Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Lancang Kau!


__ADS_3

Adyaksa yang tiba di kediaman tabib Danur seketika menyuruh Bayu berhenti saat ia melihat ada Red Hair di depan gerbang kediamannya Tabib Danur.


"Ternyata Agha sudah berubah sekarang" Ucap Adyaksa dengan senyum ambigu.


Kiana mengusap pipinya dan menoleh kaget ke belakang.


Agha berdiri di samping kanannya Kiana dan langsung merangkul bahu Kiana yang masih menatapnya dengan wajah kaget bercampur bahagia.


Sedangkan Agha menatap intens kepala ibu tiri dan adik tirinya Kiana yang tertunduk. Alis Jenderal besar yang tidak pernah terkalahkan di Medan perang itu di dalam posisi menurun dan dimiringkan ke dalam, berkerut dengan kelopak mata kencang dan lurus. Agha benar-benar marah saat ini.


Dengan suara dalam dan tegas Agha bertanya, "Di mana Tabib Danur? Kenapa dia tidak menyambut Putrinya dan Putranya?"


Dengan tubuh dan suara gemetar ibu tirinya Kiana menyahut, "Su....su....suami saya ada di ruang kerjanya. Su..... suami saya tengah sibuk menulis resep dan.........."


"Lalu, di mana Kendra?" Agha masih bertanya dengan ekspres wajah dan nada bicara yang sama.


Kendra berlari kecil sambil berteriak, "Saya di sini, Kak Agha!"


Agha dan Kiana menoleh ke belakang dan saat Kendra menghentikan kaki mungilnya di depan Agha dan Kiana, Agha langsung berkata, "Masuk ke kamar kamu dan jangan keluar sampai Kak Kiana kamu datang ke kamar kamu"


"Baik" Kendra langsung berbalik badan dan berlari kencang masuk ke dalam kamarnya.


Agha yang masih merangkul bahu istri kecilnya, mengajak Kiana berjalan masuk ke ruang penerimaan tamu dan sambil berjalan melintasi ibu tiri dan adik tidurnya Kiana, ia berkata, "Panggil Tabib Danur ke ruang penerimaan tamu. Aku menunggu kalian semua di sana dan jangan membiarkan aku menunggu terlalu lama!"


"Baik, Yang Mulia" Sahut ibu tirinya Kiana.


Sepuluh menit kemudian,


Ibu tiri dan adik tirinya Kiana langsung berlutut dan menundukkan wajah mereka sambil berkata secara serempak, "Selamat datang, Yang Mulia Pangeran ketujuh Jenderal Agha Caraka"


Agha berdiri tegak dengan wajah penuh amarah. di depan Komala, ibu tirinya Kiana, dan ayahandanya Kiana.


Kiana berdiri di samping kiri suaminya dalam diam dan berdoa semoga keluarganya tidak diberi sanksi yang sangat berat oleh Jenderal Agha Caraka.


Tabib Danur yang masih berlutut dengan kedua telapak tangan menempel lekat di lantai ubin yang dingin, dan masih menundukkan wajah, memberanikan diri untuk berkata, "Maafkan saya, Yang Mulia. Saya tidak tahu kalau Anda akan datang ke gubuk saya ini. Maafkan saya, saya terlalu sibuk bekerja menyiapkan resep untuk apotik istana"

__ADS_1


Agha langsung berteriak kencang,"Lancang kau!" Tabib Danur langsung kerut nyalinya dan diam seribu bahasa. Sedangkan Komala dan ibu tirinya Kiana semakin gemetar ketakutan.


"Kalau aku tidak datang ke sini, kau juga tidak akan menyambut Putri dan Putra Kamu?"


"Bukan begitu, Yang Mulia" Tabib Danur memberanikan diri mengangkat wajah tampannya yang sudah sedikit menua untuk menatap Agha.


Agha menatap intens wajah tampan tabib Danur dan menggeram, "Lalu kenapa kau tidak menyambut Kiana dan Kendra tadi? Kenapa kau biarkan Istri dan anak perempuan kamu yang tidak tahu sopan santun itu menghina Istriku, hah?!"


Tabib Danur masih menatap wajah Agha dan segera menyahut, "Maafkan saya yang tidak bisa mendidik Komala dengan baik. Jangan salahkan Komala dan jangan hukum dia, Yang Mulia. Kalau Anda ingin memberikan hukuman, hukum saja saya"


Agha merapatkan bibirnya. Dia semakin terbakar amarah melihat dan mendengar tabib Danur lebih peduli sama Komala daripada Kiana.


Agha ingin menyemburkan kata, aku akan cambuk kalian semua, tapi mulutnya kembali menutup rapat saat ia merasakan tangan Kiana memeluk lengannya.


Agha sontak menoleh ke Kiana dan Kiana menatap Agha dengan wajah memohon dan bergumam lirih, "Tolong jangan hukum mereka, Yang Mulia"


"Apa kau sudah memaafkan mereka?" Tanya Agha sambil mengamati wajah cantik istri kecilnya dengan sorot mata lembut.


Kiana menganggukkan kepalanya beberapa kali dengan senyum tulusnya.


Kiana menyahut, "Karena mereka adalah keluarga saya, Yang Mulia. Di antara keluarga tidak boleh ada rasa saling benci dan dendam" Kiana kembali mengulas senyum manisnya dan entah kenapa senyuman di wajah cantik istri kecilnya mampu menghapus bara amarah di hati Agha.


Agha kemudian menghela napas panjang dan memutar kepalanya ke arah depan kembali dengan perlahan lalu berkata, "Aku tidak akan menghukum kalian. Tapi, kalian harus minta maaf sama Kiana"


Tabib Danur dan istrinya langsung berkata secara bersamaan, "Maafkan kami, Kiana"


"Saya sudah memaafkan kalian semua" Sahut Kiana.


Komala yang sangat membenci Kiana dan selalu iri sama Kiana tidak mengucapkan kata maaf. Komala justru mengangkat wajahnya dan menatap Kiana dengan penuh kebencian.


Melihat hal itu, Agha langsung menggeram, "Kau! Berani benar kau melotot sama Kakak kamu, hah?! Minta maaf sekarang juga!"


Ibundanya Komala langsung menoleh ke belakang dan memberikan kode ke Komala agar Komala segera meminta maaf ke Kiana.


Dengan wajah kesal dan terpaksa Komala akhirnya berkata lirih, "Maafkan aku, Kiana"

__ADS_1


"Katakan dengan benar, sopan, dan suara lantang, cepat!" Agha menghunus tatapan tajam yang mematikan ke adik tirinya Kiana yang berwajah cantik tapi jutek.


Komala langsung menyahut dengan nada bicara yang lebih tinggi, "Maafkan aku, Kiana"


"Aku sudah memaafkanmu Komala" Sahut Kiana dengan nada dan wajah tulus yang disertai dengan senyum bahagia.


Agha melirik Kiana dan tersenyum senang di dalam hatinya melihat istri kecilnya bisa tersenyum bahagia. Agha lalu melirik lengannya yang masih dipeluk Kiana dan ada desiran hangat di hatinya seketika itu juga.


Agha kemudian berkata masih dengan nada bicara dan ekspresi wajah yang sama, "Kau!" Agha menunjukkan jarinya ke Komala.


Komala langsung menundukkan wajahnya dan tubuhnya semakin gemetaran.


Agha menarik kembali jarinya dan berkata, "Jauhkan hayalan kamu untuk menikah denganku. Andaikan Kiana tidak dilahirkan di dunia ini, aku juga tidak Sudi menikah dengan gadis seperti kamu. Tidak sopan, manja, dan wajah kamu penuh dengan kebencian, cih! Camkan itu!"


"Baik, Yang Mulia" Komala yang sedari dulu mengagumi Jenderal Agha dan mencintai Jenderal Agha dalam diam langsung mencengkeram kedua lututnya karena kecewa rasa cintanya harus kandas sebelum ia sempat memperjuangkannya.


Agha menambahkan, "Aku tidak mungkin melirik kamu sampai kapan pun karena aku menyukai gadis yang baik, hangat hatinya, mandiri, tangguh, gadis yang memiliki senyum dan tawa yang sangat indah dan berwajah lembut" Agha melirik Kiana.


Komala semakin mencengkeram erat kedua lututnya dengan wajah merah padam menahan kebencian dan amarah.


Agha kembali berkata, "Istriku terburu-buru pulang siang ini dan dia tidak membawa pelayan dari kediamanku. Aku perintahkan anak perempuan kamu untuk melayani aku dan Istriku. Suruh dia memasak dan melayani aku dan istriku di meja makan nanti"


"Baik, Yang Mulia" Sahut tabib Danur.


Agha menggenggam tangan Kiana dan mengajak Kiana berjalan meninggalkan tabib Danur, Komala, dan ibu tirinya Kiana, sambil bertanya, "Di mana tempat yang cocok untuk kita?"


Komala sontak mengangkat wajahnya dan menatap punggung Kiana dengan sorot mata penuh dendam.


"Tempat yang cocok untuk kita?" Kiana menoleh kaget ke Agha sambil melirik tangannya yang berada di dalam genggaman hangat tangan suaminya.


"Iya. Aku ingin menanyakan beberapa hal ke kamu"


"Kita bisa pergi ke ruang kerja almarhum Ibu saya, Yang Mulia. Di sana luas, bersih, dan sepi"


"Baiklah. Kita ke sana" Sahut Agha.

__ADS_1


__ADS_2