Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Takjub


__ADS_3

Agha menghabiskan obat yang diracik dan dimasak oleh Kiana dengan cepat. Lalu, Jenderal gagah dan sangat tampan itu berkata, "Sekarang suapi aku bubur dan cakue-nya"


"Ma ....maafkan saya, Yang Mulia. Apakah saya boleh mandi dulu? Gerah banget, nih, kan, dari tadi saya masak di dapur"


"Kamu boleh mandi kalau bubur dan cakue-nya udah habis. Cepat suapi aku, Aaaaaaa!"


"Tapi, Yang Mulia........."


"Apa?! Oh, mau dapat hukuman karena berani melawan perintahku, hah?!"


"Nggak, Yang Mulia. Baiklah. Saya akan suapi Anda dulu. Silakan Anda membuka mulut Anda, Yang Mulia"


Agha berdeham sebentar untuk mengusir tawanya yang hampir meledak. Lalu, pria gagah dan tampan itu membuka mulut dengan sopan.


Agha mengunyah suapan pertama sambil berkata, "Kau juga makan!"


"Ta.....tapi, saya cuma buat sarapan untuk Anda, Yang Mulia. Saya bisa sarapan nanti saja"


Agha menggenggam tangan Kiana yang memegang sendok dan mengarahkannya ke mulut Kiana sambil berkata, "Aaaaaaa! Kau harus makan sekarang. Kita harus segera ke istana setelah ini"


Kiana menahan tangan Agha dan merapatkan bibirnya sambil menggelengkan kepala.


"Kau menolak makan bareng aku? Kau jijik denganku?"


Aish! Anda, kan, tadi yang jijik sama saya. Anda bahkan bertanya apa saya punya penyakit menular. Tapi, kenapa sekarang minta saya makan bareng dengan Anda dengan memakai mangkuk dan sendok yang sama? Gila apa?! Ini sama aja kalau kita berciuman, kan? Batin Kiana.


"Kau bilang kau sehat bugar dan nggak punya penyakit menular, kan? Aku juga sama. Jadi, nggak masalah kalau kita makan bareng sekarang. Hemat waktu. Ayo, Aaaaaaa!" Agha mendorong sendok ke mulut Kiana dan akhirnya mau tidak mau Kiana membuka mulutnya.


Agha kemudian berkata, "Nah, gitu,kan, pinter. Sekarang suapi aku, aaaaaa!" Agha membuka mulutnya lebar-lebar


Pinter gundulmu. Kalau nggak terpaksa aku nggak bakalan mau makan dengan mangkuk dan sendok yang sama denganmu Batin Kiana kesal.


Kiana menyuapi Agha dan setelah menerima suapan dari Kiana, Agha berkata, "Sekarang kamu yang makan!"


Kiana dengan sangat terpaksa memasukkan sendok yang baru saja masuk ke mulut Agha ke dalam mulutnya.


Dan begitu seterusnya, satu suapan untuk Agha, satu suapan untuk Kiana sampai mangkuk berisi bubur dan piring berisi cakue ludes habis tak ada sisa.


Saat Kiana meletakan mangkuk bubur dan piring cakue yang sudah kosong di atas nampan, ibundanya Agha masuk ke kamar itu dan langsung menarik Kiana menjauh dari anaknya.

__ADS_1


Agha sontak mengerutkan kening dan bertanya, "Ibu, kenapa Ibu menarik Istriku?"


Kiana langsung diam mematung.


Ibundanya Agha mengabaikan Kiana dan mengabaikan pertanyaannya Agha. Wanita cantik itu kemudian duduk di samping Agha dan bertanya, "Kata pelayan kamu terluka. Terluka di mana? Kamu pulang jam berapa semalam? Lalu, Rani gimana? Gimana keadaannya Rani?"


Alih-alih menjawab pertanyaan ibundanya, Agha bangkit berdiri dan menatap Kiana lalu berkata, "Mandi dan bersiaplah! Setelah ini kita pergi ke Istana. Aku kemarin tidak muncul di acara pernikahan kita, jadi aku perlu memberikan laporan ke Kaisar"


"Baik. Saya permisi" Kiana menekuk kedua lututnya untuk memberikan hormat ke ibu mertua dan suaminya, lalu ia berbalik badan dengan cepat. Ia ingin segera mandi.


Ibundanya Agha masih memunggungi gadis itu.


Agha kemudian memutar badan untuk menghadap ibundanya dan berkata, "Saya baik-baik saja. Berkat Kiana, saya baik-baik saja Ibu. Dan Maharani juga baik-baik saja"


"Kiana? Siapa Kiana?"


"Istri saya, Ibu. Istri saya bernama Kiana"


"Oh, gadis buruk rupa yang wajahnya penuh bisul, yang berbadan kecil dan kurus, yang tidak tahu sopan santun, dan rumornya ia sering berkeliaran di hutan, namanya Kiana?"


"Ibu, saya mohon jangan hina Istri saya. Bagiamana pun Kiana adalah hadiah dari Kaisar dan Permaisuri. Kita harus menghargainya"


"Maaf, Yang Mulia. Apa baju dan dandanan saya berlebihan?"


Agha dan ibundanya terkejut mendengar suaranya Kiana. Mereka berdua menoleh ke asal suara secara perlahan dan secara bersamaan dan takjub lah mereka saat mereka melihat penampilannya Kiana.


Agha masih melongo takjub melihat kecantikan wanita di depannya bak Dewi di cerita dongeng di saat ibundanya memekik kaget, "Siapa kamu?! Berani benar kamu masuk ke kamar ini, hah?!"


Kiana tersentak kaget dan sontak mundur selangkah ke belakang.


Agha segera berkata, "Ibu, dia Kiana. Istri saya"


Ibundanya Agha menoleh ke Agha dengan kaget, lalu ia menoleh kembali ke Kiana dan sambil menunjuk wajah Kiana dia berkata, "Ka.....kamu kenapa cantik sekali? Kenapa wajah kamu bersih dan tidak ada bisulnya?"


Kiana langsung menunduk dan berkata, "Bisul saya sudah sembuh, Ibu"


Ibundanya Agha lalu mengelus-elus sendiri dadanya dan berkata, "Syukurlah kamu cantik. Jadi, Agha tidak akan malu berjalan dengan kamu. Tapi, aku masih tidak mengenalmu dan masih mewaspadai kamu"


Kiana yang masih menunduk berkata, "Terima kasih atas pujiannya, Ibu. Saya siap dididik menjadi menantu yang baik di kediaman ini, Ibu"

__ADS_1


Ibundanya Agha menghela napas panjang, lalu pergi meninggalkan Agha dan Kiana tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Agha memandangi Kiana mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki dan kembali memandangi wajah Kiana untuk berkata, "Aku rasa penampilan kamu ini cocok untuk menghadap Kaisar dan Permaisuri. Tapi, tunggu aku sebentar di sini, aku akan menemui tabib keluarga sebentar"


Kiana menekuk kedua lututnya, kemudian berkata, "Baik, Yang Mulia"


Sepeninggalnya Agha, Kiana langsung berlari dan duduk di bangku tempat untuk bersantai dan minum teh. Gadis itu menuang cangkir kecil dengan teh dari poci yang terbuat dari tanah liat dan menenggaknya habis. Setelah itu ia bergumam, "Gila! Kenapa Yang Mulia Pangeran Ketujuh Jenderal Agha, terlihat sangat mengerikan dan sama sekali tidak bisa tersenyum. Dia juga suka seenak hati menyuruh aku melakukan ini dan itu. Huffttttt! Sepertinya aku harus memiliki hati sekuat baja untuk bisa menjadi istrinya"


Sementara itu, Agah duduk di samping tabib keluarga dan langsung meletakkan tangannya di atas meja yang ada di depannya.


Tabib Gunadi sontak bangkit berdiri dan membungkukkan badan di depan Agha, "Saya akan memeriksa Anda, Yang Mulia"


Agha mengangguk pelan dengan wajah tanpa ekspresi.


Tabib Gunadi langsung memeriksa nadi yang ada di pergelangan bagian dalamnya Agha dan tabib senior itu menoleh kaget ke Agha.


"Ada apa?" Agha bertanya dengan nada dan wajah datar.


"Kondisi Anda segar bugar, Yang Mulia. Kalau begitu, saya akan memeriksa luka di perut Anda. Ijinkan saya membuka baju dan perbannya"


"Hmm" Sahut Agha.


Setelah membuka perban di perut Agha, tabib senior kepercayaan keluarga Caraka itu semakin terkejut dan seketika berkata, "Tabib yang menangani Anda sangat cekatan dan cerdas. Luka di perut Anda tidak terinfeksi dan sudah hampir mengering. Apa saya boleh bertemu dan berkenalan dengan tabib itu, Yang Mulia. Saya mengagumi keahliannya dalam ilmu pengobatan" Tabib Gunadi berucap sembari memperban luka di perut Agha dengan perban luka yang baru.


Agha merapikan bajunya setelah tabib Gunadi selesai memperban luka di perutnya sambil berkata, "Jangan puji Istriku cantik dan cerdas!"


Tabib Gunadi sontak menegakkan badannya dan ternganga, "Hah?! Ka....kapan saya memuji Istri Anda, Yang Mulia?"


Bora yang berdiri di samping Agha sontak bergeser ke samping dan langsung berputar badan sambil berkata, "Saya tunggu Anda di depan kereta kuda, Yang Mulia"


"Hmm" Sahut Agha dan Bora langsung berlari kencang meninggalkan Agha dan tabib Gunadi.


Wah, Dasar ember, tuh, Bora. Batin Tabib Gunadi kesal.


Agha kemudian bangkit berdiri dan berkata, "Jangan memuji Istriku cantik dan cerdas. Hanya aku yang boleh memujinya!"


Di saat tabib Gunadi ingin membuka mulut, Agha kembali berkata, "Jangan menemui Istriku dan jangan berkenalan dengan. Istriku saat aku tidak ada! Ingat itu baik-baik!"


"Baik, Yang Mulia" Sahut tabib Gunadi sambil membungkukkan badannya.

__ADS_1


__ADS_2