
Adyaksa memeluk Debi sambil mengusap perut Debi dan berkata, "Terima kasih kamu sudah sekuat ini menjaga.diri kamu dan anak kita, Istriku"
"Aku harus kuat, Mas. Harus" Sahut Debi.
"Kiana sebentar lagi datang. Kamu harus benar-benar menjaga diri kamu dan anak kita dengan baik, Istriku"
"Iya, Mas" Sahut Debi.
Setelah istrinya bisa tidur dengan nyenyak, Adyksa kembali ke aula untuk berdiskusi dengan para menteri.
Setelah upacara pernikahan raja Abimantya dan Kayla, Rombongannya Agha dan rombongannya tabib Danur pamit pulang sebelum acara jamuan makan digelar.
Saat Agha hendak naik ke kereta kuda menyusul Kiana, Bora berteriak, "Yang Mulia, tunggu!"
Agha mendongak dan berkata ke Kiana, "Masuklah dulu! Tunggu aku di dalam! Di luar dingin"
"Baik, Mas" Sahut Kiana sambil menyibak tirai lalu masuk ke dalam kereta kuda.
"Ada apa?" Tanya Agha.
Saat Bora ingin membuka suara, tiba-tiba terdengar teriakannya Bhadra, "Tunggu!"
Agha menoleh ke asal suara dan sontak bertanya, "Kak Bhadra? Kenapa naik kuda ke sini? Kakak mau ke mana?" Teriak Agha dengan wajah penuh tanda tanya.
"Kerajaan Utara memberontak. Jenderal kamu si Arya kewalahan. Kamu juga masih dalam masa pemulihan. Untuk itulah raja Abimantya meminta aku ikut pulang denganmu" Sahut Bhadra.
Agha menoleh ke Bora, "Itu yang mau kamu laporkan?"
__ADS_1
"Iya, Yang Mulia" Sahut Bora.
"Sial! Kenapa masalah datang bertubi-tubi seperti ini"
"Kita harus buruan pulang ke Kerajaan Pusat untuk mengangkut pasukan karena Ayahanda kamu sudah melesat ke kerajaan Utara saat ini" Sahut Bhadra.
"Apa?! Ayahanda?" Agha menoleh kaget ke Bhadra.
"Iya. Ayahanda kamu adalah pendekar pedang nomer Wahid. Kau baru tahu?" Tanya Bhadra.
"Iya, aku baru tahu. Meskipun Ayahanda itu pendekar pedang tetap saja beliau butuh bantuan. Kak, kita langsung melesat ke Utara saja bia Bora yang membawa pasukan setelah ia ........."
"Yang Mulia Adyaksa sudah mengirim pasukan ke Utara," Sahut Bora.
"Bagus. Kalau begitu aku dan Kak Bhadra langsung ke Utara" Agha bersiul memanggil Red Hair.
"Ah, iya, aku lupa. Tahan Red Hair. Aku pamit ke Kiana dulu"
"Baik, Yang Mulia"
"Jangan lama-lama!" Teriak Bhadra.
"Iya" Sahut Agha dengan mendengus kesal.
Agha melompat naik ke kereta kuda dan langsung. melesat masuk ke dalam.
Kiana menoleh kaget dan langsung bertanya, "Ada masalah, ya, Mas?"
__ADS_1
Agha menarik kedua bahu ramping Kiana lalu ia peluk istri kecilnya sambil berkata, "Iya. Aku harus langsung melesat ke Utara. Utara memberontak. Entah kenapa Utara memberontak padahal selama ini Utara selalu bersekutu dengan Pusat. Ayahanda sudah melesat ke Utara" Agha menghela napas panjang sambil membelai lembut rambut hitam panjang istri tercintanya.
Kiana menarik diri dari dalam pelukan Agha dan langsung berkata, "Kalau begitu , Mas langsung berangkat saja susul Ayahanda. Aku ke istana untuk memeriksa kondisi Debi dan mempelajari wabah Misterius itu untuk menolong rakyat di pinggiran kota"
"Tapi, kamu jangan pergi ke pinggiran kota. Kamu harus tetap di istana. Biar tabib Danur yang ke pinggiran kota" Ucap Agha sambil menangkup pipi istri kecilnya yang sangat cantik.
"Iya, Mas. Kalau aku sudah berhasil menemukan obatnya, aku akan meminta Ayah mengirimnya ke pinggiran kota" Sahut Kiana..
"Bora akan mengawal kamu Samali di istana Pusat dengan selamat. Aku akan segera pulang. Tunggu aku dan jangan keluar dari istana! Ingat itu baik-baik!"
"Iya, Mas" Sahut Kiana dengan senyum lebar.
Agha langsung memagut bibir merah alami istri kecilnya dan mengajak Kiana berciuman cukup lama sampai terdengar teriakannya Bhadra, "Hei! Cepat! Kamu pamitan atau ketiduran, hah?!"
Agha terpaksa melepaskan bibir ranum istri kecilnya dan setelah mengecup kening Kiana, Agha berputar badan dan melangkah meninggalkan Kiana sambil berteriak, "Iya! Aku turun!"
Kiana menatap punggung suaminya dengan berdoa di dalam hatinya, semoga suaminya dan semua yang pergi ke Kerajaan Utara bisa pulang kembali ke rumah masing-masing dengan selamat dan Kerajaan Utara tidak jadi memberontak.
Agha langung melompat ke punggung Red Hair dan setelah berpesan ke Bora untuk menjaga Kiana baik-baik sampai tiba di Kerjaan Pusat dengan selamat, Agha mengajak Red Hair melesat dan Bhadra bersama kuda hitam kesayangannya ikutan melesat menyusul Agha dan Red Hair.
Sementara Agni masih diharuskan menjaga ibundanya Agha yang masih menginginkan menghadiri resepsi pernikahan sampai selesai. Agni hanya bisa berdoa semoga semuanya cepat selesai dan semuanya baik-baik saja.
Kiana kemudian duduk saat kereta kuda mulai dijalankan oleh pak kusir dan Bora berteriak, "Kita berangkat, Ratu!"
"Iya, Bora!" Sahut Kiana dari dalam kereta.
Di kejauhan seseorang tengah tersenyum puas karena rencananya berhasil.
__ADS_1