Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Gugup


__ADS_3

"Bi, Nyonya besar suka makan apa?"


"Emm, Nyonya besar sangat menyukai kue serabi dengan toping nangka. Lalu, kalau di malam hari, Nyonya besar suka sembunyi-sembunyi pergi ke dapur dan makan Bapao tanpa isi. Makanya saya tidak pernah menyiapkan Bapao tanpa isi setiap jam delapan malam" Sahut bibi Sum sambil menyisir rambut panjang hitamnya Kiana sangat indah dan harum.


"Besok malam biarkan aku yang bikin Bapao itu boleh, Bi?"


"Tentu saja boleh. Saya justru senang Nyonya muda mau melakukannya Dengan begitu, Anda dan Nyonya besar bisa mulai untuk saling kenal. Nyonya besar sebenarnya berhati baik dan lembut. Dia hanya belum mengenal Anda dengan benar, Nyonya muda" Sahut bibi Sum sambil menusukkan pelan-pelan tusuk kode berbentuk mawar.


"Iya, Bi. Aku tahu kalau sebenarnya Nyonya besar itu berhati baik"


"Nah, sudah selesai. Anda sangat cantik malam ini, Nyonya muda" bibi Sum membelai rambut indahnya Kiana


Kiana menatap bayangan wajahnya di cermin dan berkata, "Aku tidak pernah memakai pewarna bibir. Apa ini tidak berlebihan, Bi?"


"Tentu saja tidak. Pewarna bibir harus berwarna merah berani karena dipakai di malam hari. Tidak berlebihan"


"Terima kasih, Bi" Kiana menggenggam tangan bibi Sum yang ada di atas pundaknya.


"Sama-sama Nyonya muda. Sekarang Ayo saya antarkan ke perpustakaan"


Kiana bangkit berdiri, berbalik badan, dan langsung memeluk bibi Sum sambil berkata, "Ah, kenapa aku deg-degan, Bi. Kenapa rasanya tulang-tulangku hilang semua dan aku tidak bisa berjalan. Aku lemas, Bi"


Bibi Sum terkekeh geli dan sambil mendorong kedua bahu Kiana, bibi Sum berkata, "Gandeng lengan saya, Nyonya muda"


Kiana langsung menggandeng lengan bibi Sum dan mulai melangkah pelan-pelan.


Sementara itu Agni sudah memberikan laporan ke ibundanya kalau Agha dan Bora lembur di kantor penyidik dan Agni akan balik lagi ke kantor penyidik. Setelah keluar dari kamar Ibundanya, Agni melangkah keluar dari gerbang utama dan langsung belok ke arah perpustakaan. Ia ingin menemani Bora berjaga di atap malam ini. Dia juga ingin berkencan dengan Bora malam ini walaupun hanya di atas atap perpustakaan. Tak lupa Agni mengambil keranjang piknik yang berisi Bapao tanpa isi, camilan ringan, dan satu botol arak, dari dalam kereta kuda.


Sementara itu, Maharani mulai merancang trik jahat untuk bisa segera menikah dengan Agha. Dia memutar otak di dalam kamarnya dengan cara berjalan mondar-mandir dan mengigit semua kuku di jari jemarinya.


Bora menatap heran ke Agha, "Saya sudah buka atapnya dan sudah menurunkan talinya. Kenapa Yang Mulia belum turun ke bawah?"

__ADS_1


Agha menatap Bora lalu ia meringis dan memegang perutnya.


"Yang Mulia kenapa?" Bora langaung panik dan hampir saja ia melepaskan tali yang masih ia pegang.


"Aku mau ke kamar mandi dulu. Perutku mendadak sakit, Bora" Agha langsung terbang turun ke bawah dan langsung berlari ke kamar mandi yang berada persisi di bagian belakang perpustakaan.


Bora melongok ke bawah dengan wajah keheranan dan bergumam, "Kencan itu merugikan. Kencan itu bikin panik, tegang, dan sakit perut. Ish! Aku belum siap untuk itu"


Lima menit kemudian, Agha kembali berjongkok di samping Bora yang tengah mengikatkan tali ke pinggang.


"Silakan Anda turun Yang Mulia. Talinya aman"


"Kamu nggak ikut turun?"


"Kenapa saya ikut turun kalau nanti saya harus balik lagi ke sini? Repot, kan?"


"Tapi, aku butuh teman sebelum Kiana datang"


"Kenapa butuh teman?"


"Yang Mulia?! Apa Anda sudah ada di dalam?"


"Nah! Itu suara Nyonya muda. Cepat turun Yang Mulia" Bora berkata sambil mendorong punggung Agha. Agha memegang tali erat-erat saking kagetnya dan langsung meluncur turun sambil terus melotot ke Bora.


Bora berkata, "Chayooooo, Yang Mulia!" Dengan suara yang tidak begitu keras.


Agha semakin melotot ke Bora. dan Bora langsung meringis dan melambaikan tangannya dan kembali berkata, "Chayoooo, Yang Mulia!" Kali ini dengan suara lirih.


Agha berhasil menapakkan kakinya di lantai perpustakaan dengan selamat dan Bora bergegas menarik tali ke atas dan menutup atap perpustakaan. Lalu, pria tampan tangan kanannya Agha Caraka itu duduk selonjor di atas atap dengan menghela napas lega. Bora kemudian tiduran di atas atap perpustakaan dengan memakai telapak tangannya menjadi bantal. "Hatchi! Dingin juga ternyata. Mantel bulu tebal, kopiah rajut dari Non Agni, dan penutup wajah yang juga pemberian dari non Agni ini masih nggak cukup melindungiku dari salju" Bora tanpa sadar mengusap mantel bulu tebal kado ulang tahun dari Agni. Semua yang Bora pakai di malam hari ini adalah kado ulang tahun dari Agni.


Bora menghela napas panjang dan bergumam, "Kenapa aku pakai semua kado dari Non Agni malam ini? Apa aku sudah ada rasa untuk Non Agni?" Bora kemudian menggelengkan kepala beberapa kali sambil bergumam, "Nggak! Nggak! Aku belum memikirkan rasa apapun saat ini"

__ADS_1


"Rasa apa?" Agni duduk berjongkok di samping Bora dan Bora sontak bangun lalu menoleh kaget ke Agni.


"Yang Mulia?! Kenapa gelap? Anda di dalam, kan?"


"Iya. Aku di dalam. Apakah kamu bisa menemukan aku?"


"Tentu saja bisa. Saya pandai menemukan jejak di kegelapan. Saya terbiasa berkeliaran di hutan, Yang Mulia"


"Benarkah?" Agha berjalan ke arah lilin besar yang ia hapal dengan sangat baik di mana letak lilin besar itu. Agha ingin memberikan kejutan ke Kiana dengan menyalakan lilin itu.


Namun, Justru Agha yang terkejut. Kiana memeluk pinggangnya dan berkata, "Saya berhasil menemukan Anda, kan, Yang Mulia"


Agha seketika menyalakan lilin besar itu tanpa ia sadari dan langsung terpana melihat wajah yang sangat cantik di depannya. Agha menjatuhkan korek api gas ke lantai tanpa ia sadari dan terus menatap Kiana dari jarak yang sangat dekat dengan jantung berdebar-debar.


"Yang Mulia? Kenapa Anda berkeringat?" Kiana melepaskan pelukannya dan Agha menarik Kiana sambil berkata, "Kau kenapa cantik banget dan wangi banget malam ini, Kiana?"


"Mas Agha menyukainya?" Kiana berucap sembari mengelap butiran keringat di kening Agha.


"Aku sangat menyukainya. Kau membuat jantungku berdebar tidak karuan malam ini dan terus terang aku gugup banget malam ini. Ini kencan pertama kita dan aku takut membuat kesalahan dan........."


Cup! Kiana mengecup pipi kanan Agha lalu berkata, "Saya juga gugup Yang mulia. Kita berada di posisi yang sama saat ini. Jadi, saya akan menenangkan Anda dan maukah Anda menenangkan saya, Yang Mulia?"


Agha langsung menarik Kiana sambil berkata, "Peluk aku! Jangan lepaskan! Aku sangat merindukanmu" Agha kemudian mengusap rambut Kiana dan mencium kening Kiana.


Kiana tersenyum penuh cinta dan berkata sambil mendaratkan dagunya di dada Agha, "Saya juga sangat merindukan Mas Agha"


Agha tersenyum senang dan setelah ia mengecup bibir Kiana ia bertanya, "Apa kau sudah tenang sekarang? Apa masih gugup?"


"Pelukan hangat Anda sudah berhasil membuat saya merasa tenang dan nyaman, Yang Mulia"


Agha kembali mengecup Kiana dengan senyum penuh cinta kemudian pria tampan tampan dan gagah perkasa itu menarik tangan Kiana dan mengajak Kiana duduk di bangku lalu memangku kIana dan berkata, "Aku akan bercerita banyak sekali malam ini. Apa kamu mau mendengarkan ceritaku sampai selesai, Kiana?"

__ADS_1


"Tentu saja mau" Kiana menangkup wajah suaminya dengan tatapan penuh kekaguman dan cinta.


Agha tersenyum dan setelah mencium kembali kening istri cantiknya, Agha memulai ceritanya.


__ADS_2