
"Kenapa kalian menatap saya seperti itu? Saya bukan wanita penghibur"
Agha mendelik dan menggeram, "Katakan cepat! Kenapa kau bisa tahu soal kalau bubuk itu adalah bedak dan wanginya adalah wangi wanita penghibur?" Agha kembali dipenuhi kecemburuan.
Sedangkan Bora menganggukkan kepalanya beberapa kali dengan wajah serius sebagai kode kalau ia juga tengah menunggu penjelasannya Kiana terkait bedak dan wanita penghibur.
Kiana menoleh cepat ke Bora dan Agha secara bergantian, lalu membuang napas kesal. Kemudian gadis cantik itu berkata, "Saya pernah menolong wanita penghibur yang habis dianiaya dan dirampok, lalu ditinggalkan di tengah hutan. Saya mengobati wanita itu sampai dia bisa bangkit berdiri dan berjalan lagi. Lalu, wanita penghibur itu memberikan bedaknya yang masih baru dan belum pernah ia pakai sebagai tanda terima kasih. Dia bernama Kenanga dan bekerja di paviliun Arjuna. Kata Kenanga kalau ingin mencari dirinya, dia selalu ada di paviliun Arjuna. Saya rasa pencuri yang mencuri barang Anda bekerja di tempat yang sama dengan Kenanga karena kata Kenanga, bedak yang ia berikan kepada saya adalah bedak yang dibuat khusus di dalam paviliun dan tidak diperjualbelikan di luar" Ucap Kiana dengan menautkan kedua alisnya.
Agha langsung bersitatap dengan Bora dan Bora sontak membungkukkan badannya, lalu berkata, "Siap laksanakan Yang Mulia" Bora kemudian berbalik badan dan berlari keluar dari dalam kamar pribadinya Agha.
Agha terus menatap Kiana yang masih asyik mengamati bubuk bedak.
Di balik tubuhnya yang mungil dan kurus itu, dia ternyata sangat pemberani, mandiri, tidak manja dan rewel seperti kebanyakan wanita bangsawan yang sering aku jumpai, dia juga cerdas, dan cantik. Hah?! Apa ini?! Kenapa dadaku berdegup kencang kembali. Batin Agha sembari mengusap-usap dadanya dan sebelum Kiana melihat ia mengusap dada atau bahkan mendengar degup jantungnya, Agha segera berbalik badan sambil berkata, "Kau tetap di sini! Aku keluar sebentar"
"Baik, Yang Mulia" Sahut Kiana sambil menatap punggungnya Agha yang menjauh lalu lenyap di balik pintu.
Kiana kemudian mencebikkan bibir dan bergumam kesal, "Habis cium-cium, peluk-peluk, sekarang ditinggalkan begitu saja tanpa penjelasan, huh! Dasar manusia es, orang aneh, menyebalkan!"
Di langkahnya yang kelima, Bora menghadang Agha.
"Ada apa?" Tanya Agha dengan masih mengusap-usap dadanya.
"Dada Anda kenapa, Yang Mulia?" Bora bertanya dengan wajah khawatir.
"Nggak papa" Agha langsung menarik tangannya dan bertanya kembali, "Ada apa?"
"Saya sudah sebar anak buah saya untuk mencari informasi terkait bedak dan paviliun Arjuna. Lalu, emm, utusan Kaisar ada di ruang penerimaan tamu saat ini" Sahut Bora.
"Kenapa urusan Kaisar ke sini di jam makan malam? Aku bahkan belum makan bersama Istriku"
__ADS_1
Padahal aku ingin makan bersama Kiana dan disuapi Kiana saat ini, hiks,hik,hiks, kenapa malah ada tamu, sih. Batin Agha kesal.
"Kaisar ingin makan malam bersama Anda, lalu Kaisar juga ingin bermain catur dan minum bersama Anda, Yang Mulia"
"Hah?! Kenapa harus aku? Banyak menteri dan pejabat yang bisa menemani Kaisar. Juga Pangeran Adnan, kenapa Kaisar tidak minta ditemani Putra Mahkota?"
"Entahlah. Anda harus bergegas ke sana. Kaisar menunggu Anda"
"Baiklah. Suruh pelayan menyiapkan makan malam di kamar pribadiku untuk Kiana, lalu suruh pelayan menyiapkan makan malam untuk Kendra di kamar pengantinku. Mulai besok kamar pengantinku akan menjadi kamar pribadinya Kiana, suruh pelayan membantu Kiana menghias kamar itu sesuai dengan seleranya Kiana" Ucap Agha dengan senyuman.
"An...Anda ter.....tersenyum, Yang Mulia?"
Agha langsung menghapus senyuman yang tanpa ia sadari ia sunggingkan di wajah tampannya, lalu berjalan cepat melintasi Bora sambil berkata, "Aku nggak tersenyum. Lakukan semua perintahku! Aku tunggu di depan"
"Baik, Yang Mulia" Sahut Bora cepat.
Sepuluh menit kemudian, Bora sudah berdiri kembali di depan Agah dan utusannya Kaisar, lalu mereka bertiga berangkat ke istana.
"Apa aku akan diinterogasi di dalam penjara sebentar lagi? Lalu, aku akan dicambuk, disiksa, atau aku akan diikat di tengah taman selama berhari-hari? Aaaaaa!" Kiana menjambak rambutnya Lalu, gadis cantik itu menautkan kedua alisnya, "Apa aku kabur saja? Tapi, bagaimana caranya kabur? Di jam segini seluruh halaman kediaman ini penuh dengan penjaga" Gumam Kiana dengan tangan mengetuk-ngetuk meja makan dan kaki mengetuk-ngetuk lantai. Gadis cantik itu gusar menunggu nasib dia yang berikutnya.
Di dalam istana yang masih tampak terang benderang dan para penjaga masih berjaga dengan penuh siaga, Agha melangkah masuk menuju ke paviliun pribadinya kaisar. Kaisar sudah menunggu Agha di taman dan kaisar yang masih tampak gagah juga tampan di umurnya yang sudah menginjak kepala lima itu langsung menyambut kedatangannya Agha dengan wajah semringah.
Hari Agha berdesir hangat saat ia duduk di depan kaisar. Di dalam hatinya Agha menyapa, selamat malam Ayahanda. Terima kasih sudah mengajak putramu ini untuk makan malam bersama dengan Anda, Ayah.
Di paviliun barat, permaisuri tengah makan malam berdua dengan putra kesayangannya sedangkan putri kesayangannya Putri Arfa berlari keluar dari dalam kamarnya saat ia mengetahui ada Bora di paviliun ayahandanya.
Putri Arfa mencintai Bora dan berkali-kali ia sudah menyatakan perasaannya ke Bora, namun Bora yang masih polos dan lugu selalu saja diam seribu bahasa dan tidak pernah menjawab pernyataan cintanya putri Arfa.
Karena sejak kecil, Bora hanya dekat dengan satu wanita, yakni adik perempuannya Agha. Bora dan Agni tumbuh bersama. Untuk itulah, Bora hanya bisa akrab dan terbuka dengan Agni.
__ADS_1
"Bora!" Putri Arfa berlari mendekati Bora sambil melambaikan tangan.
Bora tersentak kaget dan spontan menoleh. Saat ia melihat putri Arfa melambaikan tangan dan berlari mendekatinya, Bora sontak melangkah mundur lalu membungkukkan badan.
Putri Arfa menghentikan laju larinya di jarak satu meter dari tempat Bora berdiri. Lalu dengan napas yang masih terengah-engah putri Arfa berkata, "Kenapa kamu tidak mengunjungi aku, Bora? Padahal aku sangat merindukanmu"
"Maafkan saya, Putri. Jangan berkata merindukan saya. Saya tidak pantas menerimanya" Sahut Bora.
"Lalu, apa jawaban kamu?"
Bora sontak menegakkan badannya dan bertanya, "Jawaban soal apa, Putri?"
"Pernyataan cintaku. Aku sering menyatakannya ke kamu dan kamu tidak pernah menjawabnya"
Bora sontak mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru istana sambil berbisik, "Jangan katakan soal itu keras-keras, Putri! Kalau ada yang mendengarnya bagaimana?"
"Aku tidak peduli. Katakan cepat apa jawaban kamu?!"
Bora kembali membungkukkan badannya dan segera berkata, "Maafkan saya, Putri. Saya belum mau memikirkan soal cinta"
Putri Arfa menghela napas panjang lalu berkata, "Baiklah. Aku akan sangat bersabar menunggu jawaban kamu. Tapi, aku boleh tetap berteman dengan kamu, kan?"
"Kalau Putri menghendaki demikian, baiklah" Sahut Bora.
Jam dua belas malam tepat, pintu kamar pribadinya Agha terbuka lebar dan Kiana dikejutkan dengan masuknya Bora yang melangkah sambil memapah Agha.
"Yang Mulia kenapa?" Tanya Kiana.
"Yang Mulia mabuk. Tolong Anda mengurusnya" Agha merebahkan Agha ke ranjang dan langsung berlari keluar.
__ADS_1
"Hei! Bora! Ahhhhh! Gimana, nih? Aku belum pernah menangani pria mabuk apalagi ini yang masuk adalah si manusia es. Kalau aku salah menanganinya bisa-bisa leherku hilang kena tebasan pedang, hiks,hiks,hiks, gimana, nih" Kiana mewek.
Sementara itu Bora bergumam sambil berlari ke pos penjagaan, "Yang Mulia, saking senangnya Anda bisa makan, bermain catur, dan minum bersama Ayahanda Anda, Anda sampai mabuk berat. Semoga Nyonya muda mengurus Anda dengan baik. Saya udah trauma mengurus Anda pas Anda mabuk, Yang Mulia. Maafkan saya kalau saya menyerahkan Anda ke Nyonya muda"