
Walaupun sejujurnya Agha merasa sangat nyaman dengan pijatannya Kiana, namun entah kenapa Agha ingin menjahili istri kecilnya. Agha melirik Kiana yang tengah menunduk dan masih memijit tangannya. Agha mengulum bibir sebentar kemudian ia berteriak, "Aduh!"
Kiana kaget dan saking kagetnya dia sampai mengangkat pantatnya dan refleks menghentikan gerakan tangannya. Lalu, dengan masih menunduk gadis itu bertanya pelan, "Apakah pijatan saya terlalu keras, Yang Mulia?"
Agha sontak memalingkan wajah dan mengulum bibir menahan tawa, lalu ia menyahut setelah berhasil menguasai diri untuk tidak tertawa lepas, "Hmm!" Sambil menarik tangannya. Kemudian jenderal gagah perkasa itu bergegas berkata kembali, "Pindah ke kaki saja! Kamu berdiri dulu! Minggir! Aku mau naikkan kaki ku" Agha langsung menaikkan kedua kakinya ke kasur saat Kiana berdiri.
"Duduk dan pijat kakiku!" Teriak Agha sambil menyandarkan kepalanya ke ranjang.
Huffttt! Sabar, sabar! Batin Kiana.
"Baik, Yang Mulia" Kiana duduk di tepi ranjang dengan perlahan, lalu berkata, "Maaf, Yang Mulia" Sebelum ia memijat kaki Agha.
Agha mengulum bibir menahan tawa saat ia melihat Kiana memijat kakinya dengan kepala terus tertunduk. Agha kemudian berkata, "Stop! Pijat kakiku sampai batas lutut saja!"
Kiana mengangkat wajahnya dan memandang wajah tampannya Agha untuk bertanya, "Kenapa?"
"Kenapa? Oh, jadi kau ingin memijat sampai atas dan kau akan memenuhi kewajiban kamu sebagai seorang Istri saat ini juga?" Agha menatap Kiana dengan sorot mata serius dan wajah datar.
Tawa Agha hampir meledak saat ia melihat wajah Kiana seketika memerah, telinga Kiana juga tampak memerah dan gadis itu tampak kebingungan menjawab pertanyannya.
"Memangnya kau paham kewajiban sebagai seorang Istri itu apa?"
Kiana refleks menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang ia rasakan memerah dan mengangguk pelan-pelan.
"Hei! Berapa umur kamu? Setahuku kau masih berumur dua puluh tahun kenapa bisa paham soal kewajiban Istri? Siapa yang mengajarimu, hah?!"
Kiana yang paling tidak suka disinggung soal umur karena ia merasa sudah menjadi wanita dewasa, sontak mengangkat wajahnya, lalu mengigit bibir bawahnya dengan kesal dan sambil melotot ke Agha ia berkata dengan suara dalam, "Memangnya kenapa kalau umur saya dua puluh tahun. Anda tidak tahu apa yang saya alami selama ini dan Anda tidak tahu apa saja yang bisa dilakukan oleh anak gadis yang masih berumur dua puluh tahun. Apa Anda ingin mengetahuinya, Yang Mulia?" Kiana merangkak naik dan saat wajah Kiana sampai di atas perut Agha, Agha langsung menahan kening Kiana dengan telapak tangannya dan berteriak, "Hentikan! Siapkan saja air mandi! Aku mau mandi"
Kiana bergeming dan masih melotot ke Agha.
"Apa?! Berani kau melototi aku, haha?! Kau mau aku hukum mati sebelum kau bertemu dengan adik kesayanganmu besok?"
Kiana langsung melompat turun dari ranjang lalu membungkukkan badannya sambil berkata, "Jangan bunuh saya, Yang Mulia!"
"Makanya cepat siapkan air mandi! malah bengong di sini! Cepat!" Agha berteriak kesal.
"Baik, Yang Mulia" Kiana menekuk kedua lututnya di depan Agha kemudian bergegas pergi ke kamar mandi.
Kamar mandi yang ada di kediamannya Agha memiliki bathtub yang sangat besar dan tertanam paten di lantai. Bathtub itu menjadi mirip seperti kolam renang kalau dipenuhi air. Kamar mandinya pun sangat luas karena di sebelah kiri bathtub adalah tempat untuk berganti baju.
Kiana mengisi bathtub dengan air hangat lalu ia berlari ke rak yang lumayan tinggi dan rak yang terbuat dari kayu mahoni itu memajang banyak sekali botol dengan aneka warna dan bentuk. Kiana kemudian membaca satu per satu botol mulai dari rak yang paling tinggi dan menuangkan botol sabun dan rempah-rempah wangi ke dalam bathtub. Lalu, ia berjongkok di depan bathtub sambil menunggu airnya penuh.
Kiana yang masih berjongkok menunggu air penuh menoleh terkejut ke belakang saat ia mendengar suara kencang dan itu adalah bunyi suara tertawa ngakaknya Agha. "Eh, kenapa ia tertawa sekeras itu dan nggak berhenti-berhenti? Dasar pria aneh dan gila"
Bora dan anak buahnya yang berjaga di depan pintu kamar pengantinnya Agha juga terkejut dan mereka saling pandang. Salah satu anak buahnya bertanya ke Bora, "Kenapa Yang Mulia tertawa? Baru kali ini saya mendengar tawanya Yang Mulia"
"Ssstttt! Jangan banyak nanya" Bora mendelik ke anak buahnya.
Agha memegang perutnya yang menegang karena tawa gelinya, lalu ia mengusap air mata yang ada di pelupuk matanya. Air mata itu keluar karena Agha tertawa terpingkal-pingkal. Agha kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya dan bergumam, "Astaga! Kenapa dia bisa kelihatan lucu banget pas wajah dan telinganya memerah. Aduh! Perutku sampai kencang karena kebanyakan tertawa dan saat ia tersinggung soal umur, dia kenapa bisa nekat merangkak, Buahahahahaha! Kenapa dia bisa selucu itu"
Agha menghentikan tawanya saat Kiana muncul di depannya.
__ADS_1
Kiana melihat wajah Agha karena sebenarnya ia ingin bertanya kenapa Agha bisa tertawa kencang dan tidak berhenti-henti, tapi dia tidak memiliki keberanian.
"Apa?! Kenapa kau memandangi wajahku? Aku tahu aku ini tampan sejak lahir. Kalau mengagumi wajahku bilang aja aku tampan, nggak usah ditahan-tahan"
Ih! Ada, ya, orang kayak gini? Bisa-bisanya memuji ketampanannya sendiri. Batin Kiana.
Karena kesal Kiana sontak menunduk dan menggelengkan kepalanya.
"Kau menggelengkan kepala kamu, hah?! apa itu berarti aku ini tidak tampan? Kalau begitu, besok aku tidak jadi menjemput adik kamu ke sini"
Kiana langsung mengangkat wajahnya dan berkata, "Bukan begitu, Yang Mulia. Saya menggelengkan kepala karena leher saya kaku"
"Lalu, menurut kamu?"
"Apanya Yang Mulia?"
"Aku tampan tidak?"
"Iya" Sahut Kiana dengan lirih.
"Aku ridak dengar suara kamu"
"Iya, Yang Mulia! Anda tampan. Sangat tampan"
"Kenapa kau berkata begitu tanpa senyum kamu? Kamu terpaksa mengatakan itu?" Agha menatap Kiana dengan sorot mata tajam.
Dasar pria aneh. Pengen ku jitak kepalanya saat ini juga. Batin Kiana.
Agha berjalan melintasi Kiana. Pria tampan itu berjalan menuju ke kama mandi dengan pelan dan kembali mengulum bibir menahan tawa. Sedangkan Kiana menatap punggung Agah dan mengacungkan tinjunya dengan wajah kesal. ingin rasanya ia menjitak kepala belakang pria itu saat ini juga.
Tiba-tiba Agha berbalik badan dan Kiana sontak menarik tinjunya lalu dengan cepat ia sembunyikan tinjunya ke punggung.
Untungnya Agha tidak sempat melihat tinjunya Kiana.
Pria gagah itu kemudian berkata dengan wajah datar, "Ikut aku!"
"Hah?! Ikut ke mana Yang Mulia?" Kiana menautkan kedua alisnya.
"Ke kamar mandi"
"Hah?! Untuk apa?" Kiana melompat mundur ke belakang dengan wajah kaget.
"Bantu aku melepas baju dan menggosok punggung"
"Hah?! Anda, kan, bisa melakukannya sendiri?"
"Hei! Kau tadi bilang kalau kau tahu kewajiban seorang Istri itu apa, lalu kenapa sekarang kau menolak melakukannya?"
"Ta......tapi, itu, kan........"
"Apa? Kenapa bicara belepotan? Apa yang kau pikirkan? Masih kecil, kok, punya pikiran aneh-aneh, cih!"
__ADS_1
"Masih kecil? Saya sudah berumur dua puluh tahun dan saya bukan anak kecil, Yang Mulia" Kiana refleks bersedekap dan mendelik kesal ke Agha.
"Hei! Kau berani bersedekap di depanku? Kau mau aku culik adikmu dan kau sembunyikan dia selamanya dari kamu?"
Kiana langsung mengurai dekapan tangannya dan membungkukkan badan sambil berkata, "Maafkan Saya, Yang Mulia"
"Buruan ikut aku ke kamar mandi!"
"Baik" Kiana mengikuti langkah Agha dan mencebikkan bibirnya ke punggung Agha.
Setelah sampai di kamar mandi, Agha merentangkan kedua tangannya di depan Kiana sambil berkata, "Bantu aku melepas semua bajuku!"
Kiana melangkah pelan dan menyentuh pundak Agha sambil berkata, "Maaf" Ia memejamkan kedua matanya rapat-rapat.
Agha menunduk melihat puncak kepalanya Kiana. Agha memiliki tinggi bada 185 cm dan Kiana memiliki tinggi badan 160 cm, jadi Agha bisa leluasa melihat puncak kepalanya Kiana. Agha bergumam di dalam hatinya, aku akan lihat apakah kamu akan melaporkan ke permaisuri tentang tanda lahir yang ada di pantatku. Kalau iya, maka dengan sangat terpaksa aku akan melenyapkan kamu dari muka bumi ini meskipun kamu adalah Istriku.
Kiana telah melepas semua baju Agha dan tetap memajukan kedua matanya rapat-rapat. Agha tersenyum geli, lalu pria tampan itu berbalik badan dan saat ia sudah masuk masuk ke dalam air, pria itu berteriak, "Buka mata kamu dan gosok punggungku!"
"Ta, tapi, apa Anda sudah masuk ke dalam bathtub, Yang Mulia?"
"Sudah" Sahut Agha dengan mengulum bibir menahan tawa.
Kiana langsung membuka mata sambil meraih busa lembut untuk menggosok punggung. Kemudian ia bersila di bibir bathtub dan menggosok punggung suami tampannya.
Agha bergumam di dalam hatinya sambil menikmati gosokan Kiana di punggungnya, dia tidak berani membuka mata saat aku telanjang tadi. Berarti dia tidak melihat tanda lahir di pantatku. Apa benar dia ini mata-mata permaisuri? Mana ada mata-mata pengecut seperti ini? Lihat orang telanjang saja ciut nyalinya, cih!
Yang Mulia, saya ini masih gadis ting-ting dan belum pernah melihat cowok telanjang sebelumnya kecuali..........Iya! Kenapa aku bisa lupa sama anak laki-laki yang mandi di danau waktu aku masih kecil? Ah! Sial! Aku lupa siapa nama anak itu. Tapi, waktu itu aku, kan, masih kecil dan sekarang aku udah besar. Kenapa Anda menyuruh saya melepas baju Anda dan menggosok punggung Anda saat ini. Batin Kiana sambil terus menggosok punggung Jenderal Agha.
Agha kemudian berkata, "Sudah cukup! Sekarang keluarlah!"
Kiana langsung bangkit dan berlari keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah bebas merdeka.
Kiana kemudian keluar dari dalam kamar dan berkata ke Bora, "Apa aku boleh ke dapur untuk memasak?"
"Makanan sudah siap. Nyonya muda tidak perlu memasak untuk makan malam" Sahut Bora.
Kiana berdiri mematung di depan pintu dan Bora langsung berkata, "Anda masuk saja Nyonya muda. Makanan akan diantarkan oleh pelayan ke kamar sebentar lagi"
"Aku bosan di kamar. Apa aku boleh jalan-jalan sebentar di sekitar sini?"
"Silakan Nyonya muda" Sahut Bora.
Kiana langsung memekik girang dan berlari menuju ke taman. Kiana duduk di bangku taman dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman sambil bergumam, "Di mana Debi? Sejak keluar dari dalam kamar pengantinku Debi tidak kelihatan. Apa Ibu tiriku meminta Debi pulang? Agar aku sendirian saja di kediaman ini?"
Kiana kemudian asyik bermain kunang-kunang dan terus tertawa saat ia menemukan seekor jangkrik dan bercanda dengan jangkrik itu.
"Kenapa Anda hanya berdiri di kejauhan seperti ini, Yang Mulia? Kenapa Anda tidak menemui Nyonya muda dan duduk di sana menemani Nyonya Muda?"
"Melihat tawa dia yang sederhana seperti itu sudah cukup bagiku, Bora. Aku berasa memiliki semangat baru melihat tawanya yang indah itu. Suruh dia segera ke kamar untuk makan. Aku menunggunya di kamar!" Ucap Agha sambil berbalik badan tanpa mengeluarkan suara.
Bora bergegas melaksanakan perintah junjungannya tanpa berani bertanya. Namun,asisten pribadinya Agha itu bertanya-tanya di dalam benaknya, kenapa cuma melihat tawa Nyonya muda dari kejauhan bisa membuat Yang Mulia semangat baru, ya? Aneh banget.
__ADS_1