
Karena berjiwa petualang dan memiliki kecerdasan di atas rata-rata, Kiana melangkah masuk ke dalam lorong gelap di saat keingintahuannya mengalahkan keraguannya.
dinding batu bergerak menutup saat Kiana menginjak salah satu batu. Wanita cantik itu seketika berbalik badan dan meraba-raba dindin batu sambil menginjak-injak batu di bawahnya untuk mencoba membuat dinding baru itu terbuka kembali. Namun, semua usahanya sia-sia.
Kiana lalu merogoh kantong bajunya dan tersenyum senang karena hobinya memasak baik itu memasak obat ataupun memasak makanan enak, dia tidak pernah lupa mengantongi korek api. Dengan menyalakan korek api Kiana mencoba melihat lorong yang benar-benar gelap setelah dinding batu itu menutup rapat. Wanita cantik itu kemudian tersenyum saat ia menemukan ada obor di sisi kana dinding batu. Kiana lalu menyalakan obor itu dan berjalan menyusuri lorong gelap itu sampai ke bertemu dengan cahaya yang sangat menyilaukan mata. Kiana langsung mematikan obor dan berputar melihat keindahan taman bunga.
Kiana berhenti berputar saat ada suara dalam seorang pria, "Siapa kamu? Kenapa kamu bisa ada di sini?"
Kiana berbalik badan secara perlahan dan dia akhirnya berhadapan dengan seorang pria gagah yang tingginya hampir sama dengan Agha atau Alaric. Tapi pria itu memakai topeng.
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak sengaja menemukan pintu yang terbuka sendiri dan saya masuk ke dalam lorong lalu sampai lah saya di sini. Nama saya, Kiana. Saya seorang tabib. Maaf saya berkata kalau saya seorang tabib bukan untuk alasan apapun. Saya cuma ingin membantu mengobati Anda kalau Anda ijinkan. Saya lihat Anda memakai topeng dan kaki Anda kenapa? Anda berjalan memakai tongkat dari kayu dan........"
"Apa benar kamu seorang tabib?"
"Iya. Saya temannya Alvin. Apa Anda mengenal Alvin?"
"Hmm. Aku kenal sama Alvin. Apa kamu mau menyembuhkan wajah dan kakiku yang lumpuh separuh ini?"
"Tentu saja saya mau. Saya adalah seorang tabib"
"Kamu yakin kamu bisa? Aku sudah menderita seperti ini sudah cukup lama"
"Saya akan memeriksanya dulu. Apakah boleh?"
"Hmm" Pria itu duduk di bangku yang terbuat dari bambu yang ada di depan sebuah pondok sederhana yang juga terbuat dari bambu.
Kiana kemudian memeriksa pria itu.
Beberapa menit kemudian pria itu bertanya, "Bagaimana?"
"Anda masih bisa disembuhkan?"
"Benarkah?"
__ADS_1
"Iya"
"Kalau aku bisa sembuh berarti aku bisa balas dendam. Berapa lama aku bisa sembuh?"
"Kurang lebih satu Minggu"
"Secepat itu?"
"Hmm" Kiana mengangguk mantap.
"Baiklah. Aku serahkan kesembuhan wajah dan kakiku padamu. Tapi aku tidak punya uang untuk membayar kamu"
"Saya tidak butuh uang. Katakan saja siapa nama Anda dan ceritakan kenapa Anda bisa mengalami luka parah di wajah dan kaki Anda"
"Aku adalah Luis. Aku jenderal besar di kerajaan bunga yang salah jatuh cinta pada seorang wanita. Istriku yang cantik dan sangat aku cintai memberikan racun ke makanan dan minumanku, namun untungnya Alvin keponakanku berhasil menyembuhkan aku. Tapi wanita iblis itu tidak berhenti sampai di situ. Dia menyewa orang untuk membakar kamarku. Aku selamat tapi asistenku tidak. Semua orang mengira jasad hangus yang ada di kamarku itu adalah aku padahal itu adalah asistenku. Lalu, aku melarikan diri dan bersembunyi di tempat rahasia ini. Aku beruntung menemukan tempat rahasia ini"
"Hah?! Jadi, Anda adalah pamannya Alvin? Dan apakah Anda suaminya Putri Sofie?"
"Hmm. Aku suaminya Sofie dan aku masih suaminya yang sah karena aku belum mati dan kami belum bercerai. Aku masih suami sahnya Sofie"
"Hmm. Karena itu aku ingin segera sembuh dan menemui Sofie untuk meminta pertanggung jawaban darinya atas semua yang sudah ia lakukan padaku"
"Saya akan menyembuhkan Anda. Tapi, saya akan minta satu hal lagi pada Anda"
"Kau boleh minta apapun padaku karena kau mau menyembuhkan lukaku padahal aku sama sekali tidak punya uang untuk membayar kamu"
"Kalau Anda sudah sembuh, maka batalkan pernikahan putri Sofie dengan raja Alaric"
"Sial! Jadi, itu buat Sofie selama ini. Dia ingin menjadi ratu di Kerajaan naga. Baiklah, tentu saja. Aku akan batalkan pernikahan wanita iblis itu karena pernikahan dia dan raja Alaric tidak sah. Dia masih istriku karena aku masih hidup"
"Baiklah. Saya akan pulang menyiapkan semua bahan dan kembali lagi ke sini besok. Kita akan mulai pengobatan Anda besok. Saya akan ke sini secara sembunyi-sembunyi dan tidak akan ada satu orang pun yang tahu"
"Baiklah. Aku percaya padamu. Jangan katakan soal ini ke Alvin dulu"
__ADS_1
"Baiklah. Saya pulang dulu, Jenderal Luis"
"Aku akan mengantar kamu dan membukakan dinding batu untukmu. Karena yang tahu cara membuka dinding batu dari dalam sini hanyalah aku"
"Baik, terima kasih, Jenderal Luis"
Kiana bergegas berlari meninggalkan dinding batu saat dinding batu itu kembali menutup. Dia kemudian berlari ke paviliunnya Alvin untuk menyiapkan beberapa tanaman obat yang bisa untuk menyembuhkan luka di wajah dan kaki Jenderal Luis tanpa sepengetahuannya Alvin.
Dan saat Kiana kembali ke paviliunnya raja Alaric, dia langsung mendapatkan semburan, "Dari mana saja, kau! Kenapa menghilang begitu saja, hah?! Bora aku utus mencari kamu dan........."
"Hah?! Ada Bora di sini? Kapan Bora datang ke sini? Naik apa dia ke sini? Apa Agni juga ikut bersama Bora?" Kiana langsung meluncurkan pertanyaan itu dengan wajah cerah ceria karena ia sudah sangat merindukan Bora dan Agni.
Alaric mengerutkan keningnya dan langsung mengarahkan jari telunjuknya ke burung pemangsa peliharaannya, "Itu Bora. Lalu, siapa Agni?"
Kiana sontak menunduk dan mengulum bibir menahan tawa. Dia membayangkan wajah Bora yang tampan dibandingkan dengan wajah burung pemangsa yang memiliki wajah jelek dan menyeramkan. Dan karena sudah tidak bisa menahan tawanya, Kiana akhirnya memegang perutnya dan tertawa terbahak-bahak seolah tidak mau berhenti.
"Hei! Bora bertanya padaku, kenapa kau menertawakannya?"
Kiana menegakkan badannya dan sambil mengusap air mata yang timbul karena tawa kerasnya, Kiana berkata, "Maafkan saya, Yang Mulia. Maafkan aku, Bora. Aku tidak menertawakan kamu, tapi pffftttt!" Kiana kembali menahan tawanya. Lalu, gadis cantik itu bergegas melambaikan tangannya sambil berkata, "Agni adalah adik perempuan Anda dan Bora adalah asisten Anda di dunia manusia dan Bora itu sangat tampan kenapa bisa ada Bora di sini yang..........ah, lupakan saja! Maafkan aku, Bora, aku tidak sengaja menertawakan kamu, hehehehehe"
"Ayo makan! Aku menunggu kamu dari tadi"
"Makan? Anda menunggu saya dan belum makan dari tadi?"
"Jangan bilang kamu sudah makan dan nggak mau makan denganku" Alaric menggeram dan menyipitkan matanya.
"Ah, saya belum makan. Mari kita makan, Yang Mulia"
"Bagus. Aku pengen makan sama kamu sudah sejak lama" Sahut Alaric.
"Saya juga. Saya sangat merindukan makan bersama suami saya, Mas Agha"
Alaric tersenyum ke Kiana dan berkata, "Apa yang kau lakukan saat kau makan bersama dengan Agha suami kamu?"
__ADS_1
"Saya menyuapinya"
"Bagus itu. Aaaaaaa!" Alaric langsung membuka mulutnya lebar-lebar di depan Kiana.