
Agha lalu menoleh ke tabib keluarganya Bhadra, "Kenapa kiana kesakitan? Sepertinya aku tidak pernah melihat Agni dan Ibundaku meringis kesakitan dan memegang perut seperti Kiana tadi"
"Itu karena Nyonya muda kelelahan, mengalami stres, atau mengalami ketegangan berlebih"
Agha lalu memasang wajah sedih dan berkata, "Iya, semua salahku. Kiana mengalami semua itu karena aku. Aku jarang ada untuknya dan .........."
"Mas nggak salah" Sahut Kiana dengan wajah dan nada lemas.
"Iya. Wanita memang unik. Kamu harus memahaminya mulai dari sekarang" Sahut Bhadra sambil menepuk pundak Agha.
"Suami saya benar, Yang Mulia. Jangan menyalahkan diri Anda!" Sahut Delia.
Kiana lalu berkata dengan suara lemas, "Bisakah kalian semua keluar? A.....aku pengen ganti baju di kamar mandi. Se.....sepertinya darahnya mulai keluar dan ........"
Mendengar kata darah, Agha langsung berlari ke ranjang dan duduk di tepi ranjang untuk menyibak selimut. "Darah?! Beneran ada darah. Hei! Tabib! Kau bilang datang bulan tidak berbahaya tapi kenapa ada darah dan hmmmmmmpt!"
Agha menoleh ke Kiana saat Kiana membungkam mulutnya dengan telapak tangan.
Kiana langung berkata dengan wajah dan nada lemas, "Datang bulan memang seperti ini, Mas. Ada darah yang keluar. Perasaan tadi tabib sudah menjelaskan"
Agha menarik tangan Kiana lalu menoleh ke tabib kembali, "Kenapa Istriku lemas dan pucat seperti ini. Darahku sama dengan Kiana. Biarkan aku donorkan darahku untuk Kiana selama dia datang bulan biar Kiana segar kembali dan tidak kehabisan darah. Kalau selama satu Minggu dia mengeluarkan darah seperti ini, dia bisa kehabisan darah. Cepat donorkan darahku untuk Kiana, tabib! Dan ..........hei! Kenapa aku ditarik?! Kak Bhadra lepaskan aku! Aku belum selesai bicara!!!!!!!" Agha menarik tangannya dan terus berteriak.
Setelah berhasil menarik Agha keluar dari dalam kamar, Bhadra menutup pintu dan berkata, "Istriku akan membantu Kiana ganti baju dan membersihkan diri. Kiana nggak akan kehabisan darah jadi kamu nggak perlu donor darah. Hadeeeehhh! Kenapa kamu bikin pusing begini"
"Lalu, kalau dia lemas, pucat, dan terus mengeluarkan darah apa itu tidak berbahaya?"
__ADS_1
"Tabib akan resepkan obat penambah darah dan resepkan ramuan agar sakit perutnya Kiana mereda"
"Datang bulan aja sesakit itu apalagi kalau melahirkan?" Gumam Agha.
"Iya. Kau benar. Melahirkan lebih menyakitkan lagi. Kau harus siapkan mental Kiana dan mental kamu nanti pas Kiana mau melahirkan"
"Memangnya sesakit apa melahirkan itu?" Tanya Agha dengan sangat serius.
"Seribu kali lebih sakit dari saat datang bulan kalau kata Delia. Aku sendiri juga tidak tahu bagaimana rasanya" Sahut Bhadra.
Aku sudah yakin seratus persen lebih. Aku nggak akan membuat Kiana hamil dan melahirkan. Aku nggak ingin Kiana mengalami sakit yang seribu kali lebih sakit dari saat datang bulan. Lagipula kalau punya anak, aku tidak bisa membantu mengurusnya. Belum lagi kalau ada yang ingin merebut tahta, maka anakku bisa berada dalam bahaya seperti yang aku alami. Jadi, nggak usah punya anak saja. Batin Agha.
"Kok malah bengong? Apa yang kau pikirkan?"
"Nggak ada" Agha tersenyum lebar di depan Bhadra lalu ia berkata ke tabib yang sudah keluar dari dalam kamar, "Mana resep ramuannya? Aku pengen bikin sendiri untuk Kiana. Gampang, kan, bikinnya?"
"Ayo aku antar kalian ke dapur" Sahut Bhadra.
Setelah berhasil membuat ramuan obat untuk Kiana, Agha dengan wajah bangga masuk ke kamar lalu duduk di tepi ranjang. "Aku yang bikin sendiri ramuan ini"
Kiana tersenyum bahagia merasa dicintai suaminya sebesar ini. Lalu Kiana berkata, "Terima kasih, Mas"
Agha lalu meniup pelan ramuan obat untuk Kiana dan menyuapi Kiana dengan pelan, penuh kelembutan dan ketelatenan sampai obat itu habis. Agha lalu membantu Kiana merebahkan kepala di atas bantal, menyelimuti Kiana, lalu mencium kening Kiana dan berkata, "Aku akan menjaga kamu selama dua puluh empat jam penuh. Kalau butuh apa-apa langsung bilang sama aku, ya?"
Kiana mengusap pipi suaminya dan sambil tersenyum ia menganggukkan kepala dan berkata, "Terima kasih, Mas"
__ADS_1
Agha tersenyum penuh cinta dan berkata, "Sekarang tidurlah!"
Kiana menganggukan kepala lalu memejamkan mata sambil mendekap tangan suaminya.
Agha menunggu dengan sangat sabar sampai Kiana benar-benar tertidur pulas, barulah ia menarik pelan tangannya lalu tidur di sebelahnya Kiana. Agha tidur dengan meletakkan tangannya di perut Kiana dan berkata sebelum ia memejamkan mata, "Semoga besok perut kamu sudah tidak sakit lagi. Tangan hangatku aku taruh di atas perut kamu biar nyaman, ya? Kata dokter orang yang sedang datang bulan butuh yang hangat-hangat. Lalu aku akan peluk kamu seperti ini" Agha lalu memeluk Kiana dan memejamkan mata.
Keesokan harinya, kIana membangunkan Agha dengan cara mencium bibir suaminya sebanyak tiga kali. Agha membuka mata dan tersenyum, "Selamat pagi, Cantik. Gimana perut kamu? Sudah enakan?"
"Sudah, Mas. Berkat kamu perutku sudah enakan"
"Syukurlah" Agha mengecup bibir Kiana dengan senyum lega.
"Mas, setelah datang bulannya selesai, kita bikin anak, ya?"
Agha langsung berdeham lalu melompat dari atas tempat tidur sambil berkata, "Aku harus segera bikin obat untuk kamu" Agha lalu berlari keluar kamar.
Kiana menatap punggung Agha dan bergumam, "Kenapa Mas Agha sepetinya menghindar. Apa Mas Agha tidak ingin punya anak? Ah, mungkin perasaanku saja. Kalau pas datang bulan, kan, aku memang lebih sensitif"
Begitu seterusnya sampai satu Minggu berlalu Agha selalu merawat Kiana dengan penuh cinta dan selalu menghindar kalau Kiana bertanya soal anak. Hingga pada akhirnya Agha, Kiana, dan Kayla harus kembali ke istananya Abinawa. Kayla kembali untuk mengurus perceraiannya dengan tabib Danur.
Setelah sampai di istana, Agha dan Kiana langsung dipingit karena Kaisar menginginkan Agha dan Kiana menikah kembali dengan pesta yang mewah untuk mengenalkan Kiana ke semua rakyat bahwa Kiana adalah Istrinya Agha dan untuk mengumumkan bahwa Agha adalah putra kandungnya Kaisar Abinawa. Setelah pesta pernikahannya Agha dan Kiana yang besar, mewah, dan megah itu digelar selama dua hari, di hari ketiga Kaisar Abinawa menobatkan Agha menjadi raja dan Kiana menjadi ratu.
Agha dan Kiana memasuki paviliun dengan wajah lelah karena selama tiga hari berturut-turut mereka sama sekali belum beristirahat dengan benar.
Agha dan Kiana langsung tertidur pulas tanpa sempat melepas baju kebesaran mereka saking lelahnya.
__ADS_1
Namun, keesokan harinya bulan madu Agha dan Kiana pun dimulai dan dibuka dengan percintaan yang hebat.
Kita akan saksikan besok bagaimana hebatnya bulan madunya Agha dan Kiana.