Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Tertawa Lepas


__ADS_3

Aku sudah memperlakukanmu dengan tulus, Kiana. Kita lihat apakah kau tega mengkhianati aku? Batin Agha.


Agha kemudian naik ke atas kuda kesayangannya yang ia beri nama Red Hair karena kuda itu berwarna merah dan memiliki bulu di tengkuk dan ekor yang berwarna merah menyala. Sedangkan kuda yang sering ditunggangi oleh Bora berwarna putih dengan bercak hitam dan Bora memberi nama kudanya, Si Bopeng.


Sebelum menghentak kudanya untuk berlari kencang, Agha menoleh ke Bora, "Sudah kau siapkan anak buah kita untuk berjaga tidak jauh dari kediamanku dan mengosongkan area di sekitar kamar pribadiku?"


"Sudah, Yang Mulia"


"Bagus. Hiahhhhh!" Agha kemudian menghentak kudanya dan disusul oleh Bora.


Sementara itu, pangeran Adyaksa telah duduk tenang di dalam kereta kuda mewahnya. Pangeran tampan berhati bersih dan berwajah ramah itu tersenyum senang ketika ia membayangkan wajah cerianya Kiana. "Kamu pasti betah bermain lama di kebunku nanti, Kiana"


Kiana terlonjak kaget dan setelah menurunkan adik laki-lakinya di lantai, gadis cantik itu berkata ke Debi, "Tolong ajak Kendra sarapan. Aku harus bergegas mandi. Sebentar lagi temanku akan menjemputku. Kita akan pergi jalan-jalan setelah ini"


"Baik, Nyonya muda" Sahut Debi.


Kiana menatap Debi dan spontan bertanya, "Kau panggil aku Nyonya muda?"


"Iya. Anda, kan, sudah menikah sekarang"


Sahut Debi dengan senyum lebar.


"Ah, iya. Kamu benar. Oke! Aku mandi dulu" Kiana kemudian berbalik badan dan berlari kencang menuju ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian Kiana muncul dan sambil menyomot satu bakpao, ia menggandeng tangan mungil Kendra dan mengajak Debi untuk berlari kecil keluar dari dalam kamar.

__ADS_1


Seorang pelayan langsung menghadang Kiana untuk bertamya, "Nyonya muda mau ke mana?"


Kiana berkata, "Mau mengumpulkan bahan herbal"


Pelayan tersebut menoleh ke anak buahnya Bora dan anak buahnya Bora langsung menganggukkan kepalanya. Anak buahnya Bora sudah diberi pesan oleh Bora untuk mengiyakan apapun yang Nyonya muda minta atau lakukan.


Pelayan tersebut langsung memberikan jalan ke Kiana sambil membungkukkan badan.


Sepeninggalnya Kiana, anak buahnya Bora yang berjaga sendirian di depan kamarnya Kiana pagi itu, langsung mengirimkan laporan ke Bora dengan memakai jasa merpati pos.


Saat Kiana sampai di depan gerbang besar kediamannya Caraka, Adyaksa langsung menyambutnya dengan senyum ceria.


Setelah naik ke kereta kuda, Kiana berkata ke pangeran Adyaksa, "Terima kasih sudah mengijinkan adik saya Kendra dan Debi sahabat saya ikut ke kebun Anda"


"Sama-sama. Aku senang kalau kebunku ramai hari ini. Jangan pakai bahasa formal. Kita ini teman lama"


Pangeran Adyaksa tersenyum lalu berkata, "Baiklah terserah kamu saja yang penting kamu nyaman. Tapi, kalau mau memanggilku pipi tembem nggak papa"


Kiana lalu tersenyum ke Adyaksa sambil mengusap rambut adiknya yang sudah tertidur pulas di dalam pangkuannya.


Ibundanya Agha bangun di jam biasanya ia bangun. Setelah mandi dan berdandan cantik seperti biasanya, ibu cantik itu bergegas pergi ke kamar menantunya. Dia ingin mengenal lebih jauh menantunya untuk mencari lebih banyak alasan ketidaksukaannya kepada menantunya itu.


Ibundanya Agha mengentikan langkahnya di depan kamarnya Kiana dan langsung berkata ke pelayan yang berjaga di depan pintu kamar, "Buka! Aku mau menemui menantuku"


Pelayan tersebut langsung membungkukkan badan dan berkata, "Maafkan saya, Nyonya besar. Nyonya muda tidak ada di kamar"

__ADS_1


"Di mana dia? Jam delapan pagi sudah tidak ada di kamar? Apa dia pergi ke dapur?"


Dengan masih membungkukkan badan pelayan itu berkata, "Tidak, Nyonya besar. Nyonya muda pergi keluar untuk mencari bahan obat-obatan"


"Bersama Agha?"


"Tidak" Sahu pelayan itu dengan masih membungkukkan badan.


"Apa Agha mengijinkannya?"


"Iya. Yang Mulia mengijinkannya"


Ibundanya Agha mendengus kesal dan berbalik badan untuk kembali ke kamarnya. "Mana ada seorang Istri pergi tanpa Suaminya . Agha juga sama aja, huh! Kenapa dia ijinkan Istrinya keluar sepagi ini. Dia terlalu memanjakan Istrinya. Untuk itu aku harus mendidik menantuku dengan baik nanti agar dia tidak besar kepala karena selalu dimanjakan oleh Agha"


Sementara itu, Agha yang tengah mengerjakan laporan di dalam ruang kerjanya yang berada di tengah-tengah kantor penyidik tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.


Bora yang tengah melepas surat kecil di kaki merpati pos menoleh kaget dan sontak bertanya, "Ke.....kenapa Yang Mulia tertawa? Yang Mulia tidak pernah tertawa lepas seperti ini, kenapa? Apa Anda salah makan atau kepala Anda terbentur sesuatu tadi?"


Agha mengibas-ngibaskan tangannya sambil berkata di sela tawa lepasnya, "Kiana lucu banget. Bisa-bisanya ia mencari noda bercak darah di sprei. Aku yakin dia tadi mencari noda bercak darah di sprei, hahahahaha. Kenapa dia bisa selucu itu, hahahahahaha" Agha sampai memukul meja beberapa kali dan terus tertawa terbahak-bahak.


Bora semakin menautkan kedua alisnya dan memberanikan diri untuk bertanya, "Ber.......bercak darah di sprei? Ke ....kenapa bercak darah di sprei bisa membuat Anda tertawa lepas seperti itu, Yang Mulia?"


Agha langsung mengentikan tawanya sambil mengusap air mata yang ada di kedua pelupuk matanya. Saking asyiknya iai tertawa sampai keluar air mata di kedua pelupuk matanya. Lalu, Agha berkata, "Lupakan saja! Kau belum menikah dan kau nggak akan paham soal bercak di sprei. Ada apa? Ada pesan apa dari kediamanku?"


"Nyonya muda pergi keluar bersama pelayan pribadi dan adiknya. Nyonya muda berkata kalau dia akan pergi mengumpulkan bahan obat-obatan"

__ADS_1


"Apa itu artinya dia akan memulai aksinya hari ini? Dia akan mengambil gulungan kertas itu hari ini. Kita tunggu kabar selanjutnya dan kita harus bersiap" Sahut Agha.


"Baik, Yang Mulia"


__ADS_2