Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Syukurlah


__ADS_3

Setelah Bora, Agni, dan Kiana duduk melingkarinya, Agha menggenggam tangan Kiana yang ada di bawah meja dan setelah tersenyum penuh cinta ke istri kecilnya, Agha bercerita panjang dan lebar.


"Wah, Kak Kiana hebat sekali bisa membuat Kak Agha sembuh dari hilang ingatan dan bisa membuat Kak Agha mengendalikan kekuatan naga hitam yang ada pada diri Kak Agha" Sahut Agni di akhir cerita panjangnya Agha.


Bora langsung bangkit berdiri lalu membungkukkan diri di depan Kiana dan berkata, "Terima kasih banyak, Nyonya muda. Anda sudah menjaga Yang Mulia Agha dengan sangat baik"


Kiana ikutan bangkit berdiri dan Agha pun menyusul bangkit berdiri.


Kiana berkata, "Semua bukan karena hebatku, Bora, Agni. Semua hanya karena cinta" Kiana menoleh ke suaminya dengan senyum penuh cinta.


Agha lalu mencium kening Kiana lalu menoleh ke Bora dan Agni, "Aku memang beruntung bisa memiliki Kiana. Tanpa Kiana entahlah apa yang akan terjadi padaku"


"Mas, jangan bilang begitu! Kiana juga nggak tahu apa yang akan terjadi pada Kiana kalau nggak ada, Mas. Suami dan istri memang harus saling menjaga dan melengkapi, kan?"


Agha menoleh ke Kiana dan kembali mendaratkan ciuman di kening Kiana dengan senyum penuh cinta.


Agni bangkit berdiri dengan pelan lalu ia menatap wajah kakaknya.


Agni yang paham betul kalau kakaknya ridak begitu suka dipeluk hanya memandangi wajah tampan kakaknya dengan rasa bahagia bercampur haru lalu berkata, "Aku sangat senang melihat Kakak dan Kak Kiana pulang dalam keadaan selamat"


Mendengar adik perempuannya berkata dengan suara bergetar, Agha langsung merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan berkata, "Sini aku peluk kamu!"


Agni tersentak kaget dan langsung menoleh ke Kiana.


Kiana tersenyum penuh sayang ke Agni lalu menganggukkan kepalanya.


Agni langsung berlari ke pelukan kakaknya dan menumpahkan tangis bahagianya di sana. Agha hanya menepuk satu kali punggung Agni dan berkata, "Sudah jangan menangis lagi!"


Bora tersenyum dan Kiana ikutan menitikkan air mata bahagia.


Agni kemudian melepaskan diri dari pelukan kakaknya untuk berkata, "Ibunda diculik"


"Apa?!" Agha langsung berteriak dan tanpa sadar ia mencengkeram kedua bahu Agni dengan keras.


Agni meringis dan Agha langsung menarik tangannya dari bahu Agni sambil berkata, "Maaf! Tapi bagaimana bisa Ibunda diculik?"


"Itu karena Ibunda sering keluar diam-diam untuk pergi ke tempat Kaka Agha dan Kak Kiana hilang. Ibunda sangat merindukan Kakak dan Kak Kiana" Sahut Agni.


"Aku? Ibunda merindukan aku?" Tanya Kiana.


Agni menoleh ke Kiana dan berkata, "Iya, Kak. Ibunda sering menceritakan kebaikan Kak Kiana ke para pelayan di kediaman ini dan berkata ke para pelayan kalau Ibunda ingin sekali melihat Kak Kiana dan memeluk Kak Kiana untuk mengucapkan kata maaf dan......."


"Nyonya besar ingin mengatakan kalau beliau sudah menyayangi Anda, Nyonya muda" Sahut Bibi Sum yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya Agha sambil membawa minuman hangat dan camilan ringan.


Setelah Bibi Sum meletakkan nampan berisi minuman hangat dan camilan ringan di meja, Kiana langsung memeluk bibi Sum dari arah belakang dan berkata, "Bi, Kiana sangat merindukan Bibi"


Bibi Sum langsung berbalik badan dan memeluk Kiana dengan air mata haru sambil berkata, "Bibi juga sangat merindukan Nyonya muda. Bibi selalu berdoa memohon keselamatan Nyonya muda dan Yang Mulia Agha. Bibi sangat bersyukur Yang Mulia Agha dan Nyonya muda pulang dalam keadaan selamat tidak kurang suatu apapun"


Agha, Bora, dan Agni melihat Bibi Sum dan Kiana dengan senyum bahagia.


Setelah Kiana dan Bibi Sum saling melepaskan pelukan, Agha berkata, "Aku akan mencari keberadaan Ibunda sekarang juga!"


"Aku ikut, Mas" Sahut Kiana.

__ADS_1


"Nggak! Ini sudah malam dan kamu pasti capek telah melakukan perjalanan panjang. kamu di rumah saja!" Sahut Agha sambil mengusap pucuk kepalanya Kiana.


Sebelum Agni mengeluarkan suara untuk ikut, Agha langung menoleh ke Agni dan berkata, "Jaga Kiana! Kamu juga tinggal di sini jaga Kiana!" Agha lalu menoleh ke Bora dengan cepat.


"Tapi, Yang Mulia, ini sudah larut malam dan ........"


"Aku sudah terbiasa melakukan pencarian di larut malam, Bora. Kau lupa itu" Ujar Agha sambil mendaratkan ciuman di kening Kiana.


Bora hanya bisa menghela napas panjang lalu berkata, "Baiklah Yang Mulia. Tapi Anda harus berhati-hati"


"Baiklah" Sahut Agha sambil menepuk pundak Bora.


Bora menahan lengan Agha sambil berkata, "Maaf saya menahan langkah Anda. Tapi tadi di hutan saya menemukan ini, Yang Mulia" Bora merogoh sesuatu dari balik bajunya lalu menyerahkan sebuah gelang giok ke Agha.


Agha menunduk tanpa mengambil gelang giok itu dari tangan Bora, "Ini gelang wanita? Apa ini gelang Ibunda?" Tanya Agha.


"Bukan, Kak. Itu gelang Rani" Sahut Agni.


"Gelangnya Rani?" Tanya Agha sambil menoleh ke Agni.


"Iya, Yang Mulia. Ini gelang Non Rani" Sahut Bora.


Agha menoleh ke Bora dan berkata, "Kau simpan dulu gelang ini. Aku akan pergi mencari Ibunda"


Agha langsung melesat keluar dan setelah ia berada di tengah tanah lapang yang sepi, Agha berubah wujud menjadi naga hitam dan terbang ke angkasa luas. Dalam wujud naga hitam, Agha bisa melihat dan mendengar lebih jelas.


Setelah Agha meleset keluar, Maharani berlari tergopoh-gopoh masuk ke kamarnya Agha lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamarmya Agha sambil bertanya, "Di mana Kak Agha?"


"Hei! Kenapa kau baik-baik saja, hah?! Harusnya kau lenyap dari muka bumi ini" Maharani menunjuk Kiana dengan wajah penuh kecemburuan.


Kiana hanya menghela napas panjang menanggapi ocehan nggak jelasnya Maharani.


Agni langsung menyeret Maharani keluar dari dalam kamarnya Agha sambil berkata, "Jangan ganggu kakak iparku! Kalau kau berani menganggu kakak iparku, aku tidak segan mematahkan lengan kamu saat ini juga. Keluar dan kembalilah ke kamar kamu!"


Dengan kesal Maharani berbalik badan dan kembali ke kamarnya sambil bergumam, "Kenapa Kak Agha ridak mencariku? Padahal aku sudah sangat merindukannya. Tapi nggak papa. Sebentar lagi aku, toh, akan menikah dengan Kak Agha"


Setelah beberapa jam terbang melintasi beberapa hutan, Agha berhasil menangkap keberadaan ibundanya yang tengah melongok di balik pintu sebuah pondok. Dengan cepat Agha menukik ke tanah lapang yang berada tidak jauh dari pondok itu dan langsung berubah dalam wujud manusia. Agha lalu melesat ke arah barat dengan ilmu meringankan tubuhnya untuk menyelamatkan ibundanya.


Pimpinan gerombolan yang menculik ibundanya Agha Caraka telah pulang ke rumahnya saat Agha Caraka berdiri tegak di depan gerombolan yang telah lancang menculik ibundanya.


Ibundanya Agha yang masih melongok di balik pintu pondok langsung semringah melihat putra tersayangnya datang untuk menyelamatkannya.


Gerombolan penjahat yang tengah menikmati minuman dan makanan di depan api unggun sontak bangkit berdiri secara bersamaan dan berteriak, "Siapa kau!"


"Berani benar kalian menculik Ibundaku, cih!" Agha menggeram dengan sorot mata mematikan.


Hanya butuh waktu lima menit Agha melumpuhkan semua gerombolan penjahat itu dan Agha menyisakan satu orang sebelum orang itu pingsan, "Apa kau tahu soal gelang giok? Kalau kau katakan aku akan mengampuni kamu"


"I......itu milik keluarga pimpinan kami. Ka.....kalau Anda ingin tahu lebih banyak. Da....datang saja ke pasar di sisi timur hutan ini di toko aksesoris Arkana. To.....toko itu milik keluarga dari pimpinan kami"


"Baiklah. Sekarang tidurlah dulu. Aku akan menyelamatkan Ibundaku dulu" Agha lalu membuat pingsan orang itu.


Melihat Agha telah berhasil meluluhkan semua penjahat yang menculiknya, Ibundanya Agha langsung membuka pintu pondok selebar-lebarnya dan berlari ke putranya.

__ADS_1


Ibundanya Agha akhirnya jatuh pingsan di dalam pelukan putra tersayangnya.


Agha memeluk ibundanya sambil melepaskan kode asap ke angkasa luas.


Bora yang melihat kode asap itu langsung memimpin anak buahnya menuju ke kode asap itu.


Agha terus memeluk Ibundanya sambil menunggu anak buahnya datang.


Setelah menyembunyikan ibundanya di tempat yang sangat aman, Agha kembali ke kediamannya.


Dia tersenyum saat ia melihat Kiana masih terjaga dan tengah duduk di tepi ranjang.


"Kau belum tidur?" Tanya Agha dengan senyum penuh cinta.


Kiana langung bangkit berdiri dan berlari ke suaminya untuk membangun suaminya berganti baju sambil berkata, "Aku tidak bisa tidur sebelum melihat Mas pulang dengan selamat"


Agha mencium kening Kiana dan berkata, "Terima kasih sudah mencintaiku sebesar ini"


Kiana tersenyum malu dan setelah selesai memakainya baju tidur ke suaminya, Kiana mengelus dada suaminya dan bertanya, "Ibunda bagaimana, Mas?"


Agha lalu membopong Kiana ke tempat tidur, merebahkan Kiana di tempat tidur lalu memeluk Kiana sambil berkata, "Tidurlah! Aku akan ceritakan besok. Yang Pasti Ibunda sudah aman saat ini"


"Syukurlah" Kiana tersenyum penuh syukur mertuanya sudah aman. Kiana lalu jatuh ke alam mimpi di dalam pelukan hangat suaminya


Keesokan harinya, Agha mengajak Kiana keluar pagi sebelum sarapan. Agha terus menggandeng tangan Kiana dan mereka berdua sesekali saling pandang dengan senyum penuh cinta sambil berjalan pelan di tengah pasar yang masih sepi.


Namun, beberapa menit kemudian tanpa Agha sangka-sangka dan entah datang darimana puluhan orang tiba-tiba memenuhi pasar.


"Mas, kenapa tangan Kiana dilepas?" Kiana menoleh kaget ke Agha.


Agha menyahut, "Ada banyak orang," tanpa.menhentikan langkah pendeknya dan tanpa menoleh ke Kiana.


Kiana berlari kecil agar bisa mensejajari langkah suaminya. Kiana berjalan pelan karena kakinya Kiana kecil dan pendek sambil merengut karena sejujurnya dia masih ingin berjalan dengan Agha sambil bergandengan tangan.


Agha melirik dan langsung memperlambat langkahnya agar bisa mengimbangi langkah kaki kecilnya Kiana.


Kiana melirik tangan suaminya. Dia ingin tangan suaminya kembali menggenggam tangannya, namun suaminya justru bersedekap.


"Kok, malah bersedekap. Kalau nggak suka menggandeng tangan di keramaian, kok, malah ngajak ke sini" Gumam Kiana.


Agha yang memiliki pendengaran sangat tajam langsung menghentikan langkah kakinya.


Kiana ikutan menghentikan langkah kakinya sambil bertanya, "Ada apa, Mas?"


Agha langsung menggenggam tangan Kiana dan mengajak Kiana melangkah kembali sambil berkata, "Kau memang telah banyak merubahku, Kiana"


Kiana menatap wajah suaminya dari arah samping dan berkata, "Mas juga sudah banyak merubah Kiana"


Agha menoleh ke Kiana dan memberikan senyuman penuh cinta.


"Mas akan cari apa di pasar ini?" Tanya Kiana.


"Aku akan tanya soal gelang giok yang ditemukan Bora. Karena dari salah satu orang yang menculik Ibunda, gelang giok ini berasal dari pasar ini" Bisik Agha di telinga kIana.

__ADS_1


__ADS_2