
Agha melesat di angkasa dalam wujud naga hitam karena dengan wujud naga hitam pendengaran dan pandangannya lebih tajam.
Agha menukik tajam ke bawah saat pandangannya menatap sesuatu yang berkilauan di atas tanah. Agha memungut benda berkilauan itu dan langsung terbang kembali sambil bergumam, "Kalung pernikahanku dengan Kiana kenapa bisa lepas? Sial! Semoga Kiana baik-baik saja. Kalau sampai Adnan menyentuh Kiana seujung rambut pun, maka aku akan menyemburkan api ke dia dan membuatnya gosong" Agha kemudian mempercepat laju terbangnya sambil terus melihat ke bawah dengan saksama untuk menemukan keberadaannya Kiana.
Sementara itu, ibundanya Kiana dan kakeknya Kiana berhasil masuk ke paviliun raja dengan mulus. Tanpa menunggu lama, Tabib Alzam melesat duduk di tepi ranjang un tuk memeriksa kondisi raja.
"Bagaimana kondisi Kaisar, Ayah? Kaisar masih bisa diselamatkan, kan?" Ibundanya Kiana bertanya dengan wajah gusar.
Tabib Alzam hanya menganggukkan kepala lalu memasukkan dua pil yang diekstrak dari teratai jingga ke dalam mulut raja dengan hati-hati.
Permaisuri terbang ke gua tengkorak untuk membuka gua itu dan memerintahkan tiga ratus pemuda dengan wujud seperti zombie. Ketiga ratus pemuda itu berkata merah dan jika pawang mereka membunyikan peluit khusus, maka ketiga ratus pemuda itu langsung berubah menjadi naga hitam yang sangat menakutkan. Ketiga ratus naga hitam itu adalah hasil dari eksperimennya Tabib Alzam dan didanai sepenuhnya oleh permaisuri. Dan di saat keinginannya sudah terpenuhi, permaisuri membunuh Tabib Alzam. Tetapi takdir masih menginginkan Tabib Alzam untuk bertobat untuk itulah takdir memberikan kesempatan kedua bagi Tabib Alzam untuk hidup dan memperbaiki hidupnya menuju ke jalan yang benar.
Permaisuri berkata ke pawang naga hitam itu, "Bawa mereka ke gerbang istana untuk menghadang pasukannya Arya!"
"Baik, Permaisuri!" Sahut pawang naga hitam itu.
Dari arah selatan gerbang istana, Adyaksa memimpin seribu pasukan besutannya untuk bergabung dengan lima ratus pasukan yang dipimpin oleh Jenderal Arya.
Pangeran Adyaksa dan Jenderal Arya duduk di atas punggung kuda mereka masing-masing dengan gagah. Kemudian Jenderal Arya meniup sangkakala dan pangeran Adyaksa berteriak, "Maju!"
Prajurit yang membawa besi panjang pendobrak gerbang langsung berlari maju ke depan dan mendobrak gerbang. Setelah gerbang berhasil didobrak, maka terjadilah perang besar.
Di dalam paviliun raja Abinawa, Tabib Alzam dan ibundanya Kiana, tengah tersenyum lega saat raja akhirnya membuka mata.
"Kalian.........." Raja Abinawa bertanya dengan wajah dan nada lemas.
"Ini Kakeknya Kiana, Tabib Alzam dan saya adalah Kayla, ibundanya Kiana. Apa Anda lupa pada kami berdua, Yang Mulia?"
"Iya, sudah lama sekali aku tidak berjumpa dengan kalian. Terima kasih sudah menyelamatkan aku" Raja berucap sembari mencoba untuk duduk dan tabib Alzam langsung menopang punggung raja dan berkata, "Kita harus segera pergi dari sini sebelum permaisuri datang. Basa-basinya nanti saja"
"Iya, benar. Permaisuri ingin membunuh Anda, Yang Mulia" Sahut ibundanya Kiana.
__ADS_1
"Ah, iya, kita masuk ke dalam ruang rahasiaku saja. Tolong bantu aku" Sahut raja Abinawa.
Tabib Alzam dan ibundanya Kiana langsung memapah raja Abinawa dengan langkah lebar ke rak buku.
Dan tepat di saat pintu ruang rahasianya raja Abinawa menutup rapat, permaisuri masuk ke dalam kamar raja bersama dengan anak buah andalannya. Permaisuri sudah siap dengan panah andalannya karena ia ingin membunuh raja. Tapi, wanita jahat dan licik itu sontak mendelik kaget, "Di mana Yang Mulia Raja? Apa dia pergi ke pondok rahasianya? Tapi, Raja, kan, sakit dan tidak sadarkan diri. Kenapa dia bisa pergi? Sial Apa Adyaksa yang sudah membawa pergi Yang Mulia Raja?"
Permaisuri lalu berbalik badan dan berkata sambil melangkah lebar, "Kita ke pondok rahasianya Yang Mulia Raja. Kita lihat apakah Yang Mulia Raja ada di sana"
"Baik!" Sahut semua anak buah andalannya permaisuri Kenanga dengan kompak.
Kiana membeliak kaget dan langsung duduk tegak di atas ranjang saat ia melihat langit-langit kamar yang tampak asing baginya.
Kiana langsung melompat turun dari atas ranjang dan sontak meringis kesakitan, "Aduh! Kenapa kepalaku pening? Aku di mana sekarang ini?"
"Kau ada di kamarku"
Kiana menoleh kaget ke kiri dan seketika itu juga rasa kening di kepalanya hilang digantikan dengan debaran jantung yang sangat kencang saat ia melihat Adnan tengah duduk di sebuah kursi dan terus menatapnya.
Kiana langsung berlari kencang ke pintu yang berada tidak jauh di depannya. Kiana refleks menggedor pintu dan berteriak histeris, "Buka pintunya! Tolong keluarkan aku dari sini!"
Kiana refleks menginjak kaki Adnan dan menyikut perut Adnan. Adnan terkejut dan sontak melepaskan dekapannya dan di saat Adnan membungkuk kesakitan sambil memegang perutnya, Kiana melarikan diri. Kiana berlari ke jendela dan kembali berteriak histeris, "Tolong!!!!!! Tolong aku!!!!!" Saat ia menemukan dua buah jendela kamar itu pun terkunci.
"Hahahahahaha! Kita sudah menikah, Sayang. Kenapa kau ingin pergi di malam pengantin kita?"
Kiana sontak berbalik badan dan langsung berteriak, "Pernikahan kita tidak sah! Aku sudah menikah dengan Mas Agha dan selamanya milik Mas Agha!! Pria lain tidak ada yang bisa menikahi dan menyentuhku!! Kau dengar itu?!"
"Aku tidak mau mendengar hal yang tidak aku sukai" Adan berucap sembari menyeringai senang dan melangkah pelan mendekati Kiana.
Kiana langsung mengedarkan pandangannya untuk menemukan sesuatu yang bisa ia pakai untuk menyerang Adnan dan Kiana hanya menemukan sebuah vas bunga. Maka dengan cepat, Kiana meraih vas bunga itu dan melemparkannya ke Adnan. Dengan sigap Adnan bisa menghindari lemparan vas bunga itu. Lalu, pria tampan itu terus melangkah pelan mendekati Kiana.
Kiana seketika bergetar ketakutan dan berteriak kencang, "Jangan dekati aku! Hentikan!"
__ADS_1
Namun, Adnan mengabaikan teriakannya Kiana. Pria tampan itu terus melangkah pelan mendekati Kiana dengan seringai bahagia. Dia sangat bahagia akhirnya bisa mendapatkan Kiana.
Kiana kemudian berlari ke samping sambil sesekali menoleh ke Adnan dan berteriak, "Jangan dekati aku! Aku mohon, jangan dekati aku!* Kiana mulai menangis putus asa.
Mas Agha, cepat datang. Cepat temukan aku dan tolong aku, Mas. Aku takut. Aku sangat takut. Batin Kiana sambil terus berlari mengitari kamar setiap kali Adnan melangkah mendekatinya.
Adnan ya berdiri di tengah tertawa senang melihat Kiana berlari ketakutan mengelilinginya. "Hahahahahaha! Kau lucu dan menggemaskan sekali, Kiana. Berhentilah berlari berputar-putar seperti itu! Kau akan kecapekan, Sayang"
"Jangan memanggilku, Sayang! Lancang sekali kau memanggilku, Sayang!" Kiana menyentilkan laju larinya saat Adnan berhenti melangkah dan wanita cantik itu mengusap air mata dengan punggung tangannya.
"Hahahahahaha! Kau adalah Istriku. Kita sudah menikah barusan. Kenapa aku tidak boleh memanggilmu sayang?" Adnan kembali melangkah mendekati Kiana dan Kiana kembali berlari ke samping sambil berteriak di sela isak tangisnya, "Jangan dekati aku! Aku mohon!"
Namun, Adnan mengabaikan Kiana dan akhirnya Adnan berhasil menangkap tangan Kiana. Pria tampan itu kemudian menarik Kiana masuk ke dalam pelukannya.
Kiana tersentak kaget dan refleks mendaratkan lututnya di pusakanya Adnan. Adnan sontak berteriak kesakitan, melepaskan pelukannya, dan membungkuk cukup lama. Perut Adnan terasa sangat mulas.
Kiana memanfaatkan kesempatan itu untuk berlari mengambil pecahan vas bunga lalu mengarahkan pecahan vas bunga itu ke nadi tangan kirinya. "Lebih baik aku mati daripada kau sentuh" Saat Kiana nekat hendak menggoreskan pecahan vas bunga di nadi tangan kirinya, Adnan langsung mengeluarkan ilmu tapak badainya dan berhasil membuang pecahan vas bunga dari tangan Kiana. Lalu, dengan kecepatan kilat Adnan melesat ke depan dan langsung memeluk erat tubuh Kiana dengan kedua lengan kekarnya.
Kiana mencoba meronta dan saat ia sama sekali tidak bisa bergerak, Kiana berkata dengan wajah memelas, "Tolong lepaskan aku!"
"Aku tidak akan pernah melepaskan kamu. Aku melihatmu lebih dulu daripada Agha. Aku mengenalmu lebih dulu daripada Agha, dan aku mencintaimu lebih dulu daripada Agha. Tapi kenapa kau memilih Agha? Apa kurangnya aku? Aku juga gagah dan tampan. Aku juga punya kekayaan bahkan kekayaanku melebihi kekayaannya Agha. Tapi kenapa kau memilih Agha?"
"Karena cinta datang dengan sendirinya dan kita tidak bisa memilih" Sahut Kiana dengan derai air mata. "Tolong lepaskan aku!" Kiana kembali memohon.
Karena terbakar kecemburuan, Adnan nekat mencium bibir Kiana dan menuntut lebih. Lalu, dengan penuh gairah Adnan menciumi wajah cantiknya Kiana. Kiana terus berteriak, "Dasar brengsek! Lepaskan aku!!!!!!"
Namun, Adnan mengabaikan teriakannya Kiana dan di saat Adnan menyusupkan wajahnya di leher Kiana, terdengar suara brak!
Pintu hancur berantakan dan jatuh di lantai. Agha masuk dengan mata menyala merah dan langsung menggeram, "Lepaskan Istriku sekarang juga!"
Kiana menoleh ke arah pintu dan langsung memekik senang, "Mas Agha! Akhirnya Mas datang juga!"
__ADS_1
Adnan langsung mengarahkan Kiana ke depan lalu mendekap Kiana dari arah belakang kemudian dengan cepat ia mengarahkan cakar mautnya di depan leher Kiana sambil berteriak, "Majulah! Kalau kau maju, maka Kiana akan mati. Lebih baik Kiana mati. Dengan begitu adil bagi kita. Tidak ada satu pun dari kita yang bisa memiliki Kiana, hahahahahaha!"
Agha seketika itu juga mematung.