
Di dunia manusia, Agni tengah memonyongkan bibirnya ke Bora dan Bora langsung menoel pucuk hidungnya Agni sambil bertanya, "Kenapa kau memonyongkan bibir kamu seperti ini?"
Tentu saja aku ingin kamu menciumku lagi. Dasar Bora bodoh! Tadi, kan, bibir kamu cuma nempel sebentar di bibirku. Batin Agni dengan sorot mata kesal.
Bora mengusap bibir Agni dan berkata, "Udah hilang semuanya. Kamu memonyongkan bibir kamu ternyata di bibir kamu ada semutnya, ya?"
Agni menyipitkan matanya dan bertanya, 'Ada semutnya? Emang di bibirku ada semutnya?"
"Hmm" Sahut Bora sambil menggandeng tangan Agni dan mengajak Agni melanjutkan makan mie pesanan mereka yang sudah tersaji di meja yang tadi mereka pesan.
Aku tahu kau minta dicium lagi, Agni. Tapi aku nggak mau melakukannya. Bukan karena aku nggak ingin. Tapi aku ingin melakukannya lagi di saat yang tepat. Batin Bora dengan senyum senang.
Agni menunduk menatap mie sambil bergumam, wah, untung saja Bora tidak tahu kalau aku ingin dicium lagi. Bisa malu tujuh turunan aku kalau sampai Bora tahu aku ingin dicium lagi sama dia. Tanpa Agni sadari ia terus menundukkan wajahnya.
Bora mengulum bibir menahan geli melihat tingkah konyolnya Agni dan pria tampan itu kemudian bertanya, "Kau mau cuci muka kamu dengan kuah mie, ya?"
Agni langung menegakkan kepalanya sambil berkata, "Nggak" Namun, dia masih belum berani menatap Bora.
"Kalau nggak, kenapa kamu terus menunduk?"
"Ah, itu, emm, aku ingin menghirup aroma mie ini" Sahut Agni sambil mengibaskan tangannya dan ia masih belum berani menatap Bora.
Bora kembali mengulum bibir menahan geli.
Sementara itu di negeri Awan, Kiana tengah menatap Alaric dengan penuh keraguan dan wanita cantik itu akhirnya berkata, "Sebentar, Yang Mulia. Saya cuil sedikit saja untuk mencicipi bagaimana rasanya dan apa efek sampingnya"
Alaric yang masih memejamkan mata langsun berkata, "Jangan! Kalau kamu cuil nanti efeknya berkurang. Lagipula aku nggak ingin kamu terkena efek samping yang kita belum ketahui dari Ganoderma hitam itu. Biar aku saja yang merasakan semuanya. Cepat masukan ke mulutku! Aaaaa!"
Kiana langsung memasukkan Ganoderma hitam yang memiliki diameter dua setengah centimeter dan berbentuk bulan sabit berwarna hitam pekat.
__ADS_1
Alaric mengunyahnya pelan sambil perlahan membuka matanya.
"Gimana rasanya, Yang Mulia? Lalu, teksturnya? Lembek atau garing?"
"Rasanya hambar. Dan teksturnya seperti biskuit. Renyah dan garing" Jawab Alaric.
"Semoga tidak ada efek samping dan Anda bisa langsung mendapatkan ingatan Anda kembali, Yang Mulia" Kiana mengatupkan kedua tangannya di depan dada dengan wajah penuh harap.
"Hmm" Sahut Alaric sambil terus mengunyah Ganoderma hitam itu.
Alvin tiba-tiba muncul di tepi sungai dan berteriak, "Sudah kau masukkan ke mulut raja belum?!"
"Sudah!" Teriak Kiana.
Alaric langsung terbang ke tepian untuk mengambil jubahnya lalu terbang kembali ke Kiana untuk menutupi tubuh Kiana yang hanya dililit selembar kain dengan jubahnya. Kemudian Alaric berputar badan untuk menatap Alvin dan menunjuk ke mulutnya yang tengah mengunyah.
"Bagus! Soalnya Ganoderma hitam itu akan terus mengecil dan kembali menjadi bibir kalau tidak segera dikunyah!" Teriak Alvin.
Alvin kemudian terbang mendekati Kiana dan Alaric, lalu ia berkata, "Aku sudah menjelaskan ke para tetua soal ledakan yang terdengar tadi, aku bilang kalau ledakan itu berasal dari dapurku dan untungnya para tetua memercayai perkataanku"
"Terima kasih, Alvin" Sahut Kiana dan Alaric secara bersamaan.
"Aku di sini untuk mengantisipasi kalau-kalau ada efek samping dari Ganoderma hitam itu dan.......... Raja! Anda baik-baik saja?" Alvin sontak panik saat ia melihat ada kepulan asap hitam mengelilingi Alaric.
"Mas Agha!" Kiana hendak berlari masuk ke kepulan asap hitam yang membuat suaminya tak terlihat lagi, namun dengan sigap Alvin mencekal lengan Kiana dan berkata, "Jangan masuk ke dalam! Kau bisa terseret ke dimensi lain dan mengganggu proses pemulihan ingatan suami kamu"
Kiana kemudian berdiri tegak di samping Alvin dan tangannya kembali mengatup di depan dada. Dengan harap-harap cemas ia terus menatap kepulan asap hitam yang masih menelan suaminya.
Beberapa menit kemudian kepulan asap hitam menghilang dan Alaric tampak bersimpuh lalu jatuh pingsan. Sebelum kepala Alaric masuk ke dalam air, Kiana dan Alvin langsung berlari untuk menopang kepala Alaric.
__ADS_1
Alvin kemudian berubah menjadi seekor naga setelah menekuk kaki depannya, Alvin berkata ke Kiana, "Naikkan raja Alaric ke punggungku! Setelah itu kau juga naik ke punggungku. Aku akan bawa kalian kembali ke paviliunnya raja Alaric"
Dengan susah payah Kiana menaikkan Alaric yang memiliki tubuh tinggi dan besar ke punggung Alvin, lalu ia pun melompat naik ke punggung Alvin.
"Pegangan Kiana!" Jerit Alvin sambil terbang menuju ke paviliunnya raja Alaric.
Kiana berpegangan erat sambil memeluk tubuh Alaric.
Setelah sampai di dalam kamar pribadinya raja Alaric, Alvin kembali berubah menjadi manusia dan dia langsung membantu Kiana merebahkan raja Alaric di atas ranjang.
"Ambilkan air hangat dan peralatan tusuk jarumku!" Ucap Alvin.
Kiana langsung berlari mengambil air hangat dan setelah meletakkan baskom berisi air hangat di atas meja kecil, Kiana berkata, "Pakai peralatan tusuk jarumku dulu!"
"Baiklah! Kau ganti baju dulu! Aku yang akan memeriksa kondisi raja" Ucap Alvin tanpa.menileh ke Kiana.
"Baiklah" Kiana langsung berlari ke kamar ganti pakaian.
Sial! Aku harus menahan diri sedari tadi untuk tidak fokus ke kain yang melilit tubuh indahnya Kiana. kalau aku fokus ke kain itu, aku bisa gila. Batin Alvin.
Alvin sesungguhnya menyukai Kiana sedari pertama ia melihat Kiana. Namun, dia sadar diri kalau dia tidak boleh menyatakan dan memperjuangkan perasaannya itu. Karena Kiana sudah memiliki suami. Walaupun perasaan cinta yang ia miliki itu sangat menyiksa hatinya karena ridak bisa ia nyatakan, namun Alvin cukup puas bisa melihat tawa Kiana. Dia bahagia kalau Kiana bahagia. Untuk itulah ia selalu ada dan siap membantu Kiana.
Kiana kembali muncul di hadapan Alvin dengan pakaian lengkap dan tertutup. Wanita cantik itu langsung bertanya, "Bagaimana raja? Dia baik-baik saja, kan?"
Alvin terus menatap Alaric dan menyahut, "Hmm. Dia baik-baik saja dan sebentar lagi dia akan siuman. Aku hitung mulai dari satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, dan.......Se...... pu........luh. Bangun!"
Alaric membuka matanya lebar-lebar dan pris tampan itu langsung duduk di tengah ranjang dengan wajah yang masih kebingungan. Lalu, pria tampan itu tersenyum lebar ke Kiana, "Kiana, Istriku. Syukurlah kau baik-baik saja. Aku mengejarmu waktu itu pakai kuda bersama dengan Bayu, lalu aku mendengar jeritan kamu dan aku tidak ingat lagi setelah itu"
Alvin langsung bangkit berdiri dengan senyum lega.
__ADS_1
Sedangkan kIana langsung memeluk suaminya sambil berkata di sela isak tangisnya, "Mas Agha! Syukurlah Mas Agha sudah ingat semuanya. Aku sangat merindukan kamu, Mas"