Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Putra Mahkota?


__ADS_3

Eh, tapi, eh, tapi kenapa aku harus mati berdiri? Kenapa aku harus meleleh begini? Dia, kan, akan menikah lagi dan aku akan dimadu. Batin Kiana.


Kenapa aku memeluknya tadi dan sekarang aku merangkulnya? Bahkan sebelumnya aku mencium punggung tangannya? Hah?! Ini beneran aku? Aku tidak kerasukan roh halus, kan? Atau aku sudah gila sekarang? Batin Agha sambil menarik tangannya dari bahu Kiana secara perlahan.


Kiana langsung bangkit berdiri dan duduk di bangku yang ada di depan Agha.


Agha mendelik kaget dan refleks bertanya, "Kenapa pindah?"


"Anda sudah baikan dan Anda butuh merebahkan diri maka saya pindah ke sini" Sahut Kiana dengan senyum yang terpaksa ia lukis di wajah cantiknya.


Agha menghela napas lalu merebahkan diri dengan perlahan dan setelah memakai lengannya sebagai bantal, Agha memejamkan mata.


Aku bekum berhasil menemukan gadis yang aku temui di hutan dulu. Gadis kecil yang manis dan baik hati. Aku masih menyimpan sapu tangannya yang ia pakai untuk membebat luka di telapak kakiku kala itu. Aku berjanji kepada diriku sendiri kalau aku berhasil menemukannya aku akan menikahinya. Lalu, sekarang bagaimana? Aku sudah menikah dan aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Kalau aku berhasil menemukan gadis hutan yang manis dan baik hati itu apakah aku akan tetap menikahinya. Atau jangan-jangan dia malah sudah menikah sekarang ini. Benak Agha seketika melayang-layang ke masa lalu.


Kiana menatap wajah Agha yang tampan. Dia berani menatap lekat wajah tampan suaminya karena suaminya tengah tidur saat ini.


Dia memiliki wajah yang sempurna. Badannya pun sempurna. Sayangnya semua kesempurnaan itu tidak diimbangi dengan karakter yang sempurna. Dia dingin, aneh, galak, dan susah sekali untuk ditebak. Huh! Dasar gunung es. Batin Kiana.


Pokoknya kalau sampai dia benar-benar menikahi Putri Kesya, aku akan pergi dari kediamannya dan menetap di hutan selamanya. Dia nggak akan menemukan aku. Maka dari itu sebelum dia menikahi Putri Kesya, aku harus giat mencari uang sendiri untuk bekal aku kabur di hari pernikahan mereka nanti. Batin Kiana sambil bersedekap.


Kiana kemudian menguap dan tanpa ia sadari ia pun jatuh tertidur dengan posisi duduk.


Agha membuka mata dan menoleh tepat di saat kepala Kiana hampir jatuh miring ke kiri. Dengan sigap Agha bangun dan menahan kepala Kiana dengan telapak tangan kanannya.


Agha kemudian mengamati wajah mungil Kiana yang tengah tidur. Wajah mungil itu ada di atas telapak tangan kanannya. Pria tampan dan gagah itu menelusuri wajah Kiana mulai dari kening, kedua kelopak mata yang ternyata memiliki bulu mata yang lentik, lalu hidung mungil yang lancip itu sangat pas menghiasai wajah mungilnya, lalu saat pandangannya Agha sampai di bibir Kiana, jakun Agha refleks naik turun. Seketika ia kesulitan menelan air liurnya sendiri. Kenapa dia bisa memiliki bibir mungil yang sangat menggoda ini? Batin Agha.


Deg, deg, deg! Jantung Agha kembali berdetak kencang.


Bora yang menyibak tirai dan hendak memberitahukan ke junjungannya kalau mereka sudah sampai di kediaman Caraka,.kembali menutup tirai dan turun dari kereta kuda saat ia melihat junjungannya menyangga kepala nyonya mudanya dan tatapan junjungannya terus mengarah ke wajah nyonya mudanya.


Kiana terbangun saat ia mendengar suara ringkik kuda dan Agha refleks menegakkan kepala Kiana sambil berkata, "Kepala kamu hampir pecah terantuk bangku kereta kuda. Lain kali jangan tidur sambil duduk! Kau harus bertanggung jawab memijit tanganku nanti. Tanganku pegal menyangga kepala kamu terus tadi" Agha mendelik ke Kiana sambil bangkit berdiri. "Kakiku juga pegal berjongkok terus"


Apa sih? Aku juga tidak meminta kamu melakukan itu. Kenapa aku harus memijit kamu? Batin Kiana kesal.


"Ngerti nggak!" Teriak Agha.


"Iya, Yang Mulai" Sahut Kiana.

__ADS_1


Sabar, sabar! Batin Kiana.


"Ayo turun! Kita sudah sampai" Agha melangkah keluar dari kereta kuda dan mendahului Kiana turun. Lalu, ia membantu istrinya turun dari atas kereta kuda. Kiana kembali menatap tangannya yang teesu digenggam oleh suaminya. Kali ini Kiana membiarkannya. Kalau dia bertanya, jawabannya pasti sama dengan jawaban yang suaminya berikan saat ia dan suaminya melangkah masuk ke istana tadi pagi.


Agha menghentikan langkahnya di depan pintu ruang tamu.saat ia.meoihat ada putra mahkota Adnan di sana.


Mau apa dia ke sini? Agha menggeram kesal.di dalam hatinya, namun pria tampan itu tetap.memasang wajah santai.


Agha kemudian menoleh ke kanan dan tersentak kaget. Kiana tidak ada di sampingnya dan dia semakin kaget dan menoleh ke depan saat ia mendengar bentakan ibundanya, "Jangan berlarian kalau masuk ke dalam ruang tamu! Jaga sikap! Ada Putra.Mahkota di sini!"


Kiana langsung mengerem laju lari kecilnya dan bersitatap dengan pria yang dia kenal dengan wajah penuh tanda tanya.


Agha sontak melesat masuk saat ia melihat putra mahkota dengan wajah semringah berjalan pelan mendekati istrinya.


Agha langsung memeluk pinggang Kiana dan hal itu membuat putra mahkota menghentikan langkahnya dan memilih menyapa Kiana dari jarak satu setengah meter, "Hai! Kita bertemu lagi"


Ibundanya Agha dan Agha menoleh ke Kiana dengan wajah penuh tanda tanya.


Kiana langsung berkata, "Dia adalah teman saya. Namanya........"


Adnan terus menatap wajah cantiknya Kiana dan berkata, "Adnan. Kau masih ingat namaku, kan? Iya, benar. Saya dan Kiana berteman. Kami teman akrab"


Tapi, teman akrab hanya untuk beberapa bulan saja. Aku akan secepatnya merebut Kiana dan menjadikan Kiana permaisuriku bagaimanapun caranya. Batin Adnan seketika itu juga.


Agha menyipitkan matanya saat ia melihat ada gelagat tidak baik di tatapannya Adnan untuk itu Agha berkata, "Jangan memandangi Istri saya terus seperti itu Yang Mulia Putra Mahkota. Ada Suaminya di sini"


"Agha! Jaga bicara kamu!" Hardik ibundanya Agha.


Adnan melepas tawa renyahnya dan berkata, "Tidak apa-apa, Bi. Wajar kalau Agha cemburu. Dia memiliki Istri yang sangat cantik"


Telinga Kiana tidak menangkap kata cemburu dan cantik. Telinganya hanya menangkap kata putra mahkota. Kiana kemudian bertanya dengan ekspresi kaget bercampur heran ke Adnan, "Putra Mahkota?"


Adnan tersenyum lebar dan berkata, "Iya, benar. Aku Putra.mahkota. Maafkan aku tidak mengenalkan diriku dengan baik di perjumpaan kita dulu dan......."


Kiana langsung membungkukkan badannya dan berkata, "Maafkan saya kalau saya bersikap lancang pada Anda di......."


"Tidak! Jangan sungkan padaku, Kiana! Kita teman! Tegakkan badan kamu!" Adnan hendak melangkah maju karena ia ingin memegang kedua bahu Kiana untuk membantu Kiana menegakkan badan, namun Agha langsung menegakkan badan istrinya sambil berkata ke Adnan dengan sorot mata tajam, "Jangan melangkah ke sini dan jangan dekati Istri saya!"

__ADS_1


"Agha!" Ibundanya Agha kembali menghardik Agha.


Adnan menghentikan langkahnya lalu berkata,"Oke. Aku akan berhenti. Aku ke sini karena aku ingin mengucapkan selamat untuk pernikahan kamu Agha dan kamu Kiana. Untuk itu aku membawa banyak makanan dan buah-buahan segar dari dalam istana. Aku juga membawa sepasang liontin giok untuk kalian berdua"


"Kenapa harus mengucapkan selamat untuk pernikahan saya? Pernikahan saya tidak penting bagi Anda, bukan?"


Cih! Aku tahu betul karakter licik kamu dan aku tidak akan tertipu lagi, Adnan. Aku bisa mencium niat buruk kamu atas Kiana dan aku tidak akan membiarkan kamu merebut Kiana dariku Aku juga tidak akan membiarkan kamu merebut tahta dariku. Batin Agha kesal.


Kenapa aku merasa kalau dua orang ini tidak akur, ya? Batin Kiana.


ibundanya Agha langsung mendelik ke Agha.


Adnan tertawa lepas lalu berkata, "Tentu saja penting. Kamu Kakak sepupuku dan Kiana adalah teman baikku. Tentu saja aku harus mengucapkan selamat atas pernikahan kalian"


"Saya terima ucapan selamat Anda. Tapi, bawa pulang semua barang pemberian Anda"


"Agha! Kalau kamu menolak niat baik pangeran mahkota, kamu akan membuat kaisar dan permaisuri kecewa" Sahut ibundanya Agha.


Agha kemudian menghela napas panjang dan langsung membopong Kiana di depan Adnan lalu berkata, "Terserah Ibu kalau begitu dan maafkan saya Yang Mulia Putra Mahkota, Istri saya mengantuk dan lelah saat ini. Saya harus segera membawanya ke kamar. Saya permisi"


Saat Agha pergi meninggalkan ruang tamu sambil membopong Kiana, Adnan mengepalkan kedua tangannya erat-erat dan ibundanya Agha langsung berteriak, "Agha! Kembali! Agha!"


Adnan lalu menoleh ke ibundanya Agha, "Tidak apa-apa, Bibi. Kesehatan Kiana ke ih penting. Kalau begitu saya pamit dulu"


Setelah putra mahkota pulang ke istana, Ibundanya Agha langsung masuk ke kamarnya dengan wajah kesal dan bergumam, "Aku akan didik menantuku dengan baik. Berani benar dia membuat Agha bersikap kurang ajar pada Putra Mahkota. Lihat saja Kiana, aku akan memberikan pelajaran padamu"


Agha menurunkan Kiana di lantai kamar pengantin mereka yang sudah dirapikan dan pria tampan itu kembali menatap Kiana dengan sorot mata tajam dan menggeram, "Kapan kamu bertemu dan berkenalan dengan Putra Mahkota? Kenapa kamu memiliki banyak sekali teman pria? Kenapa kamu harus berteman dengan Kakak Adyaksa dan Adnan, hah?! Kenapa?!"


Kiana menjawab pertanyaan Agha dengan wajah ketakutan, "Sa......saya juga tidak tahu siapa mereka sebelumnya. Sa.....saya berteman dengan mereka tanpa tahu kalau mereka adalah seorang pangeran dan putra mahkota. Saya benar-benar tidak tahu"


"Mulai besok aku tidak akan ijinkan kamu keluar rumah! Aku tidak suka kamu memiliki teman pria lagi! Ngeri?!"


Kiana hanya diam membisu dan bergumam di dalam hatinya, memangnya aku tidak bisa menyelinap pergi diam-diam keluar tanpa ketahuan. Menyelinap keluar secara diam-diam tanpa ketahuan Itu keahlianku yang paling aku banggakan, tau!


"Sekarang pijat tangan dan kakiku! Kamu tadi udah janji memijatnya" Agha duduk di tepi ranjang dan masih menatap Kiana dengan sorot mata mematikan.


Kiana melangkah pelan dan duduk di samping Agha dengan perlahan dan berkata, "Maaf" Sebelum ia menyentuh lengan Agha.

__ADS_1


Hmm, enak juga pijitannya. Batin Agha.


Kiana menatap Agha dari samping dengan wajah kesal.


__ADS_2