
Keesokan harinya, kamar Agha dan kamar tamu yang berhadapan terbuka secara bersamaan. Agha dan Kiana saling menatap dengan canggung. Agha memberikan senyum lebarnya dan melambaikan tangan, tapi Kiana langsung memalingkan wajah dan berjalan ke samping.
"Dia mengabaikan aku. Dia masih marah padaku" Gumam Agha sedih sambil berjalan menuju ke aula pertemuan.
Kiana duduk di singgasana tanpa menatap Agha. Dia langsung duduk tegak dan pandangannya lurus ke depan.
Agha yang menoleh senang melihat Kiana duduk di sampingnya, akhirnya mengalihkan pandangannya ke depan dengan helaan napas berat.
Dia masih marah. Aku nggak nyangka ngambeknya bakalan lama. Batin Agha.
Aku akan ngambek sampai, Mas menghampiriku dan berkata kalau Mas mau punya anak. Kalau nggak, aku akan ngambek selamanya. Batin Kiana dengan mendengus kesal.
Kejutan yang Agha berikan untuk Bora dan Adyaksa benar-benar membuat Bora dan Adyaksa terperanjat kaget. Agha mengangkat Bora menjadi Jenderal dan pejabat di kantor penyidik menggantikan dirinya dan Agha mengangkat Adyaksa menjadi Penasihat Agung yang baru. Lalu, kejutan berikutnya membuat Kiana akhirnya menoleh ke Agha. Agha menolak memilih selir dan Agha membuat peraturan baru bagi semua menteri dan pejabat tinggi kerajaan yang baru dilantik tidak boleh memiliki selir dan bagi menteri dan pejabat tinggi kerajaan yang lama yang sudah terlanjur memiliki selir tidak boleh menambah selir lagi.
Agha tersenyum ke Kiana dan berkata, "Aku mencintaimu"
Kiana langsung memalingkan wajahnya.
Agha kembali bernapas berat dan bergumam, "Sampai kapan kamu akan mengabaikan aku? Aku sangat merindukanmu, Kiana" Agha kemudian memiringkan kepala dan menyangganya dengan kepalan tangan. Dia terus menatap istri kecilnya yang sedang ngambek dari arah samping dengan wajah penuh kerinduan.
__ADS_1
Meskipun sangat merindukan Kiana, Agha tetap tidak mau mengatakan kalau dia menginginkan anak. Dia masih tetap kuat memegang prinsipnya. Semua untuk kebaikan Kiana pikirnya, tapi kenapa Kiana justru ngambek dan itu yang tidak bisa ia terima dan cerna dengan baik.
Setelah upacara penobatan Bora dan Adyaksa selesai, dilakukan upacara pengesahan peraturan yang baru dan penurunan pangkat Penasihat Agung yang lama. Penasihat Agung yang lama masih tetap menjadi Penasihat Agung tapi dia di bawahnya Adyaksa. Semua keputusan mutlak berada di tangan Adyaksa.
Tiba-tiba masuk seorang prajurit yang bertugas menjaga perbatasan di Padang pasir. Prajurit tersebut tersungkur di depan singgasananya Agha dengan penuh luka. Agha langsung bangkit berdiri dan menahan lengan Kiana saat ia melihat Kiana ingin turun dari tahta untuk mengobati prajurit tersebut.
Kiana menoleh ke Agha dan Agha langung berkata, "Ratu harus tetap duduk tenang di singgasana untuk menjaga martabat Raja"
Dengan mendengus kesal Kiana menarik lengannya dan kembali duduk.
Agha ingin memeluk Kiana saat itu juga, tapi prajurit yang tersungkur di depannya dan penuh luka lebih penting untuk ia perhatikan saat ini. Agha kemudian bertanya ke prajurit itu, "Ada apa? Kenapa kau berlari kencang masuk ke sini dan tubuh kamu penuh luka?"
Agha langung berlari turun dari singgasananya dan berkata, "Bawa prajurit gagah berani ini ke ruang pengobatan dan minta Tabib Danur untuk segera mengobatinya"
"Baik" Sahut menteri kesehatan.
"Lalu, bagaimana dengan masalah di Padang pasir, Yang Mulia? Siapa Jenderal yang akan Anda kirim ke Padang pasir?" Tanya Menteri pertahanan dan keamanan.
"Aku sendiri yang akan berangkat ke sana. Aku akan bersiap diri sekarang" Agha langsung melesat menuju ke paviliunnya dan Kiana langsung berlari menyusul suaminya dari pintu samping.
__ADS_1
Adyaksa langsung menenangkan para menteri dan pejabat tinggi kerajaan yang ribut menerima keputusan dadakan raja baru mereka.
"Raja Agha tidak bisa dicegah dan tidak akan mencabut keputusannya. Kita hanya bisa mendukungnya saat ini. Menteri sandang dan pangan tolong persiapkan sandang, pangan, dan obat-obatan untuk dibawa ke Padang pasir. Jenderal Bora, tolong temani Raja kita pergi ke perbatasan" Ucap Adyaksa dengan wajah tegang dan napas terengah-engah.
Bora langsung menyahut, "Baik, Yang Mulia"
Kiana masuk ke kamar suaminya tepat di saat suaminya melepas semua baju.
Kiana langsung berkata, "Saya yang akan membantu Yang Mulia memakai baju zirah"
Agha tersentak kaget dan berputar badan untuk berkata, "Kenapa kau memanggilku Yang Mulia dan memakai bahasa formal di saat kita berduaan?"
Kiana memakaikan baju zirah ke tubuh Agha dengan diam membisu. Dan saat Kiana berjinjit hendak memakaikan helm ke kepala suaminya, Agha mengambil helm itu dengan tangan kanan, lalu tangan kirinya menarik tengkuk Kiana, dia memagut bibir Kiana dan memperdalam ciumannya saat Kiana tidak mendorongnya.
Setelah puas mencium bibir istri kecil yang sangat ia cintai, Agha mengecup kening Kiana dan berkata, "Aku akan kembali dengan selamat dan kita akan diskusikan soal anak lebih jauh lagi. Aku janji" Agha kemudian memakai helm besinya dan saat Agha melangkah pergi, Kiana menahan lengan Agha dan berkata, "Aku akan menunggu, Mas. Aku mencintaimu, Mas"
Agha menarik tangan Kiana, mencium tangan itu dengan penuh perasaan lalu berkata, "Aku juga sangat mencintaimu"
Lalu, Agha bergegas melepaskan pelukannya dan dengan sangat terpaksa melangkah lebar meninggalkan istri kecilnya karena kalau dia lebih lama sepersekian detik saja memeluk Kiana, maka Bora dan semua pasukannya bakalan menunggu di dua jam lebih.
__ADS_1