku akan berikan hukuman dan........."
"Aku dan Agni masuk dari cermin karena aku dan Agni ingin mengambil teratai jingga yang tumbuh di danau beku dan danau beku itu berada di tengah hutan siluman ini" Jawab Kiana tanpa jeda.
"Dunia cermin? Hah?! Jangan bercanda kau!" Agha mendnegus kesal.
"Kakek cermin, tunjukkan diri Kakek dan bantu Kiana menjelaskan semuanya ke Suami Kiana, Kek!" Kiana langsung berteriak sambil menengadah ke langit, namun langit sama sekali tidak tampak karena tertutup rimbunnya daun beraneka ragam jenis pohon-pohon besar yang ada di dalam hutan siluman.
Cling! Muncul lah sebuah cermin di tengah-tengah Agha dan Kiana.
"Tuh, baru, deh, percaya" Pekik Agni kesal dari belakang tubuhnya Kiana.
Agha melirik tajam ke Agni dan terkejut saat ia mendengar suara seorang kakek yang penuh wibawa, "Agha, Bora, aku adalah Kakek cermin yang pernah ditolong oleh Kiana dan sekarang ini telah menjadi Kakek angkatnya Kiana. Kiana memanggilku dan meminta tolong membawanya ke hutan siluman ini kerena ia ingin mengambil teratqu jingga yang hanya tumbuh di dalam hutan siluman ini. Tapi, setiap kali manusia masuk ke dunia cermin, maka dia harus menjalankan misi dan kerena misi yang harus Kiana lakukan cukup berat, maka aku jatuhkan dia di atas kamu, Agha. Begitu pula dengan Agni, Bora. Agar kalian berdua bisa membantu Kiana dan Agni menyelesaikan misi dan kalian semua bisa kembali ke dunia manusia"
__ADS_1
Bora langsung terduduk lemas di atas tanah saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri sebuah cermin bisa berbicara panjang lebar dan Agni langsung berlari menghampiri Bora untuk memeriksa kondisinya Bora di saat Agha bertanya ke kakek cermin, "Misi apa? Lalu untuk apa teratai jingga itu, Kek?"
"Teratai jingga itu menawarkan racun langka dan teratai jingga juga bisa segala jenis racun yang ada di tubuh kita" Sahut Kakek cermin.
Agha langsung menoleh ke Kiana, "Kau berkorban sebesar ini dan nekat masuk ke dalam cermin untuk menjalankan misi di hutan mengerikan ini tanpa berpikir panjang dan itu demi untuk menyelamatkan Ayahku?"
"Yang Mulia Kaisar Abinawa adalah Ayah mertuaku, beliau adalah junjungan yang sangat aku kagumi. Beliau raja yang arif dan bijaksana. Sandaran semua rakyat. Aku melakukannya bukan hanya demi Ayah mertuaku tapi juga demi semua rakyat" Sahut Kiana.
Agha langsung melompat ke arah Kiana, memeluk pinggang Kiana dan saat Agha ingin memagut bibir istri kecilnya, kakek cermin langsung berteriak, "Stop!"
Agha tidak jadi memagut bibir ranum istri kecilnya dan menoleh kaget ke cermin, "Ada apa, Kek"
"Jangan bermesraan di depanku! Aku ini jomblo akut, hiks,hiks,hiks,hiks" Sahut Kakek cermin.
Agha sontak mendelik dan bergumam kesal, "Dasar!"
Sedangkan Bora, Agni, dan Kiana terkekeh geli secara bersamaan.
Agha terpaksa melepaskan pinggang Kiana dan menahan dirinya untuk tidak mencium istrinya. Lalu, pria tampan itu bertanya, "Lalu, apa yang ada di dalam hutan siluman ini? Kenapa hutan siluman ini sangat ditakuti oleh manusia?"
"Maksudnya?" Tanya Agha.
"Ada lima pendekar yang ahli bela diri, tenaga dalam mereka sangat kuat, dan mereka menguasai ilmu sihir tingkat dewa karena mereka keturunan setengah dewa dan setengah manusia yang diasingkan oleh manusia di dunia kalian yang kejam. Itulah kenapa kelima pendekar itu membunub semua manusia yang nekat masuk ke sini"
"Lima pendekar ahli sihir?" Tanya Kiana.
"Setengah dewa dan setengah manusia? Mereka laki-laki apa perempuan, Kek?" Tanya Bora yang tidak lagi takut pada kakek cermin.
Agni langsung menepuk bahu Bora dan mendelik, "Kenapa kalau perempuan? Kau mau apa, hah?!"
Bora yang terbiasa ceplas ceplos apa adanya, langsung menjawab, "Kalau perempuan pasti cantik banget karena dia setengah manusia dan setengah dewa"
Agni menepuk lebih keras bahu Bora dan menghunus tatapan tajam.
'Aduh! Jangan cemburu! Aku hanya membayangkannya saja, benar, kan, Yang Mulia?" Bora menoleh ke Agha untuk meminta dukungannya Agha sambil mengelus bahunya.
__ADS_1
Agha sontak ingin menyemburkan kata, iya, tapi dia kemudian melirik Kiana dan saat melihat Kiana bersedekap dengan wajah ditekuk, Agha tersenyum lebar dan menyahut tanpa menoleh ke Bora, "Tidak benar, Bora! Yang paling cantik adalah Istriku!"
Bora menghela napas panjang sambil terus berlari menghindari pukulannya Agni.
Kiana terkekeh geli melihat tingkah konyolnya Bora dan Agni.
"Ilmu sihir kelima pendekar itu apa saja, Kek? Apa Kakek tahu?" Tanya Agha kemudian.
Agni langsung menghentikan laju larinya mengejar Bora dan Bora pun menghentikan laju larinya. Mereka berdua ingin mendengarkan ucapan kakek cermin dengan seksama.
"Yang pertama namanya pendekar Mentari kuning. Pendekar ini aku rasa akan kalian temui tidak lama lagi karena dia berjaga di gerbang depan hutan siluman ini. Pendekar Mentari kuning keturunan dewa matahari. Dia cantik, namun jika kalian terlalu lama menatap matanya, kalian akan mengalami kebutaan"
"Kalau kami tidak menatapnya, bagaimana kami bisa melawan dan mengalahkannya?" Sahut Bora
Bug! Agni memukul kembali bahu Bora cukup keras.
"Aduh! Kenapa dipukul lagi?"
"Karen kau ingin menatap cewek lain lebih lama, cih!"
"Lho, pertanyaanku benar, kan? Kalau kita tidak menatapnya bagaimana kita bisa melawannya?" Sahut Bora dengan tampang tak bersalah dan sambil mengelus bahunya.
"Bora benar, Agni" Sahut Kiana.
Agni langsung merengut dan bersedekap kesal.
"Kalau begitu, kita harus menutup mata kita dengan sapu tangan kita masing-masing saat pendekar itu muncul di depan kita" Sahut Agha.
'Lalu, bagaimana kita melawannya, Yang Mulia?" Sahut Bora.
"Kalian langsung bersembunyi saat dia datang. Biar aku yang melawannya seroang diri karena hanya aku yang punya pendengaran, insting, dan indra penciuman yang kuat di sini" Sahut Agha.
"Oke, baiklah. Tapi, Anda harus berhati-hati, Yang Mulia" Sahut Bora.
"Bora benar, Mas. Jangan pernah menganggap enteng lawan kamu" Sahut Kiana.
__ADS_1
"Setuju" Sahut Agni.