
Alvin sontak mengerutkan kening saat pria tampan itu melihat Sofie berjalan ke arah barat bersama Kiana. Sontak pria tampan yang juga menyukai tanaman herbal sama seperti Kiana itu, berteriak, "Tunggu! Kiana!"
Kiana dan Sofie menghentikan langkah mereka.
Alvin langsung berlari mendekati Kiana dan Sofie lalu menarik tangan Kiana untuk berbisik, "Kau mau ke mana? Apa kau sudah berhasil mengajak raja Alaric meditasi denganmu?"
Kiana langsung menyemburkan, "Astaga! Aku lupa"
Alvin menyipitkan mata dan langsung berkata, "Kalau gitu balik sana!"
Kiana menganggukkan kepala lalu berbalik badan.
Sofie langsung mencekal lengan Kiana saat Kiana hendak melangkah pergi meninggalkannya dan wanita cantik berhati busuk itu segera berkata, "Lalu, bagaimana dengan temanku yang ada di gerbang barat?"
Alvin mendorong Kiana, "Balik lah! Aku akan membantu Sofie"
Kiana menoleh sekilas melihat Alvin untuk berkata, "Makasih, Vin" Lalu, gadis cantik berkulit putih seputih salju itu berlari meninggalkan Alvin dan Sofie.
Sofie berputar badan mengikuti arah perginya Kiana dengan sorot mata kesal dan gunakan di dalam hatinya, sial! Rencanaku gagal dan itu gara-gara Alvin! Sofie lalu memutar badan ke depan dengan cepat untuk menatap Alvin dan langsung menyemburkan, "Kenapa kau suruh dia pergi?"
Alvin adalah teman Sofie dan Alvin adalah keponakannya Jenderal Luis, mantan suaminya Sofie. Jadi, Alvin paham betul wataknya Sofie dan paham betul kalau Sofie tidak memiliki teman. "Karena kau menyebut kata teman. Kau tidak punya teman selain aku. Kau punya rencana apa untuk Kiana?"
Sofie menelan air liurnya dengan sedikit susah. Lalu, gadis itu melangkah melintasi Alvin sambil berkata, "Tidak ada apa-apa. Aku harus segera balik ke kamar" Sofie bergegas pergi agar Alvin tidak menginterogasinya lebih jauh.
Alvin berputar badan mengikuti arah perginya Sofie dengan bergumam, "Aku tidak akan biarkan kamu menyakiti Kiana seperti dulu kamu menyakiti Pamanku Luis"
__ADS_1
Melihat Kiana berlari di bawah, Alaric yang terbang dalam wujud manusia karena dia masih belum bisa mengendalikan kekuatan naga hitam di dalam tubuhnya dan belum bisa berubah menjadi naga hitam sesuai dengan kemauannya, menukik ke bawah dan mendarat persis di depan Kiana.
Bruk! Wajah Kiana menabrak dada Alaric. Kiana sontak melangkah mundur sanb.mengelus pucuk hidungnya dan berkata, "Hidungku bisa patah, nih. Kenapa Anda berhenti mendadak di depan saya"
Entah apa yang Alaric pikirkan. Namun, saat ini pria tampan itu merasa sangat lega melihat Kiana berbalik arah dan baik-baik saja.
Aku ingin memeluknya saat ini juga. Batin Alaric.
Dan Alaric pun melakukannya. Dia melangkah maju dan langsung memeluk Kiana sambil berkata, "Syukurlah kau baik-baik saja. Jangan ke gerbang barat lagi! Apapun yang terjadi jangan pernah pergi ke gerbang barat lagi! Mengerti?!"
Kiana mendorong pelan dada Alaric untuk menatap wajah tampan suaminya dan bertanya, "Kenapa saya tidak boleh pergi ke gerbang barat, Yang Mulia"
"Pokoknya tidak boleh! Aku akan lakukan apapun yang kamu minta asalkan kau tidak pergi ke gerbang barat. Jangan pernah pergi ke gerbang barat!" Saking khawatirnya akan keselamatannya Kiana, Alaric sampai rela melakukan apapun yang Kiana minta.
"Hmm" Sahut Alaric dengan anggukkan kepala tegas dan wajah serius.
"Janji?" Kiana kembali bertanya masih dengan wajah cerah ceria.
"Hmm" Sahut Alaric.
"Saya hanya punya satu permintaan saja, Yang Mulia"
"Katakan! Aku janji akan memenuhinya" Sahut Alaric dengan wajah serius.
"Saya minta mulai nanti malam kita pergi ke air terjun perak yang ada di sisi timur istana Anda lalu kita meditasi berdua di sana selama satu Minggu" Kiana menangkupkan tangan di depan dada dan memandang wajah tampan suaminya dengan wajah tersenyum lebar.
__ADS_1
"Hah?! Nggak mau! Permintaan aneh apa itu? Minta yang lainnya! Jangan itu!" Alaric sontak mendengus kesal dan menyipitkan matanya.
"Tapi, saya nggak mau yang lainnya. Saya cuma mau itu. Anda sudah berjanji sebanyak tiga kali lho tadi kalau Anda akan mengabulkan apain permintaan saya" Kiana langsung merengut dan menunduk menatap kakinya dengan kecewa.
Melihat Kiana menunduk dan menghela napas kecewa, Alaric mengelus dadanya, kenapa hatiku terasa perih melihat dia kecewa seperti itu?
Lalu, dengan cepat Alaric berkata, "Baiklah!"
Kiana langsung mengangkat wajahnya dengan senyum ceria. "Benarkah? Anda mau?"
"Hmm. Jam berapa kita harus meditasi berdua di air terjun perak?"
"Jam sepuluh setelah patroli selesai" Sahut Kiana masih dengan senyum lebar.
"Baiklah. Tapi ada syaratnya" Sahut Alaric.
"Katanya mau mengabulkan semua permintaan saya, tapi kenapa masih pakai syarat?" Kiana mengerucutkan bibirnya.
Sial! Dia imut banget saat ini dan aku sangat ingin memeluk dan menciumi wajahnya. Batin Alaric.
"Apa syaratnya, Yang Mulia?"
Alaric sontak berdeham untuk mengusir fantasi liar yang melintas di benaknya. Lalu, pria yang sangat tampan dan gagah itu bergegas menyahut, "Kamu tidur di kamarku mulai malam ini sampai selamanya"
"Hah?!" Kiana sontak ternganga lebar.
__ADS_1