
Sesampainya di dalam kamar almarhum ibundanya Kiana, Kiana langsung menutup pintu lalu berputar pelan.
Agha langsung menarik tangan Kiana sampai gadis itu jatuh terduduk di atas pangkuannya.
Kiana terlonjak kaget dan refleks berteriak, "Yang Mulia!" Sambil bangkit berdiri.
Agha kembali menarik Kiana dan menahan paha Kiana dengan tangan kanan, lengan kiri melingkar di pinggang ramping Kiana, dan kedua bola mata hitamnya menatap lekat kedua bola mata jernih istri kecilnya.
"Yang Mulia, ke......kenapa menarik saya ke pangkuan Anda? Ijinkan saya berdiri, Yang Mulia. Saya berat, kan?"
Agha menggeleng pelan sambil berkata dengan suara serak menahan gairah, "Kamu seringan kapas"
Apa?! Seringan kapas? Bohong banget. Mana ada orang yang seringan kapas. Batin Kiana kesal.
Agha kemudian berdeham untuk mengusir fantasi liar yang kembali menyusul ke otaknya. Dia harus kembali fokus ke kesehatannya Kiana karena untuk itulah ia bergegas menyusul Kiana ke kediaman tabib Danur.
Agha langsung menyentuh perut rampingnya Kiana sambil bertanya, "Perut kamu nggak sakit?"
Kiana terlonjak kaget dan sontak memundurkan badannya.
Agha menahan punggung Kiana agar gadis itu tidak terjatuh sambil berkata, "Jangan banyak gerak! Kau adalah Istriku. Aku berhak atas semua anggota tubuhmu. Aku juga berhak atas perut ini" Agha mengusap pelan perut Kiana dan seketika itu Kiana menahan napas dengan debaran jantung abnormal.
Agha terus mengusap pelan perut rata istri cantiknya dan terus menatap lekat mata indah yang dibingkai kelopak mata berbulu naya lentik, "Apa terasa sakit?"
Kiana hanya mampu menggeleng pelan.
Agha kemudian menggelungkan kedua lengannya di pinggang ramping Kiana dan berkata, "Syukurlah kalau perut kamu tidak sakit. Kenapa kau tidak mengeluh pas makan cakue gosong bikinanku? Aku sudah cicipi cakuenya. Rasanya pahit dan susah untuk dikunyah"
Kiana mengerjap sebanyak tiga kali kemudian menyahut, "Karena cakue itu bikinan Anda. Anda baru pertama kali masuk ke dapur. Saya ingin menghargai kebaikan Anda, Yang Mulia"
"Kenapa kau tidak ijinkan aku ikut makan cakuenya bersama denganmu?" Agha berucap sembari menarik pelan pinggang ramping Kiana sampai tubuh Kiana menempel di tubuhnya.
Jantung mereka menempel dan saling beradu kencang.
"Ka......karena Anda tidak layak makan makanan gosong dan sudah untuk dikunyah"
"Kamu juga tidak layak memakan makanan itu" Agha menggeram kesal.
"Ta........tapi, saya sudah terbiasa makan makanan ridak enak, Yang Mulia" Kiana menyahut cepat tanpa berpikir panjang dan ia keceplosan berkata seperti itu.
"Sial! Apa perlakuan Ibu tiri kamu seburuk itu, hah?! Dia sering kasih makanan tidak enak ke kamu? Aku akan menghukum dia saat ini juga"
__ADS_1
"Tidak" Kiana refleks membungkam mulut Agha dengan tangannya dan Agha mendelik kaget.
Kiana langsung menarik tangannya dan berkata, "Maafkan saya, Yang Mulia. Emm, Ibu tidak pernah ....."
"Jangan bohong! Kalau kamu bohong aku akan menghukum ibu tiri kamu dengan sangat kejam saat ini juga"
"Tidak! Jangan, Yang Mulia. Saya tidak keberatan makan makanan tidak enak di kediaman ini. Paling nggak Ibu saya masih ingat memberikan saya makanan dan minuman tiga kali sehari meskipun tidak enak. Jadi, jangan hukum Ibu saya, Yang Mulia"
"Dia ibu tiri kamu dan sangat jahat sama kamu. Kenapa kamu menyebutnya Ibu?"
"Karena sejahat apapun dia, dia tetap Istri Ayah saya. Untuk itulah saya sering kabur ke hutan untuk menenangkan hati saya karena saya tidak ingin membenci dan mendendam" Sahut Kiana.
Agha mengusap lembut pipi Kiana dan berkata, "Kenapa kau sebaik ini? Apa kau tahu kalau akhir-akhir ini hatiku sering terasa gatal dan seolah-olah ada sesuatu yang ingin keluar dari dalam hatiku"
Kiana refleks menyentuh dada Agha dan bertanya dengan nada khawatir yang berlebihan, "Hah?! Bagian mana yang terasa gatal dan seolah-olah ada sesuatu yang ingin kekar, Yang Mulia"
"Tepat di bagian yang kau sentuh saat ini" Sahut Agha dengan suara serak menahan gairah.
"A.....apakah sa....saya boleh membuka baju Anda untuk melihat dada Anda? Sa......saya hanya ingin memeriksanya dan ......"
"Boleh. Kamu bilang, kan, seorang tabib tidak melihat pria atau wanita. Dia hanya akan melihat luka. Kenapa kamu segugup ini?" Agha mengulum bibir menahan geli.
"Oh, jadi begitu, ya. Apa kau mau melakukannya saat ini juga? Baru kau bisa memeriksa dadaku?" Agha kembali mengulum bibir menahan geli.
Kiana sontak menarik tangannya dan menatap Agha dengan wajah yang terasa semakin panas.
Agha langsung bertanya,"Kenapa telinga kamu merah dan dada kamu berdegup kencang?"
Kiana sontak bangkit berdiri dan berlari sangat kencang meninggalkan Agha.
Agha tercengang sejenak melihat tingkah Kiana dan di saat Kiana sudah menghilang dari pandangannya, pria gagah dan tampan itu langsung tergelak geli tiada henti.
Agha kemudian bangkit berdiri dan mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar. Kemudian dia melangkah keluar dan berjalan pelan mengikuti arah larinya Kiana. Agha kembali tergelak geli saat ia masih bisa melihat Kiana lari tunggang langgang dan hampir menabrak seorang pelayan.
"Kenapa dia bisa imut banget seperti itu dan bikin aku gemas" Gumam Agha sambil terus melangkah pelan mengikuti arah larinya Kiana.
Agha menghentikan langkahnya saat ia melihat sebuah pintu terbuka dan Agha langsung tersenyum lebar melihat Kendra muncul dari balik pintu itu.
Agha menoleh kaget ke arah kanan dan langsung berlari untuk memeluk Agha sambil berteriak kencang, "Kak Agha!"
Agha langsung menyambar tubuh Kendra untuk ia gendong dan meneruskan langkahnya sambil bertanya, "Kenapa keluar dari dalam kamar?"
__ADS_1
"Saya mendengar ada yang berlari sangat kencang. Saya penasaran, Kak. Makanya saya keluar dari dalam kamar. Apa Kak Kiana yang berlari sangat kencang barusan?" Ucap Kendra.
Agha terkekeh geli dan berkata, "Kok, tebakan kamu bisa tepat sekali. Apa Kak Kiana kamu sering berlari kencang?"
"Iya. Kak Kiana hobi berlari kencang dan memanjat dinding" Sahut Kendra.
Agha kembali terkekeh geli dan berkata, "Jangan kamu tiru hobi jelek Kak Kiana kamu, itu, ya?!"
"Iya. Saya tahu. Saya tidak akan menirunya karena saya tidak akan bisa menjadi pelari hebat dan pemanjat tebing unggul seperti Kak Kiana, hehehehehe" Sahut Kendra dengan senyum polosnya.
Agha sontak tertawa lepas,"Hahahaha" Lalu, Agha menoel pucuk hidung Kendra sambil berkata, "Anak pintar"
"Kiana, berhenti!" Jerit tabib Danur saat ia melihat putri kesayangannya berlari kencang melintas di depannya.
Kiana menghentikan laju larinya saat ia mendengar ayahandanya menyuruhnya berhenti. Kiana kemudian memutar badannya dengan perlahan dan diam mematung saat ia berhadapan dengan ayahandanya.
Tabib Danur mendengus kesal dan menatap Kiana dengan wajah datar dan sorot mata dingin seperti biasanya. "Kenapa kau masih belum menghilangkan kebiasaan buruk kamu berlarian di dalam rumah, hah?! Kau ini seorang wanita dan kau sudah menikah saat ini"
Kiana menatap wajah tampan ayahandanya yang sudah sedikit menua dengan wajah sedih, lalu menyahut dengan sopan, "Maafkan saya, Ayah"
"Kenapa kau menghilangkan bisul di wajah kamu?"
Kiana terkejut mendengar pertanyaan itu muncul dari mulut ayah kandungnya. Mana ada di dunia ini seorang Ayah mengharapkan wajah anak gadisnya penuh bisul.
"Kau lebih pantas bisulan di wajah. Kau lebih pantas bisulan di wajah, kau dengar itu?! Kenapa kau justru hilangkan bisul itu, hah?!" Tabib Danur berkata dengan nada tinggi dan wajah penuh amarah.
"Ayah kenapa tega berkata seperti itu?" Air mata mulai mengucur deras di wajah cantik Kiana.
"Lalu, apakah kau juga sudah mendapatkan semua ingatan kamu?"
"Apa maksud Ayah?"
Sepertinya ia belum mendapatkan semua ingatannya. Sejak ia berkata melihat seorang anak remaja mandi di danau di tengah hutan dan anak remaja itu memiliki tanda lahir berupa burung merpati di pantat, aku kasih dia obat penghilang ingatan. Aku tidak ingin dia ditangkap dan dibunuh kalau sampai ia menyebarkan soal tanda lahir itu. Karena aku yang ikut tim tabib yang membantu kelahiran mendiang ratu, melihat kalau putra mahkota yang asli memiliki tanda lahir berupa burung merpati di pantat. Aku memilih bungkam karena aku masih sangat muda saat itu dan aku terus bungkam sampai saat ini. Batin tabib Danur.
Aku juga membuat wajahnya penuh bisul karena ia tumbuh menjadi gadis yang sangat cerdas dan sangat cantik. Aku tidak ingin dia dilirik kaum bangsawan dan dilirik kaum istana. Aku ingin dia menikah dengan orang biasa saja. Namun, siapa sangka dia malah menikah dengan Jenderal besar. Batin tabib Danur.
Melihat ayahandanya hanya diam membisu dan mematung di depannya. Kiana mengusap air mata yang masih deras mengucur sambil berbalik badan dengan cepat meninggalkan ayahandanya.
"Maafkan ayah, Kiana. Ayah sesungguhnya sangat menyayangi kamu" Gumam tabib Gunadi sambil menatap punggung putri cantiknya dan tanpa tabib Danur sadari air mata menetes jatuh di kedua pipinya.
Kiana melangkah lebar menuju ke teras belakang untuk duduk di atas bangku yang ada di teras belakang. Ia meredakan letupan amarah, rasa kecewa, dan kesedihan yang bercampur aduk di dalam hatinya sambil beberapa kali mengusap air mata yang masih deras mengucur di wajah cantiknya, di sana.
__ADS_1