Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Malu


__ADS_3

Lalu, apa yang terjadi di negeri manusia? Bora yang memiliki hubungan sangat dekat dengan Agha Caraka ternyata juga tengah mengajak Agni ke atap kamarmya Agni dan dia memerintahkan anak buahnya untuk menyalakan kembang api. Hubungan batin antara Agha dan Bora yang sangat kental membuat Bora seringkali melakukan hal yang sama dengan apa yang Agha lakukan bahkan di waktu yang sama pula.


Agni memekik senang lalu menoleh ke Bora, "Ternyata kau bisa melakukan hal romantis yang seperti ini, Bora"


Bora tersipu malu dan hanya bisa menggaruk kepalanya.


Agni kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke langit malam dan takjub melihat indahnya kembang api.


Agni menikmati indahnya kembang api malam ini sambil bergumam kesal di dalam hatinya, kenapa pria kaku di sampingku ini tidak memeluk aku? Atau merangkul bahuku? Bukankah seharusnya di saat romantis dan indah seperti ini, dia merangkul bahuku? Dasar pria kaku, cih!


Sementara itu di negeri di Awan, Karena ciuman yang semakin liar, panas, dan menuntut. Agha membopong Kiana lalu membawa terbang Kiana menuju ke atap paviliunnya. Agha kemudian membawa masuk Kiana ke dalam kamar pribadinya tanpa menghentikan aktivitas liarnya di bibir Kiana.


Langkah Jenderal Agha Caraka yang gagah perkasa terhenti di depan ranjangnya dan dengan masih memperdalam ciumannya, dia membaringkan Kiana secara perlahan di atas ranjang.


Agha kemudian melepas ciumannya sebentar untuk membiarkan Kiana mengambil napas.


Kiana yang memejamkan mata tanpa sadar bergumam, "Jangan........"


Agha tersenyum sembari melepas bajunya satu per satu, "Jangan apa, sayang?"


Kiana membuka matanya dan berucap lirih "Jangan berhenti, Mas!"


Agha terkekeh geli lalu mengusap bibirnya Kiana dengan ibu jarinya, "Aku berhenti karena ku rasakan kau butuh untuk mengambil napas sejenak. Tentu saja aku tidak akan berhenti sayang karena sudah terlambat sekarang untuk berhenti. Kamu ternyata semakin pandai dalam berciuman dan aku sangat suka.


"Karena gurunya sangat pandai membimbingku" Tabib wanita bertubuh ramping dan mungil itu menatap suaminya tampannya dengan penuh gairah dan cinta.

__ADS_1


Agha menyeringai senang dan berkata "Akan aku lanjutkan pelajaran yang sudah aku berikan ke tahap berikutnya, ya?"


Istri kecilnya Agha Caraka mengangguk dengan sorot mata meredup karena deru jantungnya saat ini telah membuat sesak di dadanya. Agha kemudian menempatkan tangannya di atas area yang lembut dan kenyal lalu memainkan tangannya di sana dengan gerakan yang liar. Pria tampan itu lalu menempelkan wajahnya di leher cantiknya Melati.


Kiana tiba tiba mendorong dada suami tampannya dengan pelan sambil berkata, "Mas Agha, ini masih jam patroli. Apakah tidak apa-apa kalau kita bermesraan saat ini?"


"Keadaan di luar sudah aman. Aku sudah memilih dua orang prajurit yang aku percaya untuk berjaga di depan pintu. Aku kasih tugas ke dua orang prajurit itu untuk menghadang siapa pun yang ingin bertemu dengan aku saat ini. Tidak akan aku biarkan siapa pun menganggu aku melakukan tugas dan kewajibanku sebagai seorang suami malam ini. Dan sepertinya aku akan lembur malam ini"


Kiana memukul dada bidang suaminya dengan senyum malu


Agha kembali menyusupkan wajahnya di leher cantiknya istri cantiknya. Dia bermain cukup lama di sana untuk menyesap habis aroma wangi yang menguar dari tubuh istri tercintanya itu. Kiana pun mengerang frustasi.


Mendengar erangannya Kiana yang penuh dengan kenikmatan semakin membuat Jenderal gagah perkasa itu menggila dan nadi sepasang suami istri yang penuh cinta itu pun berdenyut liar.


"Aku mencintaimu, aku selalu mencintaimu" ujar Agha ke Kiana sembari menciumi pelupuk mata istrinya yang masih terpejam, lalu wajah Agha menyusuri lekuk rahang Kiana, kemudian menuju ke sudut bibir istri kecilnya, hingga sampailah bibir Agha yang berdenyut menuntut lebih di pangkal lehernya Kiana. Agha menginginkan lebih dan lebih dan tak lupa ia mendaratkan tanda kepemilikannya.


Tangan Agha terus melakukan gerakan liar, panas, dan sensual di setiap lekuk tubuh istri kecilnya yang sangat cantik.


Keduanya sama-sama tidak mengetahui entah kapan dan bagaimana bisa terjadi, tubuh mereka berdua benar - benar polos tanpa balutan sehelai kain pun.


Di tengah deru napasnya yang menderu dan tidak beraturan karena cinta dan gairah, Agha berkata "Sayang, buka mata kamu dan lihat aku!"


Kiana membuka matanya dan langsung takjub "Sayang, kamu seksi dan a....a...aku membutuhkanmu sekarang ini, Mas Agha"


Agha terkekeh senang karena dia saat ini juga merasa memiliki kebutuhan yang sangat mendesak untuk segera melesat jauh ke dalam tubuhnya Kiana untuk merasakan tubuhnya di dalam kehangatan cinta istri cantiknya itu bersama dengan cinta yang siap meledak.

__ADS_1


Gerakan yang awalnya lembut menjadi liar dan tidak terkendali. Bercinta dengan sangat intim dan liar bersama dengan istri kecilnya yang sangat cantik merupakan sesuatu hal yang selalu terasa beda bagi Agha. Pria tampan itu terus mengerang dan bergerak liar. Jenderal besar itu tidak mampu untuk berhenti dan di saat ia mendengar erangan Kiana, maka semakin meliar lah dia.


Sementara Agha Caraka tengah mabuk akan manisnya rasa yang ada di diri istri kecilnya yang sangat cantik, putri Sofie berdiri di depan dua orang prajurit yang berjaga di depan pintu kamar pribadinya raja Alaric.


"Minggir! Aku ingin bertemu dengan raja. Ada urusan penting" Putri Sofie mengibaskan tangannya di depan kedua prajurit itu.


Kedua prajurit itu langsung berkata ke putri Sofie, "Raja sudah tidur. Raja sangat lelah hari ini, maka beliau tidur cepat malam ini. Maka, kembalilah esok hari, ratu Sofie"


"Aku tidak mau. Aku adalah istrinya raja. Aku ratu di kerajaan naga ini. Maka aku berhak untuk masuk ke dalam dan menemani raja tidur" Sofie mendorong kedua prajurit itu. Namun, di saat tangan Sofie menyentuh daun pintu, Sofie langsung menarik telapak tangannya dan menoleh ke kedua prajurit itu, "Kenapa pintunya terasa sangat panas?"


"Raja sepertinya melindungi pintu kamar beliau dengan sihirnya"


"Sial!" Sofie mengumpat lirih. Lalu, wanita yang memiliki paras cantik jelita tapi berhati busuk itu kemudian berbalik badan dan pergi meninggalkan paviliunnya raja Alaric dengan wajah kecewa dan kesal.


Keesokan harinya, Agha duluan membuka kedua bola matanya Setelah penyatuan raga semalam yang menurutnya sangat luar biasa, Agha ingin secepatnya membuka mata dan menatap wajah cantik istri tercintanya di pagi hari. Agha sangat suka memandangi wajah cantik alaminya Kiana di pagi hari"


Agha merapikan rambut yang menutupi wajah Kiana dan gerakan lembutnya Agha itu membuat Kiana membuka mata.


"Sudah bangun?" Tanya Agha.


Kiana tersenyum penuh cinta lalu berkata, "Iya, Yang Mulia"


"Perasaan semalam kau terus memanggilku dengan kamu, Mas Agha, dan sayang. Tapi kenapa sekarang memanggilku Yang Mulia lagi?" Tanya Agha sambil mengusap pipi Kiana dengan ibu jarinya.


Kiana yang tidur di atas lengan Agha tersipu malu lalu berkata, "Karena semalam seperti sebuah mimpi bagi saya. Karena semalam saya mengalami hal yang indah dan luar bisa. Saya merasa itu adalah sebuah mimpi"

__ADS_1


Agha lalu mencium kening Kiana, mencium pucuk Kiana, lalu mengecup bibir Kiana kemudian bertanya, "Apakah kamu masih merasa kalau semalam hanya lah sebuah mimpi?"


Kiana langsung menyusupkan wajahnya yang merona malu ke dada bidangnya Agha Acara.


__ADS_2