Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Mengajar


__ADS_3

"Ayo tanyakan apa aja ke aku, kok, malah bengong" Agha berucap sembari menyibak pelan rambut panjang indahnya Kiana yang jatuh di pundak ke belakang.


Kiana melirik tangan Agha menjumput rambutnya dan memainkannya.


Agha mencium rambut Kiana yang ada di antara jari jemarinya sembari berkata, "Tanyakan sesuatu atau aku akan membungkam bibir kamu dengan bibirku saat ini juga"


Kiana refleks memundurkan wajahnya karena kaget dan segera mengajukan pertanyaan, "Berapa umur Anda, Yang Mulia?"


Kenapa aku menanyakan umur? Apa Yang Mulia akan tersinggung? Batin kIana sembari menatap wajah Agha dengan harap-harap cemas.


Agha tersenyum tipis dan menjawab dengan masih memainkan rambut Kiana di jari jemarinya, "Umurku dua puluh lima"


"Anda tidak tersinggung saya bertanya soal umur, Yang Mulia?"


Agha hanya menggelengkan kepala sembari mencium kembali rambut Kiana yang masih ada di jari jemarinya. Agha kemudian berkata, "Tanyakan lagi! Soal yang lain"


Kiana melihat suaminya mendekat dan mencium keningnya. Kiana seketika mematung dan hatinya berdesir hangat.


"Tanyakan lagi yang lainnya" Agha mengulangi lagi ucapannya.


Kiana berdeham lirih untuk mengusir rasa canggung setelah Agha mencium keningnya, "Apa makanan kesukaan Anda, Yang Mulia?"


"Aku tidak pilih-pilih dalam makanan karena aku sudah terbiasa makan apa adanya di barak, di kemah, ataupun di kamp. Tapi, sejujurnya aku suka makan kue kukus yang manis. Semua aneka kue kukus yang manis aku suka. Kayak bakpao bikinan kamu tadi. Aku suka dan aku rasa aku menyukai semua masakan kamu" Agha menatap lekat kedua bola mata Kiana yang dibingkai kelopak mata berbulu lentik dengan sendu.


Kiana seketika merona malu dan refleks berkata, "Jangan menatap saya seperti itu, Yang Mulia!"


"Kamu istriku. Kenapa aku tidak boleh menatap kamu?"


"Karena, sa...... saya malu"


"Kenapa harus malu? Kau memiliki wajah putih bening seperti kristal dan sangat cantik. Kau layak untuk dipandang dan dikagumi"


Wajah Kiana semakin merona malu dan Agha tersenyum senang melihat wajah Kiana yang merona malu.

__ADS_1


"Tanyakan lagi yang ingin kamu ketahui soal aku! Jangan takut dan jangan sungkan. Aku ini Suami kamu dan kamu berhak tahu lebih banyak tentang aku"


Dan Anda tidak ingin tahu soal saya, Yang Mulia? Kenapa Anda ridak balik nanya soal saya? Batin Kiana kesal dan tanpa Kiana sadari ia mengerucutkan bibir di depan Agha.


Agha nekat mengecup bibir Kiana.


Kiana sontak memundurkan wajahnya dan berkata, "Yang Mulia! Ka.....katanya Anda tidak akan. melajukan apapun malam ini. Tapi kenapa Anda mengecup bibir saya, Yang Mulia"


Agha tersenyum lalu berkata, "Kau merona malu dan mengerucutkan bibir di depanku, bukankah itu tanda kalau kau ingin aku cium?"


"Hah?! Mana ada sa.......saya seperti itu?" Kiana langsung menutup mulutnya dengan rona malu dan Agha tergelak geli.


"Tanyakan lagi hal yang lainnya sebelum aku ketiduran. Aku ngantuk banget"


"Itu pengaruh obat rebusan saya, Yang Mulia. Biar Anda bisa beristirahat dan kuka di punggung Anda cepat sembuh. Syukurlah luka di punggung Anda tidak dalam dan tiap perlu dijahit dan Anda tidak mengalami demam"


"Hmm dan aku .........zzzzzzzzzz" Kepala Agha terjatuh di atas bantal dan pria tampan itu langsung tertidur pulas sebelum Kiana sempat meluncurkan pertanyaan.


Kiana tersenyum melihat wajah Agha. Ia kemudian menarik selimut dan menyelimuti suaminya dengan perlahan agar tidak mengenai luka di punggung Agha kemudian ia kembali menatap wajah tampan suaminya dan berbisik lirih, "Selamat tidur, Yang Mulia. Terima kasih atas kebaikan Anda hari ini, Yang Mulia" Kiana kemudian menarik selimutnya sendiri dan tidur terlentang.


Agha bangun, duduk di tepi ranjang dan mencoba memutar pundak kanan, "Sudah nggak sakit sama sekali. Kiana memang tabib yang sangat hebat. Sekarang di mana dia?" Agha bergegas memakai sepatunya dan langsung bangkit berdiri untuk melangkah lebar mencari istri kecilnya.


Agha menghentikan langkahnya saat ia melihat orang pelayan membawa baskom mendekatinya. "Di mana Istriku?"


"Nona muda kami pergi ke kelasnya"


"Kelasnya?"


"Iya, Nona muda kami mengajar anak-anak kurang mampu yang ada di sekitar kediaman ini"


"Di mana kelas itu?"


"Di belakang tembok halaman belakang. Ada pintu kecil di sana dan ......"

__ADS_1


Sebelum pelayan itu menyelesaikan ucapannya, Agha sudah berbalik badan dan pergi.


"Yang Mulia! Saya bawakan air mawar untuk membasuh wajah Anda. Yang Mulia!" Teriak pelayan itu. Namun, Agha mengabaikannya. Agha justru berlari meninggalkan pelayan itu karena ia ingin segera melihat istri kecilnya.


Agha akhirnya sampai di halaman belakang kediaman tabib Danur dan dia segera menyusuri tembok sampai menemukan sebuah pintu kecil. Kalau Kiana yang melewati pintu itu, Kiana tidak perlu membungkukkan pintu. Tetapi Agha harus membungkukan badan.


Agha berjalan sejauh sebelas meter, dia sudah bisa mendengarkan suara Kiana. Agha meneruskan langkahnya sejauh dua mete dan akhirnya ia mengentikan langkahnya di depan sebuah gubuk sederhana tak berpintu. Dia melihat ada dua puluh anak duduk di atas tikar dan anak-anak itu tengah fokus memperhatikan Kiana.


Melihat Kiana mengajar anak-anak miskin yang ada di sekitar kediaman tabib Danur dengan penuh kelembutan dan kesabaran, membuat rasa cinta dan rasa kagum di hati Agha Caraka semakin merekah hangat dan bertumbuh semakin indah,.serta mulai mengakar semakin kuat.


Aku rasa aku makin cinta dan kamu sama kamu, Istri kecilku. Batin Agha dengan mengulas senyum penuh cinta berbalut kekaguman.


Agha lalu menyentuh dadanya dan bergumam, "Jantungku berdebar-debar lagi dan aku sadar kali ini. Jantungku berdebar-debar karena Kiana. Jantungku hanya berdebar-debar seperti ini kalau aku memikirkan Kiana dan berada di dekat Kiana. Aku sangat mencintai kamu, Kiana" Agha berucap sembari mengelus-elus dadanya dan terus menatap Kiana.


Agha kemudian melangkah masuk dengan pelan, lalu membuka sepatunya dan duduk di barisan paling belakang di sebelah anak perempuan kecil.


Anak perempuan kecil dengan rambut ikal dikucir dua itu menoleh kaget ke Agha dan menatap Agha dengan penuh tanda tanya.


Agha tersenyum ke anak itu lalu ia menundukkan wajahnya untuk berbisik, "Jangan takut! Aku suaminya ibu guru kamu. Aku bukan orang jahat dan aku mau ikut belajar sama kamu, boleh, kan?"


Anak perempuan itu tersenyum lebar lalu berbisik ke Agha, "Boleh"


Agha kembali tersenyum ke anak itu dan kembali berbisik, "Terima kasih"


Anak kecil perempuan itu masih tersenyum lebar ke Agha karena ia tengah mengagumi wajah pria di sebelahnya.


Kakak ini sangat tampan dan gagah. Batin anak kecil perempuan itu tanpa melepaskan tatapannya dari Agha.


Tiba-tiba terdengar suara dari belakangnya Agha, "Wari, kenapa tidak menjawab pertanyaan Ibu? Kenapa kamu terus menoleh ke samping?"


Anak kecil perempuan yang bernama Wari itu langsung menyahut, "Maafkan Wari, Bu. Tolong ulangi pertanyaannya Ibu tadi"


Kiana kemudian tersenyum dan berkata dengan nada lembut, "Lain kali jangan ajak Kakak laki-laki kamu untuk menemani kamu sekolah. Kamu harus mandiri, oke, Wari?"

__ADS_1


Agha langsung menegakkan wajahnya lalu menoleh pelan ke belakang dan Kiana sontak terperanjat kaget, "Yang Mulia! Ke.....kenapa Anda bisa ada di sini?"


Sementara itu di istana, putra mahkota Adnan mulai menyusun rencana untuk menjebak Agha. Dia ingin Agha segera mati agar dia bisa terbebas dari mimpi buruk dan kekhawatiran kalau Agha akan merebut kedudukan dan tahtanya. Dia juga ingin segera merebut Kiana untuk ia jadikan istri. Selain berkoordinasi dengan penjahat jalanan, Adnan juga berkoordinasi dengan prajurit istana yang terlatih kepercayaannya untuk menjebak Agha dan membunuh Agha. Prajurit istana kepercayaannya Adnan berjumlah sepuluh orang dan Adnan memberi tim kepercayaannya itu, gagak hitam dan hanya Adnan yang bisa memberikan perintah untuk gagak hitam. Pimpinan gagak hitam itu adalah kakak sepupunya Bora dan Bora tidak mengetahui kalau kakak sepupunya ternyata berhati jahat dan serakah.


__ADS_2