Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Oksigen


__ADS_3

Agha berulangkali menghirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan-pelan. Namun, Agha tetap merasa pusing dan sesak napas.


Akhirnya Agha bangkit berdiri, membungkukkan badan, memegang kedua lututnya, lalu ia bernapas lebih cepat dari biasanya untuk mencoba melepas sesak di dadanya.


Kiana langsung meletakkan piring dan gelas di atas meja yang terbuat dari batu, lalu wanita cantik itu berlari mendekati Agha untuk memeluk kepalanya Agha sambil bertanya, "Mas? Mas, kenapa?"


Agha langsung menegakkan badan lalu memeluk erat tubuh istri kecilnya.


"Badan Mas penuh keringat. Ayo masuk dulu ke dalam. Kiana akan membantu Mas melepas baju, mengelap keringat, dan mengganti bajunya, Mas" Kiana meletakkan tangan Agha di atas bahunya lalu memapah Agha masuk ke dalam pondok.


Setelah selesai menata kamar dan kasur, Ibundanya Kiana keluar dari kamar, wanita cantik itu tersentak kaget saat ia melihat Kiana tengah memapah Agha dan melihat wajah Agha pucat pasi dan penuh keringat, ibundanya Kiana langsung berkata, "Cepat bawa Suami kamu masuk ke kamar. Ibu sudah sediakan kamar ini untuk kalian"


"Baik, Ibu. Terima kasih" Sahut Kiana sambil terus memapah suaminya.


Setelah merebahkan Agha dengan pelan di atas balai-balai dengan alas kain tipis, Kiana melepas baju Agha. Lalu, ia mengelap wajah, bahu, dada, punggung, dan kedua tangan Agha dengan wajah khawatir.


Agha tersenyum lemas dan sambil mengusap lembut pipi istri kecilnya, Agha berkata, "Jangan cemas! Aku tidak apa-apa. Aku cuma kelelahan dan telat makan saja"


Kiana memakaikan baju bersih yang jauh lebih sederhana dari baju yang Agha pakai sebelumnya sambil berkata, "Kalau begitu, Mas rebahan dulu di sini. Kiana tinggal sebentar, ya"


"Mau ke mana? Aku ingin kamu menemaniku terus di sini" Agha langsung menarik lengan Kiana dan dia peluk lengan itu


Kiana tersenyum, lalu ia mengusap rambut suaminya sambil berkata, "Kiana mau masak bubur untuk, Mas. Sebentar saja"


"Nggak mau. Aku nggak mau apa-apa saat inj. Aku hanya ingin tidur ditemani kamu" Agha menarik Kiana ke dalam pelukannya.


Kiana kemudian mengusap lembut dada suaminya, lalu menepuk-nepuk pelan sambil berkata, "Baiklah. Kiana akan temani, Mas, sampai, Mas Agha tidur"


Kiana terus menepuk pelan dada suaminya. sambil menyanyikan lagu yang belum pernah Agha dengar.


Agha mengusap rambut Kiana yang tergerai indah di punggung sambil berkata masih dengan suara lemas, "Kamu punya suara merdu ternyata"


Kiana terkekeh pelan lalu berkata, "Benarkah? Kiana jarang bernyanyi di depan orang. Biasanya Kiana bernyanyi sendiri di dalam hutan"


"Kamu punya suara yang sangat merdu. Lagu yang kamu nyanyikan juga sangat bagus. Kamu dengar lagu itu dari siapa? Aku belum pernah mendengar lagu itu sebelumnya"


"Entahlah. Kiana hanya tahu lagu ini. Mungkin Ibu yang menyanyikan untuk Kiana waktu Kiana masih kecil" Sahut Kiana.

__ADS_1


"Aku suka lagu ini. Aku suka suara merdu kamu. Lain kali kalau aku kesulitan tidur, bernyanyilah lagi untukku, mau, kan?" Agha mencium kening Kiana.


"Tentu saja mau" Kiana kembali bernyanyi setelah Agha menciumi wajahnya dengan penuh cinta.


Agha lalu mendekap Kiana lebih erat sambil berkata, "Kau memang oksigen bagiku, Sayang. Tadi aku mengalami sesak napas tapi pelukan dan nyanyian merdu kamu mampu membuatku bernapas lega kembali"


Kiana mencium pipi suaminya dan tersenyum penuh cinta lalu ia melanjutkan nyanyiannya sambil terus menepuk-nepuk pelan dada bidang suaminya.


Dan tidak begitu lama kemudian terdengar dengkuran halus.


Kiana menarik dirinya dengan pelan dari dalam dekapan suaminya. Lalu, ia bangkit berdiri, menyelimuti suaminya, dan setelah mencium kening suaminya, Kiana melangkah pelan meninggalkan kamar.


Kiana menemukan ibundanya tengah duduk di samping kakeknya yang masih belum sadarkan diri.


"Agha sudah tidur?"


"Sudah, Ibu. Kiana akan membuat ramuan untuk Kakek di dapur dan semoga dengan ramuan yang Kiana bikin nanti, Kakek bisa sadar"


"Iya. Ibu akan jaga Kakek kamu dengan tusuk jarum Kalau ada bahan yang kurang kamu bisa langsung kasih tahu Ibu. Ibu akan carikan"


"Baik, Ibu" Sahut Kiana. Setelah menekuk lututnya di depan ibundanya, Kiana berlari kecil ke dapur.


Lima puluh lima menit kemudian, Kiana duduk di samping kakeknya dan memberikan ramuannya ke kakek lewat sedotan plastik. Setelah semua ramuannya berhasil masuk ke dalam tubuh kakeknya, Kiana dan ibundanya Kiana menunggu reaksi dari ramuan itu.


Kiana dan ibundanya saling pandang dengan wajah ceria saat mereka melihat tangan kakeknya Kiana bergerak pelan.


"Kakek sadar, Ibu"


"Belum tapi hampir. Ramuan kamu manjur berarti"


"Tapi, rumput merahnya habis, Ibu. Mencari rumput itu di mana? Biar Kiana yang mencarinya.


"Jangan! Rumput itu sulit untuk dicari. Biar Ibu yang mencarinya. Kamu jaga Kakek kamu dan kamu juga perlu menjaga Suami kamu yang sedang sakit, kan?"


"Iya, Ibu. Baiklah. Tapi, Ibu harus berhati-hati"


"Iya. Pasti" Ibunya Kiana memeluk dan mencium pipi putrinya lalu wanita cantik itu melesat keluar dari pondok.

__ADS_1


Kiana kemudian melangkah ke kamar sambil bergumam, "Aku akan bawa bubur ini ke kamar sebelum dingin dan membangunkan Mas Agha untuk makan bubur dan makan obat"


Kiana duduk di tepi balai-balai tepat di saat Agha membuka mata.


Kiana membantu Agha duduk dan Agha langsung meletakkan kepalanya di pangkuan Kiana sambil berkata, "Suapi aku seperti ini"


"Mana bisa, Mas? Nanti tumpah semua buburnya"


"Kalau begitu aku makan sendiri saja" Agha bangun dan Kiana langsung menyahut, "Iya, baiklah. Makan samb rebahan di pahaku aja kalau begitu"


Agha langung tersenyum lebar dan membuka mulutnya. Dan di sela-sela aktivitasnya makannya, tangan Agha mulai jahil.


Plak! Kiana menepis pelan tangan Agha dari dadanya sambil berkata, "Mas, makan dulu"


"Aku kangen sama kamu, Sayang" Sahut Agha.


"Tapi, habiskan dulu makannnya"


"Kalau sudah habis, aku boleh lakukan apapun?"


Kiana hanya bisa mengangguk pelan dan merona malu.


Agha langsung bangun, duduk tegak, dan mengambil mangkuk dari tangan Kiana, kemudian dia tenggak habis buburnya tak bersisa. Agha lalu membalik mangkuk sambil berkata, "Sudah habis"


Kiana langsung berkata, "Dasar"


Agha lalu meletakkan mangkuk di atas balai-balai dengan tidak sabar kemudian melompat turun dan langsung membopong Kiana.


"Kyaaa! Mas mau bawa Kiana ke mana?"


Agha melesat keluar lewat jendela sambil membopong Kiana dan berkata, "Mandi. Aku kegerahan dan pengen mandi sama kamu"


Agha bertelanjang dada dan Kiana memakai pakaian dalam berbentuk dress tipis. Lalu, Agha menggandeng tangan Kiana untuk ia ajak masuk istri kecilnya itu ke dalam air danau yang sangat jernih.


Agha kemudian duduk di atas sebuah batu besar dan Kiana berdiri di bawah Agha. Agha memijat kepala Kiana, lalu menggosok punggung Kiana dan sesekali mendaratkan ciuman di pundak Kiana. Saat Agha nekat menciumi lehernya tanpa jeda, Kiana mengerang frustasi, "Mas! Kalau ada yang lihat gimana?"


"Nggak akan ada yang lihat. Semuanya sibuk dengan urusan mereka sendiri. Ibunda tengah mencari bahan herbal, kan? Kembalinya masih lama" Agha lalu menarik dagu Kiana dengan lembut dan saat Kiana menoleh ke belakang, Agha langsung memagut bibir Kiana dengan penuh damba.

__ADS_1


Agha seketika lupa akan tabib kejam yang ada di dalam pondok.


__ADS_2