Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
kamu Marah?


__ADS_3

Tabib Danur sekeluarga sampai di kerajaan Timur lebih dulu dibanding rombongan yang lainnya.


Raja Abimantya dan Kayla menyambut sendiri kedatangan Tabib Danur sekeluarga.


Melihat bahu Kayla dirangkul pria lain dan Kayla tersenyum santai, dada tabib Danur bergemuruh kencang penuh kecemburuan.


Melihat Kayla tampak sangat cantik dan keharuman Kayla menusuk hidung Danur, membuat Danur refleks mempererat pelukannya pada Kendra yang tengah ia bopong. Tabib Danur kemudian berkata sambil menundukkan kepala, "Maafkan saya, Yang Mulia Raja Abimantya kalau saya kurang sopan. Tapi, anak saya Kendra tiba-tiba demam, mungkin karena Kendra tidak terbiasa melakukan perjalanan jauh dan........"


"Ah, iya! Beristirahatlah kalian semua. Kita bisa bercengkerama lagi besok setelah pesta berakhir" Sahut Abimantya.


"Iya, Tabib, silakan periksa Putra Anda dulu. Kesehatan Putra Anda sangat penting"


Tabib Danur yang masih membopong Kendra sontak tertegun mendengar Kayla tidak memanggilnya, mas, lagi.


Tabib Danur langsung menekuk lututnya dan berkata, "Saya permisi dulu"


"Iya" Sahut Abimantya.


Abimantya melirik calon istrinya karena dia takut Kayla mengikuti arah perginya tabib Danur dan dia merasa sangat bahagia karena Kayla justru menatapnya. Abimantya lalu menoleh ke Kayla dan mendaratkan kecupan di kening Kayla.


Sementara itu Komala dan istrinya tabib Danur hanya membungkukkan badan lalu berjalan meninggalkan Abimantya dan Kayla.


Abimantya lalu mengajak Kayla kembali ke paviliun ratu. Setelah sampai di depan pintu kamar pribadinya Kayla, Abimantya mencium kening Kayla lalu berkata sambil mengusap lembut rambut Kayla, "Beristirahatlah dengan benar supaya besok kamu segar dan fit"


"Baik, Mas. Terima kasih" Kayla menyunggingkan senyum.


Abimantya kembali mencium kening Kayla. Setelah itu raja tampan berwajah tidak ramah itu berbalik badan meninggalkan Kayla.


Kayla kemudian berputar badan lalu masuk ke dalam kamarnya, namun langkah Kayla terhenti saat ia mendengar suara, "Apakah Anda punya obat penurun panas?"


Kayla berputar badan dengan pelan ke arah suara dan sontak mematung saat ia berhadapan dengan mantan suaminya.

__ADS_1


"Anda masih punya obat penurun panas, Yang Mulia?" Tabib Danur kembali bertanya dengan wajah datar dan hati panas penuh kecemburuan.


"Ada. Sebentar saya ambilkan" Kayla bergegas masuk ke dalam kamarnya dan tidak lama kemudian dia keluar kembali dan langsung berkata sambil mengulurkan bungkus obat penurun panas berupa serbuk berwarna biru. "Ini obat ramuan saya sendiri. Semoga obat saya manjur untuk Putra Anda, Tabib"


"Kenapa kau tidak memanggilku, Mas, lagi, Kayla?" Gumam tabib Danur sambil menerima bungkus obat penurun panas, namun tatapannya mengarah tajam ke wajah cantik mantan istrinya.


Kayla memilih mengabaikan gumamannya tabib Danur dan langsung berbalik badan masuk kembali ke dalam kamarnya. Kayla langsung berlari ke ranjangnya lalu duduk di tepi ranjang dan bergumam, "Aku sudah belajar melupakan kamu, Mas, maka kamu juga harus belajar melupakan aku. Ini demi kebaikan kita semua dan demi kedamaian negeri ini"


Tabib Danur kemudian berlari kembali ke kamar Kendra karena ia mengkhawatirkan kondisi Kendra langsung menyeduh obat pemberiannya Kayla. setelah meminumkan obat itu ke Kendra, Danur mengompres kening Kendra dengan air hangat.


Saat tabib Danur tengah fokus merawat Kendra tiba-tiba pintu kamar Kendra terbuka lebar dan suara istrinya langsung menggema di kamar itu, "Kamu dari mana tadi, hah?! Kamu menemui Kayla, ya?! Kamu terpesona sama kecantikannya dan keharumannya tadi?! Benar, kan, kataku, Mas?!"


"Jaga bicara kamu! Kalau ada yang dengar kamu bisa celaka. Ingat lah kita sedang di mana saat ini! Lagipula Kendra baru saja bisa tidur nyenyak. Kenapa kamu malah teriak-teriak nggak jelas begitu" Bisik Tabib Danur sambil mendelik kesal.


"Jawab pertanyaanku, Mas!"


"Sssttttt! Pelankan suara kamu! Iya, aku menemui Kayla. Tapi, aku hanya minta obat penurun panas.Karena aku lupa kalau obat penurun panasku sudah habis dan aku belum bikin lagi kalau bikin kelamaan dan......."


"Kamu bisa Pelankan suara kamu atau tidak, hah?! Kita ada di mana sekarang ini? Kau sadar tidak? Apa kau mau suara kamu terdengar sampai ke telinganya Raja Abimantya?"


Istrinya tabib Danur langsung menggeram kesal, "Itu karena kamu menyebalkan dan nggak adil padaku, Mas, kamu......."


"Daripada memikirkan kecemburuan kamu yang nggak jelas itu, pikirkan Kendra. Kendra sakit demam dan butuh kasih sayang dan perhatian ibunya. Duduklah sini dan rawat Kendra!"


Istrinya tabib Danur lalu duduk di tepi ranjang dengan wajah yang masih cemberut karena hatinya masih terasa sangat panas terbakar cemburu.


Sementara itu di dalam kereta pribadinya raja Agha, setelah membantu Kiana minum teh, Agha meletakkan cangkir teh di atas meja kecil di samping ranjang lalu ia menyunggingkan senyum lebar di wajah tampannya dan menatap Kiana sambil memainkan jari jemarinya di jari jemarinya Kiana. Kiana menatap heran suami tampannya. Kiana lalu bertanya, "Kenapa, Mas, dari tadi tersenyum aneh dan duduk gelisah seperti itu? Apa yang ingin Mas katakan? Atau tanyakan? Tanyakan saja, Mas"


"Tapi, janji dulu kamu nggak akan marah dan ngambek" Agha menguap pipi Kiana lalu rambut Kiana.


"Iya, aku janji" Sahut Kiana sambil menggenggam tangan suaminya yang masih asyik memainkan jari jemarinya.

__ADS_1


Agha lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Kiana dan berkata sambil mencium punggung tangan istrinya, "Kamu tahu soal belati keberuntunganku, kan?"


"Belati keberuntungannya, Mas? Belati yang selalu Mas bawa ke mana-mana itu?" Tanya Kiana sambil mengusap rambut Agha dengan tangan kiri karena tangan kanannya asyik diciumi oleh Agha.


"Iya, kamu benar"


"Kenapa dengan belati itu, Mas?"


"Emm, janji nggak marah, ya?"


"Iya, Aku janji"


"Nggak ngambek lalu pindah kereta kuda"


"Iya, Mas"


"Oke, aku bilang ke kamu. Emm, belatinya aku kasihkan Aisyah sebagai tanda persahabatan. Jangan marah! Bora juga kasih jubah keberuntungannya yang ada sulamannya Agni ke Asiyah. Aku cuma nggak mau kalah sama Bora dan nggak mau menyinggung Aisyah karena Aisyah lebih dulu kasih tanda persahabatan ke aku"


"Pria dan wanita nggak bisa bersahabat, Mas"


"Iya, kamu benar. Aku nggak akan dekat-dekat lagi dengan Aisyah kalau kamu tidak suka"


"Dan belati kamu juga ada ukiran inisal nama kita, aku yang mengukirnya sendiri. Aku mengikuti Agni. Agni bisa.menyulam di jubah karena belati nggak bisa disulam, maka aku ukir inisial nama kita di sana, Mas"


"Sial! Kenapa kamu nggak bilang?" Agha langsung bangun lalu berputar badan untuk menangkup wajah cantik istri kecilnya.


"Kata Agni jangan bilang biar jadi kejutan" Sahut Kiana.


"Sial! Kenapa aku senasib sama Bora, nih"


Kiana langsung mematung.

__ADS_1


Agha yang masih menangkup wajah Kiana sontak bertanya, "Kamu marah? Kamu beneran marah, ya?"


__ADS_2